SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 17


__ADS_3

Aku menyuapi Deril yang sedang mewarnai gambar mobil. Semenjak masuk sekolah, Deril menjadi suka menggambar dan mewarnai.


Setelah selesai menyuapi Deril, terdengar dering ponselku. Ada panggilan dari Pak Andre.


"Hallo, Pak."


"Hallo, Mira. Kalau boleh tahu, Deril sedang apa, ya?"


"Sedang mewarnai gambar, Pak. Tadi baru saja selesai makan."


"Boleh saya bicara dengannya?"


Aku pun membolehkan dan menyerahkan ponsel ke Deril.


Pak Andre memang sedang tugas ke luar kota, tepatnya ke Semarang. Pergi tiga hari yang lalu bersama Rian. Gara-gara ini juga, aku jadi kangen baangeettt sama Rian.


Tadinya, Pak Andre bingung antara pergi sama Rian atau sendiri.


Kalau sama Rian, beliau merasa tidak tega karena kalau malam aku hanya berdua saja sama Deril di rumah.


Namun, kalau berangkat sendiri khawatir lelah di perjalanan, nanti malah gak fokus kerjanya. Apa lagi Rian sudah seperti assisten pribadinya.


Akhirnya, aku meyakinkan Pak Andre kalau aku tidak masalah hanya berdua sama Deril kalau malam.


"Mbak, ini Papa mau bicala." Deril memberikan ponsel kepadaku.


"Iya, Pak, ada apa?"


"Kemungkinan, lusa saya pulang. Jaga Deril baik-baik, ya."


"Baik, Pak. Semoga kerjanya lancar."


"Aamiin." Telepon pun ditutup.


Sebenarnya, aku ingin bertanya mengenai kabarnya Rian, lagi apa dia sekarang, tapi ... malu mau tanya juga.


Nasib gak punya nomornya si kesayanganku, ingin tau kabarnya saja gak bisa. Ya, kali harus ngomong sama angin sepoi-sepoi, kalau aku ingin titip salam kangen untuk Rian. Eh, apaan, sih?!


***


Semenjak Pak Andre tugas ke luar kota, aku disuruh tidur di kamar Deril. Mungkin, khawatir Deril butuh apa-apa kalau malam.


Kamar Deril lebih luas dari kamarku. Ya, iyalah, kamar anak majikan disamain sama kamar pengasuh, ya jelas beda.


Dinding kamar bercat putih. Ada berbagai sticker mobil--yang biasa di film kartun--berwarna biru di dinding. Kasurnya pun terbalut seprai biru disertai gambar mobil yang sama seperti sticker dinding.

__ADS_1


Terdapat berbagai mainan seperti mobil-mobilan, robot, dan bola yang diletakkan di rak kayu berwarna putih.


Di samping rak mainan, ada juga rak buku. Ada buku dongeng, buku mewarnai, dan buku sekolah.


Saat aku merebahkan diri di kasurnya Deril, beuh ... empuk banget. Beda sama kasur di kamarku. Ditambah, selimutnya yang tebal itu, atau biasa disebut 'bad cover'. Ada AC dan juga ada kamar mandinya.


Kalau udah gini, jadi ingin tukeran kamar, deh. Nanti, tinggal didekorasi sesuai keinginan. Bisa kali, ya? Bisa, bisa banget malah. Dalam khayalan tapi.


Deril sudah tidur. Kalau dilihat-lihat, dia sangat lucu dan tampan. Entah bagaimana nanti jika sudah besar? Pasti banyak perempuan yang naksir. Semoga nanti kalau aku punya anak laki-laki bisa tampan dan lucu kaya Deril. Duh, kenapa jadi mikir punya anak, sih? Suami aja belum punya.


Daripada terus mengkhayal, mending siap-siap membuat peta di bantal. Eh, jangan, Mira! Ini, tuh, bantalnya Deril, masa mau diilerin?


Oke, ganti. Daripada terus mengkhayal, mending siap-siap menuju pelaminan bersama Abang Rian. Eh, halu akutku kumat.


Mau tidur aja rempong banget, sih, aku? Please, mataku yang lebar seperti artis India tapi halu, buruan merem!


Saat indra penglihatku mulai dipejamkan, terdengar suara klakson mobil. Aduuhh ... siapa, sih, yang mau bertamu malam-malam? Gak tau apa kalau aku udah ngantuk?!


Klakson itu terus bunyi, hingga aku pun melangkahkan kaki menuju jendela. Tirai berwarna biru kubuka, tampak mobil Pak Andre berada di depan pintu gerbang.


Sigap, kulangkahkan kaki menuju lantai satu, membuka pintu, lalu menuju pintu gerbang. Ternyata Rian sudah berdiri di depan pintu gerbang.


"Lama banget, sih. Buruan buka pintunya!" suruh Rian. Sepertinya dia ngambek karena aku lama membuka pintu gerbang. Eh, bukannya Rian emang doyan ngambek ke aku, ya?


"Iya, sabar napa?!"


Setelah mobil Pak Andre masuk ke halaman, Pak Andre pun turun dan memerintahku dan Rian membawakan oleh-oleh yang disimpan di bagasi.


Waaww! Oleh-olehnya banyak. Eh, tapi ... emang aku bakal kebagian? Siapa tau itu buat dikasih ke rekan-rekan kerjanya Pak Andre.


"Jangan diliatin! Buruan bawa!" Rian mengambil beberapa oleh-oleh dengan sigap.


"Lo bisa gak, sih, sabar semenit aja? Emosi mulu, heran gue." Aku memutar mata. Baru aja ketemu, Rian udah emosi mulu sama aku. Dasar, calon suami! Eh, halu lagi.


"Gua udah capek. Ingin istirahat. Jadi buruan bawa, biar cepet beres!" Rian menatapku tajam.


"Iyiii ... biisi iji kilisss!"


***


Pagi ini aku masih sebel sama Rian. Masa tadi malam aku mau ambil oleh-oleh gak dibolehin. Katanya harus nunggu izin Pak Andre dulu. Iya, sih, ada benarnya, tapi ... aku, kan, ingin nyoba meski cuma seujung centong.


"Kalian makan saja, saya sengaja beli agak banyak biar pada kebagian," ucap Pak Andre sebelum sarapan. "Untuk rekan kerja sudah saya pisahkan."


"Siap, Pak!" Aku menjawab penuh semangat.

__ADS_1


Tak kupedulikan Rian yang memutar mata. Sepertinya dia tak suka dengan sikapku? Bodo amat!


Oh, ya, pagi ini kami sarapan nasi berlauk bandeng presto dan tahu bakso goreng yang dibeli Pak Andre dari Semarang.


Saat sarapan, terdengar suara Deril memanggilku. Saat aku akan ke kamarnya, Pak Andre mencegahku.


"Biar saya saja, kamu lanjutkan sarapannya."


"Tapi, Pak--"


"Saya mau kasih kejutan untuk Deril." Senyum manis terukir di bibir majikan tampanku.


Pandanganku tiba-tiba menuju wingko babat yang terhidang di meja, melambai-lambai seolah ingin segera pindah ke perut.


"Abisin dulu itu!" titah Rian dengan nada ketus.


"Apa, sih?!"


"Ini itu," ucap Rian seraya mengambil wingko babat rasa cokelat, "boleh dimakan kalo, tuh, nasi udah habis."


Rian pun memakan wingko babat.


Arrgghh!


"Hmmm ... enaaakk!" Rian pun mengambil wingko babat rasa durian.


Kurang ajar! Aku, sih, tadi ngambil nasi dan lauknya kebanyakan, jadinya belum habis. Hwaaa!


Hati ini semakin panas saat Rian terus memakan wingko babat yang dibeli Pak Andre di Semarang. Pokoknya, aku harus kebagian.


Sigap, kuarahkan tangan untuk mengambil wingko babat.


"Ih, lepasin!" Aku mencoba melepaskan tangan Rian yang sepertinya tak rela bila aku mengambil wingko babat yang terhidang di dekat tahu bakso goreng.


"Dihabisi dulu itu!" Mata Rian mengarah ke nasi dan lauknya yang tersisa sedikit lagi.


"Iya nanti dihabisi, kok."


"Nih, makan!" Rian menyuapkan nasi penuh paksaan.


"Nih, lagi!"


"Nih!"


Rian tertawa kecil setelah menyuapkan tiga sendok nasi tanpa ampun.

__ADS_1


Abang Rian, kalau mau menyuapi aku yang bener dong! Keselek, kan, jadinyaaa ....


***


__ADS_2