
'Lowongan Pekerjaan.
Dicari pengasuh anak:
Usia 18-35 tahun.
Sayang kepada anak kecil, penyabar, jujur, dan rajin.
Siap tinggal di dalam rumah/tidak PP.
Gaji Rp3.000.000,00
Info lebih lanjut, hubungi 083000000083.'
Gajinya tiga juta? Wah, lumayan juga. Eh, tapi tunggu dulu ... aku kan gak penyabar, gak bisa ngasuh, jadi gimana dong? Aku memutar bola mata malas.
Rasanya, aku harus mencoba menjadi pengasuh anak. Meski pun aku berharap bekerja di perusahaan atau restoran, tapi ... melihat berbagai tolakan ketika melamar pekerjaan, sepertinya harus kutepiskan harapan-harapan itu.
Kucoba menghubungi nomor yang tertera di iklan itu, memastikan apakah lowongannya masih dibuka? Ternyata masih. Kucoba menawarkan diri.
Aku pergi menemui makelar itu. Bu Arini. Kemudian, memberikan berkas-berkas yang dibutuhkan.
Bu Arini menyuruh Pak Budi untuk mengantarku ke rumah calon majikanku.
Aku dan Pak Budi berdiri di depan rumah dua lantai. Rumah model minimalis, namun cukup besar. Perpaduan warna putih dan abu-abu memberi kesan terang dan lembut. Terdapat berbagai macam tanaman hias di halamannya.
Pak Budi mengetuk pintu, dibukalah pintu oleh seorang wanita paruh baya mengenakan daster batik berwarna hijau lumut. Dia mempersilahkan kami masuk, tak lama kemudian datang lelaki tegap mengenakan kemeja pendek biru muda menghampiri kami.
"Mas Andre, dia Mira orang yang bersedia mengasuh putra Mas Andre," ucap Pak Budi ramah.
Sepertinya mereka sudah saling mengenal. Lelaki tegap itu berbicara, namun kurang jelas apa yang dia katakan.
Pak Budi menyikut lenganku pelan, membuyarkan lamunanku. Bagaimana tidak? Lelaki yang akan menjadi majikanku itu begitu menawan. Tinggi, tubuhnya tegap, kulit putih bersih, giginya berbaris rapi, alis tebal, bibir merah muda, dan pandangannya begitu teduh.
"Iya ... iya gimana, Pak?"
Pak Budi menghela napas dalam. "Kamu yakin mau kerja di sini?"
"Iya, aku yakin. Sangat yakin malah." Aku tersenyum, namun agak kikuk.
"Baik, nanti saya kenalkan kepada Deril, anak saya." Dia tersenyum manis.
__ADS_1
Aduh, kenapa aku jadi terpesona? Ingat Mira, dia suami orang!
Aku diantar menuju kamar baruku oleh Bi Ani, pembantu Pak Andre.
Merapikan barang-barangku. Kemudian, pergi menemui Deril. Mencoba beradaptasi dengannya.
Anak lelaki itu sangat lucu, dan tampan seperti ayahnya. Duh, kenapa jadi teringat Pak Andre lagi, sih?
"Hai, nama kamu Deril, ya?" Aku menyapanya seraya tersenyum. Mencoba akrab, meski pun belum mahir dalam hal mengasuh anak.
"Iya." Deril masih asyik bermain mobil-mobilan di ruang keluarga.
"Kamu udah makan belum?"
Dia menggeleng.
"Ya udah, Mbak bawain makan dulu, ya."
Aku menuju dapur, mengambil makanan untuk Deril. Terlihat Bi Ani sedang mencuci piring.
"Bi, kalau boleh tau, mamanya Deril ke mana ya? Kok, aku belum lihat?"
"Sudah lama?"
"Tiga tahun yang lalu."
"Kalau boleh tahu, meninggal karena sakit atau gimana, Bi?"
"Meninggal saat melahirkan Deril."
Jadi, Pak Andre duda? Jadi, aku boleh dong suka sama ....
Aku menepuk keningku. Ingat, Mira! Lelaki tampan, kaya, baik hati, dan tidak sombong akan jatuh cinta kepada perempuan dari kalangan bawah dan tampangnya pas-pasan itu hanya ada di TV dan di kisah-kisah fiksi. Jadi gak usah ngarep.
Eh, tapi tunggu dulu. Tampangku tidak pas-pasan, kok. Malah mirip Prilly Latuconsina. Iya 'kan? Iyain aja deh biar aku seneng.
***
Aku terbangun dari tidur karena ingin ke toilet. Jam di dinding menunjukkan pukul 22.55 WIB.
Saat menuju dapur, kulihat ada gerak-gerik orang yang mencurigakan.
__ADS_1
Diedarkannya pandanganku mencari sesuatu untuk berjaga-jaga. Kuambil galon kosong yang terletak di dekatku.
"Maliinggg!"
Bruk! Brak! Brek!
Aku tak memperdulikan suara erangan yang kesakitan.
Tak lama kemudian Pak Andre menghampiri kami di dapur. Menyalakan lampu, dan ....
"Lo kan yang marah-marahin gue di pinggir jalan?" tunjukku di depan mukanya. "Oh ... jadi lo itu maling?"
"Pak, laporin aja dia ke polisi. Dia maling, Pak."
"Heh, gua bukan maling." Dia merasa tak terima seraya meringis kesakitan.
"Gak usah ngeles lo! Udah ketangkap basah juga."
"Sudah ... jangan diperpanjang lagi masalahnya." Pak Andre menengahi.
"Mira ... mungkin kamu belum kenal sama dia." Pak Andre melirik lelaki itu sekilas.
"Memangnya dia siapa, Pak?"
"Dia Rian. Sopir saya." Pak Andre tersenyum.
Mataku melebar, setengah tak percaya. Jadi, aku bekerja serumah dengan lelaki menyebalkan itu?
"Tuh dengerin! Jangan maen nuduh sembarangan." Kini Rian balik menunjuk-nunjuk mukaku.
Pak Andre pergi meninggalkan kami seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Lu emang gak tau diri ya, udah ngelempar botol air minum sama mukulin gua pake galon tapi gak minta maaf sama sekali."
"Salah sendiri ngapain marah-marahin gue di pinggir jalan." Aku memutar bola mata, kemudian pergi.
"Heh, cewek sarap! Lu mau ke mana?" Rian menarik lenganku.
"Mau ee', kenapa emang? Minta dibungkusin?"
Rian membuang napas kasar. Lalu pergi dengan langkah lebar.
__ADS_1