
Sesampainya di halaman rumah Dini, membukakan pintu sang ibu, Yoga beserta Dini memapah Reni masuk ke dalam rumah.
“Yoga bantu aku membawa Mamah ke dalam kamar,” pinta Dini sembari memapah ibunya.
“Iya Bu,” sahut Yoga.
Mereka bertiga pun berjalan menuju kamar Reni.
Sesampainya di kamar mereka bertiga membantu Reni menuju tempat tidurnya.
Reni pun merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.
“Mamah istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak pikiran nanti Mamah bisa sakit,” ucap Dini mengelus-elus rambut ibunya serta mencium kening sang ibu.
Reni pun hanya terdiam sembari masih meneteskan air matanya, matanya pun tertutup Reni mencoba untuk menenangkan dirinya dengan tidur.
Yoga beserta Dini yang melihat Reni sudah mulai tenang dan tertidur pun berjalan keluar dari kamarnya berjalan menuju rumah tamu.
Yoga yang melihat Dini duduk terdiam sembari meneteskan air matanya pun mencoba untuk menenangkannya Dini.
Sama halnya dengan Arwah Bagas yang melihat kekasihnya bersedih pun mencoba untuk menghibur Dini namun, Bagas sadar Dini tidak dapat melihat dirinya kembali karena sekarang Bagas hanya sebagai arwah.
Bagas yang sangat ingin menyentuh dan berbicara dengan Dini pun masuk ke dalam diri Yoga.
Sontak saja yang menguasai Yoga sekarang ini adalah arwah Bagas.
Yoga yang di kuasai arwah Bagas mencoba duduk di samping Dini dan memberikan Dini beberapa lembar tisu yang ia ambil di meja tamu.
“Ini,” ujar Yoga yang memberikan beberapa lembar tisu untuk Dini.
“Terima kasih Yoga,” sahut Dini mengambil tisu yang ada di tangan Yoga dan mengusap air matanya.
Yoga mulai mengusap bahu Dini untuk menangkannya.
“Yang sudah pergi, tidak akan kembali lagi jangan di tangisi hanya doa yang dapat kita kirimkan, kamu adalah wanita yang tabah dan kuat aku yakin kamu bisa melewati semua ini,” ucap Yoga secara tidak sadar karena di kendalikan oleh arwah Bagas.
Dini yang mendengar kata-kata itu pun menoleh ke arah Yoga, karena Dini teringat dengan kata-kata seseorang yang ia tunggu hingga akhir ini, seseorang itu selalu berkata kalau Dini adalah wanita yang tabah serta kuat.
“Mas Bagas?” celetuk Dini secara spontan.
“Kamu masih mengingatku Dini?” balas Yoga yang tidak sadar.
“Bukan! Kamu bukan mas Bagas, terima kasih ya Yoga sudah mau menemani dan membantu aku,” ucap Dini.
“Iya aku akan selalu menemanimu hingga kau bahagia,” ujar Yoga yang membantu mengusap air mata Dini.
Dini pun mendengar kata-kata Yoga merasa getaran di hatinya, di tambah lagi kata-katanya mengingatkan dirinya dengan Bagas.
Yoga pun anak yang baik di mata Dini.
__ADS_1
Mereka berdua saling bertatapan hingga saling mendekatkan wajah mereka satu sama lain.
Wajah mereka semakin dekat perlahan hidung mereka saling bersentuhan, Dini memejamkan matanya dengan perlahan Yoga mendekatkan bibirnya ke bibir Dini hingga mereka saling bersentuhan satu sama lain.
Yoga mulai menggerakkan bibirnya hingga membuat Dini pun membalasnya.
Tiba-tiba arwah Bagas pun keluar hingga membuat Yoga terkejut.
“Ma-maaf Bu Dini,” ucap Yoga sembari mendorong Dini.
Dini yang hilaf pun meras tidak nyaman.
“Saya minta maaf,” ucap Dini sembari menunduk.
Seketika rasa hening mulai di rasakan, Dini dan Yoga terdiam tanpa kata sembari menunduk kepalanya masing-masing.
Tidak lama ada seseorang pria yang masuk ke dalam rumah Dini.
Pria itu melihat Yoga dan Dini duduk berdekatan merasa kesal.
“Dini maaf aku telah tadi ada urusan kantor,” ucap pria itu sembari duduk di samping dini.
Sementara Yoga yang tidak nyaman pun berpamitan pulang, Yoga tahu kalau itu adalah teman dekatnya Dini yang menjemputnya waktu di cafe.
“Bu Dini saya pamit pulang dulu, sebentar lagi mau masuk kerja jadi harus siap-siap,” ujar Yoga yang berpamitan kepada Dini.
“Iya Yoga terima Kasih ya atas bantuannya,” ujar Dini sembari tersenyum ke arah Yoga.
Yoga pun keluar dari rumah Dini dan menunggu ojek online yang baru ia pesan sementara Dini berbicara dengan teman dekatnya.
“Seperti pegawaimu itu suka dengan mu?” ucap Pria itu.
“Tidak Kevin, dia hanya pegawai baruku saja,” ujar Dini.
“Apa kamu tertarik kepadanya?” tanya Kevin memandang tajam Dini.
“Tidak! Aku dan Yoga hanya bos dan pegawai Kevin? Kenapa kamu cemburu?” sahut Dini.
“Iya aku cemburu!” ujar Kevin yang merasa kesal.
“Tidak Kevin, aku tidak mungkin seperti itu,” kata Dini.
Sementara disisi lain Yoga telah berada di kamar kostnya.
Di dalam kamar kost Yoga berteriak-teriak memanggil Arwah Bagas untuk berbagi cerita.
“Bagas! Bagas! Di mana kamu!” pekik Yoga dengan nada sedikit nyaring.
“Ada apa sih Yoga tumben sekali kamu memanggil-manggil aku?”
__ADS_1
“Aku mau cerita kepada kamu.”
“Cerita apa, oh iya aku juga ada yang mau aku ceritakan kepadamu?”
“Kamu tidak bu Dini tadi menciumku, jantungku terasa berdebar-bebar kencang, baru kali ini aku merasakan hal itu kepada bu Dini. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada wanita,” ujar Yoga yang terlihat sangat bahagia.
“Apa kamu mencintai Dini Yoga tanya Bagas?” dengan wajah serius.
“Iya, semenjak kedua orang tua meninggal aku tidak pernah merasa bahagia lagi, tapi di waktu bertemu bu Dini aku merasa senang sekali, walau hanya melihat wajahnya sedetik saja, dan apa lagi tadi dia menciumku Bagas rasanya jantungku berdetak lebih cepat, aliran darahku mengalir dengan cepat dan tubuhku merasa panas dingin,” pungkas Yoga menjelaskan kepada Bagas sembari mengingat kejadian yang sangat berkesan olehnya.
Bagas terdiam melihat wajah Yoga yang terlihat sangat bahagia.
Disisi lain Bagas ingin menceritakan wanita yang ia cari selama ini adalah Dini, namun Bagas dapat merasakan cinta yang sangat tulus di hati Yoga.
Dan Bagas pun dapat merasakan sebenarnya Dini merasakan ketertarikan kepada Yoga.
Bagas memutuskan untuk diam tidak menceritakan semua kepada Yoga, dan membantu Yoga untuk mendapatkan Dini.
“Bagas! Kok malah diam katanya mau cerita?” tanya Bagas.
“Enggak papa Yoga, aku lupa mau cerita apa?” ujar Bagas dengan senyum.
“Selain kamu itu arwah gentayangan, kamu juga arwah pelupa ya,” ejek Yoga.
“Apa kamu bilang! Dasar anak ingusan ya awas kamu! Biar arwah tapi aku arwah yang paling ganteng asal kamu tahu,” sahut Bagas.
Mereka pun bercanda satu sama lain sampai waktu sore telah tiba waktu Yoga kembali bekerja.
Yoga segera bersiap-siap untuk bekerja.
Namun ada sebuah kejadian dia malam itu di saat Yoga telah selesai bekerja Yoga di ikuti oleh 3 orang pria di belakangnya.
Ketika Yoga ingin masuk ke dalam gang kostnya ketiga pria itu menyerang Yoga.
Dua di antaranya memegang tangan Yoga agar dirinya tidak melawan dan satu orang lagi memukuli Yoga hingga bapak belur.
“Woi aku peringatkan jangan dekati Adini kalau tidak kami tidak segan-segan untuk membunuhmu,” ujar pria tidak di kenal memukuli Yoga.
Namun kejadian itu di lihat oleh Wahyu, pengamen cilik yang pernah di tolong Yoga di saat wahyu di rampas uangnya oleh pereman.
“Woi rampok!” Pekik Wahyu.
Teriakan wahyu membuat ketiga orang yang tidak di kenal itu lari.
“Ingat pesanku jika kamu tidak mu mati,” kata salah satu pria yang tidak di kenal itu sembari lari.
Melihat mereka bertiga yang memukuli Yoga telah lari Wahyu pun berari mendekati Yoga yang sedang terduduk di tanah.
__ADS_1