
Sudah tiga hari Bi Ani belum kembali bekerja. Aku dan Rian saling berbagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, meski sudah dibagi, Rian lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah, karena aku harus mengasuh Deril.
Pagi ini, aku mau menyapu di lantai dua. Itung-itung ... caper ke Pak Andre. Biar dikatain rajin, gitu. Siapa tau nanti terbesit di pikiran Pak Andre untuk menjadikanku permaisurinya.
Kutepuk kening, tepat mengenai bruntus yang tumbuh tiga biji di sana, membuyarkan halusinasiku yang lebih tinggi dari pohon kelapa.
Pintu kamar Pak Andre terbuka. Lelaki tegap itu sudah rapi dengan pakaian kantor. Tersenyum, lalu menuruni anak-anak tangga. Aroma parfumnya menyeruak, membuatku ingin segera dipersuntingnya.
Aku menuju balkon, menghirup udara pagi seraya membentangkan kedua tangan dan menutup mata. Udara yang masih sejuk, sesejuk hatiku ketika melihat Pak Andre tersenyum.
Deru mesin mobil Pak Andre terdengar, pertanda beliau akan berangkat ke kantor.
Tak lama kemudian, terdengar suara lelaki menyebalkan itu memanggilku. Aku memutar bola mata. Dasar pengganggu!
Aku segera menuruni anak-anak tangga dengan tergesa-gesa. Rian tak henti-hentinya memanggilku, membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan diapernya Deril.
"Aww!" Aku terjatuh, gaesss.
Kakiku keseleo, mungkin karena tergesa-gesa menuruni anak-anak tangga. Aku pun duduk di anak tangga.
Rian pun menghampiriku yang sedang meringis kesakitan. "Heh, lu malah enak-enakan duduk di sini."
"Eh, mata lo katarak apa gimana, sih? Gue baru aja keseleo, ini kaki sakit banget!"
"Halah ... lu gak usah drama, deh! Buruan cuci piring, mumpung Deril belum bangun."
Aku mencoba berdiri, namun begitu sulit. Kakiku sangat sakit. Bahkan, aku menahan air mata yang hampir jatuh.
"Gua tau, lu males, 'kan?"
"Kalo gue males, gue gak bakal kerja!" bentakku. Kenapa Rian tak percaya denganku? Sudah jelas aku keseleo hingga untuk berdiri pun sulit. Tapi ... sepertinya percuma bicara sama dia.
Rian pergi meninggalkanku. Air mata pun mulai menetes. Sakitnya, melebihi saat aku melihat foto Rangga dan Riana di kafe itu. Memang benar, mendingan sakit hati dari pada sakit kaki.
Kulihat, uluran tangan di depanku. "Lo gak usah so peduli sama gue!"
"Lu mau mewek terus di situ? Ngalangin jalan tau gak?"
"Hwaaa...."
Rian pun pergi lagi. Memang, dia tidak niat untuk membantuku.
Tak lama, Rian datang lagi. Membawa mangkuk kecil. Memasukkan jemarinya ke mangkuk, lalu menyentuh kakiku.
"Eh, lo mau ngapain?" Aku melebarkan mata. "Terus, itu apaan?"
"Minyak."
"Minyak apaan? Minyak jelantah?"
"Minyak bumi."
"Emang, minyak bumi bisa buat ngobatin keseleo?" Aku mengangkat alis. "Terus, lo dapat dari mana?"
"Lu kebanyakan nanya, ya? Mau gua obatin gak?"
"Gue gak percaya sama lo."
Rian menyentuh kakiku, tepatnya di bagian pergelangan kaki. Mengurutnya pelan, tanpa memperdulikan ocehanku. Terkadang, aku merasa sakit saat diurutnya.
Rian. Kulitnya putih bersih. Tatapannya tajam, beralis tebal, hidung bangir, bibir merah muda. Berambut ikal, membuatnya terlihat unik. Dilihat dari dekat, Rian memang ... tampan. Tapi, lucu juga, sih. Tampan tapi unik, tampan tapi lucu, entahlah.
"Jangan liatin gua! Nanti, lu naksir lagi." Tatapan Rian menuju kakiku, namun entah kenapa dia menyadari kalau aku sedang menatapnya.
"Idih, ogah banget gue naksir sama lo. Kaya gak ada cowok lain aja, di dunia ini."
"Gua juga gak sudi ditaksir sama lu." Tatapan kami bertemu. Benar, Rian memang tampan.
Aku langsung mengalihkan pandangan. Kenapa mataku jadi error begini? Masa cowok nyebelin kaya Rian dibilang tampan?
__ADS_1
"Sekarang, lu coba gerakkin pelan kakinya."
Aku mencoba menggerakkan kaki pelan. Sudah tidak terlalu sakit. Ternyata, selain bisa memasak, beres-beres rumah, mengasuh Deril, Rian juga bisa mengurut.
Kutepuk keningku, agar tak memikirkan Rian.
"Lu kenapa?" Rian mengangkat alis. "Kepala lu juga keseleo?"
"Mata gue yang keseleo."
Aku mendengar Deril memanggilku. Namun, Rian dengan sigap menuju kamar Deril.
Ternyata, Rian baik, ya. Meski pun nyebelin. Tuh, kan ... kenapa jadi kepikiran Rian, sih?
***
Aku menemani Deril bermain mobil-mobilan di ruang keluarga. Aku merasa tidak enak kepada Rian, dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Ditambah tadi pagi, dia memandikan Deril yang seharusnya urusan Deril aku yang melakukannya.
Terlihat, Rian sedang menyetrika pakaian. Sesekali, punggung tangannya mengusap peluh di dahinya.
"Mbak, tinggal sebentar dulu, ya," ucapku pelan kepada Deril.
"Jangan lama-lama, ya, Mbak." Aku mengangguk.
Aku mendekati Rian setelah pergi dari dapur. Mengulurkan segelas sirup dingin rasa jeruk kepadanya. Rian memicingkan mata. "Gua gak minta minum."
"Anggap aja ... ini sebagai ucapan terima kasih gue, karena lo udah ngurut kaki gue," kataku agak kikuk.
"Orang kaya lu, tau terima kasih juga?"
"Emang, lo pikir gue berhati batu?"
Rian mengangkat bahu, melanjutkan menyetrika.
"Gue tau lo capek." Aku meletakkan gelas di lantai, lalu pergi menuju Deril dengan berjalan sedikit pincang.
Entah kenapa, rasa peduli itu muncul untuk Rian. Padahal selama ini, aku sangat sebal kepadanya.
***
Aku menatap langit-langit kamar. Kamar yang bercat putih, tak luas namun cukup nyaman. Bukan hanya kasur, di kamarku sudah disediakan lemari pakaian dan nakas.
Kuambil ponsel, lalu membuka Facebook. Klik sebuah nama, di kolom pencarian. Nama siapa? Rian, lah.
Kutepuk kening menyadarkanku yang sudah mulai tak waras. Berderet banyak akun bernama Rian. Nama lengkapnya siapa, sih? Aku cuma tau Rian saja.
Kulihat-lihat siapa tau ada foto profil yang memampang wajah tampan yang menyebalkan itu. Tapi ... tidak ada. Apakah Rian pakai nama samaran di Facebook?
Aduh, Mira! Kamu kenapa, sih, jadi mikirin si Rian? Gak penting tau. Aku mengacak-ngacak rambutku.
Kuputuskan untuk keluar. Mau tidur juga belum ngantuk. Biasanya malam-malam, Rian ada di dapur, tapi malam ini ....
Aku mengedarkan pandangan, mungkin Rian nyempil di keranjang bumbu atau di rak piring.
Apakah dia sedang melukis kutub utara di bantal? Biarkan saja, lah. Mungkin, Rian kelelahan.
Saat aku mau pergi ke kamar, aku melihat pintu di ruang keluarga sedikit terbuka.
Apakah Rian lupa mengunci pintu? Aku pun bergegas meraih gagang pintu, menengok ke luar, dan ada Rian di sana.
Sebenarnya, pintu ruang keluarga itu penghubung dengan taman samping rumah. Lantas, ngapain Rian duduk sendiri di sana?
Aku mendekatinya. Mata Rian melebar saat melihatku.
"Kenapa lo? Kaya lagi liat setan aja."
"Kutu di rambut lu lagi perang, ya?"
"Enak aja, ngomong rambut gue ada kutunya!" Aku pun duduk di samping Rian, meski menjaga jarak.
__ADS_1
"Heh, lu ngapain duduk di sebelah gua?"
"Terus, gue harus duduk di pangkuan lo, gitu?"
Rian memutar bola mata. "Udah sarap, jelek lagi," ejek Rian.
Aku mendorong Rian dari samping. "Lo kalo ngomong bisa gak disaring dulu?"
"Gua ngomong apa adanya. Ngaca sonoh! Rambut acak-acakan, gitu. Cantikan singa betina baru bangun tidur, daripada lu."
"Hellowww! Mata lo aja yang katarak. Gue cantik gini, dibilang jelek!"
"Meski diliat dari lobang jarum pun, lu tetep keliatan jelek!"
Aku mengerucutkan bibir, tidak terima disebut jelek. Padahal, ya, gaesss ... aku itu sebelas-dua belas sama Prilly Latuconsina. Ya, meski dalam dunia halu, sih.
Rian pun bergegas pergi meninggalkanku. "Lo mau ke mana?" tanyaku.
"Tidur. Males gua lama-lama di sini. Nanti, ketularan sarap dan jelek kaya lu," jawab Rian saat tangannya meraih gagang pintu.
Rian itu benar-benar menyebalkan. Bodohnya aku dengan lancang membiarkan Rian mondar-mandir di pikiranku.
Kutatap bulan sabit yang menggantung dan bintang-bintang yang berhamburan di langit ibu kota. Menikmati malam, dengan pikiran yang semakin tak karuan. Kenapa aku begitu mudahnya suka kepada lelaki? Apa rasa ini hanyalah sebuah pelampiasan karena tahu Rangga tak mungkin memiliki rasa yang sama?
Lagi, kuacak-acak rambut yang mungkin sekarang menjadikan penampilanku lebih buruk dari sebelumnya. Menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan. Menutupi butiran bening yang mulai membasahi pipi.
Malam ini memang cerah, tapi tidak dengan hatiku. Hati yang terasa sesak, karena rasa yang tak terbalas, rasa yang tiba-tiba datang, rasa yang membuatku merasa ... entah.
"Lu jadi cewek cengeng banget, sih. Dikatain jelek aja mewek," ucap lelaki yang nyebelinnya gak ketulungan itu.
Aku melihat Rian. Tatapan tajam itu, menembus dadaku. Aku mengusap-usap mata dengan cepat, lalu mengalihkan pandangan ke bulan sabit yang masih diam menatap kami.
"Itu rambut makin acak-acakan aja. Jadi keliatan lebih ...." Rian menoleh ke arah lain.
"Jelek!" ketusku.
"Nah, itu." Rian menunjukku, dan tersenyum kaku.
"Iya, gue mah jelek. Makanya gak ada yang suka sama gue."
"Pinterrr ...."
Aku beranjak pergi dari taman. Tak ada gunanya terus-terusan duduk meratapi nasib, ditambah ejekan Rian yang membuatku menjadi eneg.
Berjalan sedikit pincang melewati Rian yang menatap heran kepadaku.
"Ngambek ceritanya?" sindir Rian. Aku tak memperdulikannya.
Melangkahkan kaki menuju dapur, hanya untuk memakan roti tawar berselai kacang. Entah berapa lembar roti yang kumakan, yang jelas setiap kali aku menangis pasti ujung-ujungnya lapar.
"Biasa aja kali makannya, kek kucing yang gak dikasih makan dua hari aja," ejek Rian saat menuju ke arah meja makan.
"Makan rotinya jangan kebanyakan! Pak Andre sarapan apa besok, kalo rotinya mau lu habisin?"
Hah? Emangnya, stok roti tawar cuma tinggal yang di meja makan doang? Perasaan, waktu belanja ... beli roti tawar gak, sih? Aku lupa.
"Ini bagian gua!" Rian menyomot roti tawar yang tersisa empat lembar.
Wah, dia ngerjain aku. Aku menendang kaki meja, lalu bergegas pergi dari dapur. Pokoknya, aku ngambek!
"Jangan ngambek mulu, nanti darah tinggi, terus stroke, terus jadi mayat, deh," sindir Rian saat aku berada di belakangnya.
Arrgghh!
Aku menghentak-hentakkan kaki ke lantai, meski terasa agak sakit kaki yang satunya. Kemudian, menatap Rian yang sedang mengoles roti tawar dengan selai cokelat. Lalu, kujewer telinganya dari belakang.
"Aww!" pekik Rian. Lalu memegang pergelangan tanganku. Sesaat, pandangan kami saling bertemu.
Deg, deg, deg!
__ADS_1
"Hahaha!" Rian tertawa setelah mencoreng pipiku dengan selai cokelat. Tak tanggung-tanggung, dua pipi sekaligus. Plus, hidung pesekku.
Gara-gara aku terpana dengan tatapan Rian, aku jadi tak menyadari ketika telunjuk kirinya mencorengkan selai cokelat. Fix, dia menyebalkan!