
Kusibakkan tirai di dapur. Merenung sejenak, memikirkan mau sarapan apa pagi ini. Bi Ani datang ke sini pukul tujuh pagi, pulang pukul lima sore. Terkadang, aku hanya sarapan roti tawar dipoles selai atau ditaburi keju. Namun, kali ini ingin sarapan dengan menu lain.
Kuambil telur dan sosis di kulkas. Kemudian, menghaluskan bumbu-bumbu. Nasi kemarin masih tersisa cukup banyak.
Nasi goreng hangat bisa mengganjal perut pagi ini.
"Selamat pagi, Pak," sapaku saat meletakkan nasi goreng di meja kepada Pak Andre yang sudah berpakaian rapi khas kantor.
"Harum sekali." Pak Andre menarik napas dalam. "Sepertinya enak."
Aku tersipu malu. Harapanku, semoga Pak Andre suka dengan nasi goreng yang kubuat.
"Silahkan duduk, Pak. Biar aku siapkan di piring." Aku mengambil piring dan meletakkan secentong nasi goreng.
"Terima kasih. Saya coba ya ...."
Hatiku berdebar tak menentu. Menurutku nasi gorengnya enak, tapi menurut Pak Andre ... entahlah.
"Kamu jago masak juga ternyata," ungkap Pak Andre tersenyum, kemudian menyuap nasi goreng lagi.
Serius? Aku gak salah dengar 'kan? Eh, ini lagi halu bukan sih?
"Aww!" pekikku. "Eh, lo kenapa narik idung gue?" Mataku melebar tepat menuju Rian.
"Heh, cewek sarap! Lu ngapain senyum-senyum sendiri sambil ngaduk-ngaduk tuh nasi?"
Aku baru sadar, ternyata dari tadi aku mengaduk-aduk nasi sisa kemarin yang masih tersimpan di rice cooker.
"Terus, nasi gorengnya mana?" tanyaku spontan.
"Nasi gorengnya kabur, takut dimakan cewek sarap kek lu!" Rian mengambil roti tawar di meja.
"Jadi, dari tadi aku belum masak?"
Rian bergidik melihatku. "Keknya obat sakit jiwa gak bakal mempan ngobatin lu. Racun tikus bakal jauh lebih mempan." Rian pergi meninggalkan dapur.
"Eh, makhluk unfaedah! Lo pengen gue mati?" Aku meninggikan suara. Manusia model Rian kenapa sih gak punah aja?
Gara-gara Rian, aku jadi malas masak. Ditambah Pak Andre yang lebih memilih sarapan di kantor, dengan alasan akan ada pertemuan penting. Yaaah ... gagal deh, mau buatin sarapan untuk calon suami.
Tapi ... yang namanya laper mah gak bisa dibohongi. Oke, gaess! Aku jadi masak.
Setelah sarapan, terdengar Deril memanggilku. Bergegas kulangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Hei ... Deril udah bangun." Aku tersenyum pada anaknya majikan tampanku.
"Mandi dulu, yuk! Biar gak bau acem." Aku mengulurkan tangan sebagai kode mengajaknya.
Deril mengangguk. Sudah menjadi kebiasaannya, ketika bangun tidur terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi, ya ... pakai baju, lah.
__ADS_1
Setelah memandikan Deril, aku menyuapinya. Sambil berlari-larian di taman, Deril makan begitu lahap.
Terkadang, capek juga harus ngikutin Deril, tapi ... karena aku calon mama barunya, jadi harus semangat. Eaaa ... halu lagi.
***
Deril tidur setelah aku membacakan dongeng untuknya. Terdengar deru mesin mobil, pertanda Pak Andre sudah pulang dari kantor. Aku bergegas menuruni anak tangga, dan membukakan pintu.
"Deril sudah tidur?" tanya Pak Andre ramah.
"Sudah, Pak. Baru saja."
"Saya tadi membeli martabak, untuk kamu sama Rian."
"Makasih, Pak." Aku tersenyum. Duh ... baik banget, sih.
Pak Andre menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Deril.
Aku melihat sebuah kotak dibungkus plastik transparan, yang dijinjing Rian. Pasti, itu martabaknya.
Rian melangkahkan kaki ke dapur, dan aku mengikutinya dari belakang. Sudah seperti anak itik mengikuti bapaknya.
Diletakkannya martabak di piring, dengan sigap aku menggerakkan tangan untuk mengambilnya.
"Eitss, tunggu dulu!" Rian lebih sigap mengambil piring itu.
"Nih, buat lu." Rian menyodorkan sepotong martabak kepadaku.
"Eh, lo rakus amat, sih! Itu bagi dua," bentakku.
"Kalo lu makan banyak, yang ada bakal jadi gendut. Kalo lu gendut, lu bakal kewalahan ngasuh Deril," kilah Rian, lalu melahap sepotong martabak yang tadi disodorkan kepadaku.
Wah, nyebelin banget ini orang. Ingin rasanya itu martabak kuberi sianida. Biar modar aja dia!
"Eh, gue gak butuh perhatian dari lo!"
"Gua gak ngasih perhatian ke lu. Gak usah GR." Rian memakan sepotong martabak lagi.
Aku hanya bisa menelan ludah.
"Hmm ... enak, beud!" ungkap Rian.
Aku memutar bola mata, lalu pergi ke kamar. Tak kupedulikan martabak yang kini sepenuhnya menjadi hak milik Rian. Asli, unfaedah banget ribut sama dia. Kesel aku, tuh ....
Kuambil ponsel, lalu membuka Instagram. Melihat postingan yang berseliweran di beranda, mata ini melebar saat postingannya lewat di berandaku.
Sebuah foto seorang lelaki dan seorang perempuan, duduk saling berhadapan di sebuah kafe. Keduanya saling tersenyum. Caption di postingan itu adalah, 'Melihatmu tersenyum kepadaku, cukup membuatku bahagia. I love you.'
Apakah Rangga dan Riana sudah jadian? Kalau benar, berarti dugaanku tidak melesat. Selama ini ... Rangga memiliki rasa kepada Riana, teman seangkatan kami saat SMA.
__ADS_1
Kubaca komentar di foto itu, kebanyakan mengucapkan selamat. Bahkan, ada yang minta pajak jadian.
Bulir bening terus mengalir membasahi pipi, balapan dengan ingus. Bahkan, ingusku meluncur melewati bibir. Asin,beud .... Ingin rasanya membanting ponsel di kasur, agar tidak pecah berkeping-keping seperti hatiku. Hiks.
Efek setelah menangis adalah lapar, itu bagiku. Aku pergi ke dapur, siapa tau Rian berubah menjadi orang baik yang mau menyisihkan beberapa potong martabak untukku.
Kuedarkan pandangan mencari piring yang digunakan untuk meletakkan martabak.
Tak lama kemudian, piring itu ketemu. Ada sisa lumeran keju di sana. Namun, sayang seribu sayang, piring itu sudah tergeletak manis di wastafel.
"Hwaaa!" Aku terduduk di lantai. Menenggelamkan wajah di telapak tangan seraya menggerakkan kaki ke depan dan ke belakang.
"Aww!" Aku memegang telinga. Mendongak melihat orang yang sudah menjewerku. "Lo ngapain jewer gue?"
"Heh, cewek sarap yang meweknya kek bocah! Lu gak malu sama umur?"
Aku mengusap air mata, dan menarik ingus ke hidung yang hampir melewati bibir. "Malu kenapa?"
"Gua gak ngasih martabak aja, lu mewek."
"Gue laper tau ...."
"Kalo laper, makan. Bukan mewek!"
Aku melangkahkan kaki menuju rice cooker. Siapa tau, masih ada nasi di sana. Ketika dibuka ... mataku melebar. Ada martabak di sana, gaess! Aku ibarat musafir di padang pasir, yang kehabisan air, lalu menemukan sebuah telaga yang mampu menghilangkan dahaga. Eaaa ... kalau hati lagi teriris-iris, mendadak so puitis.
"Gua sisain buat cewek sarap yang meweknya kek bocah."
"Ikhlas, apa nggak, nih?" sindirku.
Rian mendekat. Mengambil pisin di rice cooker yang dijadikan tempat meletakkan beberapa potong martabak. "Kalo gak mau, gua amb--"
"Iya-iya, gue mau!" Aku langsung merebut pisin yang dipegang Rian. Bergegas menuju meja makan, dan memakan beberapa potong martabak rasa keju susu. Lahap.
Rian melebarkan mata. Entah karena melihat caraku makan, entah karena hal lain.
"Lu kalo makan blepotan banget, sih. Udah tua juga!"
Aku mengusapkan jemari ke sekitar mulut.
"Bukan di situ!"
"Di mana?"
Rian mengambil tissue, lalu menempelkannya di hidungku.
"Di sini." Rian menarik hidungku yang mancung ke belakang.
"Aww!" Aku menyingkirkan tangan Rian. "Lo ngapain narik hidung gue lagi?"
__ADS_1
"Biar mancung kek Pinokio." Rian pun pergi.