
Untuk kali ini yang aku lakukan adalah menyelamatkan dia dulu sambil terbang menuju tempat yanga agak jauh dari tempat yang tadi.
Melihat bahwa sudah cukup lumayan jauh untuk mereka datang kemari, akupun menurunkannya dan menanyai tentang keadaannya.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Tanyaku agar lebih akrab dan berasa seperti orang baik di depannya, wajahnya yang ketakutan menatap kosong entah kearah mana dan nampak tubuhnya yang lemas terasa seperti dia itu sedang kelaparan.
Untuk mencari cara agar wanita ini bisa menjawab pertanyaanku adalah mencari sesuatu untuk dimakan agar perutnya yang berbunyi sedari tadi itu bisa mereda dan tubuhnya yang lemas bisa kembali normal.
Melihat sekeliling bahwa tidak ada sama sekali pohon yang bisa menghasilkan buah dan aku hanya melihat sekumpulan hewan berbulu layaknya domba bergerombol di pinggir sungai.
Untuk yang pertama aku lakukan adalah mendekati hewan itu dan nampak bahwa hewan itu bisa di makan akupun akan menangkapnya dan membuat makanan untuk wanita ini.
"Tunggu disini aku akan mencari makanan"
Aku berkata agar wanita ini bisa menungguku disini saat aku sedang mencari makanan untuknya, aku melihat gerombolan berbulu itu dipinggir sungai yang jernih.
Nampaknya aku perlu mencoba senjataku ini, BELATI suci bernama INTENTS yang dimana aku mendapatkannya di ruangan putih itu.
Dengan ditambahnya sihir cepat layaknya kilat aku mencoba mengarahkan seranganku ke arah hewan itu.
"Ayo belatiku, tunjukan kekuatanmu"
Dengan berkuda-kuda layaknya seseorang yang sudah ahli, aku mencoba mengarahkan seranganku ke satu hewan itu.
"Oke.. SPEED"
Laju kakiku sangatlah cepat dan menuju ke arah satu hewan itu hingga memotongnya, tapi aku hanya mengincar satu hewan itu dan bukanlah semua.
Jadi mengapa semua hewan ini terkena seranganku dan juga semuanya sudah tidak ada nyawa lagi di hewan itu karena serangan cepatku.
"Mengapa semuanya yang kena"
Untuk kali ini yang lebih penting dari pada memikirkan hal itu adalah membuat makanan untuk wanita itu, bulu ini sangatlah lebat dan lembut layaknya bulu domba.
Semakin aku mencabut bulu di hewan ini, nampak bahwa tubuhnya semakin kecil akan hilangnya bulu di tubuhnya, lama kelamaan semua bulu dari semua hewan yang aku buru sudah tercabut dan melihat bahwa hewan tadi besar layaknya domba, kini setelah semua bulunya dicabut menjadi kecil layaknya kelinci.
Aku tidak mengerti hewan apa ini dan mengapa tubuhnya menjadi sangatlah kecil, apakah ini sebuah sihir dan juga kenapa aku merasa kesal akan hal yang aku buru ini.
"Oii apakah kau masih belum sadar?"
Nampaknya wanita ini masih belum sadar dan tubuhnya semakin lemas hingga hanya bisa tiduran di tanah.
"Sebentar lagi akan aku buatkan makanan, jadi tunggulah"
Aku membuat api dan membuang jeroan hewan itu hingga mencuci tubuh hewan itu hingga bersih karena sudah terbiasa membantu ibuku di bumi dulu.
Membuat bumbunya aku hanya mengandalkan tumbuhan di sekitar yaitu tumbuhan yang tidak pernah aku lihat namun terasa seperti rasa asin ada di daun tumbuhan tersebut membuatnya layaknya garam.
Setelah sepuluh menit aku membakar dan membumbui akupun sudah selesai membuat makanan untuk kami berdua, karena dagingnya seperti ukuran kelinci hanya memakan satu saja sudah membuatku sudah kenyang.
"Ini sudah matang, makanlah"
Wanita ini duduk kembali dan melihat makanan didepannya dia langsung mengambil dua untuk wanita ini makan.
Layaknya seperti belum makan tiga hari wanita inipun makan amat sangatlah cepat, aku memakan satu dan memang benar bahwa rasa ini layaknya seperti kelinci.
__ADS_1
Enak dan lembut, juga tekstur dagingnya ini sangatlah empuk membuat mudah untuk dimakan beserta sudah aku beri bumbu yang aku dapatkan membuat ini sangatlah enak.
Melihat wanita ini makan membuatku senang karena saat dulu aku membantu ibuku yang berjualan ketoprak dan setiap hari aku melihat banyak sekali orang yang makan di tempat ibuku berjualan membuat ibuku ikut senang.
Namun semua berakhir dan kini hanya aku yang tinggal disini, menghadapi dunia ini sendirian tanpa bantuan orang lain.
Melihat wanita ini sudah selesai makan aku memberitahukan bahwa sungai ada disebelah sana dan ada air untuk minum.
"Jika kau sudah selesai makan, sungai ada di sebelah sana dan jika kau ingin minum-minumlah disana"
Wanita itu sudah bisa berdiri dan melihat bahwa dia seperti layaknya orang mati yang tidak memiliki tatapan, matanya memiliki tatapan kosong kedepan dan gerakannya layaknya sebuah robot.
Aku memutuskan untuk mengikutinya saja karena khawatir akan terjadi apa-apa lagi kepadanya.
Seperti yang aku tunjukan bahwa wanita ini pergi ke arah sungai yang aku tunjukan dan meminum air disana.
Setelah dia meminum airnya, diapun kembali ke tempat yang sebelumnya dan aku yang sudah tahupun kembali untuk menunggunya.
Wanita ini duduk dan sifatnya yang layaknya robot ini bersandar dipohon, aku mendekatinya dan berkata:
"Siapa namamu?"
Wanita ini terdiam dan tidak menjawab sama sekali.
"Heii…"
Aku melambaikan tanganku di depan wajahnya agar dia tersadar namun nampaknya dia masih belum sadar juga.
Aku berpikir bahwa wanita ini sakit dan tidak sadarkan diri, aku berpikir kembali untuk mencoba sebuah sihir agar dia kembali normal.
Dengan mengarahkan tanganku ke depan wajahnya akupun mengucapkan mantra sihir yang hanya aku ketahui saja.
"SEMBUHLAH"
Setelah aku mengatakan ucapan tadi, wanita inipun kian menggerakkan kepalanya dan berkedip normal, pupil matanya yang membesar tadi kinipun seperti layaknya orang biasa kembali.
Wanita ini menatapku dan saat itu nampaknya dia terkejut melihatku dan berkata:
"Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan padaku? Apa mungkin kau seorang penculik?"
Sudah banyak sekali wanita ini berbicara setelah aku berhasil menyembuhkannya dan aku juga dianggap aneh olehnya walupun aku ini yang menyelamatkannya.
"Bukan, aku menyelamatkanmu dari para penjahat yang menculikmu tadi dan memberikanmu makanan tadi"
Nampak wajah cemas keluar darinya dan kini aku hanya bisa menunggu kepercayaan darinya.
"Apakah benar?"
Wanita ini berkata dengan memperlihatkan wajah polosnya menatap kearahku.
"Iya itu benar dan juga kenapa kau bisa tidak tahu apa yang kau perbuat tadi?"
Aku menanyakan hal itu agar bisa mendapatkan hal apa yang terjadi padanya.
"Aku tidak mengerti, namun saat itu aku seperti disihir oleh seseorang yang menghentikan laju kereta kudaku dan membuatku tidak sadarkan diri"
Aku mulai mengerti dan dalam artian hal ini disebut dengan nama pembegalan.
"Aku mengerti dan semua luka di tubuhmu baik dalam maupun luar sudah kembali normal karena sihirku"
__ADS_1
Nampak bahwa wanita ini senang akan hal itu.
"Oh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku ADI SARYONO umurku tujuhbelas tahun dan masih menjadi seorang pelajar"
Tunggu, kenapa aku tidak mengganti namaku disini dan malah menggunakan nama asliku, bagaimana ini padahal aku sudah memutuskan nama yang keren tadi.
"Namaku ARMESA ELSA HAYTON ENDERSAN, panggil saja ELSA umurku juga sama sepertimu dan aku tidak mengerti apa itu seorang pelajar"
Ya sudahlah, tidak perlu memikirkan nama keren, nama dari ubuku saja sudah cukup.
"Elsa.. itu nama yang bagus, kau bisa memanggilku YONO karena ibuku juga memanggilku begitu"
Elsa, sebuah nama yang bagus dan juga bukankah namanya tadi terlalu panjang dan susah untuk diingat.
"Baiklah"
Setelah berkenalan kamipun memutuskan untuk malam ini tidur disini saja karena hari sudah malam beserta suasana di hutan maupun jalanan sangatlah gelap.
"Hari ini mulai gelap, apakah bisa kita tidur dihutan ini dulu"
Dia mengatakan seperti perkataanku dan karena aku juga berpikir demikian akupun menyetujuinya.
"Aku juga setuju, namun disini nampak banyak binatang buas"
Untuk hal penting pertama yang harus kita waspadai adalah binatang buas karena saat kami tidur nanti kesadaran kamipun ikut tertidur.
"Tenang saja, aku bisa memanggil penjaga saat kita tidur nanti"
Penjaga seperti apa yang dia panggil dan juga apakah ada orang disekitar sini, berpikir begitu dan melihat Elsa membaca mantra yang aneh.
"RYTEQRUOKITUH MUNCULLAH WAHAI BUDAK"
Sebuah lingkaran bercahaya ada di depanku bersamaan sebuah hewan layaknya serigala keluar dari lingkaran itu layaknya sebuah sihir hebat.
"Apa itu?"
Aku bertanya demikian karena aku belum pernah melihat sebuah hal yang dinamakan dengan sihir budak.
"Ini adalah budak, berbentuk hewan dan bisa menjaga kita saat kita tidur nanti"
Budak, bukankah itu seperti hewan peliharaan dan juga dia serigala, aku mengingat trauma saat dulu pada masa kecil pernah dikejar oleh anjing sampai menangis dan rupa serigala dan juga anjing menurutku itu sama.
"Apa tidak ada yang lain?"
Aku berkata demikian karena takut.
"Tidak ada, satu orang hanya memiliki satu budak"
Aku baru mengerti itu dan malam yang mulai larut membuatku mengantuk dan ingin tidur.
"Oke, untuk sekarang kita tidur saja"
Dengan ketakutan melihat serigala itu akupun menahan rasa ini dan tidur, memang benar serigala itu mengelilingi kita seakan menjaga kita tapi ini terasa menakutkan bagiku.
Dan tunggu, bukankah ini pertama kalinya aku tidur bersama perempuan seumuranku, dan juga suasana di hutan ini mengapa sangat hangat hingga membuat kita nyaman.
Aku melihat ke arah Elsa dan rasanya yang terlalu amat santai hingga tidak memikirkan bahwa ini adalah hutan sampai Elsa tertidur sangatlah lelap.
Untuk kali ini aku ingin tidur saja walaupun dalam kondisi seperti ini dan mengingat bahwa duniaku kali ini adalah dunia untuk aku mandiri dan bertahan hidup.
__ADS_1
Untuk mengawali tidurku malam ini aku berkata bahwa:
"Ibu, ayah, dan adiku vina. Kakakmu disini baik-baik saja dan sedang tidur di sebelah wanita yang seumuran denganku, maaf. kau boleh memukulku di dalam mimpi nanti ayah, ibu"