
Hari telah menjelang sore namun belum juga ada kabar tentang Dini.
Berulang-ulang kali Yoga mencoba menghubungi Dini namun tetap saja Dini tidak dapat di hubungi.
Yoga semakin tambah khawatir dengan keadaan Dini.
Hingga akhirnya Yoga menelepon Adam teman kerjanya jika hari ini ia tidak masuk kerja.
“Halo Dam,” ucap Yoga di telepon.
“Iya ada apa?”
“Adam hari ini aku kayaknya gak masuk kerja dulu ada urusan,” ucap Yoga.
“Ya sudah kalau begitu, yang penting kamu beri kabar aja.”
“Baik Terima kasih ya Dam,” ucap Yoga dalam telepon.
Yoga pun menutup teleponnya, ia bergegas ke luar rumah lalu berjalan menuju rumah seseorang.
“Assalamualaikum,” ucap Yoga.
“Walaikumsalam,” sahut seorang pria dari dalam rumah.
“Mas Agung motornya boleh saya sewa lagi gak?” tanya Yoga.
“Boleh aja, pakai yang matik aja ya motor bebeknya buat saya keluar,” ucapnya.
“Baik Mas, ini uangnya,” ucap Yoga sembari memberikan uang.
“Wah kebanyakan ini.”
“Udah gak apa-apa Mas,” ucap Yoga.
Pria itu pun memberikan kunci motornya kepada Yoga, dengan cepat Yoga memasang helm dan melaju menuju rumah Dini.
Sekitar 15 menit Yoga memacu motor sewaan itu, hingga ia sampai di depan rumah Dini.
Yoga pun turun dari motor dan mengetuk pintu rumah Dini.
Tok Tok Tok
“Assalamualaikum,” ucap Yoga.
Tidak lama pintu rumah pun terbuka, terlihat bi Ijah yang sedang membuka pintu.
“Walaikumsalam,” sahut bi Ijah.
“Bi, Dini ada?” tanya Yoga.
“Non Dini belum pulang dari tadi siang,” sahut bi Ijah.
“Loh kemana Bi?” tanya Yoga.
“Bibi kurang tahu, tapi siang tadi Non Dini di jemput sama mas Kevin dan sampai sekarang belum pulang,” sahut bi Ijah.
“Ya sudah saya pamit dulu bi,” ucap Yoga yang bergegas pergi.
Yoga mengelilingi setiap jalan, dari mulai jalan besar serta jalan-jalan yang ada di gang sempit untuk mencari Dini.
Yoga juga menanyakan pada orang-orang yang ia temui sambil menunjukkan foto Dini, namun hal itu sama sekali tak berguna.
Yoga tidak mendapatkan informasi apa pun tentang keberadaan Dini.
Langit pun hampir gelap namun Yoga tidak menemukan titik terang dimana keberadaan Dini.
Hingga ia mencoba menggunakan mata batinnya untuk mencari Dini, dalam penglihatannya itu Dini tengah berada di sebuah rumah dengan kondisi terikat.
Yoga mencoba memfokuskan lagi penglihatannya hingga ia melihat nomor dari rumah itu yaitu nomor 36, dengan kondisi rumah yang sudah tidak ter urus serta banyak semak belukar di depannya.
Yoga juga melihat jika rumah itu berada di perbatasan kota, dengan cepat Yoga menaiki motornya lalu melaju menuju perbatasan yang jaraknya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.
Di dalam perjalanan Yoga berdoa agar tidak terjadi apa-apa terhadap Dini sampai ia menemukannya.
Langit jingga perlahan berubah gelap sinar matahari sore mulai menghilang, semakin dekat Yoga dengan perbatasan kota jalan yang di laluinya pun semakin ramai.
Dengan intuisi nya Yoga berusaha mencari keberadaan Dini, hingga ia memasuki sebuah jalan di mana di dalamnya terdapat sebuah perkomplekan rumah yang sudah tidak di huni lagi.
Dengan kondisi jalan yang cukup gelap Yoga memacu motor itu dengan perlahan hingga ia menemukan rumah yang ada di penglihatannya tersebut.
Terlihat rumah itu sangat gelap tanpa ada pencahayaan sama sekali, dengan bermodalkan senter di ponselnya Yoga pun memasuki rumah itu.
Saat berjalan masuk, di halaman rumah itu terdapat bekas jejak ban mobil dan sangat jelas.
Tanpa pikir panjang Yoga berlari masuk untuk mencari Dini.
“Dini! Din kamu dimana?” ucap Yoga.
Ruangan demi ruangan di masuki oleh Yoga namun tidak menemukan keberadaan Dini.
Hingga ia menemukan sebuah ruangan seperti kamar, di sana terdapat sebuah kursi serta tali.
__ADS_1
Saat mendekati kursi itu Yoga menemukan sebuah gelang yang biasa di pakai oleh Dini sebagai aksesoris sehari-hari.
“Ini kan gelang Dini,” ucap Yoga.
Yoga pun memasukkan gelang itu ke dalam saku jaketnya lalu bergegas keluar dari rumah itu.
Mengingat motor yang ia pakai adalah motor sewaan ia tidak bisa dengan leluasa memakainya, mau tidak mau Yoga harus segera pulang untuk mengembalikan motor tersebut.
Di tambah lagi perjalanan dari perbatasan kota menuju tempat tinggalnya cukup memakan waktu.
Dengan sangat terpaksa Yoga memacu motornya untuk segera pulang ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah Agung pemilik dari motor itu Yoga lantas memberikan kunci motor itu kepada pemiliknya.
“Mas ini kuncinya, maaf saya malam baru pulang,” ucap Yoga.
“Gak apa-apa, lagian gak ada yang pakai juga,” ucap Agung.
“Mas kalau besok saya sewa lagi boleh tidak?” tanya Yoga lagi.
“Boleh aja, datang aja ke sini besok ya,” sahutnya.
“Baik Mas Terima kasih.”
Yoga pun berjalan kaki menuju rumahnya yang letaknya hanya berjarak 100 meter dari rumah Agung sang pemilik motor.
Sesampainya di kamar kost Yoga pun langsung merebahkan tubuhnya ia merasa sangat kelelahan karena seharian berkeliling di jalan.
“Dimana kamu Dini,” ucap Yoga sembari menatap gelang milik Dini.
Malam semakin larut, Yoga pun perlahan mulai terlelap. Dalam lelapnya itu rupanya ia bermimpi tentang Dini.
Dalam mimpinya Dini seperti di tarik paksa di seret ke sebuah tempat seperti sebuah gubuk di tengah hutan.
Disana Dini berteriak meminta pertolongan, suaranya begitu lirih Dini berteriak hhisteris di dalam mimpi itu Yoga tidak hanya melihat Dini melainkan beberapa orang pria yang tengah memegangi Dini.
Seorang lainnya seakan berusaha untuk menghabisi nyawa Dini.
“Dini!” pekik Yoga yang langsung terbangun dari mimpinya.
Nafasnya tersengal-sengal akibat jantungnya yang berdegup cukup kencang, rupanya Yoga tertidur sembari menggenggam gelang milik Dini.
“Kurang ajar kamu Kevin!” ucap Yoga dengan wajah yang memerah.
Rupanya pria yang ingin membunuh Dini di mimpi Yoga itu adalah Kevin pacar Dini sendiri.
“Ya Tuhan kemana aku harus mencarimu Dini!” ucapnya dengan sangat frustrasi.
Yoga melihat jam yang ada di ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul 02:20 pagi. Ingin rasanya ia mendatangi Agung untuk menyewa motor itu demi mencari Dini.
Yoga terus terjaga hingga sang fajar memunculkan cahayanya. Ia bergegas bersiap untuk keluar rumah.
Yoga berjalan menuju rumah Agung untuk menyewa kembali motor miliknya, dan kembali melaju mencari keberadaan Dini.
Yoga kembali menyusuri jalan, lalu menuju perbatasan kota di pagi hari jalanan cukup lengang hingga membuat Yoga dengan leluasa memacu motornya.
Yoga bahkan masuk ke perkampungan dan bertanya pada warga tentang sebuah rumah gubuk yang ada di tengah hutan.
Namun para warga desa membuatnya bingung pasalnya ada banyak rumah tubuh di tengah hutan yang di gunakan sebagai pondok untuk menjaga kebun yang ada di tengah hutan.
Sampai detik ini Yoga masih belum menemukan titik terang.
Di malam itu Agus berserta Edi yang di perintahkan Kevin untuk mengambil Jenazah Radit mulai beraksi.
Mereka berdua menaiki mobil menuju makam Radit yang tidak begitu jauh dari rumahnya
Di dalam pejalan menuju pemakaman Radit merekan pun mengobrol satu sama lain.
“Gila nih bos Kevin, masa malam-malam kaya gini kita di suruh mengambil mayat kakaknya, memang itu mayat mau diapakan sih?” Kata Agus sembari mengemudikan mobil.
“Aku juga tidak tahu Gus, tapi mau bagaimana lagi kalau tidak di laksanakan perintahnya kita bisa di pecat nanti kamu tahu sendiri bos Kevin seperti apa hampir sama kaya kakaknya kejam.”
“Yah namanya juga kakak Adik ya sifatnya hampir sama,” jawab Agus.
“Sebenarnya aku takut, tapi mau tidak mau aku harus melaksanakan perintah si bos besar itu,” eluh Edi.
“Kamu mau kita tidak mendapatkan pekerjaan lagi?” kata Agus.
“Ya tidak lah.”
“Ya sudahlah ikuti saja perintah bos Kevin,” saran Agus.
Tidak berselang lama mereka berdua pun telah memasuki pemakaman.
Sebelum menjalankan aksinya Agus berserta Edi pun.
Mempersiapkan perlengkapan yang akan mereka gunakan, dari mulai lampu senter, cangkul, serta penutup muka agar wajah mereka tidak di kenali.
Setelah persiapan telah selesai mereka mulai berjalan memasuki pemakaman dan menyelusuri kuburan Radit.
“Terdengar samar-samar seseorang wanita yang sedang menangis di pohon kamboja di dekat pemakaman tersebut.
__ADS_1
“Gus, Gus, kamu dengar ada suara wanita menangis?” ujar Edi yang memberitahukan Agus.
Agus menghentikan langkah kakinya dan mencari suara itu dengan menyenteri di sekelilingnya.
Suara tangisan wanita itu semakin jelas di kala Agus mulai menyenteri pohon kamboja terlihat dengan jelas seorang wanita dengan baju putih panjang yang telah lusuh di di sertai rambut panjangnya yang menutup wajah wanita itu.
Wanita itu seperti melayang-layang di balik pohon kamboja.
“Edi i-itu kun-kuntilanak!” ucap Agus yang menunjuk sembari berlari.
Setelah mereka berdua berlari menjauhi pohon kamboja itu Edi serta Agus pun berhenti.
“Gus stop Gus, stop,” pekik Edi.
Agus yang mendengar teriakan Edi pun menghentikan langkah kakinya.
“Belum mengali kuburan Radit kita sudah bertemu kuntilanak Edi,” eluh Agus dengan nafas yang tidak beraturan.
“Iya Gus benar katamu, ayo kita cepat temakan kuburan Radit biar kuntilanak ini itu tidak mengikuti kita,” saran dari Edi.
“Iya Di,” sahut Agus mulai kembali mencari kuburan Radit.
Tidak berselang lama Agus telah menemukan kuburan Radit.
“Edi sini, ini kuburan Radit ayo cepat kita gali,”
Edi menghampiri Agus, dan mulai mengali makan Radit.
Satu jam telah berlalu Agus berserta Radit pun telah mendapatkan jenazah Radit yang sudah mulai menjadi tengkorak.
Setelah mengembalikan posisi kuburan yang mereka gali seperti keadaan semula.
Edi berserta Agus pun membawa mayat Radit masuk ke dalam mobil.
Setelah semua selesai mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pemakan tersebut.
“Semur hidupku baru kali ini dapat pekerjaan mencuri mayat,” eluh Agus.
“Iya aku pun Gus sama, mana prosesnya mengerikan sekali. Mayat ini jika sudah kita dapatkan di taruh di mana Gus?” tanya Edi yang bingung.
“Aku telepon bos dulu ini mayat mau di kemanakan.”
Agus pun merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya setelah itu ia pun mulai menelepon Kevin.
Kevin yang sedang tidur di kamarnya terbangun akibat ponselnya berbunyi.
“Sial siapa ini malam-malam mengganggu orang sedang tidur saja,” eluh Kevin dengan mata yang masih mengantuk.
Kevin mengangkat ponselnya yang berdering di atas meja kamarnya.
“Hallo bos kami sudah mendapatkan jenazah pak Radit, dan Jenazah ini mau di kemanakan?”
“Bawa jenazah bang Radit rumah mbah seno malam ini juga aku sudah membawa Dini tadi sore ke rumah mbah Seno”
“Baik Bos
Mereka pun segera membawa jenazah Radit ke rumah mbah Seno yang berada di tengah hutan.
Satu jam telah berlalu Agus memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah mbah Seno.
“Mbah Seno! Mbah!” pekik Agus sembari mengetok rumah mbah Seno.
Mbah Seno yang mendengar seseorang mengetuk pintunya pun segera menghampirinya.
“Ada apa kalian malam-malam ke rumahku?”
“Kami di suruh bos Kevin untuk membawakan jenazah Radit mbah,” Agus yang menjelaskan.
“Cepat bawa masuk Jenazah itu sebelum ada orang yang tahu!” perintah mbah Seno.
Agus berserta Edi pun kembali ke mobil lalu mengangkat jenazah mbah Seno.
Setelah itu mereka pun memasukkan jenazah Radit ke rumah mbah Seno.
“Taruh jenazah ini di kamar ritualku,” perintah mbah Seno.
“Baik mbah,” sahut Edi.
Mereka berdua pun melaksanakan perintah mbah Seno memasukkan Radit ke dalam kamar ritual mbah Seno.
Saat mereka membukan pintu kamar terlihat Dini yang sedang di ikat tangan serta kakinya dan di bungkam mulutnya di kamar ritual itu.
Dini yang melihat mayat tinggal tengkorak di letakan di sampingnya pun ingin berteriak namun tidak dapat.
Dini merasa sangat takut ia tidak tahu apa yang akan mereka lalukan kepada dirinya.
Mbah Seno pun mendatangi Dini
“Mayat ini akan menjadi suamimu dan kamu akan segera menyusulnya,” ucap mbah Seno.
Dini yang mendengar ucapan mbah Seno pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya petanda dirinya tidak ingin.
__ADS_1
“Besok malam akan segera di mulai ritualnya maka bersiap-siaplah,” kata mbah Seno yang memberitahukan Dini.
Mereka bertiga pun meninggalkan Dini di kamar ritual mbah Seno bersama mayat Radit.