
Kudengar, hari ini Rian wisuda. Saat kutahu, dia meminta izin ke Pak Andre untuk pulang karena mau menjemput ibunya.
Dari raut wajahnya, dia tampak bahagia. Ya, siapa, sih, yang gak bahagia kalau mau wisuda? Apalagi, Rian selama ini kuliah sambil kerja.
Hal yang tak mudah mungkin baginya, di mana harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Namun, Rian bisa menjalaninya.
Aku berharap, Rian bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dan membuat bangga orang tuanya.
Ingin rasanya aku pergi ke kampusnya, tapi itu tidak mungkin. Ada Deril yang harus kujaga.
"Mbak, Eyil pingin beli es klim," pinta Deril saat kami mau pulang dari sekolahnya.
"Boleh." Aku tersenyum padanya.
"Tapi ... Eyil pingin main time zone juga."
"Kalau main, nanti saja. Masa pulang sekolah langsung main?"
Deril malah cemberut. Aku jadi bingung antara menuruti keinginannya atau pulang ke rumah dulu.
"Hmm ... Mbak telepon Papa Deril dulu, ya? Minta izin dulu." Aku mengusap kepalanya. Deril mengangguk.
Kuberanikan diri menelpon Pak Andre. Entah beliau sedang sibuk atau tidak.
"Hallo, ada apa, Mira?"
"Begini, Pak, Deril minta main time zone. Padahal udah aku larang, tapi ...."
"Deril boleh main, tapi harus pulang dulu. Ganti pakaian dulu, jangan main pakai seragam sekolah," tutur Pak Andre.
"Iya, Pak. Nanti akan aku sampaikan."
"Ya sudah, saya mau ada pertemuan dengan calon investor perusahaan. Tolong jaga Deril, ya."
"Iya, Pak." Telepon pun ditutup.
Aku mencoba memberi pengertian kepada Deril agar tidak langsung bermain sebelum pulang dan ganti pakaian dulu. Syukurlah, dia mau mengerti. Tidak seperti Rian yang gak pernah ngerti sama perasaanku. Eh, apa, sih?
***
__ADS_1
Hari telah petang, Rian datang ke rumah Pak Andre. Aku ingin bertanya apakah wisudanya lancar? Dapat hasil yang memuaskan? Gimana perasaannya sekarang? Iya, perasaan Rian buat aku, gimanaaa? Masa gak peka mulu, sih?! Kan, sebel, tapi sayang. Ehem.
Aku tunggu di meja makan aja, lah. Biasanya Rian, kan, makan malam. Nanti coba tanya-tanya, ya ... meskipun kalau aku tanya Rian seperti gak mau ngasih tau.
Semenit.
Sepuluh menit.
Setengah jam.
Lima puluh tiga menit.
Ya ampuunn ... Rian kenapa gak nongol, sih? Lagi ngapain dia di kamar? Udah tidur kali, ya?
Lima puluh sembilan menit tiga puluh tujuh detik.
Capek, ih, nunggu, yang ditungguin mah gak peka mulu.
Satu jam lebih tujuh belas menit dua puluh lima detik.
Ya, elaahh ... kok, aku jadi tukang ngitung waktu gini, sih?!
Tuh, kaaan ... Aku jadi bucin. Ah, ini gara-gara Rian!
Hoaaam. Ngantuk aku, tuh. Nunggu yang ditunggu, tapi gak datang juga. Apa perlu aku dobrak pintu kamarnya?
***
"Aduh!" Aku membuka mata dan menyingkirkan tangan Rian yang menyubit hidungku.
"Sejak kapan kamar lu jadi di dapur?" Rian mengangkat alis.
Aku melihat sekitar. Oh, ya, ampun ... aku ketiduran di sini. Ini gara-gara Rian! Kalau aja dia tadi malam ke dapur, mana mungkin aku bakal ketiduran di sini.
Mataku terbelalak saat lihat jam telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Begitu pulaskah aku tidur?
Aku pun bergegas ke kamar mandi dan tak memperdulikan Rian yang sudah mengenakan pakaian sopir dan berdiri di dekatku tadi.
Setelah mandi, aku menyiapkan sarapan. Eh, nggak, ding. Udah disiapkan sama Abang Rian. Romantis, 'kan? Enggak, lah! Soalnya dia menyiapkan untuk yang lainnya juga.
__ADS_1
Sepiring nasi goreng terhidang di depanku. Aromanyaaa ... sungguh menggoda. Seperti yang membuatnya. Ehem.
Kusuap sesendok nasi goreng, kalian tau rasanya? Gak keasinan, manis dari kecapnya pas, racikan bumbunya sungguh terasa dan wangi. Serius, deh, Rian emang cocok dijadiin suami.
Luv-luv, deh, sama kamu, Bang.
"Hmm ... kamu memang tidak diragukan lagi kalau soal memasak," ungkap Pak Andre seraya tersenyum ke Rian.
"Pak Andre bisa saja," ucap Rian disertai senyuman.
Uuh, tambah cakep kalau senyum. Makin sayaang aku sama lelaki yang duduk di depanku ini.
"Lu kenapa senyum-senyum sendiri?"
Dasar, Dodol! Ngapain aku pake senyum-senyum, sih?
"Emang gak boleh? Terserah gue, lah!"
Rian memutar mata lalu melanjutkan memakan nasi goreng.
"Rian, bagaimana hasilnya kemarin? Berapa IPK-nya?"
"Alhamdulillah memuaskan, Pak. IPK-nya tiga koma tujuh puluh."
"Saya ikut senang mendengarnya." Pak Andre dan Rian saling tersenyum.
Pinter juga ternyata si kesayanganku ini. Cakep, pinter, masakannya enak, pekerja keras, mandiri, cuma ... sayangnya nyebelin dan gak peka sama perasaanku. Hwaaa! Sebel, sebel, sebeeelll!
"Mira, kamu kenapa cemberut begitu?" tanya Pak Andre tampak heran.
"Gak papa, kok, Pak."
"Mungkin harus diperiksa ke psikiater kali," kata Rian seraya menatap tajam kepadaku. "Tadi senyum-senyum sendiri, sekarang cemberut."
"Lo kira gue lagi sakit jiwa?!"
Rian mengangkat bahu, lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.
Ih, pagi-pagi udah nyebelin. Daripada nyebelin, mending menyayangi aku aja. Bisa, 'kan? Kalau gak bisa, ya, harus bisa!
__ADS_1
***