
Beberapa telah berlalu Yoga pun telah dengan baik menyelesaikan pekerjaannya, jam pun telah menunjukkan pukul 11 malam Yoga membantu karyawan yang lain membereskan cafe yang ingin tutup.
Setelah selesai membereskan semuanya para karyawan berserta Yoga pun keluar cafe untuk pulang ke rumah masing-masing.
Kali ini Yoga tidak menggunakan jasa gojek online karena ia harus menghemat uang yang Yoga punya sampai ia gajian, Yoga pun menaiki angkutan umum.
Setelah beberapa menit berada di dalam angkutan umum Yoga pun telah sampai di kostnya.
Yoga yang telah sampai di kamar kostnya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi Yoga mengenakan baju untuk tidur dan menuju ke tempat tidurnya.
‘Akhirnya aku dapat istirahat juga,' Yoga yang bermonolog.
Dengan tiba-tiba arwah Bagas pun muncul di samping Yoga.
“Mengagetkan saja kamu Bagas,” celetuk Yoga.
“Bagaimana pekerjaanmu? Kamu menyukainya Yoga?” tanya Bagas.
“Iya aku menyukainya lagi pula para karyawan di sana ramah tamah,” sahut Yoga sembari tiduran di tempat tidurnya.
“Yoga? Kapan kamu akan bantu aku mencari kekasihku.”
“Iya nanti ya aku saja baru bekerja nantilah.”
“Aku ingin melihat wajahnya dan keadaannya sekarang sudah satu tahun aku tidak melihatnya,” kata arwah Bagas sembari melihat ke arah Yoga yang telah tertidur dengan pulas.
“Lah ini anak kalau di ajak ngobrol pasti tidur,” eluh arwah Bagas yang kesal.
Bagas pun pergi menghilang.
Keesokan sore cafe rindu kembali buka seperti biasanya Yoga yang telah selesai mandi tengah bersiap-siap untuk bekerja.
Yoga berjalan keluar gang menunggu angkutan umum hingga ada sebuah angkutan yang berhenti di hadapan Yoga, Yoga pun langsung masuk ke dalam angkutan tersebut.
Sesampainya di cafe rindu Yoga mulai berjalan masuk ke cafe tersebut, saat Yoga tengah masuk ke cafe tersebut terlihat seorang wanita dengan senyum berseri-seri menyambut pelanggannya saat mereka melangkah ke kafenya yang nyaman. Dia adalah pemiliknya, dan namanya Andini.
Andini begitu sangat ramah ke pelanggan cafenya tidak hanya ke pelanggan saja para karyawan di kafe itu pun sangat menyukai Andini tidak hanya cantik Andini sangat ramah kepada karyawannya, para karyawan sering memanggil Andini dengan sebutan bu Dini
Kafe rindu milik Andini terkenal dengan kopinya yang lezat, kue-kue yang elegan, dan suasana yang mengundang. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan indah dan foto-foto vintage, dan musik jazz lembut dimainkan di latar belakang.
Yoga yang melihat Andini untuk pertama kalinya mulai merasa tertarik karena tidak hanya cantik Andini juga begitu ramah kepadanya.
__ADS_1
Saat itu Andini menghampiri Yoga yang sedang berada di dapur.
“Kamu karyawan baru ya di sini?” tanya Andini.
“I-ya Bu,” sahut Yoga dengan gugup.
“Siapa nama mu? Perkenalkan namaku Andini pemilik cafe ini, panggil saja Dini”
“Yoga bu Dini.”
“Selamat bergabung di cafe ini semoga betah bekerja di cafe ini, kamu sudah tahu motto kita di cafe ini?”
“Sudah Bu, pelanggan adalah raja jadi utamakan kenyamanan pelanggan.”
“Bagus kalau kamu sudah tahu Yoga, ya sudah saya tinggal dahulu nanti jika belum ada yang mengerti bisa bertanya dengan yang lain, aku tinggal terlebih dahulu,” ujar Dini pergi meninggalkan Yoga kembali ke depan.
Saat Dini berbalik badan dan meninggalkan Yoga, Yoga sangat terkejut karena di belakang Dini terlihat sesosok arwah laki-laki dengan leher bekas jerattan tali yang melingkar, sesosok arwah itu selalu mengikuti Dini ke mana pun ia pergi.
“Eh melamun aja habis di sama bu Dini,” tegur Adam yang mengagetkan Yoga.
“Enggak kok bang Adam?” ujar Yoga dengan tersenyum ke arah Adam.
Yoga pun mulai kembali bekerja, dari mengatar makanan hingga melayani pembeli.
‘Anak ini cukup gesit dalam bekerja dan cukup pintar,' batin Dini yang sembari memerhatikan Yoga yang tengah bekerja.
Tidak lama ada seorang pria yang masuk ke dalam cafe tersebut menghampiri Dini.
Yoga yang melihat pria itu begitu dengan Dini merasa kecewa.
Dari arah belakang Adam menghampiri Yoga yang sedang duduk dan memperhatikan Dini dari kejauhan.
“Pria itu di kabarkan teman dekat bu Dini,” celetuk Adam di samping Yoga.
“Eh Bang Adam,” celetuk Yoga yang melihat Adam tiba-tiba berada di sampingnya.
“Teman dekat bu Dini ya bang tapi mereka seperti dekat sekali?” tanya Yoga.
“Aku dan karyawan di sini kurang tahu tentang kehidupan pribadi bu Dini, karena bu Dini sendiri sangat menutup rapat-rapat tentang kehidupan pribadinya,” sahut Adam yang menjelaskan kepada Yoga.
Dini pun di ajak pria itu keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil pria tersebut, namun ternyata dompet milik Dini tertinggal di meja cafe.
Sementara Yoga yang tidak mau pekerjaannya terganggu memilih mengabaikan dan lebih fokus untuk bekerja.
__ADS_1
Hingga waktu begitu cepat berlalu cafe rindu pun mulai kembali tutup.
Di saat Yoga tengah bersih-bersih meja cafe melihat di bawah meja ada sebuah dompet yang terjatuh, Yoga yang bingung pun memilik untuk menyimpannya dan akan mencari pemiliknya besok, Setelah selesai membersihkan cafe itu Yoga kembali keluar dari cafe itu dan kembali menunggu mobil angkutan umum.
Namun di saat Yoga menunggu mobil angkutan terlihat sebuah mobil hitam menghampiri cafe yang telah tutup itu.
Yoga yang takut kalau itu adalah orang jahat, ia pun mengendap-endap melihat dari kejauhan siapa orang tersebut.
Ternyata di saat pintu mobil di buka itu adalah Dini yang sangat tergesa-gesa berjalan dan ingin membuka pintu cafe yang sudah di tutup oleh Adam.
“Bu Dini, ada apa bu?” tanya Yoga yang bingung.
“Astagfirullah, kamu Yoga aku kaget aku kira siapa,” ujar Dini yang meletakkan tangannya ke dada.
“Kamu belum pulang?” ucap Dini kembali.
“Belum Bu, lagi menunggu angkutan, nah ibu Dini sendiri sedang apa malam-malam seperti ini kembali ke cafe?” tanya Yoga yang keheranan.
“Ini seperti dompetku tertinggal di cafe ini Yoga,” ujar Bu Dini.
“Seperti ini dompetnya bu?” tanya Yoga yang memperlihatkan dompet yang ia temukan di bawah meja cafe.
“Iya ini dompetku, alhamdulillah untung saja dompet ini bisa kembali, terima kasih ya Yoga,” ujar Dini yang tersenyum kepada Yoga.
“I-iya bu sama-sama,” sahut Yoga gugup sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Bu Yoga tinggal menunggu angkutan,” sahut Yoga meninggalkan Dini.
“Tunggu Yoga,” pekik Dini.
Teriakan Dini menghentikan langkah Yoga, Dini pun menghampiri Yoga.
“Sebagai ucapan terima kasih aku antarkan kamu pulang,” kata Dini kepada Yoga.
“Tidak usah bu, tidak apa-apa kasihan ibu Dini nanti pulang larut malam karena mengantarkan Yoga,” Yoga yang enggan menerima tawaran bu Dini.
Karena Dini terus menawarkan tumpangannya akhirnya Yoga pun menerima tumpangan dari Dini.
“Tidak apa-apa lagian tempat kostan mu itu searah aku pulang,” ujar Dini.
Yoga pun masuk ke dalam mobil Dini, dan duduk di samping Dini, Yoga melihat sesosok arwah yang mengikuti bu Dini tidak suka dengannya.
Sesosok arwah pria itu menatap tajam ke arah Yoga bahkan sesekali meringis ke arahnya.
__ADS_1