
Aku membantu Ibu menyiapkan makan malam. Meletakkan hidangan satu per satu di meja makan. Ayam balado campur tempe, tumis kangkung campur tauge, dan kerupuk putih sudah tertata di meja.
Kami makan bersama. Ah, biasanya aku makan malam sendiri di meja makan milik Pak Andre. Kecuali saat ada Rian. Terkadang, kami makan malam bersama.
Namun, hal itu kini menjadi kenangan. Yang entah akan terulang kembali atau tidak.
"Besok aku mau main sama Dini. Mumpung dia besok libur kerja." Aku meletakkan ayam balado campur tempe di piring.
"Main ke mana?" tanya Ibu lalu menyuapkan nasi dan lauknya ke mulut.
"Ke pantai Ancol, Bu. Dini pingin ke situ katanya."
"Yakin sama Kak Dini? Bukan sama cowok yang di pantai itu?" tanya Fajar seraya tertawa.
"Cowok yang mana?" Ibu tampak penasaran saat melihat Fajar.
"Apaan, sih?! Itu cowok bukan siapa-siapa, kok!" Aku melotot ke Fajar.
"Orang mana? Kok, gak pernah dikenalin ke keluarga?" tanya Ibu. Tatapan Ibu membuatku canggung.
Bapak pun melihatku seperti penuh selidik. Ah, suasana ini membuat perasaanku tak karuan.
"Cowok itu Rian. Jadi--"
"Ciyeee ... sama Bang Rian," ledek Fajar disertai gelak tawa. Ingin kulempar tulang ayam ke mulutnya.
"Ih, diam dulu bisa gak?!" Aku melototi Fajar. Emang, adik gak berdab.
"Ayo, lanjutkan!" suruh Ibu setelah minum hingga airnya tersisa setengah gelas.
"Rian itu ... tadinya jadi sopirnya majikanku. Cuma, dia udah keluar." Aku menggigit krupuk putih.
"Kok, Kak Mira tingkahnya aneh gitu pas ketemu Bang Rian? Jangan-jangan Kak Mira--"
"Apaan?!" Aku mengangkat sendok. Siap-siap diarahkan ke Fajar, kalau anak itu ngomong yang aneh-aneh.
"Sudah, sudah!" perintah Ibu melihatku dan Fajar bergantian.
"Jadi, cuma teman kerja? Tidak lebih?" tanya Bapak dengan nada santai dan tanpa melihatku.
Aku menggeleng cepat. "Enggak lebih, kok, Pak. Kami cuma sebatas teman kerja."
Ya, cuma sebatas teman kerja. Itu pun saat Rian masih kerja di rumah Pak Andre.
Andai saja Bapak dan Ibu tau, kalau aku memenyimpan perasaan untuk Rian. Namun, sampai kini perasaanku sepertinya belum terbalas. Mungkin, gak akan pernah terbalas.
Setelah selesai makan malam, aku pun mencuci peralatan makan. Lalu, pergi ke kamar. Merebahkan diri di kasur.
Ibu masuk ke kamarku. Duduk di tepi kasur. Aku pun ikut duduk di sebelah Ibu.
"Ibu masih penasaran sama Rian itu. Benar kalian hanya sebatas teman kerja?" Ibu menatapku seperti penuh selidik.
Duh, kenapa Ibu malah bertanya tentang Rian, sih? Emang gak ada pertanyaan yang lain?
"Iya, Buu .... Bahkan, aku sama dia itu suka gak akur." Aku mengerucutkan bibir.
"Kenapa begitu?" Ibu mengangkat alis. Menatapku tampak serius.
"Udah, lah, gak usah dibahas. Males!" Aku menyenderkan diri di dinding. Karena kasurku tak memakai ranjang.
"Tapi kamu kerjanya gak diganggu sama dia?"
Diganggu banget malah. Rian suka masuk ke pikiranku, hingga membuat aku gak fokus saat bekerja.
Lelaki menyebalkan itu memang sulit untuk pergi dari hati dan pikiranku. Padahal, sudah jelas dia itu gak peka, tapi kenapa aku masih mau menyimpan perasaan untuknya?
Aku menggeleng. "Tenang aja, Bu, aku bekerja baik-baik aja, kok! Lagian, dia udah pindah kerja juga."
Ibu menghela napas. Tak lama kemudian menguap. "Ya, sudah. Ibu mau tidur dulu."
"Oh, iya, Bu." Aku tersenyum lega. Karena Ibu gak melanjutkan lagi pertanyaan tentang Rian.
Ibu berdiri lalu melangkah keluar. Kemudian menutup pintu kamarku.
Sigap, aku mengunci pintu kamar. Lalu mengambil ponsel yang sudah terisi penuh baterainya, lalu mengaktifkan data seluler. Ada dua pesan. Dari Pak Andre dan Dini.
[Insya Allah besok saya pulang ke Jakarta] Pesan dari Pak Andre.
Kalau besok pulangnya, apakah besok juga aku harus kembali ke rumah Pak Andre?
[Pak mungkin aku kembali ke rumah bapak lusa. Soalnya besok mau main sama teman waktu SMA dulu]
Kulihat pesan dari Dini. [Besok ketemuan jam 10 aje ye]
[Jempuutt gue dong kakaak!]
Dini belum aktif lagi, Pak Andre juga belum. Sambil menunggu balasan dari mereka, aku melihat status di WA.
Mataku melebar saat melihat nama 'Rian' membuat status. Kuarahkan jempol tangan kanan untuk meng-klik statusnya.
Sebuah foto deburan ombak yang mengenai karang. Dalam foto itu tertera tulisan.
'Mungkin, hidup itu seperti karang. Sedangkan, ujian seperti ombak. Tak peduli seberapa sering ombak menerpa, karang tetap berdiri kokoh. Tak peduli sebesar apa ujian terus menimpa, hidup harus tetap dijalani. Kuatkan hati. Terus gapai mimpi-mimpi. Rian Ramadhan Wijaya.'
'Rian Ramadhan Wijaya?'
Apakah itu nama lengkapnya? Ya, ampuunn ... selama ini aku baru tau. Eh, tapi itu kata-kata hasil pemikirannya?
Kalau iya, sepertinya dia cocok jadi motivator. Eh, tunggu dulu! Masa iya Rian orang yang nyebelin banget gitu cocok jadi motivator? Gak banget!
[Nama lengkap lo Rian Ramadhan Wijaya?]
Aku menunggu balasan dari lelaki yang terus menempati hatiku. Lelaki yang nyebelinnya kebangetan.
Rian sedang aktif. Namun, kenapa pesanku belum juga dibalas? Gak penting gitu?
[Iya. Kenapa emang?]
[Nanya aja. Gak boleh?]
Kulihat ada pesan masuk dari Dini dan Pak Andre.
[Iya tidak apa-apa] Pesan dari Pak Andre.
[Oke makasih pak Andre yang baik hati dan ganteng]
Yes! Akhirnya besok masih bisa libur kerja. Aku pun membuka pesan dari Dini.
[Semenit goceng yee biaya ongkosnye]
[Temen gak berdab lo]
Pak Andre hanya membaca pesanku. Sedangkan, Rian belum juga membalas lagi. Dibaca juga belum.
[Haha bercanda keles. Iye elu tenang aje]
[Okeee lo ke sini jam setengah sepuluh aja ya?]
[Setengah sepuluh malem?]
[Au ah!]
__ADS_1
Kulihat pesanku tak kunjung dibuka sama Rian. Padahal dia sedang aktif. Gini, nih, nasib jadi orang yang gak penting buat si dia. Jangankan dibales pesan dariku, dibuka aja enggak.
Aku pun membuat status di WA. Berharap dapat dibaca sama lelaki menyebalkan itu.
'Ketika yang dianggap penting mengabaikan begitu saja. Seolah tak ada ruang sedikit pun di hatinya untukku.'
Kenapa aku jadi suka bikin kata-kata, ya? Apakah ketika jatuh cinta atau patah hati lebih mudah menuangkan apa yang dirasakan lewat tulisan? Di saat sulit untuk diungkapkan secara lisan.
Kulihat lagi pesan terakhir yang dikirim untuk Rian. Sudah ceklis biru. Namun, gak dibalas.
Mungkin aku memang gak penting baginya. Bodohnya aku yang masih mau menunggu. Meskipun, entah kapan perasaanku akan dibalas atau mungkin memang tak kan dibalas.
Aku mulai mengantuk. Menunggu balasan pesan dari Rian juga percuma. Mending tidur aja!
***
Aku membantu Bapak menyiapkan bahan-bahan es campur. Kemudian, meletakkan bahan-bahan yang sudah siap di gerobak.
Bapak biasa jualan di dekat pangkalan angkot. Jaraknya gak jauh dari sini.
Setelah beres, aku segera mandi. Agar nanti saat Dini ke sini, aku sudah siap.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku pun mengirim pesan ke Dini di WA.
[Jangan lupa jemput gue yaa]
Dini sedang gak aktif. Mungkin, lagi di jalan menuju sini?
Kulihat status, tapi gak ada statusnya Rian. Pingin buat status, ngodein Rian lagi. Namun, percuma juga sepertinya. Yang dikodein gak peka mulu.
Kudengar suara klakson motor di depan kontrakan. Segera aku keluar. Dini melepaskan helem lalu tersenyum saat aku berdiri di depan pintu.
"Ayo, masuk dulu," ajakku saat Dini turun dari motor.
Dini pun kupersilakan duduk. Saat ditawari minum, dia menolak.
"Bu, aku pamit pergi dulu, ya. Itu Dini udah ke sini."
Ibu yang sedang menjemur pakaian, menemui Dini.
"Dini, ya?" Ibu tersenyum kepada Dini yang sedang bermain ponsel berwarna putih.
Dini mengangguk. Lalu mencium punggung tangan kanan Ibu.
Ibu dan Dini saling bertanya kabar. Aku yang sudah siap untuk pergi pun kembali meminta izin ke Ibu.
Mencium punggung tangan kanan Ibu dan disusul sama Dini.
"Hati-hati, ya, jangan ngebut!" perintah Ibu saat aku dan Dini sudah menaiki motor dan mengenakan helem.
"Iye, Bi," jawab Dini. Lalu melajukan motor matic putihnya.
Rencananya kami akan pergi ke pantai Ancol. Sebenarnya, aku ingin ke tempat yang lain. Namun, Dini ingin merasakan suasana pantai. Mungkin, merasa iri karena aku sebelumnya berlibur ke sana. Ehem.
Jalanan tetap macet. Cuacanya agak cerah. Semoga saja gak hujan.
Sesampainya di tempat pembayaran tiket, aku langsung membayarnya. Tadinya, Dini yang akan membayar, tapi aku merasa gak enak. Karena sudah dijemput dan nebeng ke motornya.
Motor pun diparkirkan. Kami langsung menuju jembatan pantai Ancol. Dini ingin kami berfoto-foto di sana. Ya, tempatnya memang bagus untuk berfoto.
"Gue dulu yee fotoin," pinta Dini seraya menyerahkan ponselnya.
Aku mengambil ponsel putih itu. Menghadapkan kamera ke arah Dini yang sudah siap difoto.
Berdiri membelakangi laut seraya tersenyum menghadap kamera.
"Lagiii .... Nanti kite foto bareng abis ini." Dini merapikan rambutnya yang tergerai sepunggung dan tertiup angin.
Kami pun berfoto berdua. Menggunakan ponselnya Dini. Kami tersenyum dengan memperlihatkan gigi. Kemudian foto tanpa ekspresi, dilanjut gaya foto lainnya.
"Gue dong fotoin sendiri." Aku menyerahkan ponselku ke Dini.
"Oke, Nona Gi--la." Dini tertawa kecil. Lalu mengambil ponsel yang kuserahkan.
Aku berdiri membelakangi kamera, lalu difoto. Semilir angin terus membelai. Namun, langit mulai menggelap.
Kembali berpose menghadap kamera. Pose meloncat dengan kedua tangan ke atas dan tertawa. Difoto saat kakiku belum menginjak jembatan.
Setelah beberapa kali berfoto yang mana aku dan Dini terus bergantian, kami pun memilih segera pergi sebelum hujan turun.
Saat kami mulai pergi dari pantai Ancol, terdengar suara adzan dzuhur. Dini menghentikan motornya di depan salah satu masjid.
"Sholat dulu, ye," kata Dini setelah membuka helemnya.
"Gue baru aja halangan kemarin sore. Paling gue nunggu di teras, ya. Sekalian mau ke toilet juga."
Dini mengangguk. Lalu kami pun menuju toilet.
Setelah keluar dari toilet, aku menunggu Dini di teras. Memainkan ponsel. Melihat-lihat foto saat di jembatan Ancol. Namun, untuk foto bersama Dini belum dikirim.
Dini pun keluar dari Masjid. Lalu memakai sepatu sneakers putih.
Langit masih mendung. Semoga gak hujan. Aku dan Dini segera pergi. Namun, baru beberapa menit turun gerimis. Motor terus melaju. Yang tadinya hanya gerimis, kini menjadi deras.
Dini pun menghentikan motornya. Tepat di depan kedai bakso.
"Kite ngebakso dulu, ye. Deres, nih, hujan." Dini membuka helem diikuti olehku.
Kami segera masuk ke kedai dan memesan dua porsi bakso dan dua gelas teh manis hangat. Duduk saling berhadapan.
"Cuma bentar kite di pantainye." Dini merapikan rambutnya.
"Musim hujan, sih." Aku mengambil ponsel di tas selempang hitam. "Minta foto kita yang berdua itu dong!"
"Oke!" Dini mengambil ponselnya di tas selempang berwarna biru tua.
"Gue kirim di WA aje, ye?" Dini melihatku dengan kedua alis terangkat. Aku mengangguk.
Dua porsi bakso dan dua gelas teh manis hangat terhidang di depan kami. Suasana di kedai cukup ramai, karena banyak yang berdatangan. Mungkin, orang lain pun ikut berteduh sekalian mengisi perut.
"Elu cek WA, ye. Udeh dikirim."
"Makasiiih. Nanti ajalah, makan dulu."
Kutuangkan kecap, saus, dan sambal di mangkuk. Sedangkan, Dini hanya menuangkan sambal saja.
Saat pandanganku menuju luar kedai, hujan masih turun amat deras. Ingatanku menuju saat di mana aku dan Rian makan bakso di suatu kedai setelah pergi ke mini market. Hanya saja, ada pengganggu waktu itu.
"Btw, elu masih jomblo?" Dini bertanya seraya memotong bakso dengan sendok.
"Ya, gitu, lah!" Aku melihat Dini. "Lo gimana?"
"Jomblo juga. Abis putus bulan lalu. Selingkuh ama temen kerja gue." Dini mengerucutkan bibir. Mungkin, masih ada rasa sakit atau kesal karena tingkah mantannya itu.
"Bagus. Ngapain kang selingkuh gitu dipertahanin." Aku menyuapkan bakso. Mantap, Gaees! Pas hujan gini makan bakso minumnya teh manis hangat. Gak usah ngiler, ya!
"Eh, tapi ... kok, bisa selingkuh sama teman kerja lo? Terus, lo tau dari mana?"
"Mungkin, karena die pernah antar-jemput gue. Terus, ketemu ama itu cewek. Masalah gue tau dari mane, waktu itu gue abis dari apotek lewat sebuah kafe. Nah, gue perhatiin dua orang itu, kan, duduknye deket dinding kaca." Dini meminum teh manis hangat.
"Terus gimana?" Aku menatapnya serius.
__ADS_1
"Gue masuk, dong. Nah, beneran mereka lagi pegangan tangan sambil manggil 'sayang', ye, udeh gue labrak mereka." Raut wajah dini tampak kesal.
Apa? Ngelabrak pacar sama selingkuhannya di sebuah kafe? Aku tau Dini kalau marah, wah, udah kayak singa. Nyeremin.
"Lo ngelabraknya gimana?"
"Gue tanye ade hubungan ape mereka? Eh, si Yovie gelagapan gitu. Ye, udeh si Tyas ngaku mereka pacaran, mane die ngerasa lebih baik dari gue. Karena gue gak terima, gue siram pake air minum mereka. Dua-duanye! Gue katain si Yovie cowok kagak setia dan tukang selingkuh, sedangkan si Tyas gue katain gak tau malu ngerebut pacar orang." Dini menelan saliva. "Gue juga saranin ke orang-orang yang di kafe, buat hati-hati ama dua orang itu."
"Si Yovie sama selingkuhannya ngelawan?" Aku kembali memakan bakso. Begitu pun Dini, memakan bakso, lalu menelannya.
"Abis itu gue pergilah. Meskipun, gue tau si Tyas kek gak terima gitu. Daripada entar ribut di kafe."
Kalau misalkan mereka ribut, aku kasian nanti ke Tyas sama Yovie. Mana Dini pernah ikut latihan pencak silat waktu SMA. Bisa-bisa mereka di ....
"Kalaupun mereka ngajak barantem, gue bakal siap ngelawan!"
Aku langsung tesedak. Dini menyerahkan teh manis hangat kepadaku.
Setelah aku merasa baik-baik aja, aku pun bertanya, "Sekarang kalau kalian ketemu apalagi lo kerja di tempat yang sama dengan Tyas, sikap lo gimana?"
Dini menghela napas. "Biasa aje. Gue udeh gak mau berurusan ama dua orang itu."
Aku membuang napas lega. "Emang, sekarang belum ada yang dekatin lo?"
"Ade, sih, tapi gue lagi males mau mulai hubungan lagi."
Aku mengangguk-angguk. Kembali menyuapkan bakso. Hmm ... mantap, Gaeess!
"Hmm ... elu sendiri bikin status di WA itu maksudnye apaan?" Dini menatapku tampak heran. Kemudian menyeruput teh manis.
"Jadi, gue itu kerja jadi pengasuh." Aku meminum teh manis hangat. "Ada cowok yang kerja jadi sopir, tapi sekarang udah keluar."
"Kenape keluar? Pasti gak betah gara-gara ade elu."
"Kan, dia kerja sambil kuliah. Nah, karena udah wisuda dan dapat pekerjaan yang baru, dia keluar, deh."
"Cowok itu tau kalo elu demen ama die?"
Aku mengangkat bahu. "Enggak kali. Soalnya, nyebelin mulu. Gak peka kayaknya."
"Elu harus buktiin dong kalo demen ama die. Jangan bikin die kesel mulu."
"Kok, lo tau?" Aku menyipitkan mata.
"Sikap elu, kan, suka ngeselin." Dini tertawa kecil, lalu megelap sekitar mulutnya menggunakan tisu.
"Ya, terus gue harus gimana?"
"Coba bersikap baik ama die, ngasih perhatian, jangan mancing keributan."
"Kalau dia tetep cuek dan nyebelin?"
"Sampe elu tau kalau di hatinya ade cewek laen dan die lebih milih cewek laen daripada elu. Di situ elu harus sadar diri."
Gitu, ya? Kalau misalkan di hatinya sudah ada perempuan lain, gimana? Bisa aja, 'kan? Soalnya, Rian suka nyebelin mulu. Cuek lagi.
"Habisin, tuh, bakso ama teh manisnye. Karena buat berjuang pun butuh tenaga." Dini tertawa kecil. Baksonya udah habis. Sedangkan, punyaku tinggal sedikit.
Aku memesan tiga bungkus bakso dengan kuah terpisah. Untuk keluarga. Begitu pun Dini, memesan dua bungkus.
Hujan pun mulai reda. Aku dan Dini bergegas pergi dari kedai. Saat aku mau memakai helem, ponselku berdering.
Kuucap salam setelah menerima telepon dari Ibu.
"Di mana sekarang?" tanya Ibu setelah menjawab salam.
"Ini mau pulang. Tadi hujan, jadi berteduh dulu sambil ngebakso."
"Ya, sudah. Hati-hati, ya."
Aku pun mengiyakan. Telepon pun ditutup setelah aku menjawab salam.
Motor melaju membelah jalanan. Ah, entah kenapa aku jadi teringat saat waktu itu. Di mana setelah memakan bakso pulang bersama Rian. Namun, harus mengantarkan Mona terlebih dahulu.
Sesampainya di depan kediaman keluargaku, Dini langsung pamit pulang. Aku pun memberikan uang lima puluh ribu, tapi ditolaknya.
Aku, kan, ngerasa gak enak soalnya nebeng. Itung-itung buat isi bensin. Namun, Dini tetap gak mau terima.
"Udeh lo kasih ke adek lo aje." Dini tersenyum lalu memutar balik motornya. Dini pun pergi setelah mengucapkan salam.
Aku masuk ke rumah. Terlihat Fajar yang sedang menonton TV segera bangkit saat melihatku membawa sesuatu di dalam plastik bening.
"Jajan apa? Minta, dong!" Fajar mendekat. Kuserahkan tiga bungkus bakso itu kepadanya.
"Semuanya buat aku, Kak?"
"Bagi tiga itu sama Ibu dan Bapak. Lagian, kalau dimakan kamu semua, bakalan abis gitu?"
Fajar tertawa kecil. Lalu menggeleng.
"Punya Ibu dan Bapak kalau gak dimakan sekarang taruh di rice cooker kuahnya, ya."
"Siap!" Fajar membawa tiga bungkus bakso itu menuju dapur.
***
Malamnya, hujan turun lagi. Ingin rasanya beli jajan yang anget-anget gitu. Namun, males mau keluar juga.
Aku jadi teringat, besok harus kembali ke rumah Pak Andre. Kubereskan barang-barang yang akan dibawa ke sana.
Setelah selesai, aku mengambil ponsel. Memesan makanan lewat aplikasi. Daripada keluar hujan, mending pesan terus dianterin. Bener, kan, Gaess?
Saat aku hampir ketiduran, terdengar suara klakson motor. Kemudian, ketukan pintu.
"Permisi." Suara lelaki terdengar dari luar.
Saat aku mau membuka pintu, Bapak sudah terlebih dahulu membukanya.
"Selamat malam, Pak. Saya mengantarkan makanan yang dipesan." Lelaki yang tampak umurnya memasuki kepala tiga itu tersenyum ramah.
Bapak tampak bingung. Aku pun menerima makanan itu, lalu memberikan beberapa lembar uang, dan mengucapkan terima kasih.
Dua porsi martabak manis rasa keju susu dan coklat kacang susu sudah di tanganku.
"Ibu sama Fajar udah tidur, Pak?" tanyaku setelah meletakkan martabak di ruang TV.
"Ibumu sudah. Kalau Fajar, coba lihat di kamarnya." Bapak mengambil sepotong martabak rasa coklat kacang susu.
Aku menuju kamar Fajar. Ternyata sudah tidur. Kubangunkan dia dan memberitahu ada martabak, dia pun membuka matanya.
Fajar mengekor di belakangku dan duduk di depan Bapak. Sedangkan, aku melihat Ibu di kamar. Ibu sudah tidur dan tampak pulas.
"Nanti sisain buat Ibu, ya," pintaku setelah duduk di dekat Fajar, lalu mengambil sepotong martabak rasa keju susu.
"Kenapa belinya gak dari sore, sih? Aku udah tidur baru beli," protes Fajar, lalu memakan martabak rasa keju susu. Bapak tersenyum seraya melihat Fajar.
"Udaahh kamu tinggal makan aja, gak usah protes!" Aku kembali menyuapkan martabak keju susu ke mulut.
Aku memang belum bisa memberikan yang lebih untuk keluarga. Namun, kuharap apa yang kuberi dapat bermanfaat dan membuat keluarga bahagia.
***
__ADS_1
Gimana sama ceritanya? Jangan lupa like, vote, dan rate 5 yaa .... Oh, ya, tinggalkan komentar juga. Makasih.