SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 28


__ADS_3

Kupandangi kamar yang kini ditempati. Hari ini harus kembali ke rumah Pak Andre. Rindu ini masih ada. Rindu berkumpul dengan keluarga.


Meskipun, kontrakan yang dihuni olehku dan keluarga tak sebagus rumah Pak Andre, tapi di sinilah kurasakan kehangatan dan kenyamanan bersama keluarga.


Aku menuju meja makan. Ibu dan Bapak sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk es campur. Sedangkan Fajar sedang mandi.


"Makan yang banyak! Mumpung di sini bisa makan masakan ibu," suruh Ibu setelah menatapku, lalu kembali melakukan aktivitasnya.


Perkedel kentang, terong balado, dan sambal terasi menjadi lauk sarapanku hari ini. Masakan Ibu memang enak. Apalagi, gak bisa memakannya setiap hari.


"Mau diantar sama bapak atau naik ojek online?" tanya Bapak setelah aku mencocolkan perkedel kentang ke sambal terasi.


"Naik ojek online saja, Pak. Lagian, Bapak harus siap-siap jualan."


"Ya, sudah. Terserah kamu saja." Bapak mengambil cangkir berisi kopi hitam yang tersisa sedikit di meja makan, lalu meminumnya.


Setelah selesai sarapan, aku segera mencuci peralatan makan. Setelah itu, segera ke kamar. Bersiap-siap pergi ke rumah majikanku yang tampan.


Kudengar suara motor berhenti di depan kontrakan. Saat aku keluar, ojek online yang kupesan telah menunggu.


"Nanti tunggu sebentar, ya," pintaku, lalu kembali ke rumah.


Mengambil barang-barang yang akan dibawa dan berpamitan ke keluarga.


"Bu, Pak, aku pamit dulu, ya." Aku mencium punggung tangan kanan keduanya.


"Hati-hati, ya. Jangan macam-macam kamu di sana. Kerja yang rajin dan jangan malas-malasan," perintah Ibu, lalu tersenyum.


"Jaga diri baik-baik," kata Bapak.


Aku mengangguk dan tersenyum. Aku pun mendekat ke Fajar yang sedang sarapan.


"Jangan nakal kamu! Belajar yang rajin, jangan main HP mulu!"


"Iyaaa!" Fajar mengerucutkan bibir, lalu memegang tangan kananku dan menempelkannya di pipi kananya. Jadi, bukan mencium tangan.


Aku segera keluar, khawatir ojek online-nya terlalu lama menunggu. Disusul oleh Ibu dan Bapak menuju teras.


Aku segera naik ke motor setelah mengucapkan salam.


"Nanti telepon atau SMS kalau sudah sampai!" suruh Ibu saat aku mau memakai helem. Aku mengangguk.


"Eh, Mira, mau mulai kerja lagi, ya?" tanya Bu Eli--tetanggaku--seraya tersenyum.


"Iya, Bu." Aku tersenyum.


"Hati-hati di jalan, ya," sambungnya. Aku mengangguk dan kembali tersenyum.


Motor pun melaju. Meninggalkan kediaman keluargaku. Ah, rasanya libur kerjaku kurang lama. Namun, kalau kelamaan nganggur juga gak baik nanti buat isi dompet. Ehem.


Semangat kerja selagi masih muda. Bahagiakan keluarga, terutama kedua orang tua. Meskipun, belum bisa memberikan yang lebih, tapi setidaknya ada usaha untuk membahagiakan mereka.


Motor pun berhenti di depan pintu gerbang rumah Pak Andre. Setelah turun dari motor, aku segera masuk.


Kupencet bel. Pak Andre sudah mulai kerja. Makanya, aku datang ke sini pagi. Kasihan Deril kalau harus diasuh sama Bi Ani. Soalnya, Bi Ani juga harus mengerjakan pekerjaan rumah.


Deril belum mulai masuk sekolah, katanya Pak Andre izin libur dulu. Karena aku belum masuk kerja. Jadi, gak ada yang antar jemput dan jaga di sekolah.


Pintu terbuka. Bi Ani tersenyum. "Eh, Mira. Ayo, masuk!"


Aku pun tersenyum, lalu masuk. Saat berada di ruang keluarga, kulihat Deril sedang mewarnai gambar.


Deril melihatku, lalu memperlihatkan gambar yang sudah diwarnainya. "Mbak, lihat!" Deril tersenyum tampak senang.


Deril mewarnai gambar mobil sport. Mewarnainya dengan warna biru tua.


Aku mendekat. "Makin ke sini, makin rapi ngewarnainnya, ya."


"Iya, dong!" Deril kembali mewarnai gambar.


"Mbak ke kamar dulu, ya. Nyimpen barang-barang. Nanti ke sini."


"Okeee!" Deril tak melihatku. Tangannya pun sibuk mewarnai gambar.


Aku menuju kamar. Meletakkan barang bawaan. Setelah rapi, kuambil ponsel untuk mengirim pesan ke Ibu.


[Bu ... Alhamdulillah aku udah nyampe. Ini mau ngasuh dulu]


Kubawa ponsel ke ruang keluarga. Siapa tau nanti ada balasan pesan dari Ibu atau ada telepon dari Rian. Eh, ngarep.


Aku duduk di sebelah Deril. Memandangi tangan jagoannya Pak Andre itu yang sibuk memulas sebuah gambar.


"Deril."


"Iya, Mbak?" Deril tak menoleh sama sekali.


"Hmm ... mau belajar membaca, gak? Atau menulis?"


"Eyil sukanya mewalnai."


"Kan, namanya belajar. Jadi, biar nanti cepat bisa membaca dan menulis."


"Nanti aja."


Aku menghela napas. Ponselku bergetar, pertanda ada pesan masuk.


[Alhamdulillah kalau sudah sampai. Iya]


"Udah sarapan?"


Deril mengangguk. Lalu melihatku. "Mbak, Eyil pingin digambalin pantai, dong! Nanti Eyil yang ngewalnain."


"Kenapa gak Deril belajar menggambar sendiri? Biar bisa. Gak cuma mewarnai aja," usulku dengan nada pelan.


Deril biasanya mewarnai sebuah buku yang sudah ada gambarnya. Jadi, tinggal mewarnai saja. Makanya, aku usulkan untuk belajar menggambar.


Deril tampak berpikir. Diambilnya sebuah pensil dan buku gambar di tas gendong berwarna biru tua yang terletak di belakangnya.


"Ayo, Deril pasti bisa!" Kedua tanganku mengepal seraya diangkat.


Deril menggambar sebuah gelombang. Lalu sebuah pohon. Ada lingkaran di bagian atas. Meskipun, bentuknya gak benar-benar bulat. Ada juga gambar seperti awan di dekat lingkaran.


"Ini apa?" Aku menunjuk sebuah lingkaran.


"Matahali, Mbak."


"Hmm ... kalau ini?" Aku menunjuk gambar seperti awan.


"Awan, Mbak."


"Sekarang tinggal diwarnain." Aku membelai anak lelaki di sebelah yang tampannya mirip Pak Andre.


Deril mengangguk. Mengambil pensil warna biru muda, lalu mewarnai bagian gelombang.


Kemudian, Deril mengambil pensil warna kuning, lalu mewarnai matahari.


"Wah, bagus! Pinter, ya, Deril. Nanti mah belajar terus menggambarnya, ya. Biar selain pinter ngewarnain, tapi juga pinter ngegambarnya."


"Okeee!" Deril mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Hmm ... gimana liburannya di Bali? Seru?"


Deril mengangguk-angguk. "Pantainya bagus, Mbak. Coba aja pantainya deket sama lumah Eyil. Kan, enak kalo libul sekolah maen ke sana."


"Sama siapa aja ke pantainya?"


"Sama Papa dan Uncle Wila."


Wila? Apakah dia yang dimaksud adik iparnya Pak Andre?


"Kok, Mbak gak tau, ya, Uncle Wila?"


"Uncle, kan, sibuk kelja katanya. Oh, iya, Mbak." Deril tampak antusias, lalu berkata, "Uncle juga pintel ngegambal, loh!"


"Oh, ya? Deril pernah liat?"


Deril mengangguk cepat. "Waktu di hotel, Uncle ngegambal di laptop telus Eyil liat, deh!"


"Ngegambar apa emangnya?"


"Gambal gedung gitu telus ada kolam lenangnya. Baguuss banget gambalnya!"


"Hmm ... Uncle Wila masih muda?"


"Iya. Kayak Mas Ian."

__ADS_1


Aku jadi penasaran sama Wila. Soalnya, selama kerja di sini belum pernah ada keluarga atau saudara Pak Andre yang berkunjung.


Apakah mereka tinggalnya jauh? Atau mereka termasuk orang-orang yang sibuk, jadi gak ada waktu berkunjung ke sini?


***


"Mira, ini baju buat kamu. Oleh-oleh dari Bali." Pak Andre menyerahkan sebuah baju yang masih dibungkus plastik. "Bi Ani dan Mang Ujang sudah saya kasih."


Aku menerima baju itu. "Terima kasih, Pak."


"Saya pilih kaos semua. Biar adil dan ... tidak terlalu lama saat membeli oleh-oleh." Pak Andre tersenyum.


"Soalnya, kalau kelamaan suka khilaf, ya, Pak. Uangnya pada banyak yang keluar." Aku tertawa kecil.


"Bisa saja kamu. Oh, ya, itu ada pie susu, pia legong, dan kacang disco. Itu juga oleh-oleh khas Bali yang saya beli. Kamu tinggal makan saja."


Aku mengangguk. Pak Andre pun kembali ke lantai dua. Mungkin, mau istirahat karena capek sudah bekerja.


Kubuka plastik yang membungkusi kaos yang dikasih Pak Andre. Kaos pendek hitam dengan tulisan 'BALI' di depannya. Bahan dari kaosnya bagus, sepertinya adem kalau dipakai.


Sebenarnya, aku tau ada oleh-oleh makanan. Ada di meja makan. Hanya saja, Pak Andre belum memberi izin untuk aku memakannya secara langsung. Meskipun, sama Bi Ani suruh dimakan dan katanya udah diizinin sama Pak Andre.


***


Terdengar suara bel setelah aku menyuapi Deril. Siapa yang bertamu di sore hari? Pak Andre yang baru saja turun dari lantai dua, menyuruhku membuka pintu.


Kukangkahkan kaki menuju pintu di ruang tamu, lalu membukanya. Aku melebarkan mata, merasa tak percaya dengan keberadaan orang yang kini berdiri di depanku.


Kukucek mata, siapa tau ini hanyalah salah lihat. Lalu mengedipkan berkali-kali. Lelaki menyebalkan itu memutar mata.


"Siapa, Mira?" tanya Pak Andre dari dalam.


"Cowok nyebelin, Pak." Aku membalikkan badan. Berniat pergi menuju ruang keluarga. Bukan maksudku ingin mengabaikan, hanya saja detak jantung lebih cepat dari sebelumnya.


"Suruh ke ruang keluarga saja!" Perintah Pak Andre.


"Masuk!"


"Cewek sarap!" ejek Rian tepat saat berada sejajar denganku. Lalu melangkah meninggalkan ruang tamu.


"Iihhh, dasar cowok nyebelin!" Aku mengerucutkan bibir. Kembali membalikkan badan, lalu menutup pintu.


Mau apa Rian ke sini? Apakah mau kerja lagi? Jadi, sopir pribadinya Deril gitu? Kan, nanti diantar jemput sama dia.


Namun, sepertinya gak mungkin. Jangan-jangan ... dia mau bertemu denganku? Ah, halu!


Aku pun menuju ruang keluarga. Duduk berhadapan dengan Rian. Lelaki menyebalkan itu sungguh membuatku penasaran. Apa tujuannya bertandang ke mari?


Deril mendekati Rian. Dipeluk dan diciumnya Deril oleh Rian.


"Mas Ian, kenapa balu ke sini lagi? Gak kangen sama Eyil?"


"Kangeenn banget malah. Tapi, baru bisa ke sini." Rian tersenyum.


Sebegitu dekatkah mereka? Hingga Deril tampak senang karena bisa bertemu lagi dengan Rian.


"Mas Ian jangan pelgi lagi, ya! Eyil gak bakal nakal, deh!"


Rian dan Pak Andre tersenyum. Ah, aku pun ingin Rian tetap di sini. Agar rinduku untuknya dapat terobati.


Bi Ani menyuguhkan dua cangkir teh. Yang satu diletakkan di depan Rian, sedangkan yang satunya di depan Pak Andre.


"Makasih, ya, Bi Ani." Rian tersenyum, dibalas oleh Bi Ani.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Bi Ani yang berdiri di dekat sofa yang diduduki oleh Rian.


"Alhamdulillah baik, Bi. Bibi gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik juga. Ya, sudah. Bibi mau ke dapur dulu, ya. Mau siap-siap juga, sebentar lagi pulang."


Rian mengiyakan. Bi Ani pun pergi menuju dapur.


"Saya ke atas dulu, ya. Nanti ke sini lagi," ucap Pak Andre. Lalu menuju lantai dua setelah aku dan Rian mengiyakan.


"Mas Ian, Eyil udah libulan ke Bali. Coba Mas Ian ikut," ucap Deril yang masih dalam pelukan Rian.


"Oh, ya? Pasti liburannya menyenangkan," tebak Rian, lalu mencium pipi Deril.


"Iya, Mas. Eyil ke sana sama Papa dan Uncle Wila."


"Wila?" Rian mengangkat alis saat menatap Deril.  "Atau Wira?"


"Uncle Wira, ya?"


Deril mengangguk cepat. Oh, jadi Wira. Ya, ampuunn ... aku kira Wila. Padahal, harusnya aku ngerti kalau Deril belum bisa nyebut 'R'.


Pak Andre turun. Membawa sebuah bingkisan, lalu menyerahkannya ke Rian.


"Sudah ambil saja!" suruh Pak Andre saat Rian seperti enggan untuk menerima. "Bi Ani, Mang Ujang, dan Mira juga dikasih."


Apakah itu berisi oleh-oleh dari Bali? Sepertinya, sih, iya.


Rian pun menerima bingkisan itu. "Terima kasih, ya, Pak. Padahal, saya sudah gak kerja di sini lagi. Tapi--"


"Tapi kamu pernah bekerja di sini. Bahkan, Deril saja suka sama kamu." Pak Andre tersenyum, lalu duduk. Rian tampak canggung.


"Diminum tehnya," kata Pak Andre. Rian mengangguk.


"Mas Ian, tau gak?"


Rian menggeleng. "Tau apa?"


"Eyil udah bisa ngegambal, loh!"


"Ngegambar apa?"


"Pantai. Kalo gak pelcaya, tanya Mbak Mila aja." Deril menunjukku. Rian menatapku. Ah, tatapannya membuat jantungku berdebar tak menentu.


"Mas Ian percaya, kok!" Rian membelai kepala Deril.


Deril mengajak Rian bermain. Bermain mobil-mobilan baru yang dibeli waktu di Bali. Pak Andre pergi ke lantai atas.


Deril tampak senang bermain dengan Rian. Apakah karena sesama laki-laki? Atau karena mereka sudah kenal lebih lama?


Melihat sikap Rian kepada Deril, seperti sosok kebapakannya muncul. Sepertinya, Rian sudah cocok menjadi seorang bapak untuk anak-anakku. Eaa ... halu!


Setelah bermain dengan Deril dan sholat isya, Rian pamit pulang ke Pak Andre. Hanya saja, Deril melarangnya.


"Nanti kapan-kapan Mas Ian main lagi. Sekarang harus pulang dulu, soalnya udah malam." Kedua tangan Rian memegang bahu Deril.


Deril mengerucutkan bibir. "Kenapa harus pulang? Kan, Mas Ian dulu kelja di sini."


"Sekarang udah enggak."


"Kenapa? Mas Ian gak senang kelja di sini?"


"Seneng banget malah. Tapi, Mas Ian harus kerja di tempat lain. Nanti, kapan-kapan main ke sini lagi." Dibelainya kepala Deril oleh Rian.


Deril masih tampak sedih. Namun, Pak Andre meyakinkan dia kalau Rian nanti ke sini lagi.


Rian pun melangkah keluar, diikuti olehku, Pak Andre, dan Deril. Namun, saat Rian baru mau menaiki motor, hujan pun turun.


Rian membuka jok motor. Seperti mencari sesuatu. Kemudian dia berdecak.


"Tidak bawa jas hujan?" tanya Pak Andre.


Rian menggeleng. Hujan bertambah deras disertai petir.


"Mas Ian bobo di sini aja," usul Deril.


"Bagaimana kalau nunggu hujan reda dulu. Nanti baru pulang," usul Pak Andre.


Rian mengangguk. Lalu kami kembali masuk. Kulihat Rian mengambil ponsel di jaket hitamnya. Seperti mengetikkan sesuatu. Mungkin, mau mengirim pesan ke keluarganya?


Kami menunggu di ruang keluarga. Pak Andre pergi ke lantai atas bersama Deril. Karena tampaknya Deril sudah mengantuk.


Mang Ujang sudah masuk ke kamarnya. Mungkin, sudah tidur. Ya, hujan deras seperti saat ini memang enaknya tidur.


"Lu kalo mau tidur, tidur aja." Rian menatapku.


'Bagaimana bisa aku tidur, di saat rinduku padamu saja belum juga terobati. Bisakah kita berbincang dulu, meski hanya sekejap?'


"Gue belum ngantuk, tapi ... laper."


"Ya, makan."

__ADS_1


"Lo gak laper?"


Rian tak menjawab. Menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.


Coba bersikap baik ama die, ngasih perhatian, jangan mancing keributan. Perkataan Dini saat di kedai bakso terlintas di benakku.


"Makan, yuk!"


"Gak usah."


Mungkin, Rian ngerasa gak enak sama Pak Andre kalau harus makan di sini. Karena dia sudah gak kerja lagi jadi sopirnya Pak Andre.


Bagaimana kalau dia memang sedang lapar? Rian biasanya makan malam.


Aku menuju lantai atas. Pergi ke kamar Deril. Kulihat Pak Andre sedang membacakan dongeng.


"Maaf, Pak. Aku mau minta izin."


Pak Andre mengalihkan pandangan kepadaku. "Izin untuk apa?"


"Kalau Rian makan malam di sini boleh? Kasihan khawatir dia lagi laper, Pak. Biasanya, dia suka makan malam."


"Rian yang minta izin untuk makan di sini atau ...."


"Aku, Pak. Rian, sih, nolak diajak makan. Mungkin, malu, Pak."


Pak Andre tersenyum. "Ajak saja. Kasih tau Rian, jangan malu!"


Aku mengangguk, lalu pergi dari kamar Deril.


Rian duduk menyender. Matanya menatap ke arah jendela.


"Ayo, makan!" Aku menarik tangan kanannya. "Kata Pak Andre 'Jangan malu'. Jadi, ayo isi perut lo."


Rian tetap menolak. Bahkan, mencoba melepaskan pegangan dari tanganku. "Gak usah. Lo aja sana!"


"Gue kasih tau Pak Andre, nih! Atau gue bawain makanannya ke sini?"


"Lu kenapa, sih?" Rian menatapku tampak heran. "Maksa-maksa gitu."


"Nanti kalo lo sakit gimana? Lo biasa makan malam, 'kan? Jadi, jangan buat perut lo kelaperan."


"Iya, makan saja. Jangan malu," kata Pak Andre yang berada di tangga seraya tersenyum.


"Gak usah, Pak."


"Jangan telat makan. Nanti sakit, gimana?"


Riam terdiam. "Baik, Pak."


Aku menarik tangan kanannya dan menuju dapur.


"Lu apa-apaan, sih, pake narik tangan gua segala?"


Aku melepaskan tangannya. Tersenyum, lalu mengambil dua piring sekaligus nasinya.


Meletakan satu piring di tempat biasa Rian makan, dan satunya di tempat yang biasa aku makan.


"Mau sama lauk apa? Gulai ikan, tumis buncis campur bakso, atau udang cabe ijo?"


Rian masih berdiri dengan tatapan yang tampak tak percaya dengan sikap baikku ini.


"Lu waras, 'kan?"


"Banget."


Rian duduk di kursi yang biasa dia duduki. Mengambil sendiri lauk yang sudah terhidang di meja.


"Gak usah sok baik!" Rian pun memasukkan nasi beserta lauk ke mulutnya.


"Rian, mungkin selama ini gue gak baik sama lo--"


"Emang!"


Aku pun duduk. Berhadapan dengan lelaki yang telah mengisi hati. Meskipun, dia menyebalkan.


"Tapi, gimana kalo kita baikan?"


Rian berhenti mengunyah. Lagi-lagi, dia tampak heran saat melihatku.


"Oke, gue sadar pernah salah sama lo. Gue mau minta maaf." Aku mengulurkan tangan kanan ke hadapannya.


"Lu gak bercanda, 'kan?"


Aku menggeleng cepat. "Serius!"


Rian tampak ragu. Ya, dapat kumaklumi. Mungkin, dia masih gak percaya dengan apa yang kulakukan.


"Maaf, ya. Lo mau maafin atau enggak, ya, terserah. Tapi, kalo gak mau maafin, berarti lo jahat."


Rian memutar mata. Diulurkan tangan kanannya, dan kami saling berjabat tangan.


"Jangan ngeselin lagi lu!"


Aku tersenyum. Lega. Kalau Rian dan aku baikan, apakah jalanku menuju hatinya akan lebih mudah?


Aku pun mulai makan. Aku merasa kebahagiaan di dalam hati.


Duhai waktu, dapatkah kau berjalan begitu lambat? Aku ingin kebersamaan ini terjadi lebih lama.


"Hmm ... kalo boleh tau, lo selama ini benci gak, sih, sama gue?"


"Kesel aja. Sikap lu yang suka ngeselin."


"Emang, lo sukanya sama cewek yang sikapnya gimana?"


"Yang gak ngeselinlah."


Jadi, aku harus baik sama Rian? Jangan cari gara-gara sama dia. Biar dia gak kesel sama aku.


"Hmm ... kita temenan, ya? Gue bakal berusaha agar gak bikin lo kesel."


"Terserah lu aja."


Setelah makan malam dan mencuci peralatan makan, kami menuju ruang keluarga lagi. Pak Andre sedang duduk seraya membaca sebuah buku.


"Pak, sepertinya saya mau pulang aja."


"Tidak menginap saja? Sudah malam. Nanti kalau ada apa-apa, gimana?"


"Gak usah, Pak. Nanti yang ada malah merepotkan."


"Kamu ini, santai saja kalau sama saya. Kamar tamu kosong. Tidur di sana saja, ya?"


"Iya, nanti lo ada apa-apa di jalan. Mending, nginep aja dulu."


Hujan masih turun. Aku khawatir kalau Rian memaksakan pulang, tanpa pakai jas hujan di saat malam seperti ini. Kalau ada apa-apa di jalan, gimana?


"Sudah kamu menginap saja, ya!" suruh Pak Andre.


"Terima kasih, ya, Pak. Malah jadi merepotkan gini."


"Lagian, saya yang nyuruh kamu ke sini. Karena Deril juga yang ingin bertemu sama kamu."


"Sekali lagi terima kasih, Pak."


"Saya mau ke kamar dulu. Sudah malam. Kalian silakan tidur saja."


Pak Andre pun menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kini, hanya ada aku dan Rian.


"Lu gak tidur?"


"Emangnya, lo mau tidur?"


Rian mengangguk. "Gue ke kamar dulu, ya."


Yaahh ... kok, mau tidur, sih? Aku, kan, masih ingin mengobrol sama Rian. Namun, aku gak boleh memaksa.


Ingat, Mira, jangan ngeselin! Siapa tau nanti Rian jadi suka.


"Selamat tidur," ucapku.


Rian mengangguk, lalu berjalan menuju kamar tamu.


Semoga kamu mimpi indah, ya. Mimpi nikah sama aku, misalnya.

__ADS_1


***


Gimana sama ceritanya? Jangan lupa like, vote, dan kasih bintang lima, ya. Tinggalkan komentar juga. Makasih.


__ADS_2