SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 26


__ADS_3

Setelah sholat shubuh, aku membantu Ibu di dapur. Menyiapkan makanan yang akan dibawa ke pantai.


Sebenarnya, untuk semur ayam sudah dimasak kemarin sore. Jadi, tinggal dihangatkan.


Dimulai menggoreng tempe, tahu, dan ikan asin. Untuk nasinya sendiri, dimasak menggunakan rice cooker.


"Mira, kamu yang goreng, ya. Awas jangan sampai gosong!" perintah Ibu seraya memasukkan air panas ke termos.


"Tenang aja, Bu." Aku membalikkan tempe di wajan.


"Ibu mau menyiapkan peralatan makan, tempat penyimpanan lauk dan nasi, dan keperluan lainnya."


"Okeee!"


Meskipun aku dikatain sarap sama Rian, gila sama Dini, tapi gak masalah. Yang penting selain manis, lucu, imut dan menggemaskan, aku juga bisa masak. Ya ... masak yang gampang-gampang, sih.


Belajar jadi istri idaman. Ehem. Pokoknya, Abang Rian akan kubuat bahagia bila menikah denganku. Eaa ... halu di pagi hari.


Ibu meletakkan dua tempat lauk. Yang satu untuk tempe dan tahu goreng, yang satunya untuk ikan asin.


Setelah aku meletakkan di kedua tempat itu, Ibu menyuruhku membuat sambal terasi. Ah, itu mah gampang. Kan, kesukaanku.


"Lalapannya timun sama kol mentah saja, ya." Ibu meletakkan timun dan kol di tempat lauk juga.


"Iya gak apa-apa, kok, Bu. Yang penting ada lalapnya."


Setelah selesai mengulek sambal, aku pun memasukkannya ke plastik.


"Fajaarr, mandi!" teriak Ibu dari dapur.


"Nanti aja. Lagian mau ke pantai, nanti maen air," jawab Fajar.


"Dih, jorok banget, sih, jadi anak! Mandi sana! Bau iler," ledekku seraya mencuci peralatan masak.


"Fajar, mandi!" suruh Bapak.


Kulihat Fajar melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Disuruh sama Bapak mah cepet.


"Mobilnya nanti jam setengah delapan katanya," kata Bapak setelah menyeruput kopi di dapur.


Setelah selesai mencuci peralatan masak, aku pun segera mandi.


Mandi pun selesai, dilanjut berpakaian rapi, lalu sarapan.


Kami rencananya mau naik mobil travel bersama tetangga. Sedangkan, saudara rumahnya agak jauh jadi gak bareng berangkatnya.


Jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku membantu Ibu membawa makanan, air minum, dan peralatan makan. Sedangkan, Bapak membawa termos dan tikar.


Fajar menggendong tas berisi pakaian ganti, handuk, sampo, dan sabun. Gak lupa sisir dan body lotion pun dibawa.


"Itu mobilnya!" Fajar menunjuk mobil travel berwarna hitam yang menuju kami.


Keluargaku dan tetangga yang berniat pergi ke pantai Ancol pun bersiap memasukkan barang bawaan ke mobil.


Setelah barang bawaan dimasukkan ke mobil semua, kami pun masuk, dan duduk.


Mobil pun melaju membelah jalanan. Jalan memang macet. Mungkin karena hari libur, jadi banyak yang mau liburan.


Aku pun mengambil ponsel di tas selempang berwarna hitam. Mengaktifkan data seluler, lalu membuka WA.


[Gue udah di jalan nih mau ke pantai Ancol, lo ikut gak?]


Dini yang sedang aktif pun membalas pesanku.


[Duh sayang banget gue gak ikut. Harus kerja soalnye]


[Yaudah gapapa. Semangat lo kerjanya, jangan ngiri sama gue yang mau jalan-jalaaan]


[Iyeee nona gilaaa]


Aku memandangi padatnya jalanan Jakarta. Menatap gedung-gedung yang berdiri kokoh. Pandanganku pun menuju atas gedung.


Kapan, ya, bisa main ke rooftop sebuah gedung? Apalagi saat menjelang malam. Sambil melihat senja. Lalu, gemerlap cahaya di malam hari.


Mobil pun berhenti. Kami pun turun seraya membawa perbekalan. Mencari tempat teduh untuk istirahat.


Fajar sudah gak sabar untuk bermain di pantai. Kulihat dari kejauhan, Paman Tedi, Bi Lina, Bagas, Edwin, dan Alda sedang menuju ke sini. Nenek--ibunya Ibu--pun ikut.


Paman Tedi adalah adiknya Ibu. Sedangkan, Bagas, Edwin, dan Alda adalah anak-anaknya.


Bagas kelas dua SMA, Edwin seumuran Fajar, dan Alda baru berumur enam tahun.


Bang Deni dan keluarganya gak ikut ke sini. Karena mereka memilih berlibur ke puncak. Neneknya--dari pihak ibu--orang Bogor. Jadi, dekat ke daerah puncak.


Bapak menggelar tikar. Sedangkan, tetanggaku menggelar tikar di sebelahnya. Disusul Paman Tedi pun menggelar di sebelah tikar milik keluargaku.


Makanan dan minuman di hidangkan di tikar. Ibu menyuruh kami makan terlebih dahulu sebelum bermain di pantai.


Bi Lina menghidangkan nasi, ayam goreng, tempe goreng, sambal, lalapan, dan serundeng.


Kami mulai menikmati makanan. Sudah lama aku gak merasakan kebersamaan seperti ini. Meskipun gak lengkap, tapi ini cukup membuatku bahagia.


Hari-hariku yang biasa diisi dengan bekerja, kini dapat kuisi dengan berlibur bersama keluarga.


"Bi, minta serundengnya." Aku mengambil dua sendok serundeng. Lalu meletakkannya di dekat sambal terasi.


"Ini semur ayamnya. Dimakan saja!" suruh Ibu seraya menyodorkan semur ayam ke dekat Edwin dan Alda.


"Ini juga ada ayam," ujar Bi Lina seraya memegang tempat penyimpan ayam goreng.


"Iih ... sudah tidak apa-apa. Jangan malu-malu," kata Ibu. Lalu menuangkan air di gelas.


Makan pun selesai. Fajar, Edwin, dan Alda tampak gak sabar ingin segera main di pantai.


Fajar dan Edwin berlari bersama ke pinggir pantai. Diikuti Alda yang dituntun sama Bi Lina.


Aku mengajak Ibu dan Bapak ke pinggir pantai. Namun, mereka lebih memilih duduk di tikar bersama Paman Tedi.


Aku pun mengajak Bagas untuk menuju pinggir pantai. Bagas pun mau.


"Gas, nanti fotoin aku, ya," pintaku saat kami sudah berada di pinggir pantai.

__ADS_1


"Oke! Kita gantian aja, Kak," ungkapnya seraya memegang ponsel berwarna hitam.


Aku menyerahkan ponselku kepada Bagas. Lalu, berpose. Menghadap kamera seraya berdiri dan tersenyum.


Dilanjut duduk membelakangi kamera dan menghadap ke pantai.


Berpose lagi duduk, tapi menghadap kamera di belakang seraya tersenyum.


"Gantian, Kaakk!" Bagas mendekatiku seraya menyerahkan ponselnya.


"Okeee!"


Bagas mengenakan kaca mata hitam, berdiri menghadap pantai. Namun, dia meminta dipoto dari samping.


Hidung mancung, rambut lurus, bibir tipis, dan berkulit putih membuat hasil potonya enak dilihat. Ditambah tinggi. Ah, aslinya juga emang cakep, sih, si Bagas.


Mungkin, orang-orang yang gak tau kami sepupu, nyangkanya kami adalah sepasang kekasih. Hahaha.


Bagas pun kembali berpose. Duduk menghadap pantai, tapi melihat kamera di samping seraya tersenyum.


Bagas berpose lagi. Berdiri menghadap kamera dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tersenyum dan tanpa memakai kacamata.


"Lagi, Kak," pintanya seraya mengedipkan sebelah mata. Ya, ampuun ... ini orang banyak gaya, deh. Aku pun mengangguk.


Bagas berdiri dengan tubuh menghadap ke kamera, sedangkan mata yang menggunakan kaca mata hitam, melihat ke pantai yang berada di sebelah kanannya. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tanpa senyuman.


Setelah foto-foto, aku mendekati Fajar yang asyik bermain air dengan Edwin. Kuciprat-cipratkan air ke dua anak itu.


Fajar dan Edwin membalas mencipratkan air kepadaku. Aku pun mencoba menghindar. Tanpa sengaja menabrak orang.


"Ma--maaf. Aku gak sengaja." Aku melihat orang yang gak sengaja kutabrak.


Lelaki mengenakan kaos pendek merah hati dan celana abu-abu muda selutut menatapku tajam.


Aku melebarkan mata. Ah, gak mungkin. Kukucek mata, lalu melihat lelaki itu lagi. Aku menggelengkan kepala dan menepuknya. Ah, ini pasti cuma halu.


Lelaki itu menarik hidungku. "Woy, lu kenapa?"


Suara itu .... Aku menutup telinga. Pasti salah dengar.


Lelaki itu mencubit pipiku. "Cewek sarap!"


"Lo, Rian, 'kan?" Aku menunjuk lelaki yang berdiri di depanku.


"Lu selain sarap juga amnesia?" Lelaki itu menaikkan alis.


Aku merasa gak percaya aja kalau lelaki yang kini di depanku adalah Rian. Lelaki yang menyebalkan dan gak peka sama perasaanku.


"Gue takut salah liat aja." Aku melihat ke bawah. Melihat ke kakinya. Ah, ternyata napak. Berarti dia memang Rian.


"Tumben lu minta maaf?"


Aku kembali menatap matanya. Sungguh, aku masih gak menyangka bisa bertemu lagi. Lelaki yang kuletakkan di hati, meski sampai kini perasaanku belum juga terbalas.


Rian ... apakah kamu menyukai pertemuan ini?


"Eh, malah bengong. Udah, lah, gua mau pergi." Rian membalikkan badan, tapi aku mencegahnya dengan memegang tangan kanannya.


Rian membalikkan badan dan tampak heran melihat tanganku yang memegang tangannya. Sigap, kulepaskan tangannya.


"A--apa kabar?"


"Ngapain lu nanyain kabar gua?"


"Gak boleh?"


"Aneh aja."


Aku menghela napas. Memang, harus sabar menghadapi kesayanganku ini.


"Gimana kerjanya?"


"Baik."


Ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan. Aku pun ingin berbicara berdua dengannya. Namun, dilihat dari sikapnya ... ah, itu hanyalah keinginanku saja.


"Hmm ... kenapa lu gak ikut ke Bali?"


Aku menggeleng. "Gue milih liburan bareng keluarga. Mumpung bisa cuti kerja."


Rian mengangguk-angguk. "Ya, udah. Gua mau ke sana." Rian menunjuk ke salah satu tempat.


"Lo ke sini sama siapa?"


"Keluarga." Rian berbalik lalu pergi.


Jadi, dia bersama keluarga ke sini?


Rian ... gimana kalau keluarga kita dipertemukan. Lalu, jadikan orang tua kita menjadi besan? Kita rundingkan tanggal nikah. Gimana?


Kutepuk kening agar gak halu. Fajar dan Edwin mendekatiku.


"Ciyee ... siapa yang tadi ngobrol sama Kakak?" tanya Fajar seraya tertawa kecil yang diikuti sama Edwin.


Aku membalikkan badan dan melihat dua anak itu. "Apaan, sih? Anak kecil gak usah kepo!"


Aku membalikkan badan. Lalu melangkahkan kaki menuju ke tempat keluargaku menggelar tikar.


Aku masih ngerasa tadi hanyalah mimpi. Pertemuan yang tak kami rencanakan dan tak terduga.


"Itu baju kamu lumayan basah. Ganti sana! Nanti masuk angin," suruh Ibu yang melihat ke arah baju yang kukekanakan. Baju yang dibelikan sama Pak Andre.


"Nanti juga kering, kok, Bu."


"Ganti, Mira!" Ibu agak melotot kepadaku. Aku pun mengiyakan lalu menuju toilet.


Setelah mengganti pakaian, aku melihat penjual es kelapa muda. Panas-panas gini, enaknya minum es kelapa muda. Iya, gak, Gaeess?


Aku menuju penjual es kelapa muda. Ada tiga orang di sana. Mungkin, mereka pembeli.


Setelah penjual itu membuatkan pesanan untuk ketiga orang itu, aku pun memesannya.

__ADS_1


"Es kelapanya sepuluh, ya, Pak."


"Dibungkus atau di gelas, Mbak?"


"Dibungkus aja."


Aku pun duduk di kursi panjang. Sengaja memesan sepuluh karena sekaligus untukku, keluarga, dan saudara.


"Es kelapanya sepuluh, ya, Pak."


Suara itu? Aku menoleh ke belakang. Lelaki yang sempat berbicara denganku, kini kulihat lagi.


"Iya, Mas. Dibungkus atau di gelas?"


"Bungkus aja."


Rian duduk di dekatku. Hanya saja gak terlalu dekat. Duh, kok, jadi deg-degan gini, ya?


Aku harap penjual es kelapanya yang lama bikinnya. Biar aku bisa lebih lama dekat sama Rian.


"Nyebelin!"


"Ngeselin!"


"Di VC gak diangkat."


"Ngapain, sih, lu VC gua? Nih, gua ada di dekat lu. Lu bisa liat dan ngobrol langsung."


"Lagi marahan, ya?" Penjual es kelapa tersenyum ke arahku dan Rian.


"Kami mah emang gak akur, Pak," celetukku seraya mengerucutkan bibir.


"Gak akur nanti lama-lama pada suka lagi." Penjual es kelapa muda tertawa kecil, lalu memasukkan es batu ke plastik.


"Ya, kali saya suka sama cewek sarap, Pak." Rian melihatku lalu memutar mata.


Nyebelin banget, sih, si Rian! Masiiih aja ngatain aku 'Cewek sarap'.


Sabar, Mira ... sabar! Buat menangin hatinya, kamu harus sabar menghadapi tingkah meyebalkannya itu.


Aku memilih diam. Mau bicara juga sepertinya percuma. Dari tatapan dan sikap Rian juga seperti gak ada rasa seneng bisa ketemu sama aku.


Es kelapa muda yang kupesan sudah jadi. Aku pun segera membayarnya.


Saat aku mau pergi, kulihat Rian yang sedang bermain ponsel. "Jaga diri lo baik-baik."


Rian melihatku. Dari tatapannya tampak heran. "Sok perhatian lu."


Aku pun segera pergi dengan rasa yang campur aduk. Sedih, kesal, dan rindu. Sedih karena gak bisa mewujudkan keinginan untuk bersamanya. Kesal karena sikapnya yang masih saja sama. Rindu karena gak setiap hari bertemu.


Gak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Sigap kuhapus, menghela napas, lalu tersenyum.


Kuberikan es kelapa muda ke mereka. Mereka pun tampak senang.


Setelah aku, keluarga, dan saudara menikmati es kelapa muda dan sudah rapi kembali, kami pun melakukan foto bersama untuk kenang-kenangan.


***


Aku merebahkan diri di kasur. Memikirkan saat aku bertemu dan berbicara dengan Rian saat di pantai Ancol.


Bahkan, saat perjalanan pulang aku lebih memilih menatap jalanan seraya memikirkan Rian.


Kuraih ponsel yang tergeletak di sebelah, lalu mengaktifkan data seluler. Membuka WA untuk membuat status.


Tak kusangka dengan apa yang telah terjadi. Sedih, kesal, dan rindu berasa menyesakkan dada. Apakah hatinya memang dikunci rapat, hingga sulit untuk kubuka?


Kulihat status Pak Andre. Sebuah foto Pak Andre menggendong Deril di tepi pantai. Keduanya saling tersenyum. Tampak bahagia.


Caption dari foto itu adalah, Papa bahagia memilikimu sayang. Love you jagoannya Papa.


Hmm ... manis sekali. Dua-duanya ganteng.


[Oleh-olehnya pak hehe]


Iseng aku mengirim pesan itu ke Pak Andre. Namun, Pak Andre sedang gak aktif. Mungkin, lagi istirahat atau makan malam? Ah, entah.


Rian tak kunjung melihat statusku. Udah tidur kali, ya? Atau lagi sibuk mikirin perempuan yang ada di hatinya?


[Mau oleh-oleh apa?] Pak Andre membalas pesanku.


[Cowok ganteng yang baik hati dan bisa dijadiin pasangan pak. Eh]


[Rian?]


[Jangan pak. Nyebelin dia, tadi siang juga ketemu di pantai Ancol. Tetep aja nyebelin, mungkin emang gak suka sama aku]


Pak Andre belum juga membalas. Pesan pun belum dibaca dan sekarang gak aktif.


Aku melihat statusku, Rian belum juga melihat. Padahal dia sedang aktif.


Aku pun kembali membuat status. Siapa tau dibaca sama Rian.


Lebih dingin mana antara sikapmu atau es batu? Lebih manis mana antara es kelapa muda atau senyumanku?


[Emang senyuman elu manis?] Pesan dari Dini.


[Ya ampuunn lo gak nyadar selama ini???]


[Mungkin manis diliat dari lobang jarum kali ye?]


[Gak pake lobang jarum juga udah keliatan manis senyuman gue mah]


Kembali kulihat status, siapa tau dilihat sama Rian. Ah, nyatanya belum juga.


Aku mulai mengantuk. Menunggu status dilihat sama Rian aja lama, atau mungkin dia gak tertarik liat?


Daripada berharap ke sesuatu yang gak pasti mending tidur aja, lah. Sebelum tidur, aku membuat status lagi.


NYEBELIN EMANG!


***

__ADS_1


Suka sama ceritanya? Yuk jangan lupa like, vote, dan rate 5 yaa .... Tinggalkan jejak komentar juga. Terima kasih.


__ADS_2