
Di minggu pagi Kevin yang sedang bersantai di ruang tamu sembari menikmati sarapan paginya berupa roti sembari menonton berita di televisi Kevin mendapat informasi atas kematian ke tiga pereman suruhannya.
Kevin yang terkejut akan kematian mereka bertiga dengan secara mengenaskan.
“Sial kenapa mereka bertiga bisa mati secara mengenaskan semuanya, biasanya mereka itu selalu berhasil dalam menjalankan misi,” celetuk Kevin yang sangat kesal.
“Baiklah jika cara ini tidak berhasil aku akan mendatangi mbah Seno, dan akan aku lenyapkan kamu Yoga,” ucap Kevin dengan senyum jahatnya.
Kevin berjalan keluar menghampiri mobilnya yang di parkirkan di garasi.
Sesampainya di garasi mobilnya Kevin menaiki mobilnya dan mengeluarkan mobilnya pergi menuju rumah mbah Seno.
Di dalam perjalanan menuju rumah mbah Seno, Kevin teringat akan kakaknya Radit yang telah meninggal.
“Bang, tunggu ya ada penganggu yang ingin merusak rencanaku, aku akan membereskan dia dahulu baru aku akan mempersembahkan Andini untukmu, di sana kamu tidak akan merasa kesepian lagi bang,” celetuk Kevin sembari mengemudikan mobilnya.
Kevin pun mendengar suara yang tidak asing tapi dirinya tidak bisa melihat.
“Bagus kamu adekku yang paling baik Kevin,” kata suara itu tanpa ada seseorang pun di dalam mobil Kevin.
“Bang Radit ini abang?” celetuk Kevin dengan spontan.
Namun suara yang seperti abangnya pun hilang entah ke mana.
Satu jam kemudian Kevin telah sampai di rumah gubuk mbah Seno.
Kevin memarkirkan mobilnya, setelah itu ia pun keluar dari dalam mobil menuju rumah mbah Seno.
“Mbah Seno! Mbah!” seru Kevin sembari mengetuk pintu rumah Seno.
Mbah Seno yang mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumahnya menghampirinya dan membukanya.
“Mbah aku bisa meminta bantuan mbah?” celetuk Kevin.
“Masuklah,” perintah mbah Seno.
Kevin pun mengikuti mbah Seno sampai ke kamar ritual khusus.
“Duduklah ceritakan apa mau mu?” ucap mbah Seno dengan suara berat.
Kevin pun mulai bercerita kepada mbah Seno apa yang ia inginkan sebenarnya.
“Begini mbah kedatangan saya kemari untuk ingin mbah membantu saya menyingkirkan seseorang yang sedang berusaha mendekati Andini,” Kevin mulai menjelaskan maksud hatinya.
“Siapa namanya dan kamu ada fotonya?” tanya Mbah Seno.
“Ada mbah, saya sempat foto dirinya kapan lalu, namanya Prayoga Kuncoro itu mbah kalau saya tidak salah dan ini fotonya,” kata Kevin sembari memberikan Foto Yoga.
“Apa Kuncoro?” celetuk mbah Seno secara spontan.
“Iya mbah ada apa?” tanya Kevin.
Mbah Seno pun mulai bercerita kepada Kevin.
“Keluarga Kuncoro adalah teman perguruan keluargaku, kami sama-sama mempunyai ilmu hitam yang sangat hebat yang akan di wariskan tujuh turunan, namun Kuncoro memakai ilmu hitamnya untuk melawan santet, teluh serta menolong orang lain di sini lah aku dan Kuncoro berlawanan, kalau tidak salah sudah 10 tahun Kuncoro menanti seorang anak dan penantiannya akhirnya membuahkan hasil. Dan yang aku menaruh dendam kepadanya, saat itu ada salah satu pesienku meminta agar saingan kerja itu mati. Namun aku perlahan-lahan mengirim santet ke anaknya dan ternyata si Kuncoro itu yang menyembuhkan anak itu menghilangkan pengaruh negatif dari keluarga mereka dan memberi perisai di keluarga itu, akhirnya orang yang telah memberikan aku imbalan melaporkan aku ke polisi atas tujuan penipuan karena aku tidak berhasil membuat saingan bisnisnya itu mati dan mengalami kebangkrutan sehingga aku di penjara saat itu. Aku sangat kesal dengan Kuncoro dan berniat untuk membalas dendam aku mempelajari ilmu hitam ini lebih dalam lagi dan akhirnya satu persatu dari mereka telah aku bunuh dengan perlahan-lahan. Membuat istrinya terserang penyakit yang akan menghabiskan harta dan Kuncoro sendiri setelah kematian istrinya mulai melemah ini kesempatanku untuk membalaskan demam menyerangnya di malam itu,” Mbah Seno yang menceritakan kejadian yang kelam dengan penuh kebencian dengan keluarga Kuncoro.
“Bagus kalau begitu mbah, mbah Bisa membunuh Yoga sekalian agar keturunan keluarga Kuncoro tidak ada lagi,” Kevin yang memberikan saran.
__ADS_1
“Tapi seperti anak ini bukan anak sembarangan terlihat dari fotonya energi hitam di tubuhnya begitu sangat besar,” ujar Mbah Seno.
“Saya percaya kan semua ini dengan mbah Seno, saya yakin mbah Seno dapat membunuh Yoga.”
“Baiklah aku akan mengerahkan ilmuku untuk membunuh anak itu nanti malam akan aku kirimkan teluh untuk dirinya” sahut mbah Seno dengan tersenyum jahat.
Setelah selesai berbincang-bincang Kevin pun berpamitan pulang kepada Mbah Seni.
“Mbah saya pulang dahulu ini, ada imbalan untuk mbah,” ujar Kevin yang menyodorkan amplop coklat kepada Seno.
“Tenang saja serahkan ini kepada Mbah Seno,” ujar mbah Seno dengan sombongnya sembari mengambil amplop coklat yang di sodorkan oleh Kevin.
Kevin pun keluar dari rumah mbah Seno menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah mbah Seno.
Setelah Kevin masuk ke dalam mobilnya ia pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mbah Seno kembali untuk pulang.
Malam harinya tempatnya di jam 12 malam ketika semua orang telah tertidur termasuk Yoga mbah Seno mulai menjalankan aksinya.
Mbah Seno yang telah menyiapkan seluruh persaratan ritualnya mbah Seno telah menyiapkan darah hewan kukang yang di percaya darah serta tulang hewan ini dapat di gunakan untuk ilmu hitam atau teluh.
Mbah Seno mulai mengambil sepihan kemeyan yang ia taruh di atas tungku yang di dalamnya terdapat bara api, serpihan kemeyan itu berubah menjadi gumpalan asap tipis dengan bau yang has.
Setelah itu Mbah Seno mengambil boneka Voodoo yang ia buat dari jerami di depan boneka itu sudah di tempelkan foto Yoga berserta nama panjang Yoga.
Tidak lupa juga mbah Seno mengambil darah hewan kukang yang berada di mangkok.
Darah hewan itu di tumpahkan di boneka Voodoo atau boneka santet yang di tempel foto Yoga.
Boneka santet itu pun terlihat basah dengan darah hewan barulah serelah itu mbah Seno mengambil paku, silet, serta jarum di tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang boneka santet itu.
Dengan mulut komat-kamit mbah Seno membacakan mantra ke boneka santet itu lalu meniupkan benda-benda tajam yang dia pegang di tangan kirinya.
“Kau akan mati hahahah,” ucap mbah Seno sembari tertawa.
Yoga yang sedang tidur terbangun merasakan badannya seperti terbakar lalu perutnya pun sakit seperti di tusuk-tusuk dengan jarum.
Yoga yang sedang merintih kesakitan di tempat tidurnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Hingga ia merasakan tenggorokannya sangat sakit serta perih seperti sedang di lukai oleh silet.
Dan tanpa sadar Yoga mulai batuk-batuk nafasnya mulai tidak beraturan karena menahan sakit dari perut hingga ke leher hingga akhirnya Yoga memuntahkan darah segar bercampur dengan jarum, silet, serta paku.
“Ada yang mencoba menyerangku,” ucap Yoga dengan spontan.
Yoga telah memuntahkan benda-benda tajam itu pun mulai merakan lebih baik.
Di saat yang tepat terdengar suara yang tidak asing.
“Yoga anakku, kau dalam bahaya Nak, kamu harus dapat bertahan dan menyerang balik kiriman orang tersebut?” suara Kuncoro yang di dengar Yoga.
“Bapak? Bapak di mana?” tanya Yoga.
Dengan samar-samar Yoga melihat arwah Kuncoro.
“Bapak,” ucap Yoga dengan wajah sedih.
“Yoga anakku seperti janji ku, aku akan selalu menjagamu, kini kamu sedang dalam bahaya besar Yoga, Fokuskan dirimu dengan satu tujuan lihat dengan mata batinmu siapa orang yang telah menyerang mu, setelah itu kembalikan teluh ini kepadanya, ayo Yoga sebelum terlambat, bapak hanya bisa menahan energi hitam ini sesaat kamu harus bisa menemukan orang yang mengirimkan kamu teluh,” ujar Kuncoro.
__ADS_1
Yoga yang mendengarkan ucapan Kuncoro pun duduk bersila di tempat tidurnya.
Yoga mulai menyelusuri seseorang yang berniat jahat dengan mata batinnya.
Dan akhirnya Yoga dapat menemui seseorang itu lewat mata batinnya.
Yoga melihat boneka santet yang di tempel fotonya serta boneka itu disiram darah hewan.
Amarah Yoga yang melihat dirinya di perlakukan seperti itu membuat Yoga mulai tidak dapat mengontrol emosinya serta amarahnya.
“Yoga anakku dengarkan ucapanku, kontrol emosimu Yoga jangan sampai emosi dan amarah yang mengendalikan dirimu,” arwah Kuncoro memperingati Yoga.
Yoga yang mendengar itu pun mulai meredam emosinya.
“Aku akan kembalikan kiriman ini kepadamu,” ucap Yoga.
BRUKK
Terdengar suara benda keras yang menghantam pintu kamar ritual mbah Seno.
Setelah itu boneka santet yang dipegang oleh mbah Seno pun terbakar dengan sendirinya.
Mbah Seno melepaskan boneka santet itu yang terbakar oleh api hingga hangus, dan secara bersamaan mbah Seno pun memuntahkan darah segar di sertai oleh paku, jarum, serta silet.
Yoga yang melihat lewat mata batinnya mbah Seno yang terluka Yoga pun tersenyum.
Setelah itu Yoga mulai membuka matanya.
“Terima kasih Pak,” ucap Yoga kepada arwah Kuncoro.
“Tetaplah berhati-hati anakku, dia tidak akan tinggal diam begitu saja,” pesan dari Kuncoro.
Setelah memberikan pesan itu Kuncoro pun mengilang entah ke mana.
Yoga pun kembali beristirahat kini perutnya tidak merasakan sakit kembali serta tubuhnya tidak merasakan panas kembali Yoga kini dapat tidur dengan lelap.
Keesokan paginya Yoga bercerita kepada arwah Bagas tentang kejadian tadi malam yang ia alami.
“Maafkan aku Yoga, tadi malam aku tidak bersamamu, aku sedang menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Andini, dan kamu bicara seperti itu, berarti semua ini ada keterkaitannya, antara kamu Adini dan juga aku mungkin saja,” ujar Bagas yang mulai menyelidiki misteri ini.
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan hal tersebut?” tanya Yoga.
“Kamu pikir saja tidak mungkin kejadian ini terjadi secara kebetulan dan kamu sedang dekat dengan Dini, kamu pun terkena kiriman juga, berarti ini memang ada orang yang sengaja membuat seperti ini,” Bagas yang menjelaskan kepada Yoga.
Mendengar hal tersebut Yoga terdiam dan berfikir siapa dalang di balik semua ini apa maksud dia menghancurkan keluarga Dini.
“Benar katamu Bagas, semua ini ada keterkaitannya kita harus segera memecahkan misteri ini, jika memang benar berarti Dini sedang dalam masalah besar,” sahut Yoga.
“Iya Yoga kita harus bekerja sama,” ujar Bagas.
Mereka berdua pun mulai bekerja sama memecahkan misteri kematian orang tua Dini.
__ADS_1