SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 3


__ADS_3

Hari demi hari aku terus berusaha menjadi pengasuh yang baik, kenapa? Karena aku adalah calon mama barunya Deril.


Kutepuk kening, agar tak terus menghayal yang tinggi-tinggi sekali.


Deril cukup aktif, namun dia tidak rewel. Jadi, tidak menguras kesabaranku.


Kukejar Deril yang berlari-larian menuju tepi kolam renang.


"Mbak, Eyil pingin lenang." Deril menunjuk-nunjuk kolam renang.


"Jangan renang di sana, kolamnya dalam. Mbak gak bisa renang." Aku memberi tahunya pelan.


"Pingin lenang." Deril mengerucutkan bibir.


"Nanti kalau tenggelam gimana?"


Deril terus menatap kolam yang terbentang di hadapannya.


Tak lama kemudian, Pak Andre menghampiri kami, dan menjinjing plastik agak besar.


"Deril, Sayang ... lihat Papa beliin kamu mainan." Pak Andre memperlihatkan mobil-mobilan baru kepada Deril.


"Kok, malah cemberut? Kenapa?"


Pak Andre melihatku, menanyakan apa yang terjadi.


"Deril pingin renang, Pak. Aku melarangnya, soalnya tidak ada yang jagain. Lagian aku gak bisa renang."


"Jadi, jagoan Papa pingin renang?"


Deril mengangguk.


"Oke, Papa akan turuti kemauan kamu." Pak Andre menyolek hidung Deril.


"Holeee!" Deril berjingkrak senang.


Pak Andre membuka kemeja lengan pendeknya, dan celana chinonya. Hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


Mataku terbelalak melihat body Pak Andre yang mirip aktor India.


Kualihkan pandangan menuju arah lain, tak ingin memandang lelaki yang terus terngiang-ngiang di pikiranku akhir-akhir ini.


Kira-kira Pak Andre sudah punya calon atau belum, ya? Mustahil bila tidak ada yang mau sama beliau. Apalagi usianya sekitar tiga puluhan tahun. Mana perhatian sekali sama anaknya, ini sih ... suami dan ayah idaman banget.


Plak.


Lagi, aku menepuk kening. Aduh, Mira cukup mikirin majikanmu yang cakepnya gak ketulungan itu! Sadar hei sadar!

__ADS_1


"Mir, tolong ambilkan handuk dua, ya," pinta Pak Andre.


"Iya, Pak."


Kuberikan handuk ke Pak Andre dan Deril. Lagi, mataku terpesona dengan body atletis itu.


Aku langsung mengelap Deril dan membawanya ke kamar mandi untuk memandikannya.


***


Perutku mulai berdendang. Mumpung Deril sedang tidur siang, aku putuskan untuk makan.


Sepiring nasi dan ayam goreng kumakan dengan lahap. Sepiring pun rasanya belum membuatku kenyang.


"Laper apa doyan?" tanya Rian tiba-tiba datang saat aku mengambil nasi lagi.


Aku tak memperdulikannya, melanjutkan makan jauh lebih berfaedah dari pada meladeni ocehannya.


"Nih cewek gak cuma sarap, tapi budek juga," sindirnya.


"Eh, lo bisa diem gak? Apa perlu nih piring gue lempar ke mulut lo?"


"Gua heran, kenapa Pak Andre mau mempekerjakan orang kaya lu? Gak punya sopan santun. Mana jadi pengasuh, gimana jadinya nanti Deril diasuh sama lu?" Rian mengambil minum di kulkas.


Ini orang menuduhku tidak punya sopan santun, lalu apa kabar dengan dirinya?


Rian tersedak saat mendengar jawabanku. "Kayaknya lu udah stadium empat sarapnya, deh."


"Bukan empat lagi, tapi mapuluh."


"Pantes!"


Rian pergi meninggalkan dapur. Ingin rasanya kursi yang kududuki dilempar ke kepala Rian. Kenapa aku harus kerja satu rumah sama lelaki menyebalkan itu?


Tanpa sadar ternyata Bi Ani geleng-geleng kepala pelan melihat ocehanku dan Rian.


"Bi, tuh orang nyebelin banget, ya," kataku kemudian meneguk air.


"Kalian kenapa gak akur gitu?" Bi Ani menghampiriku.


"Gimana mau akur, dia marah-marah mulu. Padahal cuma jadi sopir di sini, gimana kalau jadi majikan?"


"Rian marah mungkin ada sebabnya. Memangnya, kamu pernah melakukan kesalahan apa sama dia?"


Aku mengingat kejadian di saat memukulnya menggunakan galon.


Aku pun mengingat saat Rian memarahiku karena menurutnya aku telah melemparkan botol minum kepadanya. Padahal aku tidak merasa.

__ADS_1


"Kenapa diam?" Bi Ani menepuk lenganku pelan.


"Sebenernya ... aku pernah memukulnya pakai galon."


Mata Bi Ani terbelalak sekilas.


"Waktu malam itu, aku kira dia maling. Soalnya, malam-malam di dapur, gerak-geriknya aneh. Eh ... ternyata dia sopir di sini."


"Mungkin, dia habis belajar, terus lapar."


Aku mengubah posisi duduk menyamping, menghadap Bi Ani. "Belajar?"


"Dia kan masih kuliah," imbuh Bi Ani.


Jadi, dia kuliah sambil kerja? Ah, bodo amat. Ngapain ngurusin hidup dia.


***


"Si kancil pun tersangkut kakinya, sehingga mentimun yang dicurinya berjatuhan, dan akhirnya tidak bisa meloloskan diri. Datanglah Pak Tani, kemudian menangkap si Kancil."


Aku menutup buku dongeng. Setelah menceritakan kisah 'Si Kancil yang Mencuri Mentimun'. Melirik Deril, yang sedang menguap.


"Di cerita ini, mengajarkan kita bahwa mencuri itu merugikan orang lain dan diri sendiri." Aku membelai rambut Deril.


"Jadi, kita tidak boleh mencuri."


Deril mengangguk, kemudian menguap lagi.


"Sekarang, waktunya bobo." Kutarik selimut ke tubuh mungil itu.


Setelah Deril memejamkan mata, aku bergegas pergi ke kamarku. Melangkahkan kaki menuruni anak tangga, melewati sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka.


Mataku menatap tajam, karena melihat penghuni kamar itu tak lain adalah Rian, lelaki yang menyebalkan.


Rian sedang membaca buku di kasur. Sembari duduk, dan menyender ke dinding.


"Ngapain lu berdiri di sana? Ngeliatin gua lagi."


Ternyata Rian menyadari keberadaanku.


"Gue cuma lewat, eh malah nemu kamar ternyata penghuninya makhluk unfedah."


Rian turun dari kasur, melangkah mengarahku. Tatapannya tajam, menyiratkan ada kekesalan di sana.


"Sarap!" ketusnya tepat di depan wajahku. Lalu, Rian menutup pintu dan menguncinya.


Ingin kulempar bom atom ke kamar itu, agar lenyap sekaligus penghuninya, namun tertahan karena tahu ini rumah majikanku.

__ADS_1


Gak lucu dong, kalau nanti ada berita, 'Seorang pengasuh balita tega melempar bom atom ke kamar sopir majikannya, karena tidak terima dituduh sarap.'


__ADS_2