
Perkataan Bapak dan Ibu membuatku malu pada diri sendiri. Bagaimana tidak? Teman-teman yang lain sudah dapat menghasilkan uang setelah lulus sekolah, membantu perekonomian keluarga, dan tidak mengandalkan kedua orang tua. Sedangkan diriku? Masih pengangguran.
Belum lagi komentar para tetangga, yang memojokkanku yang masih menjadi pengangguran.
Kucoba mencari lowongan pekerjaan baik di internet atau pun secara langsung, melamar ke mana-mana, namun tetap nihil.
Kulangkahkan kaki dengan malas di siang yang begitu terik. Ingin rasanya semua berkas-berkas untuk melamar pekerjaan kurobek-robek.
Duduk di sebuah kursi panjang di pinggir jalan, memulihkan tenaga yang semakin terkuras. Meneguk air dari botol Baperware Kawe.
"Kenapa sih gue susah dapat kerjaan? Apa muka gue yang kurang meyakinkan?"
Kuhentak-hentakkan kaki, seraya mengerucutkan bibir.
"Mana duit tabungan menipis lagi!"
Kurogoh ponsel di tas slempang. Membuka Instagram, untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk nge-stalk si dia.
Klik icon love kemudian klik diikuti, melihat dia menyukai postingan siapa saja atau mengikuti siapa saja hari ini. Ah, aku begitu ingin tahu tentang dirinya.
"Apaaahhh?"
Mata ini terbelalak saat melihat dia menyukai foto milik perempuan yang kucurigai sedang disukainya.
Dia jarang menyukai foto perempuan, entah mengapa dia suka menyukai postingan perempuan itu baik di Instagram atau di Facebook.
Memang, perempuan itu cukup cantik. Kulit putih bersih, pandangannya teduh, senyumannya manis.
Lagi, ada yang berdesir perih di dalam dada.
"Argghhh!"
__ADS_1
"Heh! Lu kalo lagi marah gak usah dilampiasin ke gua dong!" teriak lelaki di sebelahku.
Aku tak sadar, ternyata ada yang duduk di sebelahku.
"Siapa yang ngelampiasin ke lo?" Mataku menyipit.
"Maksud lu apa ngelempar botol minum ke gua? Mana masih ada airnya lagi."
Mataku terbelalak melihat botol minumku yang jatuh. Kok, bisa?
"Gue gak ngelempar tuh botol ke lo."
"Dih, nih cewek sarap apa gimana ya? Udah salah bukannya minta maaf malah ngeles," tuduhnya.
"Lo kalo ngomong jaga ya!" Tunjukku tepat di mukanya.
"Tadi pas lu teriak, tuh botol lu lempar ke gua. Lihat baju gua jadi basah!"
"Masih bengong lagi. Dasar cewek sarap!" Dia pergi dengan langkah lebar.
"Lo yang sarap!" pekikku.
Kenapa hari ini begitu menyebalkan? Tidak diterima kerja, mata dan hati perih gara-gara nge-stalk dia, dan sekarang ketemu orang yang marah-marah padaku gak jelas di pinggir jalan. Mana banyak yang lihat. Ingin rasanya aku kokosehan di jalan, biar viral, jadi artis, dan bisa main film sama Jefri Nichole.
"Arghhh! Hayati lelah ...."
***
"Bagaimana dapat tidak pekerjaannya?"
"Nggak, Bu." Malu rasanya setiap pulang mencari pekerjaan, jawaban itu yang selalu kulontarkan.
__ADS_1
Ibu menghela napas dalam. "Memangnya tadi kamu ngelamar ke mana?"
"Ke restoran. Tapi gak diterima gara-gara kurang tinggi." Aku mengerucutkan bibir.
"Coba kalau dulu Ibu pas hamil aku ngidam makan tower bukan kencur, pasti aku tinggi," celetukku.
"Kamu kira Ibumu ini apa? Kenapa tidak kamu saja yang makan tower?" Ibu mendengus kesal, kemudian menuju dapur.
Hah?
Ponselku bergetar, ada pesan masuk.
[Nak, kirim Mama uang Rp500.000 ya ... soalnya Mama lagi di rumah sakit. Ini no rekening yang baru 1234567890.]
Pesan model begini masih keliaran di 2019? Kugerakkan jemari untuk membalas pesan modus itu.
[Mama tenang aja ya, nanti aku kirim uangnya lewat angin yang membelai rambutku ketika hati ini terasa lara melihat dia memberi tanda suka pada foto perempuan lain.]
[Kenapa kamu malah curhat, Nak? Mama serius.]
[Aku semilyarius.]
[Mama cuma butuh lima ratus ribu, bukan semilyar. Soalnya Mama tahu, kamu tidak punya uang sebanyak itu.]
[Tenang, Ma. Aku akan jual ginjal dan jantung Mama.]
[Dasar anak durhaka!]
[Makanya kalo butuh duit kerja!]
[Halah so-soan nyuruh orang lain kerja, kaya situ udah kerja aja!]
__ADS_1
Sialan.