
Sejak tadi pagi, Rian dirawat di rumah sakit. Sebenarnya, aku ingin menemaninya di sana, hanya saja ... aku tidak mungkin melalaikan kewajiban sebagai pengasuhnya Deril.
Entah, bagaimana sekarang keadaannya? Aku tidak punya nomor telepon Rian. Meskipun, Pak Andre memberi pesan kepada pihak rumah sakit untuk merawat Rian dengan baik, tetap saja hatiku merasa tidak tenang.
Di sini, di kursi taman beratapkan langit tertutup awan. Tak terlihat bintang yang biasa berhamburan, begitu pun bulan, dia sembunyi di balik awan.
Bulir bening membasahi pipi, teringat dengan seseorang yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.
Rian ... bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah makan dan minum obat? Apakah kamu merasa kesulitan ketika membutuhkan sesuatu?
Aku menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan. Rindu, cemas, dan sedih bercampur menjadi satu.
"Mira ...."
Aku segera menghapus air mata. Berusaha menyembunyikan rasa yang berkecamuk di dalam dada.
"Iya, Pak," jawabku seraya tersenyum kepada Pak Andre yang berdiri di dekat pintu.
Pak Andre mendekat, lalu duduk di sampingku. "Sedang apa kamu malam-malam sendirian di sini?"
"Aku ... lagi cari angin malam saja, Pak." Aku tersenyum kaku.
"Cari angin malam sambil menangis?" Pak Andre memicingkan mata.
Ya ampun ... kenapa Pak Andre tau kalau aku lagi nangis tadi? Padahal, aku nangisnya gak keras, kok.
"Siapa yang nangis, Pak? Aku gak nangis." Aku tersenyum agak lebar. Berusaha membuat Pak Andre tidak curiga.
"Itu, mata sama hidung kamu merah. Terlihat lagi, kantung matanya." Pak Andre menunjuk ke arah mataku.
"Ini ... mungkin kelilipan tadi, Pak." Aku mengalihkan pandangan.
"Kelilipan atau lagi kangen ke seseorang?"
Hah? Kok, Pak Andre tahu sih? Jangan-jangan ... majikanku ini peramal lagi. Astagfirullah, jangan nethink, Mira!
"Kangen? Kangen siapa, Pak?" tanyaku kikuk.
"Mungkin ... ke yang lagi di rumah sakit," tebaknya.
Apa yang tadi Pak Andre katakan? Kangen yang lagi di rumah sakit? Aku gak salah denger? Apakah ... Pak Andre tau tentang perasaanku ke Rian? Gak mungkin! Perasaan ini kan cuma dipendam, gak diumbar.
"Siapa, Pak?" Aku pura-pura bodoh.
"Tidak tahu. Siapa, ya?"
"Pak Andre ada-ada aja."
Pak Andre memainkan ponselnya. "Rian ...."
"Rian kenapa, Pak?" Sontak pertanyaan ini keluar dari mulutku.
Pak Andre menatapku heran. "Kenapa kamu? Seperti khawatir dengan keadaannya."
Mira, kamu memang bodoh! Harusnya, tadi kamu diam saja! Pasti Pak Andre menyadari tentang perasaan ini.
"Ti-tidak, Pak. A-aku ... aku ...."
"Kalau tidak ada apa-apa, tidak perlu gugup seperti itu menjawabnya."
"Maaf, Pak." Aku memandang ke depan.
"Hallo, Rian," ucap Pak Andre saat mendekatkan ponsel di telinganya.
Sontak aku langsung menoleh ke arah Pak Andre.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Makan yang teratur, jangan lupa minum obat." Pak Andre melihatku. "Rian ... sepertinya ada yang ...."
Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Pura-pura tidak mau tau.
"Tidak. Istirahat yang cukup, selamat malam."
"Mira, sudah malam. Waktunya tidur, biar besok tidak kesiangan. Kan kamu harus ngasuh Deril." Pak Andre bergegas pergi dari taman.
"Pak," panggilku.
Pak Andre membalikkan badan. "Kenapa?"
Tanya keadaan Rian gak, ya? Kalau nanya, nanti Pak Andre curiga, gak nanya tapi kepo. Ih, gimana dong?
"Keadaan Rian bagaimana, Pak?"
"Kenapa kamu bertanya keadaannya?"
Tuh, kan! Gimana dong? Aku harus jawab apa? Masa harus jawab kalau aku cemas banget sama keadaannya Abang Rian tersayang.
"Enggak, Pak. Aku mau tidur, selamat malam." Aku mendahului Pak Andre. Bener-bener malu, aku tuh ....
Keesokan harinya, aku menyuapi Deril di dapur. Bi Ani sedang sibuk mengelap kaca. Pikiranku masih tertuju kepada Rian. Udah sarapan apa belum, ya?
Setelah menyuapi Deril, aku mengajaknya bermain di ruang keluarga. Pikiranku dipenuhi oleh Rian. Kenapa lelaki menyebalkan itu membuatku merasa tak karuan? Membuatku merasa khawatir.
"Mbak, Mas Ian masih sakit?"
"Iya. Doain, ya, semoga Mas Ian lekas sembuh." Aku membelai kepala Deril.
Entah, seperti apa sekarang keadaan Rian? Tidak ada yang menjaganya, bagaimana bila dia butuh sesuatu atau mau ke toilet? Pihak rumah sakit kan gak mungkin nungguin dia dua puluh empat jam.
Coba saja aku punya nomor telepon atau nomor Whatsapp-nya, setidaknya tau kondisinya sekarang, sudah membaik atau belum.
"Mbaaak!"
Aku terkejut oleh suara Deril. "I-iya, ada apa?"
"Mbak, kenapa?"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, Deril mau apa?"
"Mira ... kamu kalau mengasuh Deril yang fokus, jangan banyak melamun," ucap Pak Andre yang menghampiriku dan Deril.
"Iya, maaf, Pak." Aku tertunduk malu. Sepertinya, Pak Andre tahu kalau aku kebanyakan ngelamun.
Ini semua gara-gara Rian! Coba aja dia gak dirawat, aku kan gak mungkin mikirin dia sampai kaya gini. Rian, cepat sembuh, ya. Aku khawatir sama kamu, Bang.
"Memangnya kamu kenapa? Sakit?" tanya Pak Andre.
"Tidak, Pak. Aku ... aku akan fokus mengasuh Deril." Aku tersenyum kikuk.
"Saya rasa ... kamu tidak akan bisa fokus mengasuh Deril, kalau pikiran kamu fokus ke yang lain." Pak Andre duduk di sebelah Deril.
"Aku akan fokus, kok, Pak. Maaf atas kejadian yang tadi."
Aku tidak tau apa yang sekarang Pak Andre pikirkan tentangku. Gimana kalau Pak Andre berniat memecatku? Tidaaak! Astagfirullah, kenapa jadi nethink begini sih?
Pak Andre kan hari ini gak ngantor, emang gak ada niat gitu buat jenguk Abang Rian tersayang? Masa di rumah terus sih?
"Tuh, kan kamu melamun lagi," kata Pak Andre.
"Mbak, Eyil pingin minum," pinta Deril sambil memainkan mobil-mobilan.
"Tunggu sebentar, ya, nanti Mbak ambilkan." Aku langsung menuju dapur.
Terdengar suara bel pintu setelah aku memberikan segelas air kepada Deril.
Apakah itu Rian? Apakah dia sudah sembuh? Tapi, kalau sudah sembuh, masa pulang sendirian?
Segera aku membuka pintu, berdiri seorang lelaki jangkung, dengan parsel buah-buahan di tangannya.
"Benar ini kediaman Pak Andre?"
"Iya. Memangnya kenapa?" Aku memicingkan mata. Apakah lelaki ini saudaranya Pak Andre?
"Pak Andre memesan parsel dari toko kami, silahkan tanda tangan sebagai bukti bahwa parsel sudah diterima." Lelaki itu menyodorkan sebuah kertas dan pulpen kepadaku.
"Biar saya saja yang tanda tangan," ucap Pak Andre yang menghampiri kami.
__ADS_1
"Baik, terima kasih atas pesanannya," ungkap lelaki itu setelah Pak Andre tanda tangan. "Permisi."
Saat aku mau melangkahkan kaki, Pak Andre berkata, "Mira, nanti kamu antar parsel ini ke rumah sakit."
Apa tadi? Mengantar parsel ke rumah sakit? Untuk siapa?
"Untuk siapa, Pak?" Aku menatap Pak Andre penuh tanya.
"Untuk lelaki yang membuat kerjamu tidak fokus." Pak Andre menuju ruang keluarga setelah memberikan parsel buah-buahan kepadaku.
"Maksud Pak Andre, siapa?" Aku mengikuti Pak Andre dari belakang.
Pak Andre duduk di sebelah Deril seraya memainkan mobil-mobilan bersama anak lelakinya itu.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti, sekarang kamu siap-siap saja ke rumah sakit. Biar Deril, saya yang mengasuh."
Aku masih berdiri mematung, maksud Pak Andre apa sih? Aduh, otak ... jangan telmi dong!
"Kenapa malah diam? Sudah sana siap-siap, bukannya kamu ingin tahu kondisi Rian?"
Hah? Pak Andre bicara apa tadi? Aku ingin tau kondisi Rian? Majikanku ini tau dari mana?
"Si-siapa yang i-ingin tau kondisi Rian, Pak? A-aku ... biasa aja." Aku berusaha tak menatap Pak Andre, khawatir nanti beliau tau kalau aku sedang berbohong.
"Mira ... dari sorot mata kamu, ada perasaan terpendam untuk Rian. Kamu pikir, saya tidak bisa melihatnya?"
Aku melebarkan mata setelah mendengar perkataan dari Pak Andre. Rian yang selalu bersamaku saja, tak pernah peka. Kenapa Pak Andre yang selalu sibuk dengan urusannya, tahu tentang hal ini?
"Pak Andre ada-ada aja deh. Aku punya perasaan untuk Rian? Ya, gak mungkin lah ...."
Aku duduk di lantai, lalu meletakkan parsel di meja.
"Papa, ini buat Eyil?" Deril menunjuk parsel.
"Tidak, Sayang. Ini buat Mas Ian." Pak Andre tersenyum kepada putranya.
"Kita mau liat Mas Ian?"
Pak Andre menggeleng. "Mbak Mira yang akan menjenguk Mas Ian. Deril sama Papa di sini, ya."
"Kenapa, Pa?" Deril mengerucutkan bibir.
"Mas Ian butuh istirahat, nanti juga pulang ke sini."
Masa aku ke sana sendiri? Kan gengsi, Gaess! Nanti aku harus bicara apa ke kesayangan aku? Masa harus berkata kalau aku khawatir sama keadaannya? Ih, tidaaak!
"Mira, kalau kamu tidak mau ke sana, saya potong gaji kamu!"
"Ja-jangan, Pak! Baik, aku akan ke sana, sama Bi Ani."
"Bi Ani sibuk, kamu berangkat sendiri saja. Sekalian kamu bawa baju ganti, kamu menginap saja di sana."
Nginep? Jadi, aku bisa berduaan sama Abang Rian Sayang dong? Mira, jangan perlihatkan rasa bahagiamu itu! Nanti, Pak Andre tambah yakin kalau kamu sayang sama Rian, oke?
Aku pun pergi ke rumah sakit tempat Rian dirawat. Sebenarnya, kesayanganku ini kelelahan sekaligus terkena gejala tipes.
Sampai di depan pintu kamar Rian dirawat, aku berusaha menenangkan degup jantungku yang sudah tak beraturan. Deg-degan, Gaesss!
Kira-kira ... Rian bakal ngusir aku gak, ya? Soalnya, kami kan suka berantem mulu. Duh, gimana, ya?
Hei, para pembaca cerbung! Aku harus gimana? Perasaanku semakin tak karuan. Apa ... balik lagi aja kali, ya? Eh, jangan! Kalo balik lagi, gak jadi dong ketemu sama Abang Rian Sayang.
Gagang pintu kuraih, daun pintu sedikit terbuka. Saat aku melihat orang yang berada di kamar tersebut, mataku langsung melebar, Gaesss!
Rian lagi disuapin sama perempuan lain. Panaass, hatiku panas! Perempuan itu bukanlah Mona dan bukan pula yang di Water Park saat itu. Lalu, siapa dia?
"Lu gak punya sopan santun, ya! Main masuk aja. Lagian ... lu ngapain sih, ke sini?" tanya Rian.
Aku meletakkan parsel di nakas agak kasar. Ih, nyebelin banget sih.
"Gue disuruh Pak Andre nganterin nih parsel." Aku menajamkan mata ke perempuan yang menyuapi Rian. Beraninya dia menyuapi kesayanganku.
"Cuma nganterin doang, 'kan? Sekarang, mending lu pergi sana!"
Tuh, kan ... Rian mengusirku. Hwaaa!
"Gue gak bakal pergi, karena Pak Andre nyuruh gue buat jagain lo."
"Bilang aja lo pingin berduaan sama dia, 'kan?" Aku menunjuk perempuan itu. "Asal lo tau, gue gak akan pergi."
Pokoknya, aku akan ganggu kebersamaan mereka. Enak aja, bahagia di atas penderitaanku.
Rian memegang keningnya. Apa sakitnya kumat?
"Bang ... Abang, kenapa? Sakit lagi?"
Apa-apaan sih, masa dia manggil 'Abang' ke kesayangan aku? Jangan-jangan ... dia ini yang Rian panggil 'Sayang' di telepon itu?
"Abang, minum dulu, ya." Perempuan itu memberi Rian minum.
"Makanya, jangan marah-marah mulu! Kumat kan sakitnya," sindirku.
"Mir, mending lu pergi dari sini. Gua mau istirahat."
"Istirahat mah istirahat aja. Gue gak bakal pergi, gue bakal ada di sini buat lo." Aku langsung menutup mulut. Kenapa sampai keceplosan gini sih?
"Udah ada dia di sini. Mira, please ...."
Retak! Hatiku retak seretak-retaknya. Masa Rian lebih memilih perempuan lain daripada ditemenin sama aku? Gak, pokoknya ... aku gak mau kalah.
"Bang, jangan begitu .... Mbak Mira kan cuma menjalankan perintah dari Pak Andre. Lagian ... aku juga mau pulang," ucap perempuan itu.
Sana pulang! Gak usah ke sini lagi.
Rian memegang tangan kanan perempuan itu. "Abang gak mau sama dia, mau sama kamu aja."
"Bang, kasihan Ibu di rumah sendiri. Aku yakin, Mbak Mira bisa jaga Abang."
"Ntar dulu! Kalo boleh tau, lo siapanya Rian?" Aku memicingkan mata kepada perempuan itu, sedangkan hatiku berdebar tak menentu menunggu jawaban darinya.
"Kesayangan gua," celetuk Rian.
Jleb!
Aku pasti salah denger. Iya, ini pasti salah denger. Gak mungkin lah, perempuan yang ada di depanku ini adalah kesayangannya Rian.
"Maksudnya?" tanyaku.
Perempuan itu tersenyum. Imut. Dari sikapnya begitu tenang. Sedangkan, aku masih berusaha menahan air mata. Meskipun luka yang tak nampak ini, semakin menjadi.
"Perkenalkan, aku Arin." Arin mengulurkan tangannya padaku.
Idih, gak sudi! Tapi, aku merasa gak enak kalau gak membalas uluran tangannya, jadi ... kepaksa lah aku bales.
"Mira."
"Aku adiknya Bang Rian." Arin tersenyum kepadaku.
Aku menganga. Jadi, Arin adiknya Rian? Ya ampun ... tau gini mah aku gak bakal marah-marah gak jelas. Aduh, kan jadi malu.
"Oh ... adiknya? Maaf, tadi aku udah ngambek gak jelas," ucapku kikuk.
Dasar bodoh kamu ini, Mira! Gara-gara cemburu, jadi gak bisa menahan amarah. Rian ngambek gak, ya? Arin jadi enek gak, ya, sama sikapku barusan?
"Arin, kamu yakin mau ninggalin Abang sama cewek sarap ini?"
Arin tersenyum seraya memegang tangan kirinya Rian. "Bang, jangan begitu! Aku yakin, Mbak Mira bisa jaga Abang dengan baik."
Cerdas! Arin sangat cerdas. Pemikirannya ini benar-benar warbiazah, Gaesss.
"Kalau nanti ... Abang tambah parah sakitnya gara-gara Mira, gimana?"
"Lo pikir gue bakal nyakitin lo? Gue kan ...." Hampir saja aku mau mengungkapkan perasaanku.
"Apaan?" tanya kesayanganku, Rian.
"Gue kan orangnya baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong."
__ADS_1
Arin hanya tersenyum melihat obrolanku dengan kakaknya. Entahlah, padahal tidak ada yang lucu.
"Ya udah, aku pamit pulang, ya. Abang jangan telat makan, minum obatnya, dan istirahat yang cukup."
"Arin, masa kamu tega ngebiarin Abang dijaga sama orang gila," celetuk Rian.
Aku mengerucutkan bibir. Masa aku dikatain orang gila! Lagi sakit tetep aja nyebelin. Kalo udah gini teh, aku mah jadi pengen jejelin mercon ke mulutnya Rian.
"Abang, jangan gitu!" Arin menatapku disertai senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya, manis dan imut. "Mbak, titip Abang, ya. Aku pamit pulang."
"Ahsiyaap!" Aku tersenyum kepada Arin. Perempuan yang sikapnya berbeda dengan kakaknya. Arin, begitu tenang dan murah senyum. Sedangkan, Rian ... nyebelin! Tapi, aku sayaaang sama lelaki yang menyebalkan itu.
"Udah minum obat?" tanyaku kepada Rian setelah Arin pergi dari sini.
"Gak usah sok peduli!"
"Ih, gue kan cuma nanya. Lo jangan lupa minum obat, biar cepet sembuh."
Rian berusaha mengambil obat di nakas, namun agak kesulitan.
"Kalo butuh apa-apa, lo bilang aja sama gue," ucapku setelah mengambilkan obat untuk Rian.
Setelah Rian minum obat, aku menyuruhnya untuk istirahat. Meskipun ... dia nampak kesal dengan kehadiranku.
Tapi, bodo amat, yang penting aku ada di saat dia terbaring lemah melawan sakit yang menyerang tubuhnya.
Aku mengupas apel merah yang diambil dari parsel pemberian Pak Andre. Rian kan harus makan buah-buahan juga.
"Lo makan buah, ya, pasti itu mulut kerasa pait, 'kan?"
"Gua gak mau."
"Kenapa?"
"Selera makan gua ilang, kalo ada lu!"
Aku mendekati Rian. Sedikit mendekatkan bibir ke telinganya, lalu berbisik, "Ya udah, buahnya biar gue yang makan. Bahkan, makan semuanya juga gue gak bakal nolak, kok."
Rian mengalihkan pandangannya kepadaku. Tatapan kami bertemu, begitu dekat.
Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, Gaesss! Aduh, kenapa jadi mati gaya begini sih?
"Mira," panggilnya lirih.
"Iya?"
"Ada belek di mata lu!" Rian mengalihkan pandangan ke arah lain.
Apaahh? Ada belek? Ya ampun, masa sih? Aku langsung mengarahkan jari telunjuk ke sudut mataku. Iihhh ... malu-maluin banget deh.
***
Malamnya, aku menatap pemandangan Jakarta dari balik kaca. Rian dirawat di lantai empat, jadi ... aku bisa menikmati gemerlap cahaya dari lampu yang menerangi jalanan, kendaraan yang berlalu-lalang, dan dari gedung-gedung yang berdiri kokoh.
Bukan hanya itu, bintang-bintang berhamburan dan purnama menggantung di langit Jakarta. Indah.
Aku membalikkan badan untuk melihat Rian, ternyata dia berusaha turun dari ranjang rumah sakit.
Sigap aku menghampirinya. "Rian, lo mau ke mana?"
"Gua mau ke toilet. Gua juga bisa sendiri, lu gak usah sok bantuin gua!"
"Udah gue bilang, kalo butuh apa-apa gak usah sungkan minta tolong sama gue. Pokoknya, gue bakal bantu lo," ucapku seraya memegang lengan Rian.
"Lu mau ikut ke toilet?"
"Gue cuma nganter sampe depan pintu doang, kan ... gue bantu megangin botol infusnya."
Sebenarnya, di ruangan Rian ada toiletnya, cuma ... aku gak tega biarin dia jalan sambil megangin botol infus.
Meskipun Rian sudah terlihat baikan, aku tetap harus nuntun dia.
Aku tetap bersikeras membantu Rian, dan menunggunya di depan pintu toilet. Setelah selesai, aku membantunya menuju ranjang.
"Lo belum makan malam dan minum obat, biar gue suapin, ya."
"Gua bisa sendiri."
Ini laki jutek amat sih. Aku kan bener-bener tulus bantuin dia. Masa diabaikan mulu. Sedih aku tuh.
"Tangan kanan lo kan diinfus, daripada pake tangan kiri, mending gue suapin."
Aku pun menyodorkan sesendok bubur ke mulutnya. Awalnya, dia gak mau. Tapi, aku coba bersabar menghadapi tingkah menyebalkannya itu.
"Lo tenang aja, gue gak masukin sambel, mercon, atau racun di makanan lo," ucapku pelan seraya tersenyum kepadanya. Lah, kenapa jadi sok kalem gini sih?
"Gua udah kenyang."
"Lo kan baru makan sedikit, gimana nanti mau sembuh?" Aku menatap lekat matanya. Meskipun dia selalu membuatku emosi, tapi ... aku tidak tega melihatnya terbaring lemah seperti sekarang.
Aku mengusap sisa bubur yang berada di dekat bibirnya. Tangan kiri Rian memegang tanganku, mungkin ... dia ingin mencegah tindakanku ini.
"Lu ngapain sih?" Nadanya sedikit tinggi.
Aku menunjukkan jempol tanganku yang digunakan untuk mengusap sisa bubur itu.
"Lo makannya belepotan." Kulepaskan cengkeramannya. Lalu mengambil obat, dan memberikannya kepada Rian.
Rian tertidur setelah minum obat. Aku duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjangnya. Duduk menghadap seorang lelaki, yang telah mengisi relung hati.
"Mir, Mira ...."
Aku terbangun, ternyata aku ketiduran seraya menggenggam tangan Rian. Aduh ... malunya.
"Lu ngapain sih tidur di situ? Sambil mengangin tangan gua lagi. Tuh, tidur di sofa!"
"Ma-maaf." Aku mengusap wajah. Maluuu. Jangan sampai, Rian curiga dengan tingkah cerobohku ini.
Kubaringkan tubuh di sofa, tatapan kami saling bertemu, namun sekilas. Rian begitu cepat mengalihkan pandangannya.
***
"Rian, lo kenapa sih jutek banget sama gue?" tanyaku setelah memberinya obat.
"Ke orang lain aja baik, ke gue nggak," imbuhku.
Rian memutar mata. "Lu itu suka bikin ulah, kesel gua sama lu."
"Ya udah ... gue minta maaf. Tolong, perlakukan gue juga seperti lo memperlakukan orang lain. Jangan jutek, gitu."
"Udah lah, gua males ngomong sama lu. Pergi sana!"
"Gue gak bakal pergi. Gue akan tetep di sini, buat lo."
"Ya udah, kalo lu gak mau pergi, mending gua aja." Rian mencoba turun dari ranjangnya. Kemudian, membuka pintu dan menutupnya agak keras.
"Riaan, jangan pergi! Riaaan ... Riaaan ...."
"Eh, Sarap! Ngapain lu teriak-teriak? Gua dari tadi juga di sini."
Aku membuka mata, ya ampun, jadi cuma mimpi? Rian bakal mikir yang aneh-aneh gak, ya?
"Emang, tadi gue teriak bilang apa?"
"Lu teriak manggil-manggil nama gua, terus minta biar gua gak pergi. Emangnya, lu mimpi apaan sih?"
Kasih tau gak, yaaa? Nggak, ah. Gengsi dong, ngasih tau Rian kalo aku udah mimpiin dia.
"Lagian, kenapa lu sampe mimpiin gua? Jangan-jangan lu ...." Rian memicingkan mata.
"Apa?" Aku duduk di sofa seraya menatapnya penuh tanya.
"Nggak jadi."
"Apaan, ih?" Aku mendekat ke arahnya.
"Lu punya banyak dosa sama gua!" Rian menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Ih, nyebeliinnn!" Aku mencubit hidung bangirnya, menjewer telinganya, dan menjambaknya. Bodo amat, dia lagi sakit juga. Dasar, gak peka!
***