Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Rencana Jahat Kevin


__ADS_3

Malam harinya saat Dini tidur di kasur empuknya ia terlihat gelisah, rupanya Dini tengah bermimpi buruk.


Dalam mimpinya Dini seperti sedang di tarik oleh seseorang dan di paksa untuk ikut dengannya.


“Gak! Lepasin. Siapa kamu?” ucap Dini dalam mimpinya.


Sosok itu seperti seorang pria namun dalam mimpinya sosok itu terlihat samar dan gelap,  sehingga Dini tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.


Tangan Dini di tarik hingga membuatnya terseret, Dini di paksa masuk ke sebuah rumah seperti sebuah pondok kecil di tengah hutan.


Dini pun langsung terbangun, seketika jantungnya berdegup dengan kencang Dini pun mengambil air putih untuk memenangkan dirinya.


Pagi harinya Dini bersiap untuk berangkat ke cafe miliknya, sesekali Dini menghela nafas karena teringat dengan almarhumah Reni, biasanya Reni menyapanya dengan senyum hangat dan membuatkan sarapan untuknya.


‘Rumah ini terasa sangat sepi karena mama gak ada di sini lagi,’ Dini bermonolog.


Dini pun tidak ingin larut dalam kesedihannya, ia memilih untuk cepat berangkat dan menjalankan aktivitasnya.


Sesampainya di cafe ia melihat Yoga tengah membersihkan meja-meja.


“Pagi Yoga,” sapa Dini.


“Pagi Bu Dini,” sahut Yoga.


“Jangan terlalu serius mandangin mejanya, nanti itu meja bisa naksir kamu loh,” ucap Dini sembari tertawa.


Dini berlalu masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Yoga basih sedikit bingung dengan candaan Dini yang malah di anggapnya serius.


“Masa iya meja bisa jatuh cinta?” ucap Yoga sembari menatap meja kaca itu.


Yoga pun beralih dari meja satu ke meja yang lain, kali ini Yoga membersihkan meja itu tanpa menatapnya, hal ini membuat salah satu karyawan cafe merasa heran.


‘Ngapain si Yoga bersihin meja sambil mendongak begitu, aneh banget,’ karyawan itu bermonolog.


“Lagi tes ketajaman insting mungkin,” sahut karyawan lain yang tiba-tiba muncul.


Tidak lama Dini kembali ke luar dari ruangannya, saat itu Dini merasa heran dengan kelakuan Yoga dan mendatanginya.


“Kamu ngapain bersihin meja sambil mendongak ke atas gitu?” tanya Dini.


“Biar mejanya gak suka sama aku,” sahut Yoga.


“Pppthhh hahaha ... Astaga Yoga kamu ini mana ada yang seperti itu aku kan cuma bercanda,” ucap Dini sembari tertawa geli.


Mendengar hal itu Yoga menjadi malu karena terlalu polos dan terlalu menganggap serius ucapan Dini.


Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman cafe, seorang pria turun dari mobil tersebut.


Yoga yang masih sibuk membersihkan meja pun menghampiri pria itu.


“Maaf Mas kami belum buka, kalau mau pesan bisanya cuma minuman saja,” ucap Yoga dengan sopan.

__ADS_1


“Dini mana?” ucapnya tanpa menghiraukan sapaan dari Yoga.


“Bu Dini ada, apa ada perlu?” tanya Yoga lagi.


Pria itu berlalu pergi menghiraukan Yoga lalu berjalan masuk menuju ruangan Dini.


“Maaf Mas, selain karyawan di larang masuk,” ucap Yoga.


Pria itu mendengus, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


“Halo Dini aku sudah di cafe kamu,” ucapnya dalam telepon lalu menutupnya.


Dini pun bergegas keluar dengan senyum semringah, “Masuk Vin,” ucap Dini.


Rupanya pria itu adalah Kevin kekasih dari Dini.


Yoga hanya bisa tertunduk lesu saat ingat jika pria kaya yang angkuh itu adalah Kevin kekasih Dini.


Cafe pun mulai di buka, beberapa pelanggan sudah mulai berdatangan, bukan hanya karena makanannya tapi juga karena pelayanan ramah dari Yoga. 


Wajah tampan Yoga juga menjadi daya tarik tersendiri untuk cafe itu. Banyak wanita yang sekedar iseng memesan minuman hanya untuk berbicara dengan Yoga.


Tidak hanya itu, cafe milik Dini ini juga memiliki interior yang unik membuat para pengunjung betah berlama-lama atau pun hanya sekedar mengambil foto.


Tidak lama Kevin keluar dari ruangan Dini, di ikuti oleh Dini di belakangnya.


“Aku pulang dulu ya,” ucap Kevin.


“Iya kamu hati-hati,” ucap Dini sembari melempar senyum manisnya pada Kevin.


Waktu terus berjalan, rasa penat dan letih di rasakan oleh Yoga karena hari ini cukup banyak pelanggan yang datang. Jam tutup cafe pun tiba, Yoga membereskan semua peralatan dan menyusun bangku-bangku ke atas meja agar besok ia bisa dengan mudah membersihkan lantai.


“Yoga pulang bareng yuk,” ajak Dini.


“Gak usah Bu saya naik ojol aja,” sahut Yoga.


“Udah, kan rumah kita satu arah.”


“Aku tunggu di mobil ya,” ucap Dini.


“Baik Bu.”


Usai membereskan semuanya Yoga mengambil tasnya lalu mengunci pintu cafe dan masuk ke dalam mobil Dini.


Dini pun menginjak pedal gasnya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Yoga.


“Capek ya?” tanya Dini.


“Ya namanya kerja pasti capek kan,” sahut Yoga.


“Hari ini aku liat rame banget, dan rata-rata pelanggan yang datang perempuan. Pasti mereka pada melirik kamu,” ucap Dini.

__ADS_1


“Yah ... apanya yang bisa di lirik dari aku,” sahut Yoga.


“Kamu kan ganteng, makanya mereka sering manggil kamu dan ngajak ngobrol kamu,” sahut Dini.


“Ganteng dari mananya. Oh iya aku di turunkan di depan aja soalnya mau ke warung mau beli obat nyamuk,” ucap Yoga.


“Ya sudah.”


Dini pun menepikan mobilnya, Yoga melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil Dini.


“Terima kasih ya karena sudah mengantar,” ucap Yoga.


“Iya sama-sama,” sahut Dini.


Rupanya mobil Dini di buntuti oleh Kevin, dalam mobil Kevin memerintahkan kepada anak buahnya untuk memberi peringatan kepada Yoga, ketiga pran itu pun keluar dari mobil Kevin dan mengikuti Yoga.


Semantara itu Yoga  berjalan masuk ke dalam jalan kecil yang hanya bisa dimasuki satu mobil itu, ia berjalan menuju sebuah warung untuk membeli perlengkapan yang habis di rumahnya.


Setelahnya Yoga kembali berjalan menyusuri gang sempit dan sepi, saat itu Yoga merasa seperti sedang diikuti oleh seseorang dari belakang. 


Karena penasaran Yoga pun menoleh, dan benar saja tiga orang preman yang pernah memukulinya itu berada di belakangnya.


Dengan cepat Yoga berlari, namun tetap saja Yoga tertangkap oleh mereka.


“Ada apa ini?” tanya Yoga.


“Rupanya kamu tidak kapok hah! Sudah aku bilang jauhi ibu Andini!”


Bukk!


Sebuah bogem mentah mendarat di perut Yoga membuat ia langsung terduduk di tanah.


Bukk Buk!


Wajah Yoga di pukuli tanpa ampun hingga pelipis dan hidungnya berdarah.


Yoga merasa sangat marah karena ia tidak merasa salah, Yoga berdiri dan memegangi salah satu tangan dari perman itu.


Entah apa yang merasuki Yoga, ia tiba-tiba bisa menangis pukulan para preman itu bahkan memelintir tangan dari salah satu preman tersebut.


Dengan tatapan mata yang sangat tajam Yoga mencekik preman yang ada di hadapannya hingga mengangkat tubuh preman tersebut.


Kedua preman yang lainnya mencoba menolong rekannya itu namun tidak bisa.


Terdengar suara erangan dari mulut Yoga, suaranya sangat berat matanya melotot dengan kek ikannya yang semakin kuat.


Seorang rekannya mencoba menolong preman itu dari cekikan Yoga dengan cara memukul tengkuk Yoga dengan kayu yang ada di pinggir jalan.


Seketika cekikan itu terlepas dan para preman itu mundur perlahan.


“Kalian semua akan mati!” pekik Yoga.

__ADS_1


Ketiga preman itu pun pergi meninggalkan Yoga yang masih terus mengucapkan kata yang sama untuk mereka.


Ketiga preman itu pergi keluar dari jalan kecil itu dan berpisah untuk pulang ke tempat mereka masing-masing.


__ADS_2