Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Misteri keluarga Dini


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Dini mengajak sang ibu untuk berbincang-bincang.


“Mamah kemarin makan apa kenapa sampai seperti ini?” tanya Dini yang heran.


“Entah Nak, perasaan Mamah tidak makan apa-apa, tapi kenapa jadi gatal-gatal seperti ini, Mamah hanya merasakan ada serangga yang berjalan di dalam kulit Mamah Nak waktu itu lalu Mamah garuk dan seperti ini,” Reni yang juga kebingungan dengan apa yang dirinya alami.


“Ya sudah kalau begitu Mah, semoga saja ini hanya alergi biasa yang tidak parah,” ucap Dini sembari menoleh ke arah ibunya yang masih saja mengaruk-garuk tabuhnya.


“Ada apa ini sebenarnya Dini, ada apa dengan keluarga kita. Awalnya papahmu meninggal setelah memuntahkan paku dan silet sekarang Mamah seperti ini?” Reni yang kebingungan.


“Tidak Mah, ini hanya medis saja nanti Mamah berobat pasti sudah sembuh, jangan berfikir tentang mistik atau hal-hal aneh Mah. Dini tidak percaya dengan hal semacam itu,” sahut Dini


“Tapi kalau benar bagaimana Dini, ini semua kiriman.”


“Maksud mamah kiriman?” Dini yang tidak mengerti.


“Kiriman santet!” ujar Reni.


“Mah tidak mungkin Mah, Papah tidak pernah punya musuh siapa yang mengirim hal semacam itu lagian Dini tidak percaya dengan hal-hal semacam itu ini sudah jaman modern Mah yang di kala orang sakit itu larinya ke Dokter bukan ke dukun,” pungkas Dini yang tidak mempercayai hal semacam itu.


Tidak lama saat mereka sedang asyik berbincang-bincang mereka telah sampai di depan rumah sakit.


Dini memarkirkan mobilnya setelah itu keluar dari mobilnya bersama ibunya berjalan menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Dini mendaftarkan Reni ke Dokter kulit.


“Bu Dini dan Bu Reni di harap menunggu, nanti akan di panggil namanya,” ujar suster yang memberitahukan mereka.


Dini berserta sang ibu pun menunggu di kursi yang telah sudah di siapkan, dan untuk menghilangkan rasa bosan Dini mengeluarkan ponselnya.


Saat sedang bermain dengan ponselnya terdengar suara ponsel Dini yang berbunyi, terlihat nama Kevin yang sedang menelepon dirinya.


“Hallo kamu di mana Dini?” tanya Kevin di telepon.


“Di rumah sakit.”


“Kamu kenapa Din? Kamu sakit?


“Bukan aku yang sakit tapi Mamah, entah dari tadi malam Mamah mengalami alergi parah.”


“Tadinya aku mau mengajak kamu jalan tapi berhubung Mamah lagi sakit ya sudah, titip salam kepada mamah semoga cepat sembuh ya, nanti selepas selesai urusanku di kantor aku akan mampir ke rumah sakit.”


“Iya Kevin nanti aku sampaikan kepada ibu.”


“Ya sudah kalau begitu sayang nanti aku akan ke rumah sakit secepatnya,” ucap Kevin di telepon sembari mematikan teleponnya.


Saat Dini matikan telepon dari Kevin, seorang suster keluar dari ruangan Dokter dan memanggil mereka.

__ADS_1


“Bu Reni, silakan masuk!” suster itu memerintahkan merek masuk ke ruang Dokter.


Dini dan Reni pun berjalan memasuki ruangan Dokter.


Di sana Dokter mulai menanyakan keluhan Reni dan memeriksanya.


Setelah beberapa menit Reni di periksa.


“Bagaimana Dok keadaan ibu saya?” tanya Dini yang sangat khawatir.


“Sepertinya ibu anda harus segera di rawat karena alerginya sendiri sudah masuk ke tahap yang serius dan memang harus segera ditangani,” sahut Dokter yang menjelaskan kepada mereka berdua.


“Ya kalau memang harus seperti itu prosedurnya Dok tidak apa-apa yang penting ibu saya bisa segera sembuh,” ujar Dini.


Reni pun di opname di rumah sakit, ia di pindahkan ke ruang pasien rawat inap untuk mendapatkan perawatan.


Sementara di sisi lain sebuah mobil mewah sedang berhenti di halaman rumah gubuk pria tua.


Seorang pria muda berumur 26 bermata sipit dan mempunyai tahi lalat kecil di ujung alisnya pria itu menggunakan kemeja putih keluar dari mobil tersebut menuju ke rumah pria tua itu.


“Mbah Seno!” seru pria itu sembari mengetuk pintu rumah mbah Seno.


Mbah Seno yang mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya pun segera berjalan menuju pintu utama.


Sesampainya di pintu utama mbah Seno membukakan pintu rumahnya.


Pria muda itu berjalan di belakang mengikuti mbah Seno.


Sesampainya di sebuah kamar khusus yang di gunakan oleh mbah Seni sebagai tempat ritualnya.


“Bagaimana dengan mereka?” tanya Mbah Seno.


“Bagus Mbah, satu persatu keluarga Dini segera akan mati, aku ingin mereka mati secepatnya termasuk Dini, tapi aku ingin Dini di siksa terlebih dahulu jangan biarkan dia mati begitu cepat,” ujar pria muda itu dengan wajah bencinya kepada keluarga Dini.


“Baiklah jika keinginanmu seperti itu,” ujar Mbah Seno.


“Iya Mbah, karena perbuatan mereka membuat kakakku menjadi meninggal, bisa kah aku bertemu dengan kakakku mbah?” tanya pria muda tersebut.


“Bisa itu sangat mudah, aku akan memanggil arwahnya dan kamu dapat berinteraksi dengan arwah kakakmu melalui tubuhku,” mbah Seno yang menjelaskan.


“Baik mbah.”


Mbah Seno memejamkan matanya lalu membacakan Mantra khusus memanggil para arwah yang di inginkannya di sertai mulut yang komat-kamit mbah Seno membacakan mantranya tersebut.


Tidak lama setelah mbah Seno selesai membaca sesosok arwah masuk ke dalam tubuhnya.


Suara mbah Seno seketika berubah menjadi seperti anak muda.

__ADS_1


Melihat Mbah Seno tidak seperti mbah Seno kembali pria itu mencoba berkomunikasi dengan sang kakak.


“Bagaimana apa kamu telah susah menghabiskan satu persatu keluarga Dini?” tanya mbah Seno yang telah di masuki arwah seorang pemuda.


“Sudah Bang kali ini yang akan meninggal adalah Reni ibu dari Dini yang telah membuatmu seperti ini.”


“Bagus jika begitu, aku ingin Dini ikut bersamaku karena aku tidak bisa mendapatkan dirinya maka dia harus ikut mati bersamaku.”


“Iya Bang sebentar lagi Dini akan menjadi milik Abang sepenuhnya.”


“Hahahah, Bagus sekali kamu memang adikku yang terbaik,” ujar Arwah pemuda itu lalu keluar dari tubuh Seno.


Seno pun kembali tersadar.


“Mbah kalau bisa secepatnya buat Reni itu mati, aku tidak sabar menunggunya. Urusan mahar tenang aku akan bayar setimpal dengan pekerjaan Mbah ini uang yang aku janjikan jika tugas mbah telah selesai aku akan berikan kembali.”


“Hahaha tenang saja mbah Seno tidak pernah gagal dalam menyantet orang,” ujar mbah Seno mengambil beberapa gepok uang yang di sodorkan oleh pemuda itu.


“Iya mbah aku percaya dan tidak meragukan kesaktian mbah Seno, Ya sudah mbah aku ingin pulang terlebih dahulu, tapi ingat mbah siksa Dini terlebih dahulu baru mbah dapat membunuhnya.”


“Itu hal yang mudah bagiku.”


“Baiklah jika begitu mbah, hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa,” celetuk pria itu dengan penuh dendam serta kebencian.


Tidak berselang lama pria muda itu berpamitan kepada mbah Seno.


Mbah Seno pun mengantarkan pria muda itu sampai depan pintu rumahnya.


“Nanti kalau mbah perlu sesuatu mbah dapat mengabari aku.”


“Baiklah.”


Pria muda itu pun berjalan kembali ke mobilnya, sesampainya di depan pintu mobil pria itu kembali masuk ke dalam mobil lalu menjalan mobilnya meninggalkan rumah gubuk mbah Seno.


Mata hari telah memancarkan Sinarnya yang trik, jam pun telah menunjukkan pukul 12 siang.


Dini yang berada di rumah sakit berpamitan pulang kepada sang ibu.


“Mah Dini pulang terlebih dahulu ya, sekalian menyuruh bi Ijah mempersiapkan keperluan Mamah yang harus Dini bawa ke rumah sakit,” kata Dini sembari mengecup kening sang ibu.


“Iya Nak hati-hati di dalam Dini,” tutur sang ibu dengan lembut.


“Iya Mah, mamah cepat sembuh ya, nanti malam Dini akan kembali,” sahut Dini sembari berjalan keluar dari ruangan rawat sang ibu.


Dini pun berjalan keluar dari rumah sakit menuju perkiraan mobil.


Sesampainya di sana Dini segera masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit tempat ibunya di rawat menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2