Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Pemeriksaan pada Reni.


__ADS_3

Di siang harinya Yoga yang merasa merutnya telah berbunyi-bunyi sedari tadi pun pergi ke warteg bu Ani.


Di sana seperti biasa Yoga memesan nasi campur ke sukaannya.


Namun Bu Ani tidak sendiri ia di teman oleh anak perempuannya yang telah duduk di bangku SMA.


Bu Ani pun terkejut saat melihat wajah Yoga yang terlihat memar-memar akibat pukulan seseorang yang tidak di kenal.


“Kenapa wajahmu Yoga kok babak belur begitu?” tanya bu Ani.


“Ibu pernah bercerita jika tinggal di ibu kota itu sangat keras, ya ini hasilnya,” sahut Yoga sambil menyengir kuda.


“Pasti kamu di hajar preman lagi?” tanya bu Ani.


“Ya seperti itulah Bu,” sahut Yoga yang malas bercerita panjang lebar.


“Nisa, ambilkan salep di rumah untuk luka memar si Yoga ini kasihan dia,” perintah bu Ani kepada anaknya.


“Ibu Bu.”


Nisa pun pergi ke rumah kebetulan rumah bu Ani tidak begitu jauh hanya di samping wartegnya sendiri.


Tidak berselang lama Nisa anak bu Ani pun datang dengan membawa salep untuk Yoga.


Nisa sendiri mempunya paras yang cantik dan juga manis terkadang di saat dirinya membantu sang ibu berjualan para pembeli pun menggodanya.


Namun Nisa yang berpenampilan sopan serta memakai jilbab enggan untuk meladeni mereka.


“Bu ini salepnya?” ucap Nisa yang memberikan saleb kepada ibunya.


“Kamu obati Yoga, kasihan dirinya dia sebatang kara di ibu kota pun tidak punya saudara ibu sudah menganggapnya seperti anak sendiri,” perintah bu Ani dengan lembut kepada anaknya.


“Iya Bu,” ujar Nisa yang menghampiri Yoga duduk di belakang Warteg sembari menikmati makannya yang sudah mau habis.


“Mas maaf di suruh ibu mengobati luka mas Yoga,” ucap Nisa.


“Tidak perlu biar aku obati sendiri,” Yoga menolak secara halus.


“Tapi ini di suruh ibu,” Nisa sedikit memaksa.


Yoga yang merasa tidak nyaman pun mengiyakan Nisa untuk mengobati lukanya.


Dengan secara perlahan Nisa mengobati wajah Yoga yang lebam, sesekali Nisa memandang wajah Yoga.


“Aduh!” teriak Yoga kesakitan.


“Maaf mas Yoga, sakit ya,” ujar Nisa.


“Iya pelan-pelan,” Yoga yang memperingati Nisa.


“Iya Mas.”


Terlihat seperti Nisa merasa tertarik dengan Yoga karena paras Yoga tampan bukan hanya itu sikap Yoga yang sopan kepada Nisa menambah daya tarik tersendiri kepada Yoga.


“Sudah selesai mas,” tutur Nisa dengan lembut.


“Terima kasih ya,” sahut Yoga.

__ADS_1


“Bu berapa semuanya?” pekik Yoga.


“Sudah tidak usah,” kata bu Ani.


“Jangan bu, ibu kan jualan.”


“Nanti saja kalau kamu sudah gajihan ini tanggal tua pasti uangmu sudah menipiskan?” ledek bu Ani.


“Iya, bu Ani tahu saja,” ujar Yoga sembari menampilkan senyum lesung menambah daya tarik dirinya ketika sedang tersenyum.


“Oh iya makasih ya Nisa sudah membantu mengobati luka Abang,” celetuk Yoga sembari tersenyum ke arah Nisa.


“Sama-sama Bang,” sahut Nisa tersipu malu.


Yoga pun meninggalkan warteg bu Ani dan kembali ke kostnya.


Sesampainya di kost Yoga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Karena semua tubuhnya merasakan sakit akibat di pukuli seseorang yang tidak kenal.


Saat Yoga sedang memejamkan matanya arwah Bagas pun tiba-tiba datang di samping Yoga.


“Yoga bagaimana lukamu?” tanya Arwah Bagas.


“Lumayan sudah mulai membaik tapi badanku sakit semua mana nanti sore aku mau bekerja ini muka masih biru-biru?” eluh Yoga sembari mengambil nafas panjang.


“Sini aku bantu?”


“Bantu ngilangin luka lebamnya? Memang kamu bisa Bagas?”


“Bukan menghilangkan luka lebamnya tapi hanya bisa menghilangkan rasa sakitnya saja.”


Bagas pun mengusap area yang terasa sakit di tubuh Yoga dan memberikan energinya ke tubuh Yoga.


Seketika Yoga yang merasa tubuhnya sakit kini menjadi sehat kembali seperti tidak terjadi apa-apa kepadanya.


“Terima kasih ya Bagas, tapi mukaku?”


“Sudah tidak apa-apa siapa tahu Dini jadi lebih perhatian kepadamu,” ya Sudah aku mau pergi dulu,” Bagas yang pamit kepada Yoga dan langsung menghilang.


Yoga mulai menggerak-gerakkan tubuhnya terutama tangan, punggung dan bagian perutnya Yoga bahkan berdiri mencoba merasakan rasa sakit di tubuhnya yang menghilang.


“Wah hebat juga Bagas bisa sembuhin luka kaya gini, minum obat aja belum tentu bisa sembuh secepat ini,” ucap Yoga.


Sementara itu Reni yang saat itu berada di rumah sakit sendirian oleh Dini, awalnya ia hanya merasakan tidak enak di sekujur tubuhnya namun lama kelamaan saat menjelang magrib Reni mulai merasakan hal yang aneh.


Reni merasakan gatal di sekujur tubuhnya, ia menggaruk tangan, leher, hingga wajahnya dengan kukunya hingga membuat tubuh dan wajahnya memerah.


“Kenapa tubuhku jadi gatal begini! “ pekik Reni.


Reni terus menggaruk hingga beberapa bagian di wajahnya lukaluka, Reni bahkan berteriak akibat rasa gatalnya itu.


Tidak hanya itu Reni merasakan ada sesuatu tengah berjalan bebas di lapisan kulitnya, bentuknya panjang dan tidak terlalu besar.


Reni pun histeris saat melihat sesuatu itu merayap di kulit bagian perutnya.


“Aaaaaaaa!” teriak Reni.

__ADS_1


Teriakan histeris Reni terdengar hingga ke luar, beberapa perawat yang mendengarnya pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat Reni dirawat.


Reni bahkan berguling-guling di lantai sambil berteriak histeris.


“Ada apa bu? “ tanya perawat yang masuk ke dalam ruangan itu.


“Tolong saya suster, badan saya gatal dan sakit Sus! “ ucap Reni dengan histeris.


“Ibu tenang dulu Bu, kita naik ke atas lagi ya bu, “ ucap suster itu sembari membantu Rini bangun dari lantai.


Reni pun di angkat dan bantu untuk berdiri lalu naik kembali ke atas ranjang, dengan wajah yang penuh luka Reni terus meminta tolong kepada para tim medis.


Seorang perawat berlari untuk memanggil dokter, hingga beberapa saat dokter pun datang dan memeriksa keadaan Reni.


“Suster saya minta tolong hubungi keluarga pasien, “ ucap dokter itu kepada salah satu suster.


“Baik dok, “ sahut suster itu.


Reni mulai di periksa, luka di wajahnya pun di bersihkan oleh salah satu perawat, perawat yang lain mencoba memegangi tangan Reni yang terus berontak.


Karena Reni terus merobta dan berteriak, dokter pun membawanya untuk melakukan CT scan, dengan menggunakan kursi roda Reni langsung di bawa ke ruang CT scan.


“Suster apa keluarga pasien sudah di hubungi?” tanya dokter itu.


“Sudah dok, katanya juga tadi sedang perjalanan menuju ke rumah sakit, “ sahut suster itu.


“Baik, sebenarnya kita harus menunggu persetujuan keluarga pasien dulu tapi ini darurat jadi saya minta berikan berkas untuk dia tanda tangani nantinya,” tutur dokter itu.


“Baik dok”


Reni pun langsung menjalani pemeriksaan, tubuhnya di periksa dengan intens saat setelah di periksa Reni di antar kembali ke ruangannya.


Saat di dalam ruangan itu Dini tengah duduk menunggu ibunya.


“Ma ... Mama kenapa ma?” tanya Dini saat melihat wajah Reni yang penuh luka.


“Maaf bisa ikut ke ruangan saya?” pinta dokter itu.


“Baik dok,”


Dini pun mengikuti dokter itu lalu masuk ke dalam ruangannya.


“Silahkan duduk,” pinta dokter itu.


Reni pun duduk di kursi itu, “ada apa dengan mama saya dok?” tanya Dini.


“Begini, tadi beberapa suster mengatakan jika ibu anda berteriak histeris dan menggaruk-garuk tubuh serta wajahnya hingga terluka. Dan saat saya datang memang benar ibu anda histeris dan berteriak kesakitan, saya sudah melakukan pengecekan pada tubuh ibu anda tapi saya tidak melihat apa pun semua normal tidak ada masalah,” Tutur dokter itu.


“Lalu mama saya gimana dok? Dok tolong sembuhkan mama saya dok,” ucap Dini.


“Besok kami akan mencoba memeriksa darah dan yang lainnya untuk memastikannya,” sahut dokter itu.


“Baik dok, apa pun iti tolong lakukan demi kesembuhan ibu saya,” ucap Dini.


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”


Usai berbicara dengan dokter itu Dini pun kembali masuk ke dalam ruangan Reni, terlihat Reni tengah tertidur lelap akibat suntikan obat kepadanya tadi.

__ADS_1


Dini merasa sedih melihat keadaan wajah Reni yang penuh luka itu main telah di obati oleh para perawat.


“Ma, kenapa mama bisa begini apa yang sebenarnya yang mama rasakan?” tanya Dini pada wanita yang tengah terbaling lelap itu.


__ADS_2