
Satu minggu telah berlalu keadaan Dini pun telah membaik dan di perbolehkan pulang oleh dokter.
Di temani Yoga Dini berjalan keluar dari rumah sakit, sebelumnya Yoga sudah memesan taxi untuk menjemput Dini.
Yoga memasukkan barang-barang milik Dini ke dalam bagasi dan masuk ke dalam.
Di dalam perjalanan Dini tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Yoga.
“Makasih ya Yoga kalau bukan karena kamu aku pasti sudah tidak berada di sini,” ucap Dini.
“Sama-sama, yang terpenting sekarang kamu bisa sehat dan kembali beraktifitas seperti biasa,” ucap Yoga.
Taxi pun sampai di depan rumah Dini, di depan rumah bi Ijah sudah menunggu Dini.
Saat Dini keluar Dini langsung di sambut hari oleh bi Ijah.
“Alhamdulillah akhirnya Non Dini bisa pulang,” ucap bi Ijah dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat Bi Ijah menagis tersedu membuat Dini merasa terharu, ia tidak menyangka jika bi Ijah begitu peduli dengannya.
“Non jangan salah pilih orang lagi ya Non,” ucap bi Ijah.
“Iya Bi, ayo kita masuk dulu,” ajak Dini.
Mereka pun duduk di sofa sembari bercerita, Yoga tak henti-hentinya memandangi Dini hingga membuat Dini tersipu malu.
“Jangan di pandangin terus dong nak Yoga, lihat tub Non Dini jadi malu,” ucao bi Ijah.
“Ah apaan sih Bi, enggak kok,” sahut Dini.
“Habis gimana bi, saya senang lihat Dini senyum kaya gini,” sahut Yoga.
“Cieee bisa juga kamu ngegombal,” ledek Bagas yang sedari tadi berada di sampingnya.
“Aku berhutang banyak sama kamu,” ucap Bagas.
“Aku juga harus berterima kasih sama kamu,” bisik Yoga.
Yoga pun bangkit dari duduknya dan berpamintan dengan Dini dan juga bi Ijah.
“Kalau gitu aku pulang dulu ya,” ucap Yoga.
“Kmau gak mau makan atau apa dulu gitu?”
“Enggak aku pulang aja, bi Ijah saya pamit ya bi,” ucap Yoga.
“Iya Nak Yoga hati-hati ya.”
Yoga pun pulang dengan berjalan kaki karena rumah Dini tidak jauh dari kostnya.
Saat sampai di kamar kostnya Yoga pun duduk bersandar pada dinding kamarnya.
Ia sebenarnya ingin mengajak Dini untuk jalan-jalan namun ia masih belum berani mengajak Dini.
“Udah ajak aja kenapa mesti takut sih,” ucap Bagas.
“Kok kamu tahu,” ucap Yoga terkejut.
“Ya aku tahu isi hati kamu,” sahut Bagas.
Yoga pun membgambil ponselnya lalu mengirim pesan singkat kepada Dini.
“Dini besok kan minggu, kita jalan gimana?” tulis Yoga di pesan.
Cukup lama Yoga menunggu balasan dari Dini hingga akhirnya Yoga tertidur.
Tidak lama ponselnya pun berdenting, pertanda sebuah pesan masuk.
“Iya boleh,” balas Dini.
Seketika Yoga langsung bangun dan kegirangan.
“Yess!” ucapnya.
Yoga pun langsung mengempaskan dirinya ke kasur uangnya itu ia tidak menyangka jika Dini mau ia ajak jalan-jalan.
Keesokan paginya, Yoga sudah bersiap dengan sangat rapi. Kali ini mereka akan pergi ke suatu tempat yaitu lokasi wisata yang ada di dekat perbatasan kota.
Tempat wisata iti sangat viral dan membuat Dini ingin ke sana.
Telepon Yoga pun berdering, terlihat Dini sudah berada di depan kostnya dengan mengendarai sebuah mobil.
Teman-teman satu kostnya pun mulai memperhatikannya.
“Wah Yoga diam-diam punya pacar orang kaya,” ucap salah satu penghuni kost.
__ADS_1
“Bukan itu temanku,” sahut Yoga yang berlaku pergi meninggalkan teman kostnya.
Mobil pun melaju menuju tempat wisata itu, di perjalanan Dini terlihat sangat senang.
Sebelumnya Yoga sudah menyiapkan sesuatu untuk Dini.
Sesampainya di tempat itu Dini langsung di buat takjub dengan pemandangan alamnya, di dalamnya ternyata ada banyak wahana yang bisa di coba.
Dini hampir mencoba semua wahana itu, Yoga terus memandangi wanita yang ia sukai itu.
“Udah langsung aja ngapain nunggu lama sih?” ucap Bagas.
“Tunggu dulu, aku gugup,” ucap Yoga.
“Halah ... ayo cepetan biar aku bisa pergi dengan tenang,” ucap Bagas.
“Maksud kamu apa?”
“Udah ayo jangan lama-lama!”
Yoga pun mendekati Dini ia memegang tangan Dini hingga membuat Dini tersipu.
“Dini, ada hal yang ingin aku beri tahu. Aku sadar aku bukan orang kaya, tidak punya harta tapi, aku hanya ingin menanyakan ini satu kali. Mau kamu Terima atau tidak itu tidak masalah.”
Yoga merogoh kantung sakunya dan mengambil sebuah benda kotak kecil berwarna merah.
“Dini apa kamu mau menikah denganku?” ucap Yoga sembari membuka kotak yang berisi cincin.
Seketika Dini terdiam, matanya berkaca-kaca ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.
“Ya aku mau.”
“Hah? Kamu serius?”
“Ya aku serius,” ucap Dini.
Seketika Yoga melompat kegirangan, sementara itu orang-orang yang melihat momen itu pun bersorak serta memberi selamat pada Yoga.
Momen itu menjadi momen yang tak akan terlupakan oleh Dini
***
Beberapa minggu kemudian Yoga dan Dini melangsungkan pernikahan, acara pernikahan berlangsung khitmat dan penuh haru.
Tidak terkecuali dengan Bagas, terlihat Bagas memandangi senyum bahagia Yoga dan juga Dini.
“Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum bahagia sayang,” ucap Bagas.
Yoga memandang ke arah Bagas yang tengah berdiri memandangi mereka, Bagas pun melambaikan tangannya seakan pertanda jika hari itu akan menjadi hari terakhir mereka bertemu untuk selamanya.
Tubuh Bagas perlahan memudar, dengan senyum penuh bahagia Bagas pergi merelakan kekasih hatinya bahagia bersama sahabatnya yang selama ini telah membantunya.
Setelah acara akad dan resepsi selesai Yoga dan Dini memutuskan untuk pergi berbulan madu besok, sebelumnya Yoga sudah mempersiapkan segala sesuatu yang habis mereka bawa.
Kini Yoga tinggal bersama Dini, Dini tidak lagi merasa kesepian sekarang ada orang yang selalu menemaninya di saat apa pun.
Satu bulan telah berlalu usaha cafe Dini pun sekarang di pegang oleh Yoga dan berjalan dengan pesat kini Yoga terlah membuta cabang cafe rindu di berbagai daerah.
Di pagi yang cerah di saat Dini sedang menyantap sarapan pagi dengan Yoga.
Terlihat Yoga sedang berdiam diri memikirkan sesuatu.
“Ada apa Mas, aku lihat sedari tadi kamu diam saja seperti banyak pikiran yang sedang kau pikirkan.
“Aku teringat akan rumahku di desa peninggalan almarhum bapak serta ibuku,” Yoga yang menjelaskan kepada Dini.
“Kenapa dengan rumahmu itu Mas?” tanya Dini.
“Rumah itu di gadaikan oleh pak Arif dan karena bapak tidak mampu membayar maka rumah itu pun di ambilnya,” ujar Yoga bercerita kepada Dini.
“Mari kita ambil rumah itu?” ujar Dini tersenyum kepada Yoga.
“Tapi bagaimana aku mencari uang sebanyak itu sayang.”
“Mas semenjak kamu menjalan kan cafe rindu dan kita sudah membangun cafe itu di berbagi tempat dan setiap hari omsetnya pun lumayan, belum lagi tabunganku dan bisnisku yang lain aku yakin itu cukup untuk menebus rumah orang tua mu,” Dini yang menjelaskan kepada Yoga.
Yoga yang mendengar itu pun berdiri menghampiri dini lalu memeluknya serta mencium kening Dini.
“Terima kasih sayang kamu adalah istriku yang paling baik,” kata Yoga sembari mencium kening Dini.
“Kapan kamu mau ke desamu Mas?” tanya Dini.
“Entahlah sayang aku juga tidak tahu.”
“Bagaimana jika hari ini aku ikut bersamamu ke desa,” saran Dini.
__ADS_1
Yoga terdiam sembari berfikir .
“Baiklah jika begitu,” sahut Yoga.
Mereka berdua pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke desa Yoga.
Dini berserta Yoga menaiki mobilnya dan Yoga yang bertugas mengemudikan mobilnya.
Yoga mulai menjalankan mobilnya pergi menuju desanya.
Di perjalanan menuju desa Dini mengajak Yoga untuk mengobrol.
“Mas kamu tidak pernah cerita tentang dirimu Mas?” tanya Dini.
“Jika kamu mengetahui semua tentang diriku apakah kamu tetap akan mencintaiku?” tanya Yoga.
“Mas apa pun tentang dirimu aku akan tetap mencintaimu Mas, perasaan ini tidak akan rapuh Mas,” ucap Dini yang meyakinkan Yoga.
“Terima kasih sayang,” ujar Yoga.
Yoga pun mulai menceritakan tentang dirinya kepada Dini siapa ayahnya dan juga siapa dirinya Dini terkejut dengan semua yang ia dengar.
“Lalu ilmu hitam yang kamu pelajari akan di turunkan ke anak kita nanti Mas?” tanya Dini yang terkejut.
“Tidak sayang kamu tenang saja, ilmu hitam itu aku penerus yang terakhir dan tidak akan di turunkan kembali.”
Dini yang merasa tenang mendengar kata-kata Yoga.
Tiga jam telah berlalu mereka pun telah sampai di rumah pak Arif.
Yoga berserta Dini masuk ke rumah pak Arif dan menyampaikan tujuannya datang kemari.
Pak Arif pun tidak keberatan dengan rumah yang ingin Yoga ambil kembali.
Yoga mengeluarkan uang serta membuat surat perjanjian hitam di atas putih agar kedepannya menjadi jelas.
Setelah semua telah selesai dan kunci juga telah di serahkan kepada Yoga.
Yoga berserta Dini pun pergi ke rumah peninggalan Kuncoro.
Sesampainya di rumahnya Yoga membuka pintu rumah tersebut terlihat debu yang menempel di meja ramu serta di perabotan yang lain.
Yoga kembali melihat foto-foto dirinya bersama ayah dan ibunya di ruang tamu.
“Pak, Bu kini Yoga telah mengambil rumah peninggalan kalian dan kini Yoga pun telah sukses dan mempunyai istri sebaik Dini,” ucap Yoga sembari meraba foto ayah berserta ibunya.
Yoga pun mulai berjalan di setiap ruangan mengenang masa kecilnya di rumah tersebut.
Hingga 15 menit telah berlalu Yoga kembali mengajak Dini untuk pergi ke kuburan ayah serta ibunya.
Yoga kembali mengunci pintu rumah tersebut.
Terdengar dari kejauhan seseorang memanggil dirinya.
“Yoga!” pekik Bayu sahabatnya di kala Yoga di desa.
“Eh ban Bayu bagaimana kabarnya?” tanya Yoga sembari menghampiri Bayu.
“Alhamdulillah baik, ini istriku Yoga namanya Sekar,” ujar Bayu memperkenalkan istrinya.
Yoga pun memperkenalkan Dini kepada Bayu, dan Bayu melihat perubahan kepada Yoga.
Bayu teringat akan perkataan Yoga yang akan mengadu nasib di ibu kota sekarang Yoga membuktikan kepada Bayu bahwa dirinya telah berhasil sekarang ini.
Setelah berbincang cukup lama Yoga pun berpamitan kepada Bayu ingin ke pemakaman bapaknya.
Setelah selesai ke pemakan Bapak dan ibunya Yoga kembali pulang ke ibu kota.
***
Tiga bulan telah berlalu kini Dini telah hamil Yoga pun menjadi lebih perhatian kepada Dini dan menjadi suami siaga.
Keluarga kecil Yoga kini menjadi lengkap akan kehadiran seorang bayi yang akan lahir di dunia.
Tamat
Terima para pembaca Sang Pewaris Ilmu karena telah setia membaca cerita ini.
Jika di dalam cerita ini terdapat salah penulisan mohon di maklumi
Ambil hal positif dari cerita ini dan buang hal negatifnya.
Nantikan cerita yang baru dari Author.
Selamat raya mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
__ADS_1