
Mulai sekarang, ada sopir baru pengganti Rian. Aku memanggilnya Mang Ujang. Mungkin, seumuran Bi Ani atau Bapakku.
"Eh, Neng Mira lagi nyiapin sarapan, ya?" tanya Mang Ujang saat aku menyiapkan sarapan berupa roti panggang.
"Iya, Mang." Aku tersenyum.
"Hidup di kota mah sarapannya sama roti bakar, ya. Kalau di kampung mah, Mamang biasa makan sama lontong, gorengan, atau nasi kuning." Mang Ujang tertawa kecil.
"Biar cepet, Mang. Kalau mau beli harus keluar komplek. Kadang mah sama roti isi selai atau nasi goreng. Hehe ...."
Pak Andre pun datang. Mengenakan kemeja lengan panjang hitam bergaris putih. Membuat Pak Andre tampak ganteng dan elegan. Duh ... majikan gantengkuuu ....
"Sarapannya sudah siap? Mari sarapan." Pak Andre mengajakku dan Mang Ujang untuk sarapan, lalu duduk di tempat biasa.
"Iya, Pak," jawabku Dan Mang Ujang.
Aku duduk di tempat biasa. Sedangkan, Mang Ujang duduk di tempat yang biasa Rian duduki.
Awalnya, Mang Ujang pun merasa canggung untuk makan satu meja dengan Pak Andre. Merasa gak enak makan semeja sama majikan.
Hanya saja, Pak Andre adalah majikan yang baik hati, ganteng, kaya, dan menggoda, eh, maksudnya gak pandang bulu. Menjelaskan bahwa gak masalah makan semeja dengan sopir, pengasuh, dan ART-nya. Jadi, Mang Ujang mau, deh.
Setelah selesai makan, langsung kubereskan dan kucuci peralatan makan. Lalu, langsung menuju kamar Deril.
Seperti rutinitas biasanya. Memandikan, memakaikan seragam sekolah, lalu menyuapinya.
"Mbak, nanti pulang sekolah beli es klim, ya," pinta Deril saat aku memakaikannya sepatu.
"Boleh."
"Sama kentang goleng."
"Okeee!" Aku mengacungkan kedua jempol tangan.
Kami pun segera pergi ke sekolah. Saat di perjalanan, taksi berhenti karena lampu merah.
Aku melihat ke kaca samping. Melihat seorang pengendara motor memakai kemeja panjang merah marun dan celana panjang hitam.
Aku jadi teringat sesuatu. Hmm ... apa, ya? Melihat lagi pengendara itu. Entah kenapa perasaanku merasa ada yang berbeda di dalam dada.
Aku pun membuka kaca mobil, pengendara itu menoleh. Wajahnya tertutup helem. Kecuali matanya. Ah, tatapan tajam itu ....
Saat aku mau memanggil pengendara itu, mobil malah melaju. Terus menengok ke arah pengendara itu.
"Mbak, liat apa?"
Aku pun menoleh ke Deril. "Itu liat pengendara motor."
"Emang kenapa, Mbak?"
Aku menggeleng. "Kaya mirip Rian ...."
Deril tampak terkejut. Lalu menoleh ke belakang. Seperti mencari pengendara yang kumaksud.
"Yang mana, Mbak?"
Aku pun menoleh ke belakang, ke samping mobil, lalu ke depan. Ah, sudah gak ada.
"Mungkin udah lebih dulu atau belok arah."
"Yaahh ... padahal Eyil pingin ketemu sama Mas Ian." Deril mengerucutkan bibir.
Ya, gak salah lagi. Itu pasti Rian. Pantas saja, hatiku rasanya tak menentu.
Buru-buru, aku membuka WA. Lalu memilih salah satu nama.
[Itu tadi lo? Yang di lampu merah]
Rian belum aktif lagi. Bisa dipastikan dia lagi di jalan.
Rian pernah memakai kemeja dan celana yang mirip dengan pengendara itu. Ditambah tatapan tajam itu seperti matanya Rian.
Taksi pun berhenti di depan pintu gerbang sekolahnya Deril. Dari saat turun dari taksi hingga duduk di taman sekolahnya Deril, aku masih teringat pengendara itu.
Membuka WA kembali, ternyata belum ada balasan. Mungkin, Rian sedang bekerja.
Aku jadi teringat tatapannya Rian yang tajam. Biasanya, aku selalu bertemu dan berbicara dengannya. Kini, jangankan bertemu dan berbicara, membalas pesan WA pun Rian seperti enggan.
Apakah ... ini salahku? Tidak mau menyadari kalau Rian tak memiliki rasa yang sama. Dari sikapnya saja sudah seperti itu.
Apalagi ... aku yang hanya seorang pengasuh dan lulusan SMA. Sedangkan Rian, pekerja kantoran dan seorang sarjana.
Mungkin saja, tipe perempuan yang Rian idamkan harus yang setara dengannya. Yang jauh lebih baik dariku.
Ah, kenapa lagi dan lagi aku terus membiarkan hati berharap kepada seseorang yang tak pasti? Seolah-olah, patah hati itu terasa nikmat untuk dirasakan.
Kubiarkan air mata mengalir membasahi pipi. Aku berharap dengan menangis bisa sedikit melegakan hati yang terasa sesak.
Terdengar bunyi ponsel pertanda ada panggilan masuk. Segera kuhapus air mata dan mencoba agar terdengar baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum, Mira."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Pak."
"Lagi apa kamu? Kabarmu baik, 'kan?"
Sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja. Namun, aku tidak mau membuat Bapak dan yang lainnya cemas.
"Lagi nunggu Deril di sekolahnya, Pak. Alhamdulillah baik, Pak. Bapak, Ibu, dan Fajar gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah kami semua baik. Mira, ini ibumu mau bicara."
Kudengar suara Ibu mengucapkan salam.
"Mira, nanti Jum'at depan Deni nikah. Kamu mau datang atau tidak?" tanya Ibu setelah aku menjawab salam.
Deni adalah kakak sepupuku. Tempat tinggalnya sekitar sepuluh kilometer dari tempat keluargaku tinggal.
"Hmm ... gimana, ya, Bu?"
"Gimana apanya?"
"Jum'at aku masih antar jemput anaknya majikanĀ dan nungguin di sekolahnya. Kalau izin libur, kasian nanti gak ada yang jaga dia."
"Ooh ... begitu?"
"Hmm ... nanti aku transfer aja uang untuk kondangannya, Bu."
Ibu pun mengiyakan. Lalu menutup telepon, setelah memberi tahu mau mencuci baju dan ponselnya mau dibawa sama Bapak ke tempat jualan es campur.
Sebenarnya, aku ingin datang ke pernikahan kakak sepupu. Hanya saja, gak mungkin izin pergi ke sana. Nanti Deril gak ada yang jaga.
Terdengar suara Deril memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang. Anak kecil tampan itu berlari dengan membawa selembar kertas putih.
Deril mencoba mengatur napas setelah berada di depanku. Lalu memperlihatkan selembar kertas yang dia bawa.
"Tadi, Ibu Gulu ngasih gambal. Suluh diwalnain. Kata Bu Gulu, Eyil ngewalnainnya bagus," ujarnya dengan raut tampak bahagia.
Aku pun melihat gambar di kertas itu. Ada gambar pesawat terbang. Berwarna biru tua di badan pesawatnya dan hitam di bagian rodanya. Deril mewarnainya cukup rapi.
"Waahh! Ini emang bagus ngewarnainnya!" Aku membelai kepala Deril.
"Tapi, ini ada yang kelual galis sedikit," ungkapnya seraya menunjuk warna yang keluar dari gambar.
"Gak apa-apa. Namanya juga masih belajar. Ini udah cukup rapi, kok!"
Deril mengangguk cepat, lalu tersenyum.
Deril memang suka mewarnai gambar. Jadi, udah agak terlatih untuk mewarnai.
"Mau jajan?" Aku mengangkat alis. Saat ini adalah waktu istirahat.
"Jangan es krim. Nanti belepotan gimana? Takutnya kena seragam."
Deril tampak berpikir. Melihat ke berbagai arah, seperti mencari sesuatu.
"Ke kantin aja, yuk!" ajakku lalu memegang pundaknya.
Deril menggeleng. "Pingin es klim aja."
"Katanya belinya nanti kalau pulang sekolah sekalian beli kentang goreng?"
"Tapi sekalang juga pingin es klim!" Deril mengerucutkan bibir.
Ya, ampuunn ... ini anak susah diomongin. Oke, kalau begitu aku juga pingin beli es krim. Daripada galau gara-gara Rian, mending ngemil es krim sekaligus sama freezer-nya. Boleh atau enggak, Gaess?
***
Setelah menggantikan pakaian Deril dan menyuapinya, aku pun bermain bola di taman samping rumah dengannya.
Lebih baik fokus bekerja, daripada memikirkan yang gak pasti. Kerja dapet duit, mikirin Rian? Dapet sakit hati.
Deril tampak senang saat berlari-lari lalu menendang bola. Saat aku mau menahan bola, tapi sayangnya gak kena.
Bola terus menggelinding hingga berhenti di dekat kursi agak panjang. Mendekati bola, kuambil, dan ... melihat kursi itu.
Ingatanku kembali ke saat aku dan Rian duduk bersama di kursi itu. Entah kapan kebersamaan kami dapat terulang kembali.
"Mbaak, cepetan!" teriak Deril yang sepertinya sudah gak sabar bermain lagi.
"Iyaaa."
Ayo, Mira, fokus ngasuh Deril aja! Jangan mikirin orang yang gak mikirin kamu!
Mencoba tetap semangat dan tersenyum meski hati menahan perih. Apalah artinya memiliki rasa, tapi tak pernah terbalas.
"Mbak, pingin minum es jeluk," pinta Deril yang tampak capek disertai keringat yang bercucuran.
"Nanti Mbak bikinin, ya. Mau ikut ke dapur atau mau nunggu di sini?"
"Ikuutt!"
Aku menggandeng tangan kirinya. Lalu melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Deril duduk di kursi yang biasa Pak Andre duduki. Sedangkan, aku membuat es jeruk.
Menuangkan dua gelas es jeruk di meja makan. Satu untuk Deril dan yang satunya untukku. Lalu aku pun mendekati Bi Ani.
"Bi, mau es jeruk gak? Aku bawain, ya?" tanyaku pada Bi Ani yang sedang menyetrika di ruang sebelah dapur.
Bi Ani menggeleng pelan lalu melihatku. "Tidak usah, Mira. Buat kamu saja sama Deril."
"Ih, gak apa-apa. Bi Ani pasti capek dan haus. Nanti aku anter ke sini." Aku pun kembali ke dapur.
"Mbak, esnya gak diminum?"
"Nanti dulu. Ini mau nganterin es jeruk ke Bi Ani. Kasian, pasti capek dan haus." Aku tersenyum ke Deril. Lalu menuangkan es jeruk ke gelas.
Kusuguhkan segelas es jeruk di meja yang terletak di dekat keranjang pakaian.
Bi Ani tersenyum. "Terima kasih, ya, Mira. Kamu baik, sama seperti Rian."
Deg!
Rian?
Kenapa Bi Ani malah menyebut nama Rian? Di saat aku mencoba tak mengingatnya, ingin fokus bekerja, tapi ....
"Semoga kamu dimudahkan dalam berbagai urusan, ya, Mira," imbuh Bi Ani disertai senyum. Lalu mengambil kemeja panjang berwarna putih milik Pak Andre di keranjang pakaian.
"Aamiin. Silakan diminum, Bi. Aku permisi dulu mau nemenin Deril."
Bi Ani mengangguk. Aku pun menuju dapur disertai benak yang kembali memikirkan Rian.
Duh, Rian ... racun apa yang udah ditebarkan olehmu di otakku? Kenapa untuk melupakanmu aja terasa sulit bagiku?
***
Setelah makan malam, aku menuju kamar. Gak langsung tidur, sih. Namun, lagi pingin main ponsel.
Bermain ponsel sambil rebahan di kasur berseprai putih. Harapan mendapatkan balasan pesan di WA dari Rian masih ada. Apalagi balasan perasaan. Ehem.
Ada satu pesan WA dari Rian. Ya ampuun ... gak sabar pingin cepetan baca.
[Yang mana?]
Balasan macam apa itu? Pura-pura gak tau atau gimana?
[Itu yang jadi remahan debu di aspal!]
Rian tidak aktif. Namun, tak lama kemudian dia aktif. Pesanku dibaca, lalu kulihat dia sedang mengetik.
[Gak jelas]
[Waktu gue nganter Deril sekolah, pas di lampu merah gue ngeliat pengendera motor mirip lo gitu. Pake kemeja merah marun dan celana item. Terus ngeliat gue, dari tatapannya kek lo gitu lah]
[Yaelah ... lu pikir yang punya kemeja marun sama celana hitam cuma gua doang?]
[Ih gamau ngaku dasar nyebelin!]
Padahal udah jelas, pengendara itu pasti Rian. Yaa ... meskipun wajahnya ketutup helem, tapi mirip, kok!
[Gua hari ini naek ojek onlen, gak bawa motor sendiri. Masih gak percaya?]
Hah? Masa, sih? Aku kembali mengingat pengendara itu. Dari tatapannya ... sama kaya Rian. Kemeja dan celananya ... juga sama. Ah, pasti aku lagi dibohongin.
Mohon maaf, ya, aku gak bisa semudah itu dibohongin! Mataku masih normal. Ingatanku juga masih kuat.
[Enggaaaakkkk!!!!!]
[Halu kali lu. Mikirin gua mulu]
Deg!
Mataku melebar saat membaca balasan dari Rian. Kok, tau kalau aku suka mikirin dia?
[Iiihhh GR lo! Ngapain mikirin cowok nyebelin kaya lo?]
[Kalo gak mikirin, ngapain liat orang lain disangka gua?]
Aku pun mengirim pesan suara. Capek ngetik mulu.
"Lah emang mirip sama lo, kok! Dari kemeja, celana, tatapan tajamnya itu semua kaya lo!"
"Emang lu lihat wajahnya?"
Aku gak nyangka, Rian membalas pesan suara kepadaku. Suara yang kurindukan, kini terdengar lagi.
"Hmm ... enggak, sih. Ketutup helem, tapi gue yakin itu pasti si Rian yang nyebelinnya kebangetan!"
"Udah, lah, gua mau tidur. Capek debat sama lu. Gak percayaan jadi orang."
Loh, kok, malah mau tidur, sih? Rian pun jadi gak aktif di WA. Apakah dia marah? Emangnya aku salah, ya?
"Tidur sono! Semoga mimpi digigit tikus jempol tangannya. Soalnya doyan nolak video call dari gue!"
__ADS_1
***
Gimana suka sama ceritanya? Tulis tanggapannya di komentar, yaa .... Jangan lupa like, vote, dan rate. Oke?