SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 9


__ADS_3

Tidur kurang lebih dua jam, saat bangun tubuhku mulai berkeringat. Mungkin, efek setelah minum obat. Kepalaku masih terasa agak sakit.


Aku mencoba berjalan menuju dapur. Tadi pagi, hanya sarapan roti tawar. Tapi, apakah Rian sudah menanak nasi dan masak tadi pagi? Kalau belum, gimana nasib perutku?


"Mira," panggil Pak Andre dengan tangan kanan menuntun Deril.


"Iya, Pak?"


"Mbak Mila, sakit, ya?" tanya Deril.


Aku tersenyum disertai anggukan.


"Tadi, saya memesan lauk nasi lewat on-line. Kamu makan, ya," ujar Pak Andre.


"Iya, makasih, ya, Pak."


"Mbak Mila, abis makan, nanti minum obat, ya, bial cepet sembuh," kata Deril tersenyum.


"Oke!" Aku tersenyum, menahan kepala yang masih terasa sakit.


Pak Andre dan Deril pergi dari dapur. Aku mencoba mengambil nasi satu centong, lalu membuka tudung saji. Sup ayam, perkedel kentang, dan kacang teri terhidang di meja makan. Wah, ternyata Pak Andre suka juga, ya, sama makanan seperti ini.


Meski sedang sakit, aku tetap doyan makan. Selesai makan, aku kembali ke kamar. Kembali beristirahat, siapa tahu nanti kepalaku mulai terasa baikan.


Kuraih ponsel di nakas, lalu membuka Instagram untuk menghilangkan jenuh.


Foto sepasang kekasih yang kukenal mereka sejak SMA, berlatar di halaman monas. Keduanya foto berdiri, dengan tangan saling bergandengan. Senyuman merekah di bibir mereka. Ya, pasangan baru. Nampak bahagia. Sedangkan, aku sakit di sini. Sakit kepala, tapi. Memangnya, tidak sakit hati? Sedikit, sih.


Caption di foto itu adalah, 'Monas, berharga untuk Indonesia. Kamu, berharga untukku.' preettt! Dasar alay! Gombalan retjeh!


***


Keesokan harinya, kepalaku sudah terasa ringan. Lagian, tidak betah bila terus-terusan istirahat di kamar. Kucoba menghirup udara pagi di taman samping rumah.


Pak Andre masih muda, tapi sudah punya rumah seluas dan sebagus ini. Mobil punya dua, motor satu. Sebenarnya gaji Pak Andre di kantor berapa, sih? Apa ... Pak Andre punya penghasilan lain, selain bekerja di kantor?


Kalau aku, kapan coba punya rumah segede ini? Punya mobil, penghasilan yang gede, segede hayalanku pagi ini.


"Gua cariin, ternyata ngumpet di sini?" Rian menjewerku.


Entah, kenapa lelaki yang satu ini selalu menjewerku atau menarik hidungku. Apa, itu memang kebiasaanya kepada orang yang disebelinnya?


Aku menghempas tangannya kasar. "Jewer gue, bayar gocap!"


"Hah? Gope?" Rian mendekatkan telinganya kepadaku.


Deg, deg, deg!

__ADS_1


"Dasar budeekkk!" teriakku tepat di hadapan telinganya.


Rian menutup mulutku dengan telapak tangannya. Pandangan kami bertemu. Tatapan tajamnya, menembus jantungku.


Kutepiskan telapak tangannya. "Tangan lo bau! Habis megang terasi, ya?"


"Sembarangan lu! Hidung lu aja udah pesek, bermasalah lagi." Rian menarik hidungku.


"Aww!"


"Jewer bayar gocap, 'kan? Kalo narik hidung gratis, ya?"


"Delapan puluh juta!" Aku berusaha menyingkirkan tangan si lelaki tampan itu, eh bukan. Lelaki calonku itu. Eh, calon apaan? Entahlah. Dasar otak edan!


"Idih, sarap!"


"Sarap itu ... santik, rajin, pintar. Iya, 'kan?"


"Tau, ah! Ngomong sama lu cuma buang-buang waktu." Rian melangkahkan kaki menuju pintu. "Oh, ya, tuh cucian jemur, gue mau mandi."


"Pantesan dari tadi bau terasi!"


Rian menatapku tajam, seperti kesal dengan perkataanku tadi. Aku pun melihat ke arah lain.


"Jalan-jalan ke Bekasi, eh, si Rian bau terasi. Dududu, aye aye!" ucapku.


***


Kutepuk kening menyadarkanku agar tak berlarut-larut dalam kegilaan ini. Biasanya, malam-malam dia suka ke dapur, ini gak ada.


Samar-samar, aku mendengar suara Rian. Sepertinya di taman samping rumah. Lagi ngomong sama siapa dia? Oke, cusss kepoin!


Kubuka pintu, terlihat Rian sedang duduk dan tangan kanannya memegang ponsel.


"Kamu jangan telat makan, ya." Rian tersenyum.


"Nanya-nanya Abang udah makan apa belum, emangnya mau nganterin makanan ke sini?"


"Hmm ... by the way, Abang kangen sama masakan kamu."


Ih, teleponan sama siapa, sih? Kok, kaya akrab banget! Rian gak lagi teleponan sama kekasihnya, 'kan?


"Beneran, ya? Kamu mau nganterin masakan kesukaan Abang?"


"Oke, ditunggu. Hmm ... udah malam, buruan tidur!"


"Jangan lupa baca doa, ya, Sayang."

__ADS_1


Rian terlihat bahagia sesudah teleponan sama orang yang tak kutahu siapa dia.


Sayang? Apa ... Rian sudah memiliki kekasih? Bila benar, pantas saja Rian tak tertarik padaku. Lagi, hatiku retak. Argghh! Aku jeles sejeles-jelesnya.


Kuputuskan pergi ke dapur, mau memasak mie instan. Pikiranku semakin keruh. Aku harus makan.


Kuambil mie instan di kulkas, lalu memotong cabai rawit sepuluh biji.


"Potong cabe rawit, dimasak sama mi, hatiku lagi sakit, sakit karena doi. Aduk ke kanan, aduk ke kiri, la la la la la ...."


"Lu kalo nyanyi suaranya mirip radio rusak. Hahaha!"


Coba tebak siapa yang nyinyir? Pastinya bukan Mak Lambe Dower. Tapi ....


"Masak mie? Gua masakin juga, dong!" pintanya.


Idiiihh ... ogah! Sana minta masakin sama orang yang dipanggil 'sayang' di telepon!


"Pesek, jelek, budek!"


Aku tetap diam. Gak mau meladeni perkataanya. Sebab, aku lagi cemburu, Gaesss! Tau, 'kan, perempuan kalau lagi cemburu antara ngomel-ngomel atau diam seribu bahasa.


Aku menuangkan mie di mangkuk, lalu menuju meja makan. Lupakan dulu rasa cemburu yang menyesakkan kalbu.


Aku tak memperdulikan Rian yang ikut-ikutan masak mie. Lalu, saat dia mau duduk, "Lu makan sambil nangis?"


"Air mana air? Pedes!"


Biasa aku mah kalau makan pedes, suka berurai air mata.


"Kalo gak kuat makan pedes, jangan pake cabe! Dasar O dua N!"


Aku langsung mengambil gelas, menuangkan air dengan cepat.


Glek, glek, glek!


"Apa tadi? O dua N? Maksudnya?" Aku mengangkat alis.


"Oon!"


Aku sempat berpikir sejenak, mencerna hubungan 'O dua N' dan 'Oon'.


"Riaaann!"


"Iya, Telmi," jawabnya santai lalu memakan mie dengan garpu.


"Ihh, kezel, kezel, kezel, dweh!" Aku menghentak-hentakkan kaki dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Jelek, pesek, budek, telmi, oon, alay, sarap, hidup lagi!" ejeknya.


***


__ADS_2