SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 16


__ADS_3

Pagi ini aku bersiap-siap mengantar Deril sekolah. Usianya yang sudah menginjak empat tahun, ya, apa lagi kalau bukan masuk TK.


Aku sudah seperti mamah muda yang siap mengantar putranya sekolah. Ya ... meskipun sebelumnya pernah berharap bisa menjadi mama barunya Deril, tapi hal itu harus aku kubur dalam-dalam, karena hati lebih memilih Rian. Lelaki yang nyebelinnya kebangetan.


Meskipun kutahu, sampai sekarang Rian masih tertutup hatinya untukku. Ah, entahlah terbuat dari apa hatinya itu dan entah ada berapa lusin gembok di hatinya, hingga sulit untuk kubuka.


Sebenarnya, ada satu motor dan mobil yang nganggur di garasi, tapi apalah daya aku tak bisa menyetir motor apa lagi mobil.


Jangankan mobil, bawa motor aja nyungsep ke got. Gimana coba kalau aku bawa mobilnya Pak Andre, terus nyungsep ke empang? Hadeuh ... entah nanti berapa kali purnama aku tak menerima gaji hanya untuk mengganti rugi.


Taksi online yang kupesan pun sudah menunggu di depan gerbang rumah Pak Andre, aku dan Deril segera menaikinya.


"Mbak, nanti Eyil gak mau ditinggal di sekolah," pinta Deril saat taksi mulai melaju.


"Memangnya kenapa?"


"Eyil gak belani."


"Deril gak berani karena baru masuk sekolah, nanti lama-lama pasti jadi berani." Aku tersenyum kepada Deril seraya membelai kepalanya.


Sesampainya di TK, aku mengantar Deril hanya sampai depan kelas. Sudah ramai anak-anak yang lain datang dan diantar oleh mbak-mbak, ya ... mungkin pengasuhnya, kelihatan gitu dari penampilannya.


Lagian Deril sekolah di TK yang uang pangkalnya sampai belasan juta, belum SPP, dan *****-bengek lainnya. Kok, aku tau? Soalnya aku pernah iseng lihat di internet tentang biaya di sekolahnya Deril.


Kalau dipikir-pikir, pengeluaran Pak Andre perbulannya berapa, ya? Buat ngegaji aku, Rian, Bi Ani. Buat biaya sehari-hari, bensin, bayaran sekolahnya Deril, bayar listrik, air, dan lain-lainnya. Duuhhh, kenapa aku jadi mikirin ginian, ya? Itu mah urusannya Pak Andre, yang penting aku kerja yang bener biar dapat duit. Bener apa nggak, Gaesss?


"Mbak, nunggu anak juga?" tanya sesembak yang duduk di sebelahku. Dari logat bicaranya seperti orang Jawa.


Aku mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Mbak. Aku pengasuh. Mbak juga sama?"


"Sama, aku juga, Mbak." Perempuan itu mengulurkan tangannya kemudian berkata, "Namaku Juminten, nama Mbak siapa?"


Aku pun membalas uluran tangannya. "Mira."


Kami pun saling mengobrol. Juminten mudah akrab ternyata. Dari umurnya, mungkin seumuran denganku. Delapan belas plus-plus.


***


Seperti malam-malam biasanya, aku menunggu Rian di meja makan. Menunggu dia yang tak pernah sadar bahwa aku memendam rasa untuknya.


Lelaki idaman yang kutunggu pun memperlihatkan batang hidungnya, melangkah ke mari. Seperti biasa, dia duduk di depanku setelah mengambil nasi di rice cooker.


"Bisa gak, sih, lu gak usah ngeliatin gua mulu? Risih gua," ungkapnya lalu menyuap nasi dengan lauk kentang balado.


Kenapa, sih, Rian selalu tau kalau aku lagi ngeliatin dia, tapi gak pernah tau kalau aku memendam rasa untuknya?


"Mending gue liatin atau gue ...."


Rian menyipitkan mata ke arahku. "Atau apa?"


"Gue nanya sesuatu."


"Nanya apa?"


"Sebenarnya gue itu ... mau nanya kalo lo itu ... mau--"

__ADS_1


"Langsung to the point bisa, gak? Bertele-tele banget lu!"


Kenapa jadi canggung gini, sih? Cuma pingin nanya dia mau gak sama aku? Eh, aduh ... Mira, gengsi dong ngomong gitu sama dia.


"Lo ... mau kapan wisuda?"


Rian mengangkat bahu. Tuh, kan ... dia gak bakal jawab cuma ditanya soal ginian, apa lagi kalau ditanya soal perasaan yang ada aku malu kuadrat setiap ketemu dia.


"Kalo lo udah diwisuda, apakah lo akan berhenti kerja di sini?"


Rian yang akan menyuapkan nasi ke mulut, tiba-tiba berhenti dan meletakkan kembali sesuap nasi itu ke piring.


Rian terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu.  Jawab, Rian, jawab! Kumohon, jangan pergi dari sini ....


Rian menatapku. "Mungkin."


"Maksudnya?"


"Mungkin gua bakal berhenti kerja dari sini."


Deg!


Tenang,  Mira, tenang. Rian hanya mengatakan mungkin, belum tentu dia akan pergi. Namun, bila benar akan pergi, sangupkah hatiku terus memendam rindu setiap waktu?


"Yee, malah bengong," ucap Rian setelah menggetok keningku pakai sendok.


"Gak usah pake sendok juga kali!"


"Lagian napa lu bengong? Tenang aja, lu bakal hidup tenang di sini kalo gua udah berhenti kerja." Rian menyunggingkan senyum. Entah itu senyum mengejek atau senyum bahagia karena akan pergi dari sini.


Aku memalingkan wajah, kemudian mengusap sudut mata yang mulai mengembun.


"Cewek aneh, tadi ngeliatin gua sekarang ngeliatin yang lagi berdiri dekat jendela."


Hah? Apa tadi? Ngelihatin yang lagi berdiri dekat jendela? Siapa?


Aku menatap Rian penuh tanya. "Siapa maksud lo? Gak ada siapa-siapa di sana."


"Ada. Lagi berdiri, tapi kakinya gak napak." Rian mengelapkan tisu di sekitar mulutnya.


"Gak lucu bercandanya." Aku memutar mata.  Apaan coba orang lagi sedih gini, malah bercanda tentang hantu.


Rian menatap ke arah jendela. "Pake baju putih, rambut lurus, mukanya pucat."


Serius, nih, orang nyebelin banget. Ngomongin ada yang bediri dekat jendela, emangnya dia bisa ngeliat makhluk gaib? Hadeuh ....


"Mir, dia mau ke sini, ngeliatin lu mulu."


Kutatap Rian, dia tampak serius. Menatap tajam ke arah jendela. Jangan-jangan ... bener lagi ada hantu?


Jantungku mulai berdebar tak karuan. Perasaan selama aku tinggal di sini, tak pernah ada gangguan aneh. Pasti Rian sedang berbohong.


"Hoax!"


"Matanya hitam semua, dia sekarang ada di samping lu."

__ADS_1


Rian memang tampak serius hingga membuat bulu romaku berdiri. Napasku pun sudah mulai tak beraturan, dengan sigap aku pun mendekati Rian, tepatnya berada di sebelahnya.


"Rian, suruh hantu itu pergi!"


"Gak mau katanya, pingin di sini."


"Gue gak bakal ganggu dia, kok."


"Katanya dia bakal pergi, kalo lu gak ngeselin lagi."


Aku menatap Rian heran. "Hah?"


Rian menatapku lekat-lekat. Membuat debar jantungku semakin tak menentu, karena takut ada hantu dan ditatap oleh Rian. Hening.


Namun, tiba-tiba ....


Rian menyemburkan tawa. Loh, kenapa? Apakah dia kerasukan? Duh, gawat kalau Rian kerasukan, gimana kalau nanti nyerang aku?


"Dasar penakut!" Rian menarik hidungku.


"Jadi, lo tadi ngebohongin gue?" Aku melebarkan mata, sedangkan Rian malah tertawa.


"Dasar pembohong! Lo pikir dibohongi enak? Nggak. Sama kaya mendem perasaan ke seseorang, tapi dianya gak pernah peka." Aku bergegas pergi meninggalkan Rian yang masih tertawa.


Namun, sigap Rian memegang tanganku. "Ngambek? Makanya jadi cewek, tuh, jangan ngeselin."


Sebenarnya aku masih mau di sini bersamanya, tapi tingkah menyebalkannya tadi, membuatku ingin tidur saja. Ngapain lama-lama di sini sama orang yang nyebelinnya kebangetan?


"Jangan keseringan ngambek, ntar darting terus mati muda. Lu, kan, belum laku."


Iya, aku mah belum laku. Soalnya belum ada yang beruntung mendapatkan seorang bidadari  sepertiku. Perempuan yang manis, setia, baik hati, rajin menabung, lucu, imut,  menggemaskan ulala.


"Lo juga belum laku." Aku tak mau kalah. Siapa tau dengan berkata demikian, Rian mau membuka mulut apakah dia sudah memiliki kekasih atau belum.


Lagi, Rian menyemburkan tawa. "Gua belum laku? Asal lu tau, banyak cewek yang mau sama gua, tapi--"


"Tapi apa?" Aku memotong perkataanya, karena sangat penasaran mengenai hal ini.


Rian melepaskan tanganku. "Bukan urusan lu."


"Lo udah punya pacar?"


Rian tak  menjawab, melainkan membawa piring dan gelas ke wastafel, lalu mencucinya.


Aku benar-benar tak sabar ingin mendengar jawabannya, tapi kenapa Rian tak juga menjawab?


"Ciyeee ... udah punya, ya?" tanyaku canggung.


Rian hanya menatapku sekilas, lalu bergegas pergi dari dapur.


"Mau ke mana? Kok, gak dijawab?"


Rian berhenti di ambang pintu dapur tanpa menoleh ke arahku. "Mau tidur. Lu gak perlu tau masalah itu."


Kenapa aku tidak perlu tahu? Kenapa Rian begitu tertutup kepadaku? Apakah aku tidak layak tahu tentangnya?

__ADS_1


***


__ADS_2