
Di pemakaman Reni terlihat Dini bersama Kevin di sana, Yoga yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan
“Mari kita pulang Din,” ajak Yoga di samping Dini.
Dini tetap menangis di atas makam sang ibu tidak menghiraukan ucapan dari Kevin.
Namun Kevin tetap mengajak Dini untuk pulang.
“Mari kita pulang?” Ajak Kevin kembali.
“Kamu pulang saja duluan, aku masih ingin di sini,” sahut sembari mengelusa-elus nisan ibunya.
“Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal, karena aku ada pertemuan dengan klien jadi aku tidak bisa menemanimu,” tutur Kevin.
“Tidak apa-apa, aku masih ingin di sini terlebih dahulu, makasih sudah mau menemaniku,” sahut Dini dengan mata berkaca-kaca.
“Ya sudah jika seperti itu, tidak perlu berterima kasih ini sudah tugasku menjaga mu, Radit berpesan kepada seperti itu,” celetuk Kevin mengingat pesan dari sang kakak Radit.
Kevin pun meninggalkan Dini seorang diri di atas makam ibunya.
Setelah Kevin pergi kesempatan ini di gunakan oleh Yoga. Yoga yang melihat Kevin telah pergi meninggalkan Dini seorang diri pun menghampirinya.
“Yang pergi memang tidak akan bisa kembali, tapi mereka bisa merasakan ketika kita sedang bersedih,” celetuk Yoga secara tiba-tiba di samping Dini.
Dini pun menoleh ke arah Yoga.
“Kamu belum pulang?” ujar Dini.
“Belum, Yoga menunggu sampai ibu Dini pulang,” ujar Yoga menampilkan senyum lesungnya yang has.
“Kenapa memangnya? Hidupku sudah sendiri sekarang semua telah pergi meninggalkan aku,” kata Dini yang mengandung makna dalam untuk Yoga.
“Iya Bu, Yoga mengerti sekali perasaan ibu Dini. Yoga pernah merasa di posisi ibu Dini hidup Yoga terasa sepi di saat kedua orang tua Yoga pergi untuk selama. Namun semua itu telah hilang ketika ada seseorang yang hadir dalam hidup Yoga,” ujar Yoga yang memberikan kode untuk Dini.
“Beruntung sekali seseorang itu? Dia pasti akan bahagia karena kamu adalah laki-laki yang baik,” puji Dini kepada Yoga.
“Iya tapi mungkin saja Yoga tidak akan bisa memiliki seseorang itu karena dia adalah seorang putri yang bersanding dengan pangeran sedangkan Yoga hanya sebagai rakyat jelata.”
“Kenapa tidak, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.”
“Yoga antar ibu Dini pulang boleh?” Yoga yang meminta ijin.
Dini tersenyum dengan sikap lugu Yoga.
“Kamu mau mengantar aku memakai apa?” tanya Dini yang meledek Yoga.
“Mmm, pakai mobil ibu Dini,” kata Yoga sembari menundukkan wajahnya.
Dini pun tertawa melihat keluguan Yoga, melihat Dini yang kembali tersenyum Yoga sangat senang.
“Mah Dini pulang dulu ya, Dini sepi sekarang Dini hanya sendiri Mah,” ujar Dini mengelus nisan ibunya.
Yoga memberanikan dirinya mengelus-elus pundak Dini mencoba untuk menenangkan Dini.
“Mari kita pulang Yoga kali ini kamu temani aku ya, anggap saja seorang bos yang meminta anak buahnya untuk menemaninya,” kata Dini.
__ADS_1
“Siap Bu Dini, kapan pun bu Dini memerlukan Yoga, Yoga akan selalu ada buat itu.”
Dini terdiam setiap kata Yoga mengingatkan Dini dengan kekasihnya Bagas yang tidak pernah ia temui.
Mereka berdua pun pulang ke rumah Dini, kali ini Yoga yang mengemudikan mobil Dini.
Dulu Yoga pernah merasakan menjadi anak orang kaya di saat ibu dan ayahnya masih ada sehingga Yoga sudah dapat mengemudikan mobil di saat dirinya masih sekolah.
Di dalam perjalanan Yoga membuka obrolan terlebih dahulu.
“Bu Dini, Yoga boleh bertanya?” kata Yoga sembari mengemudikan mobil Dini.
“Iya apa itu Yoga? Kamu bisa panggil aku Dini saja jika sedang berdua biar terlihat lebih akrab saja.”
“Baik Bu, eh Dini,” ujar Yoga yang belum terbiasa.
“Kamu mau bertanya apa Yoga?”
“Bu Dini yang tadi itu kekasih ibu? Eh maksud Yoga Dini itu tadi kekasihnya” Yoga yang mengulangi ucapannya karena belum terbiasa memanggil bu Dini dengan sebutan Dini saja.
“Iya itu kekasihku tapi aku memang kurang merasa nyaman dengan dirinya karena merasa bersalah dengan kakaknya sehingga aku menerima dirinya,” ujar Dini yang menghela nafas panjang.
Sedari tadi arwah Bagas mengikuti Yoga namun Yoga tidak bisa melihatnya karena arwah Bagas tidak menampakkan wujudnya kepada Yoga.
Arwah Bagas duduk di kursi belakang mobil dan mendengarkan obrolan mereka.
“Memangnya kenapa Bu?” kata Yoga yang masih saja memanggil Dini dengan sebutan ibu.
“Cerita cukup panjang Yoga, nanti aku akan cerita semuanya kepadamu,” sahut Dini menarik nafas panjang.
Yoga memarkirkan mobil Dini dan menyuruh Yoga untuk masuk ke rumahnya.
Yoga pun mengikuti perintah Dini, ia masuk ke rumah Dini dan duduk di ruang tamu di temani oleh Dini.
“Bi ijah! Bi!” pekik Dini.
Bi ijah yang mendengar Dini majikannya memanggil dirinya pun segera menghampiri.
“Iya Non,” kata Bi Ijah.
“Bi tolong bikinkan minum untuk Yoga ya,” pinta Dini.
“Baik Non,” sahut Bi Ijah.
“Tidak usah repot-repot Bu,” ujar Yoga yang merasa sungkan.
“Tidak apa-apa Yoga,” sahut Dini.
Bi ijah pun bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan minuman yang di minta oleh Dini.
Sementara Dini berserta Yoga pun melanjutkan obrolan mereka kembali.
“Kalau dengan mu Yoga aku teringat akan kekasihku yang telah lama tidak bertemu,” ujar Dini.
“Ah masa Bu, bukannya yang tadi menemani ibu itu kekasih ibu Dini?” celetuk Yoga yang bingung.
__ADS_1
“Buka orang yang menemani ibu tadi Yoga, tapi seseorang yang pernah hadir di dalam hatiku, namanya Bagas tingkahnya ucapannya hampir sama denganmu,” ujar Dini yang mengenang masa lalunya bersama Bagas.
“Bagas? Bagas Pratama?” ucap Yoga dengan spontan.
“Iya benar apa kamu mengenalnya tunggu,” kata Dini mengambil dompetnya yang pernah tertinggal di Cafe dan di temu Yoga.
Dini membuka dompetnya dan mengeluarkan fotonya bersama Bagas.
“Ini orangnya apa kamu kenal, di dompet ini ada kenanganku bersamanya jadi di waktu dompet ini tertinggal aku sangat panik karena hanya ini kenangan satu-satunya bersama mas Bagas,” Dini yang menjelaskan kepada Yoga.
Yoga terlihat terdiam hati mulai sakit ternyata dirinya selama ini mencintai kekasih dari Bagas.
Dini kembali menanyakan kepada Yoga apakah Yoga mengenali Bagas kekasihnya.
“Apa kamu kenal dengan Bagas Yoga? Di mana dirinya sekarang aku sangat ingin bertemu dengan dia,” tanya Dini kembali.
“Tidak Bu, Yoga hanya kenal sekilas saja di waktu ingin mencari kostan, Bang Bagas membantu Yoga setelah itu kita tidak pernah bertemu kembali,” ujar Yoga berbohong kepada Dini.
“Apakah kamu bisa membantu aku Yoga mencari keberadaan mas Bagas,” pinta Dini.
“Iya bu bisa tapi nanti Yoga masih sibuk, oh iya Yoga pamit pulang dulu ya Bu.”
“Tapi minumnya belum selesai di buat oleh bu Ijah?”
“Tidak apa-apa Bu, lain kali Yoga bisa mampir lagi ke rumah ibu.
Yoga pun segera memesan Ojek online dan tidak berselang lama sang Driver pun telah tiba Yoga pun keluar dari rumah Dini.
Dini mengantarkan Yoga hingga di depan teras rumah.
Yoga yang di atar ojek online meninggalkan rumah Dini.
Hati Dini mulai tergelitik.
‘Ada apa dengan Yoga? Di saat aku membahas mas Bagas ia seperti kesal,' Dini yang bermonolog.
Dini pun masuk ke dalam rumah dengan hati yang bertanya-tanya.
Bi ijah pun datang dengan membawa dua gelas minuman yang telah di buatnya.
“Loh mana tamu tadi Non?” tanya Bi ijah yang kebingungan.
“Sudah pulang Bi, bibi minum saja semuanya,” sahut Dini sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Satu jam telah berlalu Dini yang berada di dalam kamarnya mengambil ponsel yang di letakkan di meja kamarnya, setelah itu Dini pun mencoba menelepon Yoga namun tidak di angkat Yoga. Hati Dini semakin tidak tenang dengan sikap Yoga yang seperti ini.
Dini pun mencoba menelepon Yoga kembali namun tetap saja tidak di angkat oleh Yoga.
‘Apa yang sebenarnya terjadi mengapa Yoga tidak mengangkat teleponku,” kata Dini.
‘’Apa ini ada hubungannya dengan Yoga? Apa Yoga tahu tentang mas Bagas. Aku harus mencari tahu semua ini. Aku yakin semua ini saling bersangkutan,” ucap Dini.
Untuk menenangkan hatinya Dini pun mengambil dompetnya kembali yang terdapat Foto Bagas.
“Mas, biasanya di kala aku sedih kamu yang selalu menghiburku Mas, sekarang aku hanya sendiri Mamah dan Papah tidak ada lagi, aku sangat rindu kepadamu mas Bagas? Di mana kamu Mas?” ucap Dini sembari meneteskan air matanya yang tidak dapat ia bendung lagi.
__ADS_1