Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Dini disekap


__ADS_3

“Jadi selama ini yang membunuhku adalah Radit!” Kata Bagas yang kesal mendengar.


“Anak itu sedari dulu memang tidak menyukai diriku Yoga,” sambung Bagas kembali.


“Kamu mengenal Radit?” tanya Yoga kepada Bagas.


“Iya Radit adalah teman kuliahku sewaktu itu, dia terkenal dengan sosok yang angkuh serta sombong, banyak teman yang lebih memihak kepadaku dari pada dia, dan  saat itu ketika aku sedang menjalin cinta dengan Dini aku menceritakan kepada Radit, dia terlihat marah  Radit pun bercerita kalau Dini adalah teman semasa sekolahnya dulu berulang kali Radit mengutarakan perasaannya kepada Dini namun Dini hanya menganggap ia sebagai teman, dan sampai akhirnya dia merencanakan pembunuhan yang didalangi oleh perampokan, mungkin setelah misinya sukses membunuhku Radit bisa mendapatkan Dini, tapi ternyata tidak dia meninggal dengan ulahnya sendiri,” Bagas yang menceritakan kepada Yoga.


“Akhirnya kita telah mengungkapkan misteri kematianmu tapi siapa yang menyuruh dukun itu membunuh kedua orang tua Dini?” tanya Yoga.


“Yoga santet dan teluh itu adalah bentuk dendam seseorang dan rasa sakit seseorang yang mereka tidak dapat balaskan!” sahut Bagas.


Yoga terdiam sesaat mencerna kata-kata Bagas.


“Tapi Radit kan sudah mati! apakah Kevin?” Celetuk Yoga dengan Spontan.


“Kemungkinan besar kalau benar Kevin berarti Dini dalam masalah besar?” Kata Bagas.


“Aku akan menelepon Dini dahulu memastikan dirinya baik-baik saja,” Kata Yoga.


Yoga pun mengambil ponselnya lalu dia atas meja kamarnya lalu menelepon Dini.


“Hallo Dini, kamu tidak apa-apa?” ujar Yoga di dalam telepon degan nada sangat khawatir.


“Ada apa Yoga, aku tidak apa-apa dan baik-baik saja.”


“Syukurlah jika begitu, aku ingin bertemu denganmu Dini ada yang mau aku sampaikan.”


“Hari ini aku tidak bisa Yoga, aku ingin menyelesaikan masalah ku bersama Kevin.”


“Masalah apa Din? Tanya Yoga yang kembali khawatir di telepon.


“Aku ingin mengakhiri hubungan ku bersama Kevin, aku sudah berusaha untuk mencintainya tapi aku tetap tidak bisa, aku tidak mau menyakiti hatiku dan hatinya lagu Yoga, aku pun tidak mau membohongi perasaanku ini.”


Yoga terdiam mendengar ucapan dari Dini.


“Yoga? Yoga?” Panggil Dini di dalam teleponnya.


“Eh iya Dini, ya sudah kalau begitu selesaikan saja masalahmu aku akan selalu bersamamu.”


“Terima kasih Yoga, kamu yang saat ini mengerti akan diriku.”


“Nanti jika semua telah selesai kabari aku ya.”


“Iya itu pasti Mas,” celetuk Dini di telepon dengan spontan.


Yoga pun menutup teleponnya dan mencoba bersabar menunggu kabar dari Dini.


Sementara di sisi lain di saat Dini telah selesai menerima telepon dari Yoga ia pun kembali menelepon Kevin untuk membahas hubungan ini.


“Hallo, Kevin?” 


“Iya sayang ada apa tumben pagi-pagi sekali meneleponku.”


“Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu ini tentang hubungan kita.”


“Ada apa Din? Apa ada yang salah dengan hubungan kita?” 


“Nanti akan aku jelaskan temui aku di tempat biasa.”


“Begini saja aku akan ke rumah mu menjemputmu.”


“Baiklah jika begitu aku tunggu jam 12 siang,” sahut Dini sembari mematikan teleponnya.

__ADS_1


Di saat Kevin telah selesai menelepon Dini, Kevin pun kembali menelepon mbah Seno.


“Hallo mbah, sekarang waktunya untuk menyiksa Andini.”


“Baiklah serahkan semua kepadaku,” kata mbah Seno di telepon sembari mematikan ponselnya.


Mbah Seno pun mulai beraksi dengan mengirim santet kepada Dini.


Mbah Seno mengambil sebuah boneka yang dibuatnya sendiri mirip seperti manusia, ia mengambil foto Dini lalu menempelkannya ke bagian kepala boneka itu dengan menggunakan jarum pentul.


Mbah Seno mulai menyalakan tungkunya dan menaburkan kemenyan di atasnya. Asap langsung membumbung ke atas aroma kemenyan begitu kuat tercium.


Mbah seno mulai membaca mantra sembari mengasapi boneka itu dengan asap kemenyan. 


Sementara itu Dini tengah berbaring di kasurnya, ia berniat untuk beristirahat, namun Dini sedikit terganggu dengan rasa sakit di kepalanya.


Semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi hingga membuat Dini histeris kesakitan, ia bahkan menjatuhkan beberapa barang yang ada di kamarnya akibat tersenggol oleh tubuhnya.


“Sakiit! Bi ... Bi Ijah!” panggil Dini sembari meremas rambutnya dengan kedua tangannya.


“Bi ... Bi ijah!”


Tidak lama Bi ijah datang, “Iya Non ada apa?” tanya bi Ijah.


“Bi tolong ambilkan obat bi kepala saya sakit banget,” ucap Dini.


Bi Ijah pun mencari obat untuk Dini, sementara Dini terus merasa kesakitan hingga darah segar keluar dari hidung Dini.


Darah itu keluar cukup deras hingga membuat bi Ijah yang saat itu membawakan obat untuk Dini pun terkejut.


“Astagfirullah Non, kenapa ini darahnya banyak sekali,” ucap bi ijah.


“Non kita ke rumah sakit aja ya Non,” ucap bi Ijah.


“Gak bi, gak usah mana obatnya,” pinta Dini.


Dini pun meminum obat tersebut lalu membersihkan darah yang keluar dari hidungnya itu menggunakan tissue.


Dini membaringkan tubuhnya di kasur untuk meredakan rasa sakitnya, selang beberapa menit sakitnya berangsur mereda dan menghilang.


Dini pun mengistirahatkan tubuhnya yang saat itu terasa lemas akibat menahan sakit.


Hingga pukul 12:00 siang Kevin menjemput Dini, kebetulan Dini sudah bersiap dan langsung masuk ke dalam mobil Kevin.


Mobil melaju melintasi jalan raya, Kevin memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Namun ada hal yang membuat Dini bingung yaitu mobil terus melaju hingga keluar perbatasan kota. 


“Vin kok kita lewat sini?” tanya Dini.


“Ada barang yang harus aku ambil dulu di rumah lamaku, gak apa-apa kan?” tanya Kevin.


“Ya udah gak apa-apa,” sahut Dini.


Mobil terus melaju hingga mereka berhenti di sebuah rumah yang terbengkalai.


“Yuk keluar dulu,” pinta Kevin.


Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun Dini ikut keluar dan masuk ke dalam rumah itu.


Saat masuk ke dalam rumah itu Dini bingung apa yang ingin Kevin ambil, hingga tiba-tiba tengkuknya di pukul seseorang dan membuatnya kehilangan kesadaran.


Hal ini di manfaat oleh Kevin yang sengaja memukul Dini.


Kevin mengingat tangan serta kali Dini dan ia juga membungkam mulut Dini dengan kain.

__ADS_1


Setelah itu Kevin mengangkat tubuh Dini lalu di letakan di sebuah kamar kosong.


Setelah mengeletakkan tubuh Dini begitu saja di lantai kamar kosong itu.


Setelah itu Kevin mengambil satu botol yang berisi air Kevin membuka botol tersebut menyiramkan ke wajah Dini.


Sontak saja Dini mulai sadar dengan pandangan rabun melihat Kevin yang sedang berdiri di depannya.


“Ayo bangun,” Kevin memaksa Dini Bangun


Dini yang telah sadar tidak menyangka Kevin begitu kejam kepadanya.


“Akhirnya kau bangun juga,” ujar Kevin.


Dini tidak dapat bicara karena mulutnya di bungkam oleh Kevin dengan melilitkan kain.


“Oh iya aku lupa, membuka ikatan di mulutmu,”


Setelah Kevin membukanya Dini terlihat kesal dan kata-kata makian keluar dari mulut Dini.


Plakk 


Tamparan keras mendarat di pipi Dini sampai di pinggir mulutnya mengeluarkan darah.


“Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?” tanya Dini dengan kesal.


“Aku ingin mempersembahkan dirimu untuk almarhum Radit kakakku, gara-gara kamu menolak dirinya dan juga kedua orang tua mu Radit mengalami kecelakaan, padahal sebenarnya Radit itu sangat mencintaimu namun kamu malah mempermainkan dirinya, saking cinta ia dengan mu ia tidak mau kamu di miliki orang lain dan kekasihmu Bagas itu, sebenarnya Radit yang menyuruh para perampok itu membunuhnya, agar Radit dapat menikahimu namun kerja kerasnya malah menjadi bencana besar baginya kamu menggagal semua keinginannya bersama orang tuamu, gara-gara kalian Radit meninggal di atas makan Radit aku berjanji akan membalaskan dendam ini dan satu persatu orang tuamu meninggal, hahahhah,” Kevin yang menceritakan semua kepada Dini.


“Jadi selama ini kamu dalang kematian kedua orang tuaku?”


“Iya benar aku membayar dukun untuk menyantet keluargamu dan satu persatu dendamku terbalas kini giliranmu yang aku akan persembahkan untuk Radit.”


Cerita Kevin membuat Dini kesal dan sakit hati, ternyata selama ini Kevin mendekati dirinya berserta keluarganya hanya untuk membalaskan dendam atas kematian sang kakak.


Dini pun menangis mendengar semua itu hatinya terasa sangat kesal dan kecewa ingin rasanya ia memukul Kevin namun tidak bisa karena ikatan di kaki dan tangannya.


Dini bingung harus bagaimana, ia teringat akan Yoga dan hanya bisa berharap Yoga dapat menemukannya.


“Untuk sementara waktu di sini dahulu sampai waktunya tiba kau harus ikut denganku.”


“Apa yang ingin kamu lakukan deganku Kevin?” tanya Dini menangis.


“Mempersembahkan dirimu untuk Radit.”


“Kamu gila Kevin Radit telah mati,” seru Dini dengan kesal.


“Hahahh, raganya memang telah mati tapi tidak dengan arwahnya.”


Kevin pun meninggalkan Dini seorang diri kamar kosong itu dan tidak lupa Kevin mengunci Dini dari luar.


Setelah selesai Kevin menelepon mbah Seno.


“Hallo mbah Seno, dia sudah aku sekap di rumah kosong apa yang harus aku lakukan lagi mbah?”


“Besok malam tepatnya malam kematian Radit. Bongkar kuburannya dan bawalah mayatnya keempatku bersama Andini,” perintah mbah Seno di telepon.


“Baik mbah nanti malam akan aku suruh anak buahku membongkar kuburan Radit dan besok malam aku akan ke rumah mbah.”


“Baguslah jika kau sudah mengerti,” ujar mbah Seno sembari mematikan teleponnya.


Setelah selesai menelepon mbah Seno, Kevin menelepon anak buahnya untuk menjalankan aksinya nanti malam membongkar jasad sang kakak Radit.


             

__ADS_1


  


 


__ADS_2