
Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.15, entah mengapa mata ini masih sulit untuk kupejamkan.
Kuambil ponsel di nakas, menggeser layar kunci, kemudian membuka Facebook.
Membaca postingan yang lewat di beranda dengan malas, hingga mata ini melebar melihat postingan yang lewat atas namanya.
'Diam bukan berarti tak memiliki rasa. Hanya saja, aku tak ingin tergesa-gesa mengucap cinta.'
Ini postingan untuk perempuan itu kah? Apa benar dugaanku bahwa dia memiliki rasa pada perempuan itu?
Dada ini bergemuruh. Terkadang, ada rasa menyesal karena membiarkan hati untuk jatuh cinta kepadanya.
Kulihat siapa saja yang menyukai postingannya, mata ini kembali perih saat perempuan itu memberi tanda suka.
Ada beberapa temannya yang mengomentari, menanyakan untuk siapa postingan itu dia tuju. Sialnya, dia tak memberi tahu malah mengalihkan pembicaraan.
Keluar dari Facebook jauh lebih baik, hingga tak terasa mata ini telah berkaca-kaca.
Entah berapa menit aku menangis hanya gara-gara postingan yang tak kutahu untuk siapa, hingga berujung mengundang lapar.
Menuju dapur, seperti saat itu melihat gerak-gerik yang sama. Lampu kunyalakan, dan ... terlihat Rian sedang makan begitu lahap.
Rian hanya menatapku sekilas, lalu melanjutkan makan.
Kuambil piring, secentong nasi, dan ... sisa satu ayam goreng. Aku dan Rian bertatapan, kugerakkan dengan gesit jemari untuk mengambil ayam goreng itu.
"Gua duluan." Rian lebih dulu mengambil ayam goreng, kemudian tertawa jahat.
"Eh, lo kan udah makan itu. Sekarang, ini jatah gue." Aku mencoba merebut, namun Rian dengan sigap menggeser tangannya.
"Tapi, gua lebih dulu. Udah makan sama garam aja sonoh!"
"Lo jadi cowok harusnya ngalah sama cewek."
"Gak sudi gua ngalah sama lu."
Percuma debat dengan makhluk unfaedah. Kulangkahkan kaki menuju kulkas, mengambil telur di sana.
Membuat telur dadar dilengkapi potongan cabai rawit dan irisan bawang merah. Setelah matang, kutuangkan kecap di telur dadar.
Rian hanya menatapku sebal, ditambah ketika aku makan satu meja dengannya. Memangnya, dia pikir aku mau? Ini sih kepaksa saja.
***
__ADS_1
Sabtu siang menjelang sore aku menemani Deril bermain bola di taman samping rumah. Warna-warni bunga memberi kesan indah bagi siapa pun yang melihatnya. Terdapat kursi panjang, bersebelahan dengan lampu taman.
Aku dan Deril saling mengoper bola. Tampak keceriaan di wajahnya. Tersenyum senang ketika berhasil mengoper bola tepat ke arahku.
Tak lama kemudian, bola yang ditendang Deril melenceng, mendekati dinding kaca. Kuambil bola itu, dan ... terlihat di balik dinding kaca ada Pak Andre sedang nge-gym. Mengenakan kaus pendek merah marun dan celana pendek senada, begitu serasi dengan warna kulitnya yang putih cerah.
Rambut lurusnya agak basah karena keringat. Entah mengapa, mata ini sulit untuk berpaling.
"Mbak, ayo main lagi." Deril menarik tanganku.
Ah, anak ini kenapa tidak peka, sih? Aku kan sedang melihat bidadara. "I-iya."
Bermain bola dengan Deril pun aku tak fokus. Kaki menendang bola, sedangkan kepala menengok ke kiri mengarah majikan tampan yang berada di balik dinding kaca.
"Mbak, emang main bola liatnya gak ke depan, ya?"
"Hmm ... itu," tunjukku pada mawar merah yang ditanam 90 cm dari dinding kaca.
Deril melihat mawar yang kutunjuk. Kemudian, menatapku lagi. Tampak dia kebingungan.
"Mawarnya cantik." Aku tersenyum kepada Deril. "Ayo, kita main bola lagi."
"Eyil cape, Mbak. Pingin makan es klim." Deril menghampiriku, dan menarik tanganku menuju dapur. Dia menyuruhku untuk mengambilkan es krim di kulkas.
"Eyil pingin es klim." Deril mengerucutkan bibir.
Bi Ani menghampiri kami. "Kalian sedang apa di sini?"
"Deril pingin es krim, Bi. Tapi ... aku cari gak ada."
"Es krimnya sudah habis. Coba bicara sama Pak Andre."
Aduh! Entah kenapa hatiku terasa tak karuan. Melihat Pak Andre saja, sudah seperti mati gaya. Lah, ini harus bicara.
Mira ... tetap tenang. Oke?
Aku mengajak Deril ke ruang gym. Terlihat Pak Andre sedang duduk seraya meluruskan kaki.
"Papa ...." Deril berlari kemudian memeluk Pak Andre.
"Hei, jagoan Papa." Pak Andre membalas pelukan sembari mencium pipi anaknya.
"Papa, Eyil pingin es klim, tapi di kulkas gak ada." Deril mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Oh ... begitu." Pak Andre mengangguk.
Pak Andre menyuruhku membeli es krim dengan memberi tiga lembar seratus ribuan. Ini beli es krimnya berapa biji? Kalau beli yang lima ribuan, berarti dapat ....
"Di garasi ada motor,kamu pakai saja," ujar Pak Andre.
"Aduh, Pak. Aku gak bisa bawa motor." Aku tertunduk. "Soalnya, waktu itu pernah belajar motor, tapi malah nyungsep ke got."
Pak Andre tersenyum, memperlihatkan giginya yang berbaris rapi dan membentuk lesung di pipinya. Tuh, kan ... hatiku jadi lumer!
"Rian," panggil Pak Andre. Rian pun masuk ke ruang gym. Dia masih menggendong tas, sepertinya baru pulang kuliah.
"Tolong antarkan Mira membeli es krim, ya. Soalnya, Deril pingin es krim. Mira tidak bisa membawa motor, jadi kamu saja yang mengantar," papar Pak Andre.
Rian melirikku tajam, seperti kesal kepadaku. "Baik, Pak."
Motor matic putih yang dikendarai Rian membelah jalanan Jakarta. Kami saling membisu. Ya, itu jauh lebih baik.
Sampai di mini market, aku langsung menuju freezer es krim. Beli es krim yang mana, ya? Rasa apa? Selama aku mengasuh Deril, aku belum pernah lihat dia makan es krim. Seperti muncul tanda tanya sebesar arit di atas kepalaku.
"Lu lama banget, sih! Gua capek dari tadi nungguin di depan," protes Rian.
"Gue bingung, beli yang mana? Gue gak tau Deril sukanya rasa apa?"
"Cokelat."
"Masa sih?" Aku menatap Rian setengah tak percaya.
Rian menarik napas dalam. Kemudian, mengambil lima buah es krim rasa cokelat. "Mana duitnya?"
"Itu bener nggak?"
"Lu dari tadi gak percayaan mulu. Lama-lama gua jejelin pintu mini market juga, nih."
"Ih ... lo nyebelin banget deh!"
Terdengar beberapa opini orang-orang di sekitarku.
"Liat deh, itu pasangan gak malu, ya, berantem di sini."
"Cowoknya keliatan gak peduli gitu, ceweknya keliatan emosian."
"Biasalah anak jaman now, kalau pacaran gampang berantem cuma gara-gara masalah spele."
__ADS_1
Beuh .... Dasar lambe dower!