SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 22


__ADS_3

Semenjak mulai komunikasi dengan Rian, aku jadi sering mendengar suaranya dan melihat wajahnya. Yaa ... meskipun gak sering-sering banget, sih.


Cuma, Rian komunikasi via suara dan video call itu paling sama Deril. Ke aku mah masih cuek gitu. Hwaaa nyebeliinn!


[Riaaaaaannnnn]


[Apaan sih?]


[Foto profil WA lo bagus, nyolong di google ya?]


[Moto sendiri lah]


[Di gedung mana?]


[Tempat pak Andre kerja. Kenapa emangnya?]


Pingin ke sanaaa. Memandangi pemandangan ibu kota saat malam hari di rooftop sebuah gedung. Kapan, ya? Rian, ajak aku dong!


[Cakeeepp. Eh, lo kerja sekantor sama pak Andre?]


[Gue emang cakep. Gak]


Iya, Rian emang cakeepp. Bikin hatiku klepek-klepek. Eaa .... Jadi, pingin segera jadi istrinya, deh!


Jadi, Rian gak sekantor sama Pak Andre? Kirain kerja bareng. Pingin video call, cuma Rian mau gak ya?


Aku pun mencoba menghubunginya lewat video call, tapi gak kunjung diangkat. Duh, kenapa, sih, ini orang?


Rian malah gak menerima video call-ku. Nyebelin emang itu orang. Gak tau apa aku pingin liat wajahnya?


[Ngapain sih VC segala?]


[Gak boleh? Sibuk gitu? Nyebeliiiinnnnn lo]


[M A L E S]


Hwaaa! Pingin nabok si Rian pake golok. Boleh gak, sih? Masa video call sama aku males?


Aku pun mematikan data seluler. Lalu, bersiap untuk tidur. Pokoknya, aku lagi sebel.


Kucoba menutup mata, tapi gak bisa mulu. Pikiranku terus menuju Rian. Ah, dasar, Dodol! Ngapain mikirin cowok nyebelin dan gak peka itu? Hanya buang-buang waktu.


Merem dong mata! Please, takutnya besok kesiangan.


***


Meskipun hari ini Deril libur sekolah, aku mah tetap bangunnya pagi. Menyiapkan sarapan berupa nasi goreng.


Setelah semuanya tertata di meja makan, aku menuju kamar Deril. Siapa tau udah bangun.


Saat aku masuk ke kamarnya, ternyata ada Pak Andre di sana. Memakai piama berwarna abu-abu. Memeluk Deril yang masih tidur.


Pak Andre memang tampan. Mau pakai pakaian apa saja tetap cocok di badannya. Duh ... duda ganteng dan kaya. Eh!


"Ma--maaf, Pak. Aku kira gak ada Pak Andre." Aku menjadi canggung saat Pak Andre menatapku.


Pak Andre mengangguk. "Ada apa memangnya?"


"Tadinya mau liat Deril udah bangun atau belum."


"Saya ada di sini. Kamu tenang saja."


"Iya, Pak. Hmm ... sarapannya udah siap."


"Nanti sarapannya mau nunggu Deril saja. Kamu sarapan duluan saja." Pak Andre tersenyum.


"Baik, Pak. Permisi." Aku sedikit membungkuk lalu pergi setelah Pak Andre mengangguk.


Aku pun menuju meja makan untuk sarapan. Duduk di tempat biasa. Hanya sendiri. Gak ada Rian yang biasanya duduk di depanku. Hwaaa ....


Setelah meletakkan nasi goreng di piring, aku jadi kepikiran Rian. Udah sarapan belum, ya, dia? Hari ini pasti dia libur kerja. Kan, akhir pekan.


Aku pun memotret nasi goreng, lalu mengirim ke WA-nya Rian.


[Sarapaannn]


Rian sedang tidak aktif. Mungkin, dia sedang sibuk beres-beres atau lainnya?


Saat aku menyuapkan nasi goreng, teringat bahwa hari ini harus belanja keperluanku.


Aku pun segera menyelesaikan sarapan, lalu meminta izin ke Pak Andre untuk belanja.


Saat aku meminta izin, Deril sudah bangun. Syukurlah dia tidak ingin ikut. Sepertinya akan menghabiskan waktu bersama Pak Andre.


Aku pun segera keluar, lalu menunggu ojek online di depan pintu gerbang rumah Pak Andre.


Setelah sampai sini, aku pun meminta kang ojek online menuju salah satu mini market.


Setelah sampai, aku segera masuk dan mencari yang sudah ditulis di daftar belanja.


Saat aku mau mengambil body lotion, tiba-tiba ada satu tangan lain yang sama mau mengambil.


Aku pun melihat ke kiri. Seorang perempuan berkulit putih bersih, rambut lurus sepunggung, hidung mancung, tinggi, dan bermata teduh. Melihatku lalu tersenyum.


"Silakan, Mbak dulu aja," tawar perempuan memakai kaus pendek putih dipadukan celana panjang abu-abu muda seraya tersenyum manis kepadaku.


"Silakan Mbak aja." Aku pun tersenyum canggung.


"Gak apa-apa. Itu stok lainnya juga masih ada. Nanti tinggal aku."


Aku pun mengiyakan, lalu mengambil body lotion itu. Lalu segera mencari keperluan lainnya.


Setelah selesai aku segera menuju kasir dan membayar belanjaanku.


Keluar dari mini market, lalu menunggu ojek online di pinggir jalan sambil bermain ponsel.


Ada satu pesan WA dari Rian.


[Banyakin makan makanan bergizi biar otak lu bener]


Iihhh, emangnya otakku gak bener apa?  Sigap aku pun membalas pesan dari Rian.


[Otak lo tuh yang gak bener!]


"Awas, Mbak!"


Tiba-tiba tangan kananku ada yang menarik hingga aku hampir terjatuh.


Saat kulihat, ternyata perempuan yang tadi mau mengambil body lotion bersamaan denganku.


"Mbak gapapa, 'kan?" tanyanya dengan raut tampak khawatir.

__ADS_1


Aku menggeleng. Mencoba mengatur napas yang tak beraturan.


"Tadi ada motor yang jalannya terlalu minggir mau kena Mbak."


"Oh, gitu, ya, Mbak? Aku gak tau."


"Mbaknya tadi lagi main HP. Lain kali jangan terlalu deket jalan, ya, Mbak." Perempuan itu tersenyum. Terdapat lesung pipi yang membuatnya tampak manis.


"Makasih banget, ya, Mbak. Aku gak tau kalo tadi gak ditolong sama Mbak."


Perempuan itu mengangguk.


"Oh, ya, kita belum kenalan. Namaku Kirana," ucapnya seraya mengulurkan tangan kanan.


Aku pun membalas uluran tangannya. "Aku Mira."


Ojek online yang kutunggu pun datang. Aku pun berpamitan kepada Kirana untuk pulang duluan.


Di perjalanan, aku masih memikirkan apa yang telah terjadi. Kalau saja tadi gak ada Kirana, mungkin aku sudah terserempet atau tertabrak. Semoga Allah membalas kebaikan Kirana.


***


Kulihat Deril sedang diajari berenang oleh Pak Andre. Ya ampuunn ... jadi pingin deh diajari renang sama majikanku yang ganteng itu.


Sepertinya kalau diajari sama Pak Andre, aku bakal cepet bisa renang, deh!


Kutepuk kening agar tidak terus-terusan mengkhayal.


"Mira, tolong ambilkan handuk dua, ya," pinta Pak Andre.


Dua handuk yang sudah tersedia di meja kubawa menuju Pak Andre dan Deril yang kini sudah berada di pinggir kolam renang.


Aku pun segera memakaikan handuk ke Deril lalu membawanya ke kamar mandi.


Aku merasa canggung saat berada di dekat Pak Andre yang hanya memakai celana pendek. Meskipun, sebenarnya ingin melihat badannya yang atletis itu.


Duh, Mira! Keinginan macam apa itu?


Setelah memandikan Deril, aku pun menyuapinya di ruang keluarga. Deril makan sambil bermain.


"Nanti setelah sholat maghrib, Papa mau ke mall. Mau ikut?" tanya Pak Andre yang baru turun dari lantai dua.


"Maauuu!" Deril tampak antusias.


Pak Andre kembali tersenyum. Duh ... manisnyaaa. Jadi pingin dinikahi sama majikan gantengku ini.


Kutepuk kening agar tidak terus-terusan halu.


"Makannya habisin, ya! Papa mau makan dulu." Pak Andre membelai rambut Deril, lalu pergi menuju dapur.


"Mbak, nanti Eyil pingin main Timezone sama beli es klim." Deril tersenyum hingga tampak gigi mungilnya.


"Iyaaa. Ayo, makan lagi!" Aku menyuapi Deril.


Setelah selesai menyuapinya, kucuci peralatan makan bekas Deril. Lalu, kembali menemani Deril bermain.


"Mira, nanti kamu ikut?" tanya Pak Andre yang duduk di sofa yang terletak di depan sofa yang aku dan Deril duduki.


"Hmm ...." Bingung. Apakah aku harus ikut atau tidak.


"Ikut saja. Daripada sendiri di rumah. Lagian, mau sekalian belanja bulanan."


Aku mengangguk. "Iya, Pak."


***


Sesampainya di mall, kami langsung membeli yang ditulis di daftar belanja. Aku jadi teringat Rian, biasanya pergi bersamanya.


Sedang apa dia di sana? Pesan WA-ku tidak dibalas. Hanya dibaca aja. Pedih, Gaeess!


Setelah selesai belanja bulanan dan menitipkannya, Pak Andre menuju tempat pakaian anak laki-laki.


"Pa, mau beli baju?" tanya Deril yang digandeng sama Pak Andre.


"Iya. Beli baju buat jagoannya Papa." Pak Andre tersenyum lalu mencolek hidung Deril.


Duh, jadi pingin beli baju. Apalagi liat yang diskonan. Hwaaa ... dompet mana dompet?


Aku hanya mengekor saja. Pak Andre dan Deril sedang memilih-milih baju. Kuambil ponsel di tas selempang coklat muda. Melihat WA, siapa tau ada balasan dari Rian. Ngarep.


Gak ada. Gak ada balesan dari Rian, Gaeess. Gini amat, ya, rasanya nunggu WA dibales, eh, ternyata cuma dibaca doang. Jempol tangannya Rian keseleo kali, ya?


"Mira, kamu mau beli baju?" tanya Pak Andre yang menjinjing belanjaan di tangan kanannya.


Aku menggeleng. "Gak, Pak."


"Kalau mau, nanti saya belikan."


Apa tadi? Aku gak salah dengar, 'kan? Dibeliin baju sama majikan ganteng?


"Gak usah, Pak." Aku tersenyum canggung.


"Anggap saja sebagai bonus. Nanti sekalian beli baju juga untuk Bi Ani."


Duh, gimana, ya? Malu euy .... Sebelumnya Pak Andre belum pernah ngebeliin baju buat aku. Kalau untuk Bi Ani dan Rian, sih, gak tau.


"Papa ... main Timezone-nya kapan?" Deril menggoyang-goyangkan tangan kiri Pak Andre.


"Ya, sudah. Kamu pilih baju saja sendiri sekaligus untuk Bi Ani juga. Saya mau menemani Deril bermain."


"Tapi, Pak ...."


"Kalau sudah selesai, telepon saya. Biar nanti saya bayar." Pak Andre pun melangkahkan kaki, lalu membalikkan badan. "Oh, ya, untuk Bi Ani belikan daster saja. Karena ... sukanya daster."


"Iya, Pak."


Pak Andre pun pergi bersama Deril. Padahal, aku belum tanya minimal belanja berapa juta? Eh, berapa rupiah?


Aku pun mencari pakaian perempuan. Terutama untuk aku. Bingung, Gaeess! Pilih yang mana coba? Cakep-cakep.


Pingin ngeboroong ... tapi takut malah langsung dipecat sama Pak Andre. Gara-gara ngabisin uangnya.


"Mira?"


Aku menoleh ke kiri, melihat ke sumber suara.


"Kirana?"


Kirana mengangguk seraya tersenyum. "Kamu sendiri aja?"


"Hmm ... enggak, kok. Aku sama majikan dan anaknya. Kamu?"

__ADS_1


"Aku sama temen. Cuma ... dia lagi ke toilet."


Aku pun kembali memilih baju. Begitu pun Kirana.


"Eh, liat! Ini kayanya cocok di kamu." Kirana memperlihatkan sebuah gaun selutut, berlengan pendek, berwarna baby pink. Sederhana tapi manis.


"Ya ampuunn ... aku gak biasa pake gaun. Kamu aja. Pasti lebih cocok."


"Hmm ... begitu, ya?" Kirana meletakkan kembali gaun itu.


Sebenarnya, aku juga pingin. Namun, masa ngasuh Deril pakai gaun yang lebih cocok buat ke pesta atau kencan sama Rian? Eh, kira-kira kapan kencan sama Rian?


Lama-lama aku jadi pusing sendiri. Baju-bajunya bikin ngiler. Masa harus dibeli semua? Beli tunik atau atasan panjang aja kali, ya? Lebih cocok buat berpergian, terutama nganter Deril sekolah.


Memilih-milih baju antara yang satu dengan baju lainnya. Mencari yang cocok dengan badanku. Model ini, model itu, dan model onoh. Hadeuhhh ... binguung.


Saat memilih-milih, Kirana memperlihatkan sebuah atasan lengan pendek berwarna biru muda.


"Cocok, gak?"


Aku mengangguk. Kirana memang cantik. Pakai baju model seperti apa pun yaa ... cocok-cocok aja.


"Buat kerja," sambungnya seraya tersenyum. Tampak lesung pipi menambah manis senyumnya.


Aku mendekat, melihat baju yang diperlihatkan Kirana. "Emang ... kamu kerja apa?"


"Aku kerja sebagai Staff Administrasi."


Kerja kantoran ternyata. Kulihat, Kirana kembali memilih-milih baju. Begitu pun aku, kembali mencari baju yang sedari tadi belum ketemu yang pas. Bukan cuma pas di badan, warna, dan modelnya, tapi juga harganya gak terlalu mahal. Meskipun digratisin sama Pak Andre, ah, tetap saja aku harus tau diri.


Kulihat sebuah atasan lengan panjang dan berkancing. Berwarna coklat susu kombinasi dengan dusty pink.


"Bagus itu," usul Kirana yang ternyata ada di sebelahku.


Aku mengangguk. "Hmm ... aku bingung, kan, ini digratisin sama majikan. Kira-kira aku harus beli berapa baju, ya?"


"Selusin aja. Kan, gratis!" Kirana tertawa.


"Entar majikanku kapok ngebeliin aku." Aku mengerucutkan bibir.


"Satu atau dua aja. Lebih aman. Asal harganya jangan yang terlalu mahal. Gak enak nantinya."


"Ya, udah. Aku cari satu lagi."


Aku pun kembali memilih baju. "Temen kamu ke mana? Kok,  belum ke sini?"


Kirana mengarahkan pandangan ke arah lain. Seperti mencari seseorang. "Nah, itu dia!" Kirana menunjuk perempuan itu.


Kulihat seorang perempuan berambut lurus, hitam kecoklatan, dan sebahu. Melambai ke arah Kirana.


"Maaf, ya, lama."


"Gak apa-apa, kok." Kirana tersenyum. "Oh, iya, dia Rasty. Temen sekantor."


"Aku Mira."


Perempuan berkacamata itu tersenyum kepadaku begitu pun aku.


Terdengar dering ponselku. Ternyata Pak Andre menelepon.


"Iya, Pak?"


"Sudah belanjanya? Kalau sudah biar saya ke sana, nanti kita lanjut makan."


Aduh, bajuku aja baru satu. Belum daster Bi Ani.


"Bentar lagi, Pak. Ini mau beli daster Bi Ani."


"Baiklah. Saya dan Deril langsung ke sana saja."


Aku pingin tanya, beli bajunya boleh berapa? Masa cuma satu? Kuraaang ....


"Iya, Pak."


Aku pun langsung mencari daster setelah memberitahu Kirana dan Rasty.


Memilih-milih dengan cepat. Khawatir Pak Andre dan Deril kelamaan nunggu. Mencari daster yang kira-kira seukuran dengan badan Bi Ani.


Daster batik berlengan pendek berwarna coklat tua yang akhirnya kupilih.


Terlihat Pak Andre gak jauh dari tempatku memilih daster. Kulambaikan tangan dan Pak Andre pun mendekat ke arah kasir setelah memberi kode.


Aku pun pergi ke kasir. Menyerahkan bajuku dan daster Bi Ani di tempat kasir.


"Kenapa cuma satu?" tanya Pak Andre saat kasir mengecek harga lewat komputer.


"Itu aja milihnya lama, Pak. Apalagi kalau banyak." Aku tertawa kecil.


"Papa, ayo makan!" ajak Deril saat Pak Andre membayarkan belanjaan.


"Ayo!"


Aku mengekor di belakang Pak Andre dan Deril setelah mengambil belanjaan.


***


Sebelum tidur, aku mengecek WA, berharap ada pesan dari Rian. Ah, tapi sayang, ternyata gak ada.


Rian masih aktif. Apakah ... aku harus mengirim pesan terlebih dahulu? Eh, pingin video call aja. Bisa kali, ya?


Aku pun mencoba menghubunginya lewat video call, tapi ... ditolak, Gaeess! Ya, ampuunn perih hatiku. Hwaaa ....


[Ih nyebelin gak diterima VC gueee!]


[Mau apa sih VC segala?]


[Pengen aja. Gak boleh gitu?]


[Males gua, pesek!]


[Ngeliat bidadari males? O dua N apa gimana lo itu siihhh]


[Emang ada bidadari pesek, sarap, ngeselin kek lu gitu?]


[Riaaaaannnnnn gelud yuk! Sebel gueee] Tak lupa emotikon marah kutambahkan di akhir.


[Sorry, gak level gelud sama cewek sarap]


Akhirnya, kumatikan data seluler. Sekaligus ponsel juga dimatikan. Sebel pokoknya. Sebeeelll!


***

__ADS_1


__ADS_2