
Yoga pun keluar dari tempat kostnya berjalan menuju warteg tempat ia makan tadi siang.
Sesampainya di sana Yoga pun memesan makan seperti biasa, karena untuk menghemat pengeluaran sampai dirinya mendapatkan pekerjaan.
“Bu nasi campurnya satu,” kata Yoga yang memesan.
“Iya Yoga, bagaimana sudah dapat kostnya?” Tanya ibu pemilik warteg.
“Iya sudah Bu, dengan harga yang terbilang sangat murah.”
“Alhamdulillah kalau begitu, dapat kamar kostnya di mana?”
“Di kamar yang paling ujung Bu, di sana yang paling murah sudah ada kamar mandinya,” jelaskan Yoga kepada ibu itu.
“Kamu yakin akan betah tinggal di sana, dan kamu sudah bayar berapa bulan?”
“Satu tahun Bu, insya Allah Yoga bakal betah, memang kenapa Bu?” tanya Yoga yang tidak tahu.
“Ini pesananmu dulu, tapi kamu jangan bilang sama bu Dewi jika bu Ani yang memberi tahu,” kata Bu Ani sembari memberikan pesanan Yoga.
“Iya bu Ani, Yoga akan jaga rahasia kok,” sahut Yoga sembari mengambil makanan pesanannya.
“Di kamar kost yang kamu tempati sekarang, dulu ada yang meninggal di sana seorang laki-laki, semenjak itu kamar itu menjadi sangat angker tidak ada yang betah tinggal di sana, baru beberapa hari mereka yang ngekost pada minta uang mereka kembali, karna itu lah bu Dewi memberi peraturan baru uang yang sudah di bayar tidak akan dapat kembali,” bu Ani mulai bercerita kepada Yoga.
“Ya sudah Bu, Yoga berharap betah di kamar itu lagi pula Yoga sangat membutuhkan tempat tinggal karena di kampung sudah tidak ada lagi, oh iya kenapa laki-laki itu meninggal Bu?” tanya Yoga kembali.
“Dulu yang pertama menempati itu seseorang laki-laki bernama Bagas, dia sering sekali makan di tempat ibu, Bagas seseorang yang ramah dan juga baik di malam itu ada sebuah kejadian yang membuat Bagas pergi untuk selamanya, ada 3 perampok yang masuk ke dalam kost ibu Dewi dan juga masuk ke kamar Bagas. Bagas yang terbangun mendapati ketiga rampok itu lalu seketika rampok itu yang membawa golok mengorok leher Bagas seketika Bagas pun tergeletak di lantai,” cerita bu Ani terhenti mana kala ada pelanggan yang memesan makanan kepadanya.
Yoga yang sangat penasaran dengan cerita bu Ani pun menunggu agar bu Ani telah melayani pelanggan.
“Lalu Bu bagaimana cerita selanjutnya? Apa perampok itu berhasil di tangkap hingga detik ini,” tanya Bagas.
“Perampok yang membunuh Bagas langsung pergi dari kamarnya, teman di kamar samping yang mendengar kegaduhan pun tidak memedulikan sampai akhirnya karena Bagas tidak keluar-keluar kamar namun jendela kamarnya terbuka salah satu pria yang tinggal di samping kost Bagas berniat untuk menanyakan tadi malam ada apa sebenarnya, namun di saat melihat Bagas lewat jendela. Pria yang tinggal dalam satu kost itu pun terkejut melihat Bagas tergeletak di lantai, pintu kost Bagas di buka paksa dan terlihat Bagas telah terbujur kaku di lantai semenjak saat itu kost itu menjadi angker,” bu Ani yang menjelaskan kejadian memperhatikan yang menimpa Bagas.
“Kasihan si Bagas,” celetuk Yoga sembari menikmati makanannya.
“Iya Yoga, padahal Bagas itu anak yang sangat baik dan sopan tapi nasib buruk menimpa kepadanya, dan kamu Yoga semoga saja betah di sana dan Bagas tidak mengganggumu karena ibu lihat kamu anak yang baik dan sopan,” kata bu Ani kepada Yoga.
__ADS_1
“Iya Bu semoga saja,” ujar Yoga.
Beberapa menit kemudian Yoga pun telah selesai menikmati makanannya.
“Bu berapa semuanya?” ujar Yoga.
“Udah seperti basa saja langganan 12 ribu saja,” sahut bu Ani.
Yoga merogoh kantongnya dan mengambil uang pas.
“Ini uangnya Bu, Yoga pamit pulang terlebih dahulu,” kaya Yoga sembari memberikan uang pas kepada bu Ani
Bu Ani pun menerima uang Yoga, setelah itu Yoga pun keluar dari warteg ibu Ani dan berjalan menuju kostnya.
Tiba-tiba datang seorang pereman ke dalam warung bu Ani, Yoga yang tadi ingin keluar malah terdiam melihat perlakuan preman itu kepada bu Ani.
“Mana setorannya, pajak keamanan,” ujar preman itu dengan nada kasar.
“Ini kan belum tanggalnya,” kata Bu Ani.
Bu Ani yang malas berdapat dengan preman itu pun memberikan uang yang di inginkan oleh si preman tersebut.
Karena preman itu memang di takuti di kawasan tersebut dan banyak tindakkan si peraman melukai korban dan ia pun tidak segan-segan membunuh korbannya.
Preman itu pun sering masuk penjara dengan kasus yang sama melukai sang korban bahkan membunuhnya.
Setelah mendapat uang dari bu Ani si preman itu pergi dari warteg bu Ani.
Yoga yang peduli kepada bu Ani menghampiri dan menanyakannya.
“Kenapa ibu kasih uang kepada preman itu, bukannya nanti akan terbiasa?” tanya Yoga yang tidak terima.
“Jika tidak di beri maka preman itu akan membuat onar di warteg ibu, Yoga, eluh bu Ani.
Yoga pun yang mengerti tidak menanyakan hal tersebut kembali kepada bu Ani.
“Ya sudah kalau begitu bu Yoga pamit pulang ke kostan semoga warteg ibu tambah rame,” kata Yoga yang mendoakan bu Ani.
__ADS_1
Yoga pun kembali berjalan keluar dari warteg bu Ani menuju kostnya.
Di saat Yoga ingin masuk ke dalam gang kecil tempat kostnya berada preman yang ia lihat di warteg bu Ani kembali membuat onar.
Di depan gang tersebut si preman sedang memaksa mengambil uang pengamen kecil yang berusia 12 tahu.
“Sini uangmu?” paksa si preman.
“Jangan Bang, jika Abang mengambil uangku nanti aku tidak bisa makan Bang,” kata pengamen cilik itu mempertahankan uang yang ingin di rampas sang preman.
“Aku tidak peduli, eh bocah jika kamu tidak memberikan uang mu maka jangan salahkan kan aku melukaimu,” ancam pereman itu.
Yoga yang sedari tadi melihat kejadian itu menjadi sangat geram.
Dan berinisiatif membantu pengamen cilik itu.
“Jangan beraninya sama anak kecil saja,” celetuk Yoga yang membela preman cilik tersebut.
“Oh rupanya ada yang mau jadi pahlawan kesiangan di sini,” ledek sang preman.
“Apa Abang tidak kasihan kepada anak ini jika semua uangnya Abang rampas, bagaimana dua dapat makan?” sahut Yoga.
Si preman yang mendengar ucapan Yoga pun kembali kesal mendatangi Yoga lalu memberaikan pelajaran kepada Yoga.
Preman itu memukuli Yoga hingga bapak belur, setelah selesai merampas uang dari pengamen cilik itu dan memukuli Yoga.
Yoga yang sangat kesal dan tidak dapat melawan preman itu mengucapkan sesuatu di batinya
“Kau akan mati!” Kata Yoga sembari mengepal tangannya melihat tajam ke arah preman yang telah dengan puasa memukuli Yoga.
Pengamen kecil itu yang melihat Yoga bapak belur pun menggampari dirinya.
__ADS_1