SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 14


__ADS_3

"Lu bener-bener gila, ya!" Rian memegang kepalanya. Mungkinkah, dia merasa kesakitan gara-gara dijambak olehku. Halah, bodo amat!


"Salah sendiri, ngatain aku banyak dosa sama lo." Aku mengerucutkan bibir.


Jelas gak terima, ya. Masa aku udah perhatian gini sama Abang Rian, malah dituduh punya banyak dosa sama dia. Iuwww, dasar gak tau terima kasih.


Rian memijat pelipisnya. Wajahnya yang terlihat pucat, membuatku merasa kasihan. Kasihan, deh, lo. Eh, tapi ....


"Rian, maaf," ucapku spontan.


"Mending lu pulang aja sana! Lu cuma bikin sakit gua tambah parah."


Saat aku mau bicara, ponselku berdering. Ada telepon dari Pak Andre.


"Hallo, Pak."


"Mira, bagaimana keadaan Rian? Sudah baikan?"


Aku melihat Rian yang tampak kesal kepadaku.


"Sudah, Pak. Mungkin tapi."


"Mungkin? Maksudnya?"


Gak mungkin aku mengatakan kalau Rian sepertinya sakit kepala lagi gara-gara aku jambak.


"Tolong berikan ponselmu kepada Rian, saya mau bicara."


"Baik, Pak." Aku memberikan ponsel ke Rian.


"Hallo, Pak," ucap Rian pelan.


"Tadinya sudah, cuma gara-gara Mira ...." Rian menatap tajam kepadaku.


Duh, jangan sampai dia bicara yang sebenarnya ke Pak Andre.


"Maaf sebelumnya, Pak. Alangkah lebih baik, Mira di rumah saja mengasuh Deril. Tidak perlu repot-repot ke sini."


Iihhh, gak mau! Pokoknya, aku pingin di sini. Nemenin kamu, Bang.


"Hmm ...."


Rian memberikan ponsel padaku. "Pak Andre mau bicara."


"Iya, Pak?"


"Mira, jaga Rian dengan baik. Jangan buat masalah!" Nada Pak Andre penuh penekanan.


Kayaknya marah, nih. Rian, kenapa kamu pakai ngadu segala? Kaya bocah aja, deh.

__ADS_1


"I-iya, Pak, maaf. Aku cuma bercanda."


"Jaga Rian dengan baik, jangan buat masalah lagi, ya. Saya mau sarapan dulu. Kalian jangan lupa sarapan."


"Iya, Pak. Aku akan jaga Rian dengan baik."


Pak Andre pun menutup telepon.


"Kasian ... ada yang sudah diomelin," celetuk Rian.


Sebisa mungkin aku harus sabar mengahadapi Rian. Meskipun nyebelin, tapi aku sayang sama dia. Yaa ... sebal tapi sayang, gitu.


***


"Kondisinya sudah membaik, hari ini sudah boleh pulang," ujar Pak Dokter setelah memeriksa Rian.


"Alhamdulillah .... Terima kasih, Dok," ucap Rian.


Dokternya masih muda, sepertinya seumuran Pak Andre. Matanya sipit, kulit putih bersih, hidung mancung, bibir tipis merah muda, rambut hitam lurus. Ih, cakep, beeuudd!


Kukucek mata agar tidak jelalatan. Mira, ingat, ya, jaga mata kamu!


Mataku memang suka jelalatan, tapi hatiku tetap untuk Abang Rian Sayang. Hahaydeuh ....


"Maaf, Mbak, kenapa?" tanya Pak Dokter.


"Kenapa?" Aku mengernyit.


Dasar bodoh kamu, Mira. Gak bisa jaga image. Malu-maluin banget!


"Masa, sih, Dok?" tanyaku kikuk.


"Maaf, ya, Dok. Temanku ini agak ...," celetuk Rian seraya memiringkan jari telunjuk di keningnya.


"Apa sudah diperiksa kejiwaannya?" tanya Pak Dokter seraya tersenyum.


"Kenapa harus kejiwaanku, Dok? Kenapa tidak hatiku saja?" Entah ke mana rasa maluku, hingga dengan lancang mengatakan hal sebodoh itu ke Pak Dokter.


"Temanku ini memang suka malu-maluin, Dok. Sekali lagi maaf," ujar Rian.


Pak Dokter tersenyum. Tambah cakep, beeuudd!


"Dok, obat biar sabar menghadapi orang nyebelin apa?" tanyaku.


"Makan yang banyak, biar punya tenaga menghadapi kenyataan," timpal Pak Dokter seraya tersenyum.


"Sekalian minum vitamin sebotol sama air mineral lima galon," imbuh Rian.


Iihhh, nyebelin banget, sih! Aku jadi pingin jejelin kaleng sarden, deh, ke mulut Rian.

__ADS_1


"Jangan pada berantem, nanti malah saling suka," kata Pak Dokter sembari menatapku dan Rian bergantian. "Baik, saya permisi dulu."


"Gak sudi gua suka sama cewek sarap," ungkap Rian saat Pak Dokter telah pergi dari sini.


"Eh, Jangan ngomong gitu, kelesss! Bisa aja, suatu saat lo tergila-gila sama gue."


"Gua ketularan gila, sih, iya."


"Nyebeliinnn!"Aku menghentak-hentakkan kaki.  Entah, Rian sudah berapa kali mengejekku orang gila.


Padahal, ya, aku ini gila gara-gara tergila-gila sama orang gila. Eh, sama Abang Rian Sayang, maksudku.


***


Kulihat Rian menuju dapur. Ah, sepertinya dia butuh sesuatu atau mau makan. Oke, cusss, ikut ke dapur. Kan, Rian baru sembuh, jadi aku akan berusaha ada untuknya. Ah, sa ae, diriku ini.


"Mau makan? Gue ambilin, ya?" tanyaku saat Rian mengambil piring.


"Gak perlu dan gak usah sok perhatian!"


Aku memutar mata, lalu duduk. Gimana caranya naklukin hati ini orang, sih? Cuek mulu, deh. Apakah ... Rian gak punya hati? Jadinya gak peka mulu. Sebel aku, tuh.


"Cuek aja terus, sampe Black Pink release album dangdut koplo," ucapku lirih.


"Apa?" tanya Rian sembari menarik kursi lalu duduk di depanku.


"Au, ah!"


"Dasar cewek gak jelas."


"Dasar cowok gak punya hati." Aku langsung menutup mulut dengan telapak tangan kanan.


Upss, keceplosan.


Rian mengernyit. "Apa maksud lu, ngatain gua gak punya hati?"


"Dih, siapa yang ngatain lo gak punya hati? Salah denger kali."


"Lu pikir gua budek?" Rian mengambil lauk yang terhidang di meja.


"Lagian, buat apa gue ngatain lo gak punya hati?"


"Kasian amat, masih muda tapi udah pikun."


"Hah?"


"Budek!"


"Hah?"

__ADS_1


"Jelek, sarap, ngeselin!"


"Riaaannn!"


__ADS_2