
Entah kenapa aku merasa kurang nyaman dengan hadirnya Nyonya Ratih. Sikapnya yang gak mengenakan hati, membuatku malas ketika melihatnya.
Entah kenapa Pak Andre begitu sabar menghadapinya. Aku jadi penasaran kalau Nyonya Ratih tinggal di sini terus, apakah Pak Andre akan tetap sabar menghadapinya?
Semenjak ada Nyonya Ratih, aku sarapan bareng Deril. Jadi, setelah menyiapkan sarapan, lalu pergi ke kamar Deril.
Memandikannya, memakaikan pakaian, dan membereskan kamarnya. Kalau sekolah, aku menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Nanti, baru menyuapi sekaligus ikut sarapan.
Siang menjelang sore, aku menemani Deril bermain di ruang keluarga.
"Mbak, pingin minum."
"Bentar, ya, mbak ambilkan dulu."
Aku menuju dapur. Menuangkan air ke gelas. Lalu, saat mau ke ruang keluarga aku melihat Nyonya Ratih berada di dekat Bi Ani yang sedang menyetrika.
"Hati-hati itu nyetrikanya! Baju saya itu bermerek dan mahal. Jangan sampai rusak!" Nyonya Ratih berdiri seraya menunjuk Bi Ani.
Bi Ani mengangguk. "Baik, Nyonya Ratih. Saya akan menyetrikanya dengan baik."
"Bagus!"
Nyonya Ratih mengalihkan pandangan kepadaku. "Sedang apa kamu di situ?"
"Abis ngambil minum untuk Deril, Nyonya."
"Ya, sudah sana cepat bawa! Malah berdiri di situ." Nada bicaranya terdengar ketus.
Aku segera memberikan minum kepada Deril. Huh, rasanya menyebalkan sekali serumah dengan Nyonya Ratih. Lebih menyebalkan daripada Rian.
Nyonya Ratih menghampiriku dan Deril. Duduk berhadapan dengan Deril. Deril menatapnya sekilas, lalu lanjut bermain lagi.
"Deril, mainnya sama oma, ya."
"Emang Oma suka maen mobil-mobilan sama lobot?"
Nyonya Ratih tersenyum. "Ya, suka. Apalagi mainnya sama cucu oma."
Nyonya Ratih memegang mobil-mobilan berwarna merah. Lalu melajukannya.
"Hei, Mira! Kerjakan pekerjaan yang lain sana! Biar cepat beres. Nyapu kek, masak buat makan malam kek, atau ngelapin kaca."
Wah, mulai ini mah nyari gara-gara. Mana kalau ngomong nadanya kayak ketus gitu. Aku malah gak tega kalau Deril dijagain sama omanya yang nyebelin kayak Nyonya Ratih.
"Tapi, aku tugasnya ngasuh Deril. Kalau dia butuh sesuatu, gimana?"
Nyonya Ratih melototiku. "Kan, ada saya. Apa kamu meragukan saya?"
Bener-bener, deh, nyebelin banget. Kapan, sih, Nyonya Ratih pergi dari sini? Males lama-lama. Ngatur-ngatur mulu.
"Sudah cepat sana! Malah diam lagi."
Aku berecak. Lalu segera mengambil sapu. Lagian, ini rumah udah bersih. Ngapain disapu lagi?
Aku memulai menyapu dari ruang tamu. Kemudian, menuju ruang keluarga. Kusapu sela sofa dan kursi terutama yang ada kaki Nyonya Ratihnya.
"Eh, yang benar, dong, nyapunya! Kenapa malah nyapu kaki saya?!" Nyonya Ratih kembali melototiku.
"Maaf, Nyonya Ratih. Harusnya, saat aku menyapu, kaki Nyonya Ratih diangkat biar gak kena sapu olehku."
"Kamu memang gak sopan, ya, sama majikan!" Nyonya Ratih menunjukku.
Majikan? Ya, elaahh ... majikanku mah Pak Andre dan Deril kali. Lagian, ogah banget kalau aku jadi pembantunya Nyonya Ratih.
"Oma, kenapa Mbak Mila disuluh nyapu, sih? Kan, halusnya nemenin Eyil maen," celetuk Deril.
Naahh ... pinter itu anak. Aku emang tugasnya ngasuh Deril. Ya, meskipun ngerjain tugas lain, kalau emang ada waktu luang. Atau udah makan cuci piring, gelas, dan sendok sendiri. Bajuku, ya, dicuci sendiri.
"Kan, Deril mainnya sama oma. Mira daripada nganggur, mending ngerjain pekerjaan yang lain," jawab Nyonya Ratih yang kini duduk di sebelah Deril.
"Tapi, maen sama Oma gak selu. Oma gak bisa, ya, maen mobil-mobilan?"
"Bisa, kok!"
"Lebih selu sama Mbak Mila. Apalagi sama Mas Ian, lebih selu lagi."
Ya, iyalah! Aku dan Rian, kan, sehati. Eh, gimana-gimana?
Aku terus melihat percakapan oma dan cucunya itu.
Nyonya Ratih mengerutkan dahi. "Mas Ian? Siapa dia?"
"Sopilnya Papa. Tapi udah gak kelja di sini lagi."
"Oohh ... sopir."
__ADS_1
"Pokoknya Eyil seneeng banget kalo maen sama Mas Ian. Olangnya baik dan selu diajak maen."
Nyonya Ratih memutar mata. "Sudah, ya, jangan ngomongin si sopir itu lagi. Lagian, dia sudah tidak bekerja di sini."
"Tapi, Oma--"
"Deril, jangan membantah!" Nada Nyonya Ratih agak tinggi disertai penekanan. Bahkan, matanya pun melotot. Dih, nyeremin.
Deril tampak takut, lalu segera berlari ke arahku. Bersembunyi di balik badanku seraya memelukku.
"Deril, sini main lagi! Jangan ganggu Mira yang lagi kerja!"
"Mbak, Eyil gak mau sama Oma."
"Derilnya gak mau sama Nyonya Ratih. Lagian, sama anak kecil galak. Ya, iyalah dia jadinya takut. Makanya, jangan galak jadi orang, Nyonya Ratih!"
Nyonya Ratih berjalan mendekat ke arahku dan Deril. Dari sorot matanya, tampak ada kemarahan. Mungkin, gak terima dengan perkataanku.
Telunjuk kanannya mengarah ke wajahku. "Lancang kamu berani bicara seperti itu kepadaku!" Nada bicaranya semakin tinggi.
"Kalau gak mau ada orang lain lancang bicara sama Nyonya, jaga sikap Nyonya kepada orang lain," kataku dengan penuh penekanan.
Napas Nyonya Ratih tampak gak beraturan. Matanya terus melotot.
"Deril, sini sama Oma. Jangan sama pengasuh yang gak tau diri itu!"
Deril tetap memelukku erat. "Gak mau! Oma galak!"
"Deril, oma tidak galak sama kamu, Sayang." Nyonya Ratih mulai menurunkan nada bicaranya.
"Gak mau!"
"Sudahlah, Nyonya, jangan dipaksa! Gak baik." Aku membalikkan badan, lalu mengajak Deril ke taman samping rumah.
Aku gak peduli bila Nyonya Ratih marah dan gak suka sama sikapku. Yang jelas, aku gak suka sama orang yang sok kayak dia.
"Dasar pengasuh gak tau diri!" Suara Nyonya Ratih lebih keras dari sebelumnya. Aku sama sekali gak peduli.
Setelah duduk di kursi taman, aku mencoba menenangkan Deril. Sepertinya dia masih merasa takut gara-gara kejadian tadi.
"Mbak, Eyil takut sama Oma. Soalnya, galak."
"Iya, Deril tenang aja, ya. Kan, ada mbak yang jagain Deril."
"Nanti mau Eyil kasih tau ke Papa. Oma galak sama Eyil dan Mbak Mila."
Pak Andre tampak sabar menghadapinya. Meskipun, sikap Nyonya Ratih gak baik.
Aku penasaran, apa tujuan Nyonya Ratih ke sini? Apakah ingin membuat masalah? Rumah yang tadinya terasa nyaman, kini terasa menyebalkan.
Jangan sampai, rumah Pak Andre lama-lama jadi terasa seperti neraka gara-gara ada Nyonya Ratih.
"Apa-apaan ini?! Kenapa baju saya bisa rusak seperti ini?!" Teriakkan Nyonya Ratih dari dalam membuatku terkejut. Begitu pun dengan Deril tampak terkejut.
"Maaf katamu? Hei, pembantu! Kamu kalau gak bisa kerja, jangan kerja!"
Aku berniat menuju sumber suara. Sedangkan, Deril kusuruh tetap di taman. Daripada ketakutan liat omanya marah-marah.
Aku sedikit berlari menuju sumber suara. Sepertinya di tempat Bi Ani menyetrika. Benar saja.
"Kamu tau? Ini baju mahal!" Nyonya Ratih memegang baju yang lengannya kurang lebih sesiku yang warnanya perpaduan hitam dan putih membentuk garis-garis. Ya ... mirip zebra gitulah.
Bi Ani hanya menunduk. Sepertinya, merasa sangat bersalah karena baju Nyonya Ratih sampai ada noda gosongnya.
"Ma--maaf, Nyonya. Maaf," ungkap Bi Ani lirih.
"Awas saja, ya, kamu akan saya laporkan ke Andre. Biar kamu gak digaji atau dipecat sekalian!" Nyonya Ratih melempar bajunya dengan kasar ke Bi Ani. Lalu melangkah pergi.
"Ngapain kamu di sini?! Mau ikut campur?" tanya Nyonya Ratih saat berada di depanku. Matanya melotot. Apakah Nyonya Ratih gak takut kalau nanti matanya copot karena suka melotot?
Nyonya Ratih melangkah pergi. Lalu berkata di samping telingaku, "Ngapain kamu masih di sini? Lakukan pekerjaanmu dengan baik!"
Aku gak membalas perkataannya. Lalu, segera pergi ke taman. Sebenarnya, ingin bertanya ke Bi Ani mengenai kejadian tadi.
Kenapa bisa ada noda gosong di baju Nyonya Ratih? Sepertinya, selama ini Bi Ani bekerja dengan baik.
Aku duduk di samping Deril. Tatapan Deril tampak heran. Sepertinya dia penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Mbak, ada apa?"
"Baju omanya Deril ada noda gosongnya. Jadi, omanya Deril memarahi Bi Ani."
"Kenapa Bi Ani dimalahi, Mbak?"
"Soalnya, yang nyetrika Bi Ani."
__ADS_1
"Kasian, ya, Bi Ani dimalahi."
***
Malamnya, aku membuka pintu. Pak Andre dan Mang Ujang sudah pulang.
Aku mengekor di belakang Pak Andre. Langkah Pak Andre berhenti saat Nyonya Ratih ingin berbicara dengannya.
"Ada apa, Ma?" Pak Andre duduk di sofa. Berhadapan dengan Nyonya Ratih.
Aku berjalan menuju dapur. Namun, aku merasa penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan. Perasaanku merasa gak enak.
Aku pun menguping di dekat ambang pintu dapur.
"Saya heran, kenapa kamu mempekerjakan orang yang tidak bisa bekerja di rumah ini."
"Apa maksud Mama?"
"Kamu tahu? Baju saya sampai ada noda gosong gara-gara Ani. Pembantu yang gak bisa bekerja itu."
"Masa, sih, Ma? Perasaan selama ini Bi Ani bekerja dengan baik."
"Oh, jadi kamu tidak percaya?"
Kulihat Nyonya Ratih berjalan ke arah dapur. Aku segera duduk. Lalu, mengambil gelas yang tersedia di meja dan menuangkan air ke gelas itu. Yaa ... pura-pura kalau misalkan Nyonya Ratih datang ke dapur.
Eh, tapi, kok, gak ke sini? Aku melihat ke belakang. Siapa tau Nyonya Ratih sedang berdiri di ambang pintu untuk mengawasiku. Namun, gak ada.
Aku pun kembali ke dekat ambang pintu. Rasa penasaranku semakin menjadi.
"Lihat! Ini baju yang sudah dirusak sama Ani."
"Mungkin, Bi Ani tidak sengaja, Ma."
"Tidak sengaja katamu? Andre, baju ini harganya mahal dan bermerek! Saya tidak terima kalau baju ini dirusak!" Nada bicara Nyonya Ratih mulai meninggi.
"Lalu, Mama maunya seperti apa? Atau nanti Andre ganti saja, ya?"
"Ani jangan digaji bulan ini, kalau perlu pecat saja sekalian!"
Wah, keterlaluan. Masa gitu aja malah main pecat, sih? Mungkin, Bi Ani juga gak sengaja. Emang, berapa, sih, harga baju itu?
"Ya, tidak bisa begitu, Ma. Lagian, Bi Ani biasanya bekerja dengan baik. Mungkin--"
"Oh, jadi kamu lebih membela pembantu yang tidak bisa bekerja itu dibanding mertuamu ini?"
"Bukan begitu, Ma ...."
Duh, Pak Andre sabar banget, sih, ngehadapi mertuanya yang nyebelin itu. Kalau aku, sih, mending tinggal tidur aja daripada ngeladeni Nyonya Ratih.
"Oh, ya, sama pengasuh itu. Saya tidak suka sama dia."
Aku juga ikut diomongin? Ya, ampuun .... Awas aja kalau sampai ngomong macam-macam tentangku ke Pak Andre!
"Mira?"
"Ya, pengasuh yang tidak punya sopan santun. Saya heran, kenapa kamu memilih Mira untuk mengasuh Deril? Bagaimana kalau Deril ikut-ikutan seperti dia?"
Lah, yang gak punya sopan santun itu aku atau Nyonya Ratih?
"Memangnya, apa yang sudah Mira lakukan, Ma?"
"Pengasuh itu berani melawan saya. Berbicara dan bersikap seenaknya. Dasar pengasuh tidak tahu diri!"
Rasa sebal di hatiku semakin bertambah. Nyonya Ratih benar-benar ingin menabuh genderang perang denganku.
"Ya, sudah. Nanti biar Andre yang bicara sama Bi Ani dan Mira. Agar bekerja lebih baik lagi."
"Ini juga salahmu, Andre," tuduh Nyonya Ratih penuh penekanan.
"Kenapa Andre, Ma?"
"Kamu terlalu baik kepada pembantu. Jadinya, mereka bekerja seenaknya."
"Andre sudah menganggap mereka seperti keluarga, Ma. Tak peduli dengan status mereka."
Ya, ampuunn ... Pak Andre baik baget. Terbuat dari apa hatinya, ya? Sampai-sampai pembantunya aja dianggap keluarga.
Kudengar, Nyonya Ratih tertawa. "Keluarga? Sungguh, saya tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Ingat Andre, jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan oleh mereka!"
Dimanfaatkan? Aduuh, itu Nyonya Ratih pikirannya buruk gitu, ya, sama pembantu.
Kudengar pintu tertutup agak keras. Sepertinya pintu kamar tamu.
Pokoknya, aku gak bisa ngebiarin Nyonya Ratih berburuk sangka seperti itu. Semoga, Pak Andre gak mudah termakan sama omongannya Nyonya Ratih.
__ADS_1
***
Maaf baru update cerita lagi. Jangan lupa like, vote, dan kasih bintang lima ya. Tinggalkan jejak komentar juga. Terima kasih😊