SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 11


__ADS_3

Pagi ini, aku akan membuat nasi goreng. Membuat lebih pagi, agar Pak Andre juga bisa ikut makan. Memang, Pak Andre terkadang memilih sarapan di luar. Mungkin, untuk menghindari kemacetan.


Nasi gorengnya tidak kubuat pedas, karena Pak Andre dan Deril tidak suka pedas.


Aku menghidangkan nasi goreng di meja makan. Pandanganku menuju lelaki yang mengenakan kemeja panjang merah marun dan celana panjang hitam yang berdiri di dekat kursi.


"Ngapain lu ngeliatin gua?"


Aku terpana melihatmu. Eh, tapi harus tetap jaga image, dong!


"Lo gak salah? Emang ada, ya, sopir penampilannya kek orang mau ngantor?"


"Emang gua mau ngantor." Rian mengambil piring. Ketika dia melewatiku, aroma parfumnya menyeruak di hidung. Lembut, dan tidak membuatku pusing.


"Emangnya, lo udah lulus kuliah?" Aku pun ikut mengambil piring. Rian kan mau sarapan, biar sarapan berdua, gitu.


"Ini enak gak nasi gorengnya?" Rian mengangkat alis. "Ada racunnya gak?"


Ih, kenapa malah mengalihkan pembicaraan, sih? Mana meragukan masakanku lagi. Aku kan membuatnya dengan penuh cinta. Cinta untuk majikanku, Deril, dan kamu Rian.


"Cobain aja!"


Rian mengambil sedikit nasi goreng buatanku, lalu mencicipinya seujung sendok.


"Lumayan."


Tak mengapa lumayan juga, daripada lu maunya sama yang lain.


"Lo belum jawab pertanyaan gue!"


Hampir aku mau duduk, Pak Andre pun datang ke dapur.


"Pak, silahkan sarapan. Aku sudah membuat nasi goreng."


"Iya." Pak Andre tersenyum.


"Rian, lo ngapain duduk di situ? Pak Andre kan mau sarapan," kataku pelan kepada Rian yang sedang sarapan.


"Sudah tidak apa-apa. Saya tidak keberatan makan satu meja dengan kalian. Mira, kamu duduk saja."


Apa? Seriusan ada majikan yang mau makan satu meja dengan pembantunya?


"Beneran, Pak?"


Pak Andre mengangguk disertai senyuman. Memang, majikanku ini sangat baik. Beruntung perempuan yang telah mencuri hatinya dan menjadi istrinya.


Setelah sarapan, Pak Andre pun segera pergi dengan Rian. Ih, Rian belum jawab pertanyaanku.


Mana dia lebih tampan dari biasanya lagi, kalau ada perempuan yang pada suka sama dia gimana? Terus, Riannya juga suka gimana? Terus, akunya sakit hati lagi gimana?


***


Kulihat Bi Ani sedang menyetrika pakaian. Mumpung Deril sedang anteng bermain, kuhampiri Bi Ani.


"Bi, aku ...  boleh nanya?"


Bi Ani melihatku sekilas, lalu menyetrika lagi. "Mau nanya apa, Mir?"


"Bibi sudah lama bekerja di sini?"


"Sudah lima tahun, memangnya kenapa, Mir?"


"Kalau Rian sudah berapa tahun kerja di sini?" Akhirnya, kuberanikan diri untuk bertanya tentang Rian.


"Sudah empat tahun."


Aku melihat Deril, dia masih anteng bermain.


"Berarti ... sudah kenal lama, ya, Bi?"


Bi Ani mengangguk. "Rian itu anaknya baik, mandiri, suka menolong."


Iya, sampai-sampai ada perempuan ganjen minta dianterin pulang pun, Rian anterin. Ah, kenapa jadi ingat kejadian malam itu sih!


"Bi, Rian kan kerja sambil kuliah, nah terus gajinya gimana? Soalnya, akhir pekan dia kuliah."

__ADS_1


"Setahu saya, gajinya dipotong. Itu sudah kesepakatan Rian sama Pak Andre."


Oh, jadi begitu. Kalau gajinya dipotong, terus untuk biaya kuliah, keperluan pribadinya, atau untuk ngasih keluarganya gimana, ya? Sepertinya, dia pintar mengatur keuangan.


"Bi, tadi Rian pakai pakaian kantor gitu, katanya mau ngantor. Padahal dia kan belum lulus."


"Kalau itu, saya tidak tahu, Mir."


Nanya lagi gak, ya? Mau nanya lagi malu, takut Bi Ani curiga, gak nanya tapi penasaran.


Akhirnya, aku kembali lagi mengasuh Deril. Nanti aja lagi nanyanya, biar Bi Ani gak curiga.


***


Malamnya, seperti biasa aku pergi ke dapur untuk makan malam sekaligus ingin melihat lelaki tampan yang menyebalkan itu.


Rian belum datang, aku tunggu saja dulu. Makannya nanti aja, biar bareng dia. Lagian, aku penasaran sama pertanyaanku tadi pagi yang belum dia jawab.


Duh ... kemana sih? Kok, belum datang juga? Masa sudah tidur? Aku pun melangkahkan kaki menuju kamar Rian. Tapi, cuma sampai depan pintu kamarnya doang.


Kudekatkan telinga di daun pintu kamarnya, hmm ... tidak ada suara apa-apa. Apa ... Rian sudah tidur? Ah, gagal deh mau makan malam bersamanya.


Kulangkahkan kaki dengan malas, samar-samar terdengar suara lelaki di taman samping rumah. Jangan-jangan itu suara ....


Pintu kubuka dengan pelan. Benar saja, ada Rian sedang duduk seraya menelepon seseorang. Pasti orang yang dipanggil 'Sayang' itu. Oke, cusss nguping!


"Alhamdulillah ... tadi lancar magangnya."


Oh ... jadi, Rian itu lagi magang. Semoga gak ada perempuan yang naksir dia atau dia gak naksir perempuan di tempatnya magang. Biasanya, yang di kantor kan cantik-cantik.


"Hmm ... kamu gak ada niat nganterin makan siang gitu?"


Apa? Nganterin makan siang? Tidaaak!


"Mau, lah. Masakan kamu itu enak, bikin kangen. Hehe ...."


Hwaaa! Apalah aku ini yang gak pinter masak, nasi goreng buatanku aja kata Rian, 'Lumayan'.


Masakan itu orang aja dikangenin, apalagi yang masaknya. Kapan coba Rian kangen sama aku? Emang, aku gak pantes dikangenin sama Rian? Padahal kan aku itu manis, lucu, imut, menggemaskan, ulala ....


Itu si Rian ngomongnya lembut banget! Sama aku saja, suka seenak jidat kalau ngomong. Sedih aku tuh ....


"Makasih, kamu emang pengertian."


Luka ini semakin menganga. Ingin aku pergi saja dari sini, agar tak semakin nyeri di dalam dada. Tapi, nanti dulu, aku lagi kepo.


"Aww! Aduh, sakit," pekikku seraya mencoba melepaskan jemari Rian yang menjewerku.


"Oh ... jadi lu dari tadi nguping?"


Jeweran Rian semakin agak keras. Aduh, kenapa dia menyadari kebaradaanku sih?


"Lepasin! Sakit, ih." Aku masih berusaha melepaskan jeweran dari Rian.


"Makanya, jangan suka nguping pembicaraan orang lain! Gak sopan."


"Gue gak nguping."


"Udah ketangkap basah juga, masih aja gak ngaku!"


"Ada apa ini?" Pak Andre menghampiri kami.


Rian pun segera melepaskan jewerannya. ******! Ketahuan sama Pak Andre. Marahin sana, Pak. Biar tahu rasa!


"Kenapa kamu menjewer Mira?"


"Ngak, Pak. Jadi ... aku sama Mira lagi ... lagi tebak-tebakan." Rian menatapku. "Mira gak bisa jawab, jadi hukumannya ... dijewer."


Pak Andre menatap kami bergantian. Lalu tatapannya mengarah padaku. "Benar itu, Mira?"


Aku tidak mungkin mengatakan ini semua gara-gara menguping Rian. "I-iya, Pak." Aku pun tersenyum. Senyuman keterpaksaan.


"Lain kali, hukumannya jangan seperti itu. Sepertinya, Mira kesakitan tadi."


Ya ampun ... Pak Andre memang pengertian. Jadi pingin dinikahin sama Pak Andre. Lagian, Rian pasti sudah punya pasangan.

__ADS_1


"Iya, Pak," jawab Rian.


Pak Andre pun pergi meninggalkan kami. Aku melihat Rian, ada rasa jengkel kepadaku dari sorot matanya.


Daripada kena jewer lagi, mending aku segera pergi.


"Mau ke mana lu? Urusan kita belum selesai!" Rian memegang tanganku.


"Apa lagi, sih?"


Rian menutup pintu, lalu membawaku ke kursi taman. Mau apa dia? Jangan-jangan ... mau menyiksaku lagi. Tidaaak!


"Jawab yang jujur, kenapa lu nguping pembicaraan gua?"


Aku tidak mau menjawab. Masa harus jujur, kalau aku kepo tentang dia.


"Lu bisu apa gimana, sih?"


Tak lama kemudian, ponsel Rian berdering. Rian mengangkatnya.


"Maaf lagi ada urusan. Kamu tidur saja, selamat malam," ucap Rian datar kepada si penelepon itu, lalu mematikan ponselnya.


"Jawab gak?"


Aku masih diam. Biarkan saja, salah sendiri kalau aku nanya kadang diabaikan.


"Oke, kalo lu gak mau jawab. Gua ingetin, ya, jangan pernah lu ingin tau urusan gua! Kalo masih ngeyel ...."


"Apa?" tanyaku.


"Gua gak bakal ngomong sama lu!"


"Silahkan aja. Lagian, gue emang gak penting buat lo."


Rian memicingkan mata. "Apa maksud perkataan lu tadi?"


Aku tidak mungkin mengungkapkan perasaan kepadanya. Rasa ini dipendam saja, Rian tak peduli padaku. Apalagi diungkapkan, yang ada ... Rian menjauhiku.


"Ya, selama kita kerja bareng di sini, kita gak pernah akur, 'kan?"


"Harusnya, lu mikir! Lu yang suka buat masalah," tuduhnya.


Loh, masa aku terus yang disalahin? Kan dia yang suka bikin emosi. Pokoknya, aku gak terima dituduh pembuat masalah.


"Lo tuh, yang suka buat masalah!"


"Emang, ya, cewek itu kalo salah gak mau ngaku. Ngerasa selalu bener."


"Termasuk cewek yang teleponan sama lo tadi?" selidikku. Berharap Rian memberi bocoran tentang hubungannya dengan orang itu.


Rian menajamkan pandangannya padaku. Aduh, aku salah ngomong kayaknya. Ah, bodo amat!


"Jangan pernah lu bicara yang tidak-tidak tentang dia!" Telunjuk kanan Rian tepat mengarah wajahku.


"Lo sendiri yang bilang, 'Cewek itu kalo salah gak mau ngaku. Ngerasa selalu bener.'. Emang, itu cewek gak pernah salah?" Aku menepis telunjuk Rian. Apa-apaan coba, kayak gitu.


"Asal lu tau, dia mau salah atau nggak, bukan urusan lu!" Nada Rian penuh penekanan, lalu pergi meninggalkanku.


Perih. Begitu besarkah perasaan Rian kepada perempuan itu?


Rian .... Apakah kau tidak melihat dari sorot mataku, bahwa aku memendam rasa kepadamu? 


Dari sikapku yang ingin tahu tentangmu, yang terkadang marah-marah tidak jelas hanya karena cemburu, yang begitu menikmati kebersamaan denganmu. Tidak sadarkah dengan semua itu?


Apa harus aku membuka mulut tentang perasaan ini? Apa ada hati yang harus kau jaga saat ini?


Sendiri di taman, sesekali angin malam membelaiku. Air mata yang kutahan, kini deras membasahi pipi.


Kenapa aku tak beruntung dalam urusan cinta? Cinta bertepuk sebelah tangan sudah tak asing kudapatkan.


Apakah aku tidak berhak bisa mendapatkan balasan cinta darinya?


Seharusnya, jangan kubiarkan hati ini menyimpan rasa kepada lelaki yang belum pasti. Berharap terlalu tinggi. Hingga berujung, menggores luka di hati.


***

__ADS_1


__ADS_2