Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Santet


__ADS_3

“Abang Yoga tidak apa-apa?” tanya Wahyu.


“Tidak apa-apa Wahyu, untung saja ada kamu, jadi mereka pergi,” ujar Wahyu membantu Yoga berdiri.


Wahyu membantu memapah Yoga berjalan menuju ke dalam kamar kostnya.


Sesampainya di kamar Kost Wahyu juga membantu mengompres luka Yoga sembari berbincang-bincang.


“Siapa ketiga orang yang memukuli orang tadi Bang?” tanya Wahyu sembari membawakan air dingin serta kain untuk mengompres Yoga.


“Entah Wahyu, Abang juga tidak tahu siapa ketiga orang itu,” kata Yoga meringis menahan rasa sakit.


“Cari mati mereka, ingin seperti preman yang merampas uang Wahyu dan memukuli Abang?” ujar Wahyu yang terlihat kesal.


“Sudah biarkan saja,” sahut Yoga menahan emosinya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


Malam mulai semakin larut jam pun telah menunjukkan pukul 12 malam.


Wahyu pun berpamitan kepada Yoga.


“Bang Wahyu pulang dulu ya, kasihan adik  Wahyu menunggu di rumah,” Wahyu yang berpamitan pulang.


“Iya Wahyu, makasih ya sudah membantu Abang dan menolong Abang,” kata Yoga berjalan mengantar Wahyu sampai di depan pintu kost.


“Iya Bang sama-sama, ya sudah Abang Yoga sebaiknya istirahat,” sahut Wahyu meninggalkan Yoga.


Yoga pun kembali ke tempat tidurnya, di saat Yoga sedang bekerja Dini tidak ada di cafe karena dirinya masih berduka cita, dan di saat itu Bagas ikut dirinya bekerja namun karena Bagas merasa bosan di sana Bagas pun meninggalkan Yoga.


Sampai akhirnya Yoga di pukuli oleh ke tiga orang yang tidak di kenal.


Saat Yoga tengah merebahkan dirinya di tempat tidur sembari memandangi langit-langit kamarnya Yoga teringat akan kata-kata salah satu orang yang memukuli Yoga untuk tidak mendekati Dini.


Lamunan Yoga seketika hilang di saat Bagas muncul di sampingnya secara tiba-tiba.


“Kamu kenapa Yoga? Wajahmu babak belur begitu?” tanya Bagas yang merasa heran.


“Tadi ada orang yang tidak di kenal memukuliku setelah itu merek mengancam agar menjauhi Andini,” pungkas Yoga kepada arwah Bagas.


“Berani-beraninya mereka menghalangi dirimu, kenapa tidak kamu habis saja?” kata Bagas dengan kesal.


“Kamu tahu tentang kekuatan di dalam diriku ini?” Yoga yang terlihat kaget.


“Iya aku tahu, sejak pertama kali aku bertemu dengan dirimu kamu di selimuti oleh energi hitam yang sangat kuat sekali, jika kamu marah maka energi hitam itu akan menguasaimu namun jika kamu bisa mengontrolnya maka kamu yang akan menguasai energi hitam yang ada di dalam tubuhmu,” Bagas menjelaskan kepada Yoga.


Yoga terdiam mendengar penjelasan dari Bagas kata-kata Bagas sama dengan pesan dari almarhum bapaknya, kakek penjual bunga dan pesan di buku itu.


“Ya sudah kamu istirahat dahulu saja Yoga aku mau pergi dulu,” kata Bagas yang pergi menghilang.


Mata Yoga terlihat sayup-sayup sesekali Yoga pun menguap karena mengantuk, tidak lama kemudian Yoga akhirnya tertidur.


Sementara di sisi lain arwah Bagas yang sedang berada di kamar Dini pun melihat Dini yang sedang tertidur dengan sangat pulasnya.


Bagas mendekati Dini dan memegang wajah Dini.


“Selamat malam sayang bermimpilah dengan indah, suatu saat kamu akan mengetahui kabar tentang aku, dan semoga anak itu bisa menggantikan posisiku di hatimu,” ucap arwah Bagas dengan mengecup kening Dini dan langsung menghilang.


Dini yang merasakan sosok Bagas pun terbangun dari tidurnya.


“Mas Bagas,” ucap Dini secara spontan.


‘Ada apa dengan Aku, kenapa aku hari ini teringat akan mas Bagas terus. Dan anak itu di saat aku menciumnya rasa itu, rasa yang sama ketika dengan mas Bagas,' Dini yang bermonolog.


Dini pun kembali mengingat di saat ia mencium Yoga, Dini tersenyum di kala ia ingat bersama Yoga.


Beberapa menit kemudian Dini yang tadi terbangun pun kembali tertidur.

__ADS_1


Dini tidak tahu bahwa sebenarnya keluarga dalam bahaya.


Di sebuah rumah gubuk yang berada di desa terlihat seorang pria baruh baya sekitar berumur 60 tahun.


Sosok pria tua itu memakai baju hitam dengan aksesoris kalung yang terbuat dari taring hewan buas serta kerangka kepala hewan yang ia pakai melingkar di lehernya.


Tidak hanya itu batu cincin yang berwarna hitam pun melingkar di jari jemari pria tua tersebut.


Di depan pria tua itu terdapat perapian serta foto keluarga pak Heru Reni berserta Dini berfoto bertiga foto itu di letakan di atas kain hitam serta taburkan bunga tujuh rupa namun wajah Heru sendiri di foto itu sudah hilang seperti di gunting.


Di samping Foto Heru bersama keluarganya ada sebuah boneka voodoo atau yang terkenal dengan boneka santet.


Pria tua itu mengambil Foto Heru lalu menguntingnya untuk di ambil wajah Reni saja.


Setelah selesai mengambil gambar wajah Reni dari foto tersebut, gambar wajah Reni di tempel di depan boneka Voodoo.


Pria tua itu mengambil serpihan kemeyan untuk di taburkan di atas tungku perapian.


Asap tipis seketika keluar pria tua itu lalu mengasap-asapkan boneka voodoo di atas perapian tersebut sembari membaca Mantara.


Di dalam wadah yang terbuat dari aluminium terdapat binatang serang yang terkenal untuk menyantet yaitu kelabang.


Pria tua itu memasukkan tangannya di dalam wadah yang berisikan banyak kelabang di sana.


Lalu mengambil beberapa kelabang itu dengan cara menggenggamnya. Tangan pria tua itu yang menggenggam beberapa kelabang itu di bukanya lalu di arahkan ke boneka Voodoo.


Sembari membaca mantara  pria tua itu meniupkan tangan yang penuh dengan kelabang.


Dalam seketika kelabang yang ada di tangan pria tua itu hilang dan dengan seketika terdengar benturan benda keras yang menghantam pintu kamar Reni.


Brukk 


Suara benda yang menghantam pintu kamar Reni.


Dalam hitungan menit Reni terbangun dari tidurnya dan merasakan banyak sekali serangga yang berjalan di dalam tubuhnya.


Dan di saat Reni berinisiatif membuka selimutnya ia pun terkejut dan berteriak.


Banyak sekali kelabang yang sedang mengerumuni Reni.


Teriakkan Reni sontak saja membangunkan dini. 


Dini yang terbangun akan teriakan dari Reni ibunya.


“Suara Mamah,” celetuk Dini yang bergegas bangun dari tempat tidurnya.


Dini berlari keluar dari kamarnya menuju kamar ibunya.


Di saat Dini keluar dari kamarnya sang ibu pun sudah keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Dini.


Terlihat raut takut sang ibu serta kulit kemerah-merahan yang terlihat di sekujur tubuh sang ibu.


Reni yang bingung pun menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya.


“Mamah kenapa?” tanya Dini yang bingung.


“I-itu a-ada kelabang di atas tempat tidur Mamah,” ujar Reni yang terlihat takut.


 Dini yang sangat penasaran pun memasuki kamar sang ibu dan menyalakan lampu.


Reni terlihat sangat kaget, karena kelabang yang sangat banyak mengerumuni di saat dirinya tengah tertidur pulas kini telah hilang lenyap bagaikan di telan bumi


Reni yang melihat serangga-serangga itu tidak ada lagi di tempat tidurnya mencoba meyakinkan Dini dengan apa yang ia lihat sebelumnya.    


“Tadi ibu liat di kasur itu banyak sekali kelabang yang mengerubungi tubuh Mamah. Dini,” ujar Reni yang mencoba meyakinkan Dini dengan apa yang ia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Dini berjalan menuju tempat tidur sang ibu dan membuka selimut sang ibu, mencari keberadaan kelabang yang Reni ceritakan kepadanya.


 Namun berulang-ulang kali Dini melakukan hal tersebut seorang hewan pun apa lagi kelabang tidak ada di kasur Reni.


“Tidak ada Mah, mungkin Mamah kecapean  jadi seperti itu,” sahut Dini.


Reni pun hanya terdiam karena serangga kelabang yang ia lihat memang tidak ada.


Dini pun mengantar ibunya kembali ke tempat tidurnya.


“Sebaiknya Mamah istirahat ya agar Mamah tidak sakit,” ucap Dini dengan lembut.


“Iya sayang terima kasih,” ujar Reni yang kembali menaiki tempat tidurnya.


Akan tetapi Dini yang melihat tangan serta kaki sang ibu dengan ruam-ruam kemerahan mencoba untuk mengobatinya.


“Mamah kenapa, tangan dan kaki Mamah terdapat ruam-ruam merah?” kata Dini yang sangat bingung.


Reni pun mulai bercerita kepada sanga anak Dini.


“Tadi waktu Mamah sedang tidur ibu merasakan gatal di sekejur tubuh Mamah, lalu Mamah mengaruknya. Namun semakin di garuk rasa gatal itu semakin gatal seperti ada sosok serang yang berjalan di dalam tubuh Mamah, dan Mamah membuka selimut Mamah kaget melihat banyak sekali serangga kelabang yang sedang mengerumuni Mamah,” Reni menceritakan kronologi yang terjadi kepadanya.


 “Tunggu Dini ambilkan salep  untuk Mamah, agar ruam-ruam merahnya tidak semakin parah dan besok kita pergi ke dokter kulit ya,” kata Dini kepada sang ibu.


Reni terdiam dirinya hanya menganggung saja menandakan iya kepada Dini.


Dini pun pergi berjalan menuju kotak obat yang tersimpan di laci meja kamar ibunya.


Dini membuka lagi tersebut dan menemukan salep gatal.


Setelah berhasil menemukan Dini kembali ke tempat Ibunya.


“Dini obatin dulu ya Mah, setelah itu Mamah tidurnya,” ujar Dini yang mengoleskan salep ke tubuh sang ibu.


 Setelah Dini selesai mengoleskan salep gatal tersebut di daerah ruam-ruam merah, Dini pun memerintahkan dengan lembut ibunya untuk kembali tidur.


“Mamah tidur Ya, istirahat besok kita ke dokter,” kata Dini dengan lembut sembari mencium kening sang ibu.


Reni tersenyum sembari mengangguk kepada Dini.


Dini mulai berjalan meninggalkan kamar ibunya dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu di malam ini.


Sesampainya di tempat tidur Dini menuju tempat tidurnya lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur tidak berselang lama Dini pun mulai tertidur kembali.


Keesokan paginya Dini yang sudah bangun lebih awal pun membangunkan sang ibu yang belum bangun sedari tadi.


“Mah, bangun Mah kita ke dokter hari!” pekik Dini di balik pintu kamar ibunya.


“Iya Dini,” pekik Reni di dalam kamarnya.


Reni berjalan membuka pintu kamarnya, saat Dini melihat sang ibu ia sangat kaget sekali.


Ruam-ruam merah yang tadi malam Dini lihat di tubuh ibunya kini menjadi luka serta berair karena di garuk-garuk oleh Reni.


“Mah kenapa jadi seperti ini?” tanya Dini yang terkejut.


“Mamah tidak tahu Nak, Mah hanya merasakan gatal di sekujur tubuh Mamah dan Mamah garuk ruam-rumah kemerahan ini menjadi luka serta berair,” pungkas Rini sembari mengaruk tubuhnya yang terasa gatal.


“Sudah mah jangan di garuk lagi, nanti tambah parah ayo kita ke dokter!” ajak Dini menghentikan tangan sang ibu yang sedang mengaruk.


Dini berserta Reni tengah bersiap-siap untuk berangkat ke dokter.   


 


     

__ADS_1


  


 


__ADS_2