
Semenjak aku dikatain jelek sama Rian, aku mogok bicara sama dia. Tak peduli dikatain budek juga. Pokoknya, aku ngambek.
"Ya, elah ... dikatain jelek aja ngambek," sindir Rian saat aku mau menuju kamar Deril.
Kenapa, sih, Bi Ani belum juga bekerja kembali? Sebal harus ketemu Rian mulu. Memangnya, anaknya Bi Ani sakit apa, sih?
"Heh, lagi sariawan, ya? Atau ... sakit tenggorokan?" ejek Rian.
Aku memutar bola mata, lalu menaiki anak-anak tangga. Kakiku sudah mendingan, tidak terlalu sakit. Berkat diurut sama lelaki tampan itu, eh, bukan. Lelaki menyebalkan itu, maksudku.
"Pagi, Deril," sapaku saat masuk ke kamar Deril.
Anak lelaki itu menggeliat, lalu mengucek matanya.
"Mbak, Eyil pingin lenang."
Mataku melebar. Ini anak, kenapa bangun tidur minta renang?
"Tumben, bangun tidur pingin renang?"
"Tadi, Eyil mimpi lenang, tapi kolam lenangnya ada pelosotannya. Eyil pingin ke sana," pintanya.
"Nanti, Deril bilang sama papa, ya, kalau Deril pingin renang di kolam yang ada perosotannya."
Deril mengangguk. Lalu, kuajak dia ke kamar mandi.
Setelah selesai memandikan dan memakaikan Deril baju, dan sudah rapi, aku mengajaknya sarapan.
Kulihat, Rian sedang memasak. Harum, masakannya memang selalu menggoda. Tapi, aku tetap jaim.
"Mas Ian, masak apa?" tanya Deril mendekati Rian.
"Masak semur ayam." Rian tersenyum kepada Deril.
Ini orang, kalau ke orang lain ramah, tapi ke aku bikin sebel mulu. Emangnya, aku tidak layak buat dibaikin sama Rian? Iya, da aku mah cuma remahan ketombe, yang kehadirannya cuma mengganggu dan tidak diharapkan.
"Semur ayamnya sudah matang," ucap Rian saat meletakkan semur ayam di piring yang agak besar.
Aku hanya duduk, seraya menelan ludah. Perut yang tadi pagi diisi roti tawar berselai kacang, kini berteriak meminta diisi lagi.
"Pingin disuapin sama Mas Ian," pinta Deril.
"Kenapa gak sama Mbak Mira, aja?" Rian mengernyitkan dahi. "Apa ... Mbak Mira orangnya galak?"
Aku melebarkan mata. Kurang ajar ini orang! Ngatain aku orangnya galak. Tapi, emang bener, sih. Kadang-kadang. Tapi, kalau ke Deril mah aku nggak galak, kok.
"Mbak Mila nggak galak," sanggah Deril.
"Terus?" selidik Rian.
"Kasian, nanti Mbak Mila kecapean."
Tawaku tersembur. Tak percaya, anak majikan tampanku, begitu peduli kepadaku.
"Oh ... jadi, kalo Mas Ian, gak apa-apa capek juga?" tanya Rian memicingkan mata.
Deril menggeleng. "Kalena ... Eyil, sayang sama Mas Ian," ungkap Deril disertai tawa kecil.
"Kalo ke Mbak, sayang nggak?" tanyaku penasaran.
Deril mengangguk pelan. "Tapi ... lebih sayang ke Mas Ian."
Tawa Rian pecah. Terlihat begitu puas atas jawaban Deril. Oke, 'fix' mereka menyebalkan!
***
Entah kenapa, kepalaku terasa pusing. Apa karena kecapekan? Setelah membacakan dongeng dan menemani Deril sampai tidur, aku niatkan untuk segera istirahat di kamar. Menuruni anak-anak tangga seraya memijat pelan kepalaku.
__ADS_1
Setelah menuruni anak tangga terakhir, aku hampir jatuh. Namun, tertahan oleh tangan seseorang. Rian.
Aku dibawanya ke sofa di ruang keluarga. Mungkin, Rian tidak berani mengantarku ke kamar. Khawatir nanti disangka yang tidak-tidak.
"Lu kenapa, sih? Sakit?" Rian duduk di sebelahku, namun tetap menjaga jarak.
Udah tau, pake nanya lagi!
"Hmm ...." Aku malas bicara sama dia.
"Makanya, jangan ngambek terus jadi orang! Akhirnya sakit kan lu?"
Aku memijat-mijat kepala. Lalu, berusaha berdiri untuk pergi ke kamar. Namun, agak sulit.
"Emangnya, bisa jalan? Tadi juga mau jatoh," sindir Rian.
Terdengar deru mesin mobil di halaman. Pertanda, Pak Andre pulang dari kantor. Rian segera membuka pintu, menyambut Pak Andre.
Aku kembali duduk di sofa, memijat-mijat kepala karena menjadi lebih pusing dari sebelumnya.
"Mira, kamu kenapa?" tanya Pak Andre yang berdiri dekat tangga.
"Sepertinya, Mira sedang kurang sehat, Pak. Tadi saja, dia hampir jatuh." Rian lebih dulu menjawab.
Pak Andre menghampiriku. "Sudah makan?"
Ya, ampun ... Pak Andre perhatian banget, sih. Aku jadi GR, deh!
"Sudah tadi sore, Pak."
"Kamu makan lagi, ya, terus minum obat. Kalau kamu sakit, nanti siapa yang jagaian Deril?" Pak Andre tersenyum.
"Iya, Pak."
Jangankan menjaga Deril, menjaga rumah tangga kita kelak juga aku bisa.
"Emang enak sakit kepala?" Rian memijat-mijat kepalaku agak keras. Bukan memijat, lebih tepatnya ... menyiksaku.
Gila! Ini orang benar-benar edan!
Aku menepis tangan rian kasar. Mencoba berdiri. "Karena gua orang baik, sini gua bantu," kata Rian.
"Gak usah!"
"Ya, udah. Kalo emang bisa berjalan sendiri ke kamar, silahkan." Rian pun pergi. Entah ke mana. Arahnya, sih, ke kamarnya.
Ih, dasar gak peka! Dasar nyebelin! Aku bete sama kamu, Rian!
Aku berusaha semampuku menuju kamar, berpegangan ke dinding khawatir nanti terjatuh. Meraih gagang pintu kamarku, lalu masuk.
Kepalaku semakin sakit. Mau minum obat pun, malas. Akhirnya, aku memilih merebahkan tubuh, mencoba memejamkan mata yang terasa sulit untuk dipejamkan.
***
Terdengar ketukan pintu, diiringi memanggil namaku. Kepalaku masih sakit, bahkan suhu tubuhku menjadi naik.
Aku berusaha membuka pintu dengan sempoyongan, melihat dua orang yang berdiri di depan pintu kamarku.
"Mira, kamu masih sakit?" tanya Pak Andre.
Aku memegang kepala dengan tangan kanan, dan tangan kiri memegang daun pintu.
"Masih, Pak."
"Kamu segera sarapan dan minum obat, ya!" suruh majikan tampanku.
Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
"Rian, tolong kamu antar Mira ke dapur, ya! Tolong bawakan juga obat untuknya."
Aduh ... perhatian banget, sih. Apakah Pak Andre tidak mau melihatku sakit?
Rian memegang tanganku. Mungkin, mau menuntunku.
"Mira, badan kamu panas," ungkap Rian.
Pak Andre menyentuh keningku. "Apa perlu kamu periksa ke dokter?"
Ke dokter? Males, ah. Nanti kalau disuntik, gimana?
"Tidak usah, Pak. Nanti abis minum obat, pasti mendingan, kok."
"Baiklah. Hari ini, kamu tidak perlu menjaga Deril. Lagian, saya gak ngantor. Kamu istirahat saja."
Kalau akhir pekan memang Pak Andre gak kerja. Sedangkan Rian, kuliah.
"Tapi ... kalau aku gak ngasuh, apa gajiku akan dipotong, Pak?" tanyaku canggung.
Pak Andre tertawa kecil. "Ya, tidak. Kan, kamu sakit. Saya beri keringanan, asal sakitnya gak lama-lama." Lagi, senyumnya membentuk lesung pipi yang membuat Pak Andre terlihat manis dan tampan.
"Makasih, ya, Pak."
Rian menuntunku ke meja makan. Aku duduk di kursi, memakan dua lembar roti tawar berselai kacang.
Rian menyodorkan obat sakit kepala kepadaku.
"Aku gak mau minum obat," ucapku.
"Kenapa?" Rian memicingkan mata. "Oh ... gua tau, lu gak mau minum obat, biar lama sembuhnya, terus bisa leha-leha, iya, 'kan?"
Aku memutar mata. "Gue gak bisa minum obat."
"Hah?"
"Budek!"
"Udah gede, gak bisa minum obat?"
Aku tak menjawab. Malas meladeni ocehannya.
"Gimana kalo ... obatnya dihalusin dulu, ntar dikasih air, terus lu minum?"
"Gak mau. Pait."
"Ya, udah. Gua bilangin ke Pak Andre, kalo lu gak mau minum obat."
Arghhh! Kenapa aku harus ketemu makhluk unfaedah ini, sih?
"Oke, gue mau. Dihalusin aja."
Rian menghaluskan obat berupa tablet di sendok. Memberinya sedikit air, lalu mau menyuapkannya padaku.
"Nih, pegang sendoknya. Emangnya, gua pembokat lu?" Rian menyodorkan sendok berisi obat.
Dasar tukang PHP! Aku maunya disuapin sama kamu, Dodol!
Aku pun mengambil sendok itu, lalu meminum obatnya. Pahit. Sepahit hatiku yang perasaannya selalu tak dipedulikan.
"Gua mau kuliah. Gara-gara lu, gua jadi kesiangan," tuduh Rian.
"Dasar nyebelin!"
"Dasar gak tau terima kasih!" Rian menarik-narik hidungku seraya mengejek, "Pesek, jelek, pesek, jelek, pesek ...."
***
__ADS_1