SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 15


__ADS_3

Hari terus berganti. Namun, tidak dengan rasa ini. Masih untuknya. Meskipun ada keinginan untuk menyerah, tetap saja rasa ini enggan pergi.


Lelaki menyebalkan itu mampu membuatku sulit berpaling. Tatapannya, senyumannya, tingkah menyebalkannya ... sungguh membuat rasa ini semakin menjalar di dalam dada.


Aku mengolesi selembar roti tawar dengan selai kacang. Ah, satu lembar itu kurang. Oke, ambil lagi. Biar kenyang dan biar kuat menghadapi kenyataan. Ehem.


"Rian, hari ini kamu jadi sidang skripsi?" tanya Pak Andre seraya mengoleskan selai kacang di selembar roti tawar yang dipegangnya.


"Jadi, Pak. Tolong doakan, ya, Pak, semoga lancar," jawab Rian disertai senyuman.


"Aamiin. Semoga kamu lulus dengan nilai terbaik."


"Aamiin ... makasih, ya, Pak."


Semangat, ya, Abang Rian, semoga lancar sidang skripsinya. Dapat nilai terbaik, terus wisuda, dan ... lamar aku segera. Eh, dasar tukang halu!


"Mira, kamu kenapa?" Pak Andre mengernyit.


"Memangnya kenapa, Pak?" Aku tak mengerti, kenapa Pak Andre tiba-tiba bertanya seperti itu.


Saat aku menatap Rian, dia malah memutar mata.


"Kamu sadar, 'kan?" tanya Pak Andre.


Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Ini maksudnya apa, sih?


"Lu kenapa nepok jidat pake sendok? Tuh, jidat lu ada selai kacangnya," ujar Rian seraya mengunyah roti tawar yang diolesi selai cokelat.


Spontan aku mengusap dahi. Ya ampun ... benar saja, ada selai kacangnya.


Aku memang mengolesi roti dengan sendok, bukan pisau. Entahlah, jiwa norakku sepertinya sulit dihilangkan.


"Ma-maaf." Aku pun mengambil tisu untuk membersihkan selai kacang di dahi.


***


Aku menyuapi Deril yang sedang bermain robot-robotan di ruang keluarga. Ayam goreng tepung buatan Bi Ani memang enak, mungkin itu yang membuat Deril makan begitu lahap.


"Yeay, makannya habis. Anak pintar." Aku tersenyum kepada Deril.


"Mbak mau simpan piring sama gelas dulu ke dapur, ya. Jangan ke mana-mana, Oke?"


Deril mengangguk cepat.


Aku pun meletakkan piring dan gelas di wastafel sekaligus mencucinya, kemudian kembali lagi ke ruang keluarga menemani Deril bermain.


Terkadang, aku merasa jenuh ketika menemani Deril bermain. Namun, inilah pekerjaanku yang harus disyukuri. Di luar sana, masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan.

__ADS_1


Teringat saat aku masih pengangguran, merasa malu kepada kedua orang tuaku dan para tetangga. Mencoba melamar pekerjaan, tapi tolakan yang selalu aku terima.


Kini, meskipun menjadi pengasuh, aku bisa mengirimkan setengah gajiku untuk keluarga setiap bulan. Sisanya, ditabung dan untuk keperluan yang lain.


Bekerja menjadi pengasuh pun sangat berguna bagiku. Ya, ini bisa menjadi bekal untukku bila suatu hari nanti memiliki anak. Anak dari hasil pernikahanku dengan Rian. Ya ampun ... halu lagi.


***


Seperti malam-malam biasanya, aku membacakan Deril dongeng pengantar tidur. Setelah Deril tidur, aku pun segera pergi dari kamarnya.


Terdengar deru mesin mobil, pertanda Pak Andre dan Rian sudah datang. Aku pun bergegas membuka pintu. Tak sabar rasanya ingin tau kabar, apakah Rian lulus atau tidak?


Pak Andre menuju lantai dua setelah bertanya Deril sudah tidur atau belum. Sedangkan Rian pergi ke kamarnya dengan membawa banyak jajan. Ya, jajanan warung gitu, tapi banyak. Ada yang rentengan dan ada yang dibuat seperti buket bunga. Kok, habis sidang skripsi pulangnya bawa jajan banyak?


Aku menunggu Rian di meja makan, karena biasanya dia suka makan malam. Penantianku tak sia-sia. Rian datang lalu mengambil piring, nasi di rice cooker, kemudian duduk di depanku.


"Rian ...." Aku memulai percakapan setelah Rian mengambil lauk.


"Paan?"


"Gimana tadi sidang skripsinya?"


"Ngapain nanya-nanya?"


"Gak boleh?"


Ih, nyebelin banget, sih! Tinggal jawab aja apa susahnya? Aku pun menghentak-hentakkan kaki sekaligus mengerucutkan bibir.


Rian menatapku lalu memutar mata. Isshh, untung aku sayang, kalo nggak pingin aku jejelin cabe sekilo. Eh, nggak ding, cabe lagi mehong, cyiinnn.


"Lu ngapain, sih, ngeliatin gua mulu?" Tatapan Rian masih tertuju ke sepiring nasi dan lauk di meja.


"Mau ngeliatin lo kek, ngeliatin sendok kek, ngeliatin cicak-cicak di dinding diam-diam merayap kek, ya ... terserah gue. Mata punya gue ini."


"Gua gak suka diliatin sama lu." Rian mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajahku.


"Ya udah, kalo gak suka diliatin sama gue, bungkus pake karung, tuh, muka!"


Rian memutar mata lalu melanjutkan makan malam.


Padahal kalau gak ada Rian bawaannya kangen, tapi kalau ada malah ribut mulu. Nyebelin banget dia.


Setelah selesai makan, Rian bergegas pergi dari dapur.


"Mau ke mana?"


Langkah Rian berhenti di ambang pintu dapur. "Ke taman."

__ADS_1


"Udah malam, gak tidur?"


"Gak usah sok perhatian!" timpalnya tanpa menoleh ke arahku lalu melangkahkan kaki menuju taman samping rumah.


Ya ampun ... kenapa Rian gak peka mulu, sih? Padahal aku udah mencoba baik sama dia, tapi tetap saja dicuekin mulu. Aku, tuh, gak bisa diginiin terus.


Jiwa kekepoanku meronta-ronta. Mau apa Rian ke taman? Apakah mau menelpon seseorang, menatap bintang kecil di langit yang biru, atau mau ketemuan sama kuntilanak?


Aku pun ikut ke taman lalu duduk di sebelah Rian yang sedang memainkan ponsel. Gak punya malu banget, ya, aku. Ah, sebenarnya aku itu pemalu, meskipun terkadang gak tau malu.


"Lu ngapain, sih, ngikutin gua?"


"Gak boleh?"


"Gak!"


"Pelit!"


Ponsel Rian bergetar. Sepertinya ada chat dari seseorang untuk Rian. Namun siapa? Aku sedikit memajukan wajah hanya untuk mengintip ponsel pintarnya.


Rian mendorong wajahku dengan telapak tangan kanannya. "Gak usah ngintip!"


"Kenapa?" Mataku menyipit. "Jangan-jangan ... lo lagi lihat ...."


"Lihat apa?" Rian menatapku heran.


"Lihat itu."


"Apaan?"


Masa depan kita berdua, Abang Rian Sayang. Gitu aja gak ngerti.


"Eh, malah diem." Rian menarik hidungku.


"Gak usah narik hidung kali!"


"Lihat itu, maksudnya lihat apa?"


"Gak usah sok polos, deh."


"Emang apaan?"


Aku sedikit memajukan wajahku. Angin malam membelai kami yang saling bertatapan.


"Lihat ... ulat jengkol lagi kawin."


***

__ADS_1


__ADS_2