
Sampai saat ini, aku belum berani mengirim pesan atau menelepon Rian. Gak berani, malu, takut diblokir, dan pikiran negatif lainnya seolah memenuhi kepalaku.
Aku pun melihat kapan terakhir kali Rian aktif. Pukul 18.45 WIB. Apakah Rian masih bekerja? Apakah dia sedang istirahat atau makan malam?
Aku pun melihat profil WA-nya, statusnya masih sama 'Sibuk' dan foto profilnya pun masih sama. Berupa pemandangan kota dari atas gedung saat malam hari.
Aku pun kembali melihat profilnya setelah selesai makan malam, saat jarum jam menunjukkan pukul 21.05 WIB. Ternyata ... Rian sedang aktif di WA.
Kirim pesan gak, ya? Aslinya mau, tapi malu. Duh, gimana dooongg?
[Assalamu'alaikum ...]
Centang dua, tapi belum berubah jadi biru.
Tak lama, centang pun menjadi biru dan kulihat Rian sedang mengetik. Perasaanku menjadi tak karuan.
Pesan balasan dari Rian pun sampai. Sigap, kubuka pesan balasan itu.
[Wa'alaikumsalam]
Duuhhh ... aku balas gimana, ya? Masa iya mau ngomong kangen? Gengsi, ah!
[Qwerttyuiopasdfghkklzxcvbnm]
Entahlah, kenapa jariku malah mengirim pesan gak jelas kaya gitu.
[Gak jelas lu!]
[Wkwkwk]
[Kalo gak ada kepentingan, gak usah ganggu!]
[Kebiasaan lo suka marah]
[Lu juga kebiasaan suka ngeselin]
Hah? Emangnya Rian tau ini nomorku?
[Emang tau ini nomor siapa?]
[Mira si cewek sarap!]
Iihhh, nyebeliinn! Masa aku dikatain cewek sarap?! Dasar Rian kesayanganku.
[Kok lo tau gue Mira?]
[Kan itu di profil lu namanya Mira. Cuma kurang tuh gak ada cewek sarapnya]
Saat aku mau membalas pesannya, eh, dia malah gak aktif. Ih, gak asik banget! Gak tau apa kalau aku lagi kangen?
Ingin aku membalas pesannya lagi, tapi aku malu. Nanti kelihatan banget kalau lagi ingin berkomunikasi dengannya.
Aku jadi berpikir, apakah Rian sekarang menjadi lebih sibuk atau tidak mau menjalin komunikasi denganku? Soalnya, masa malah gak aktif, sih?
***
Keesokan harinya, aku membuka WhatsApp, gak ada pesan lagi dari Rian. Ya, iya, lah! Akunya aja gak ngirim pesan lagi.
Lagian, Rian belum aktif lagi. Mungkin, dia kecapean karena banyak kerjaan atau habis kuota internetnya? Ah, entah.
Setelah menyuapi Deril, aku pun segera mengantar Deril ke sekolah.
Sebenarnya, Pak Andre pernah menyuruhku lagi untuk belajar menyetir mobil, agar lebih mudah saat antar-jemput Deril, tapi aku belum berani. Takut nabrak, nanti malah harus ganti rugi.
"Coba kamu belajar menyetir mobil. Kan, itu ada mobil jarang dipakai di garasi. Biar kamu lebih mudah antar jemput Deril," kata Pak Andre saat beberapa pekan yang lalu.
__ADS_1
"Aku takut, Pak. Nanti kalau nabrak gimana?"
"Bawanya hati-hati. Kalau takut, nanti kapan bisanya?" Pak Andre tersenyum.
Waktu itu masih ada Rian. Coba aja kalau Rian yang mengajariku menyetir mobil, mungkin aku mau. Namun, Pak Andre ingin orang yang bekerja di pelatihan menyetir mobil untuk mengajariku.
Di perjalanan menuju sekolah, aku kembali membuka WhatsApp, siapa tau Rian mengirim pesan. Ah, ternyata itu hanya harapanku saja. Rian belum juga aktif.
Aku melihat status WA, ternyata tak ada status Rian. Mungkin, nomorku belum dia simpan?
Iseng, aku meminta Deril untuk direkam suaranya lalu dikirim ke Rian. Deril pun mau.
"Mas Iaaann ... kapan pulang?"
Terkirim.
Aku hanya menunggu balasan dari Rian. Aku harap nanti Rian mau membalas rekaman itu dengan rekaman lagi. Jujur, aku kangen sama suaranya.
Sesampainya di sekolah, aku pun duduk di kursi panjang yang berada di taman sekolah. Deril sudah masuk kelas.
Aku pun membuka WA, Rian belum juga aktif. Duh, dia bikin aku khawatir aja.
Ya, sudah, lah. Daripada nunggu balasan pesan dari Rian yang tak kunjung aktif, mending main game.
Namun, aku menjadi tambah sebel saat main game terus-terusan kalah. Hwaaa! Kayanya pingin di-uninstall ini game!
Saat aku mau uninstall, ada pemberitahuan WA masuk. Sigap, aku membukanya. Satu pesan dari Rian berupa rekaman.
"Eh, Deril apa kabar? Sekolah enggak hari ini?"
Akhirnya, aku bisa mendengar suara kesayanganku. Ya, ampuunn ....
Eh, tapi kenapa Rian cuma nanya kabarnya Deril aja? Kabarku gak ditanya? Emang gak mau tau keadaanku gitu?
[Deril udah masuk kelas. Alhamdulillah Deril sehat. Ditanya itu kapan pulang ke rumahnya?]
Kapan-kapannya kapaann? Aku pingin ketemu tau! Gitu aja gak ngerti.
[Baru diisi kuota internetnya ya? Wkwk]
[Maksudnya?]
[Baru online lagiii]
[Gua sibuk. Lu ada apa sih nge-WA gua?]
Duh, bales gimana, ya? Aku binguung. Masa harus jawab kangen? Aku pingin dia peka tanpa harus dikasih tau kalau aku lagi kangen.
[Ganggu ya? Ya udah deh kalo lagi sibuk mah]
Centang biru. Gak ada balesan lagi, karena Rian malah gak aktif. Padahal masih kangen. Nasib!
Jam istirahat pun tiba. Aku memberi tau Deril balasan rekaman dari Rian. Deril tampak senang. Lalu, ingin membalas rekaman itu.
"Baik, Mas Ian. Sekolah doong. Mas Ian kapan pulang? Pingin main sama Mas Ian lagi."
Terkirim.
Rian belum aktif lagi. Mungkin memang dia sedang sibuk. Aku jadi penasaran apa pekerjaanya saat ini?
Deril terus menanyakan balasan dari Rian. Sepertinya dia gak sabar nunggu, meskipun aku sudah memberi tau kalau Rian sedang tidak aktif di WA.
"Nanti kalo udah dibales, kasih tau Eyil, ya, Mbak," pintanya saat mau masuk ke kelas karena bel pertanda masuk sudah bunyi.
"Iya. Semangat belajarnya." Aku membelai rambut Deril.
__ADS_1
***
Sesampainya di rumah, aku segera mengganti pakaian Deril lalu mengajaknya makan siang.
"Mbak, Mas Ian udah bales belum?" tanya Deril lalu memakan ayam goreng.
Aku belum mengecek WA lagi, karena baterai ponsel lemah dan sekarang lagi dicas.
"HP-nya lagi dicas, nanti kalo udah penuh, ya, diliat." Aku tersenyum agar Deril mau mengerti.
Aku pun jadi kepikiran, apakah Rian sudah membalas lagi atau belum?
Setelah selesai makan siang, aku pun membereskan peralatan makan yang kotor lalu mencucinya. Meskipun ada Bi Ani, tapi kasihan kalau semuanya harus dikerjakan sama Bi Ani.
Aku pun menemani Deril bermain mobil-mobilan pemberian dari Rian.
Aku pun pergi ke kamar untuk mengambil ponsel, ternyata sudah terisi penuh baterainya.
Kembali menemani Deril lalu membuka WA yang sudah dibalas sama Rian berupa rekaman.
"Insya Allah kapan-kapan, ya, soalnya lagi banyak kerjaan. Oh, ya, sekolahnya yang semangat belajarnya. Oke?"
Deril pun ingin membalas lagi.
"Okeee. Mas Ian, Eyil lagi main mobil-mobilan dali Mas Ian, loh!"
Rian belum membalas lagi karena sedang tidak aktif. Deril terus menunggu, terlihat bibir mungilnya cemberut karena belum juga ada balasan dari Rian.
Sepertinya, ini bisa dijadikan alasan agar aku bisa video call atau telepon Rian.
Sampai sore pun belum juga ada balasan. Sepertinya nanti malam bisa, tapi Deril keburu tidur kayanya ini mah.
Hari pun mulai petang, setelah menemani Deril makan malam, aku pun menemaninya tidur. Seperti biasa, sebelum tidur Deril dibacakan dongeng dulu.
Kulihat Deril belum juga mengantuk. Padahal, aku sudah membacakan satu dongeng untuknya.
"Kok, belum tidur?" Aku membelai rambutnya.
"Mas Ian udah bales lagi belum, Mbak?" Tampak sebuah harapan dari wajah Deril.
"Nanti dicek dulu, ya ...."
Aku pun membuka WA, ternyata udah dibales sama Rian. Kebetulan Rian sedang aktif.
"Asyik dong? Udah makan belum?"
"Udah. Ini tadi abis dibacain dongeng sama Mbak Mila."
Aku pun memberi usul kepada Deril untuk video call sama Rian. Deril pun mengangguk cepat.
[Deril pingin video call. Bisa gak?]
[Bisa]
Yesss! Akhirnya, aku bisa melihat Rian. Aku tersenyum bahagia tanpa memperdulikan Deril yang tampak heran melihatku.
Setelah terhubung dan diterima video call-nya, ponselku langsung diminta sama Deril. Ya elaahh, cuma sekilas doang liat Rian.
Mereka saling ngobrol. Deril tampak bahagia saat video call sama Rian. Aku pun bahagia, karena bisa mendengar suara dan melihat Rian meski lewat ponsel.
Kudengar, Rian menyuruh Deril tidur. Deril pun mengiyakan. Aku pun merasa senang, karena kupikir ini saatnya bisa video call sama Rian.
"Ini, Mbak." Deril menyerahkan ponselku.
Saat aku menatap ponsel, ternyata video call sudah berakhir. Yah, kok, nyebelin, sih?
__ADS_1
***