Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Mencari pekerjaan


__ADS_3

Setelah Wahyu memberitahukan informasi yang ia telah dapat Wahyu pun berpamitan kepada Yoga.


“Bang Yoga, Wahyu mau cari setoran dulu ya,” ujar Wahyu yang berpamitan.


“Iya hati-hati,” sahut Yoga sembari menepuk pundak Wahyu.


Wahyu pun pergi meninggalkan Yoga, pergi menuju jalan raya yang terdapat lampu merahnya, dengan ukulele kesayangannya Wahyu memetiknya sembari bernyanyi.


Sementara Yoga kembali ke warteg ibu Ani.


Di sana Yoga memesan makanan sembari berbincang dengan ibu Ani.


“Bagaimana Yoga kamu betah ngekost di sana?” tanya bu Ani yang penasaran.


“Iya bu, alhamdulillah Yoga betah kok ngekost di sana,” sahut Yoga.


“Oh iya bu Ani ada informasi  mengenai lowongan pekerjaan, apa saja untuk Yoga asalkan halal,” sambung Yoga.


Ibu Ani terdiam mengingat-ingat sejenak.


“Oh iya ada ibu baru ingat, ada Cafe yang sedang mencari karyawan laki-laki coba saja Yoga siapa tahu di sana ada rezekimu,”  kata bu Ani.


“Tapi ijazah Yoga hanya lulusan SMA saja bu?” tanya Yoga kembali.


“Pas itu mereka sedang mencari lulusan SMA, dan wajah mu juga mendukung pasti kamu langsung di terima,”  sahut bu Ani memberikan semangat untuk Yoga.


“Udah datangi saja dulu itu cafenya, jangan kebanyakan berpikir,” celetuk arwah Bagas yang berada di samping Yoga sedang makan.


“Iya-iya nanti aku ke sana kamu diam saja,” sahut Yoga secara tidak sadar.


Bu Ani yang melihat Yoga berbicara seperti itu dengan spontan melihat ke arah Yoga yang sedang menikmati makanannya.


Yoga pun tersadar di saat bu Ani sedang memperhatikan ucapannya tadi dan sontak saja Yoga tersedak dengan makan yang ia makan.


Yoga dengan cepat mengambil air minum yang ada di sampingnya dan mengklarifikasi kepada bu Ani maksud dari kata-katanya tadi agar bu Ani tidak salah paham.


“Maksud Yoga tadi dari pada Yoga berdiam diri lebih baik Yoga ke sana saja Bu,” kata Yoga yang mengklarifikasi perkataan agar bu Ani tidak salah paham kepadanya.


Beberapa menit telah berlalu Yoga pun telah selesai menikmati sarapan pagi di warteg bu Ani.


 “Bu berapa semuanya.”

__ADS_1


“Sudah seperti biasa saja Yoga Cuma 12.000,” sahut bu Ani.


Yoga merogoh kantongnya dan memberikan uang pas kepada bu Ani.


Setelah selesai Yoga kembali ke kamar kostnya untuk berganti pakaian karena dirinya ingin melamar kerja di cafe yang bu Ani beritahu tadi.


Sesampainya di kamar Yoga pun, Yoga bingung harus memakai baju apa.


Arwah Bagas pun di sini membantu memilihkan baju untuk Yoga.


Karena Yoga berasal dari kampung jadi dirinya tidak mengerti fashion di kota.


“Tuh lebih keren kamu memakai baju dan celana ini, Yoga memakai kemeja berwarna biru malam di sertai celana panjang hitam yang sering di pakai di kantor-kantor.


“Serius ini Bagas?” ujar Yoga yang tidak percaya diri.


“Sudah cepat kamu pergi ke cafe itu aku akan ikut di belakang mu, aku yakin kamu akan di terima,” sahut arwah Bagas yang berusaha meyakinkan Yoga.


Yoga pun kembali keluar sembari menunggu ojek Online yang ia pesan.


Saat menunggu di teras rumah bu Dewi, Yoga pun di tegur oleh bu Dewi.


“Rapi banget Yoga kamu mau ke mana?” tanya Bu Dewi.


“Oh Bagus kalau begitu, semoga kamu di terima ya,” sahut bu Dewi.


“Iya bu terima kasih doanya.”


Tidak lama kemudian ojek online yang pesan oleh Yoga pun telah tiba.


“Bu Yoga duluan ya,” Yoga yang berpamitan.


“Iya hati-hati di jalan,”


Yoga mulai menuju cafe yang di beritahukan oleh bu Ani.


15 menit Yoga yang di antar oleh ojek online pun telah sampai di depan cafe itu, Yoga merogoh kantong celana dan membayar ojek online tersebut.


“Terima kasih Mas,” ucap Yoga.


“Iya sama-sama,” kata driver ojek online tersebut yang pergi meninggalkan Yoga.

__ADS_1


Yoga melihat cafe rindu yang ingin ia masuki, sebenarnya Yoga tidak paham dengan istilah cafe karena di kampung Yoga tidak ada.


'Ini yang namanya cafe ya, seperti rumah makan,' Yoga bermonolog.


Secara tiba-tiba arwah Bagas muncul di sampingnya dan menjelaskan kepada Yoga tentang cafe.


“Iya ini tempat anak muda ngopi sambil nongkrong,” ucap Bagas.


“Nongkrong? Maksudnya duduk sambil ngobrol gitu?” 


“Iya begitu lah.”


“Kalau di kampungku mirip warung kopi,” sahut Yoga.


“Warung kopi? Yang penjaganya cewek seksi ya kalau ngasih uang 50 ribu selalu gak ada kembaliannya,” ucap Bagas tertawa.


“Gak kok, yang jual bapak-bapak.”


“Lebih baik kamu masuk saja,” Bagas yang memberikan arahan.


Yoga pun mulai berjalan menuju cafe rindu tersebut.


Salah satu pelayan pria yang menjaga cafe tersebut menghampiri Yoga.


“Ada apa Mas, ini cafenya belum buka nanti jam lima sore baru buka?” sahut pelayan kafe tersebut.


“Ini saya mau melamar kerjaan di cafe ini,” kata pelayan tersebut.


“Surat lamarannya ada?” tanya pelayan pria itu.


“Surat lamaran? saya tidak ada yang ada hanya ini,” kata Yoga yang memberikan ijazah SMA yang asli berserta rapornya.


Arwah Bagas yang berada di samping Yoga melihat tingkah laku Yoga yang polos hanya dapat menepuk jidatnya.


“Aduh Yoga kamu ini bagaimana?” celetuk arwah Bagas.


Namun Yoga tidak menggubris ucapan arwah Bagas.


“Begini saja Mas, dengan mas siapa?” tanya pelayan pria itu.


“Dengan Yoga Bang.”

__ADS_1


“Mas Yoga saya minta nomor telepon mas Yoga saja, nanti kami akan menelepon mas Yoga jika mas Yoga di terima, dan ini ijazahnya berserta rapornya mas Yoga bawa saja,” pelayan itu menjelaskan kepada Yoga dan mengembalikan ijazah asli Yoga berserta rapor Yoga.


     


__ADS_2