
Hari ini Pak Andre menyuruhku dan Rian belanja. Ya, seperti keperluan dapur, mandi, susu Deril, dan lain-lainnya. Aku, sih, yes! Meskipun, Deril ikut, tapi setidaknya bisa jalan bareng Rian. Ehem.
Kami pergi pukul satu siang. Seperti biasa, Deril duduk di depan dan aku di belakang. Kapan coba bisa duduk di samping Rian? Seperti duduk di pelaminan, gituuu .... Ah, pasti cocok!
Aku perempuan manis, lucu, imut, menggemaskan, baik hati, rajin menabung, dan setia. Sedangkan, Rian lelaki tampan, mandiri, pekerja keras, cuek ke aku, nyebelin, dan gak pernah peka. Iihhh, sebel!
"Yey, udah sampai," ucap Deril antusias. "Nanti Eyil pingin maen time zone, beli es klim, sama ayam goleng."
"Siap!" Rian mengusap rambut Deril.
Kami pun turun dan langsung ke tujuan utama membeli keperluan yang telah dicatat. Setelah membayar dan menitipkan belanjaan, barulah kami menuju tempat bermain anak-anak.
Deril langsung meminta main mobil-mobilan. Aku dan Rian menjaganya dari belakang. Udah kaya emak sama bapak yang jagain anaknya main.
Setelah main mobil-mobilan, Deril minta main basketball. Jadi, nanti memasukkan bola basket ke ring dan ada poinnya juga. Deril mainnya sama Rian. Aku hanya melihat mereka asik bermain. Ih, bete!
Aku pun ingin main Timezone, cuma gak punya powercard. Karena cara mainnya gak pakai koin lagi, tapi harus punya kartu itu. Kalau pakai punya Deril, boleh gak, ya?
"Deril ...." Aku mendekati Deril yang sedang memasukkan bola basket ke keranjang.
Oh, ya, Deril mainnya sambil digendong sama Rian, karena biar lebih tinggi dan untuk memudahkan memasukkan bola ke keranjang.
"Iya, Mabak," jawabnya tanpa menoleh kepadaku.
"Yee, masuk lagi!" pekik Deril antusias.
"Mbak pinjam powercard-nya boleh? Nanti diganti--"
"Gak usah!" potong Rian.
"Iihhh ... gue gak ngomong sama lo!" Aku nunjuk muka Rian.
"Lu kalo mau main, bikin powercard sendiri. Jangan pinjam punya majikan lu!"
Iihhh, sebeeelll! Rian ngapain coba pake ngatur-ngatur segala? Kan, kalau saldo powercard-nya berkurang, nanti aku ganti.
Aku pun memilih main sebuah game di ponsel. Daripada pingin main Timezone, tapi gak bisa.
Rasa sebelku berkali-kali lipat, saat main game, tapi terus-terusan kalah. Hwaaa! Kuhentak-hentakkan kaki dan mengerucutkan bibir. Tak perduli dengan orang lain yang seperti aneh saat melihatku.
"Mbak Mila, ayo kita makan!" ajak Deril yang masih digendong sama Rian.
"Ayo!" Aku begitu senang saat mendengar kata 'Makan', karena rasa sebalku mengundang lapar.
Seperti biasa, kami makan ayam goreng tepung. Kali ini kami pesan ayam goreng tepung, nasi, kentang goreng, dan es teh manis. Aku sebenarnya pingin beli yang lain, cuma ... disamakan saja, lah, sama Deril dan Rian.
"Pingin disuapin sama Mas Ian dan Mbak Mila," pinta Deril disertai senyum manis kepadaku dan Rian.
"Boleh," jawabku dan Rian bersamaan.
Deg!
Kok, bisa bersamaan, gitu? Apakah ini yang dinamakan ... kebetulan?
Rian dan aku bergantian menyuapi Deril. Sesekali kami menyertai candaan kepada Deril. Kalau dipikir-pikir ... seperti ayah, ibu, dan anaknya.
Kapan, ya, aku bisa nikah dan punya anak sama Rian? Mungkin indah kali, ya, keluarga kecil kami. Hehehe ....
"Mbak Mila, kok, ngelamun sambil senyum-senyum sendili?"
Pertanyaan Deril benar-benar membuat kehaluanku ambyaarrr!
"Mira, kan, stress," celetuk Rian setelah minum es teh manis.
"Si-siapa yang ngelamun?" Aku mengalihkan pandangan ke makananku yang tersisa setengah lagi. "Ayo, lanjut makan lagi!"
__ADS_1
Aku melanjutkan makan. Sesekali, pandangan ini tertuju ke Rian. Duh, cakepnyaaa ... ingin, deh, jadi pasangannya.
Kapan coba Rian bisa peka sama perasaanku? Kenapa, sih, dia cuek terus? Bersikap ramah ke aku, emangnya gak bisa?
Padahal, kurang apa coba aku ini? Manis, lucu, imut, menggemaskan, mandiri, rajin menabung, baik hati, tidak sombong, setia, dan mirip Prilly Latuconsina.
"Gak usah ngeliatin! Gua gak suka," ungkap Rian lalu memakan kentang goreng.
"Dih, GR!" Aku mengalihkan pandangan ke arah Deril seraya tersenyum kepadanya.
Tiba-tiba seorang perempuan megenakan blouse lengan pendek merah muda berpadu dengan celana jeans navy, menyapa Rian.
Setelah mereka saling sapa, perempuan itu meminta bergabung dengan kami. Ih, apaan coba? Ganggu suasana aja. Kenal juga enggak, main gabung aja, huh!
"Mbak, spageti dan soft drink satu, ya," pinta perempuan itu ke salah satu pelayan perempuan.
Aku menyuapi Deril yang begitu lahap. Siapa, sih, perempuan itu? Kok, akrab gitu sama Rian? Semoga mereka cuma berteman aja.
"Lo udah lama di sini? Mereka siapa?" Perempuan berambut lurus sepunggung yang dibiarkan tergerai itu bertanya ke Rian.
"Oh, ya, dia Deril, anak majikan gua," ucap Rian seraya memegang bahu kiri Deril. "Sedangkan dia, Mira, pengasuhnya Deril."
"Mbak siapa?" tanya Deril dengan tatapan tampak heran ke perempuan itu.
"Aku Alin, temannya Rian." Alin tersenyum kepada Deril. Begitupun Deril membalas senyumnya.
"Kalian lagi ngasuh atau gimana?" tanya Alin menatapku dan Rian bergantian.
"Jadi, majikan gua nyuruh belanja gitu." Rian menyuapkan nasi dan ayam ke mulutnya.
"Denger-denger ... lo udah wisuda, ya?"
Rian hanya mengangguk. Mungkin, karena dia sedang mengunyah, jadi tak berbicara.
"Oh, ya, lo ada rencana cari kerja lagi? Secara ... lo, kan, udah sarjana."
"Ada. Emangnya, kenapa, Lin?"
"Niatnya lo mau kerja apa?" Alin menyuapkan spageti le mulutnya.
Perasaanku mulai tak menentu. Ikut menunggu jawaban dari Rian. Pertanyaan Alin sungguh mewakiliku.
Aku menyuapi Deril. Mencoba berpura-pura tak perduli dengan percakapan mereka. Saat aku menatap Rian, tatapan kami bertemu, tapi hanya sekilas.
"Kok, gak dijawab?" Alin menepuk tangan kanan Rian.
"Doain aja, semoga yang gua harapkan bisa terwujud." Rian tersenyum lalu menatapku lagi. Namun, tatapan itu hanya sekejap.
Mungkin, Rian tidak mau memberitahu Alin, karena ada aku. Rian memang suka menyembunyikan apapun dariku. Ya, sudah, lah, mungkin ... aku tak berhak tau tentangnya.
"Mas Ian, Mbak Mila, pengen es klim," pinta Deril menatapku dan Rian bergantian.
"Boleh," jawabku dan Rian bersamaan.
"Ehem, kompak banget kalian," celetuk Alin disertai tawa kecil.
***
Aku menatap bintang yang berhamburan di langit Jakarta. Semilir angin malam membelaiku, memberi kesejukan di saat hati terasa tak menentu.
Rian. Lelaki yang telah lancang masuk ke dalam hatiku. Lelaki yang menyebalkannya membuatku terbelenggu oleh rindu, terutama saat jauh darinya.
Entah sampai kapan rasa ini menetap di hati. Entah sampai kapan Rian tak pernah menyadari, kalau ada rasa yang kupendam untuknya.
Duduk di kursi taman samping rumah. Biasanya, aku menunggu Rian di meja makan, hanya ingin bisa makan malam dan berbincang dengannya. Meskipun, obrolan kami terkadang disertai 'pertengkaran'.
__ADS_1
Entah mengapa, mataku mulai mengembun. Hingga air mata tak mampu kubendung.
'Rian ... apakah kamu tidak betah bekerja di sini? Atau ... kamu malu karena sudah bergelar sarjana, sehingga mencari pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan gelarmu?
'Taukah kamu, kalau aku tak ingin jauh darimu? Meskipun kutau, bahwa di antara kita tak ada hubungan yang istimewa.
'Baiklah jika kamu ingin pergi, tapi ... bisakah kita berkomunikasi nantinya? Kita bisa lebih akrab dan saling terbuka? Bisakah, Rian?'
Aku menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan. Air mata mengalir amat deras. Isakkan tangis memecah kesunyian malam. Sesak seolah menyelimuti dada.
"Udah malam bukannya tidur malah nangis di sini," celetuk Rian yang kudengar suaranya dari samping kiri. Suaranya memang tak asing bagiku.
Sigap aku menghapus air mata dan mengalihkan pandangan ke kanan. Mencoba agar wajahku tak terlihat oleh Rian.
"Kenapa nangis? Abis diputusin?"
Ih, apaan, sih?! Diputusin sama siapa? Aku, kan, jomblo!
Rian duduk di sampingku. "Tuh, nasi sama lauknya nunggu dimakan. Lu malah nangis di sini."
"Biarin."
"Mubazir entar ...."
Kalau makannya disuapin sama Rian, aku mau. Mauuu banget malahan.
"Ngapain, sih, lo ke sini?" Pandanganku ke depan, tak berani menatap Rian.
"Gua itu tadi denger ada suara perempuan nangis, kirain ada ... eh, taunya lu."
Aku melihat Rian dengan heran. "Maksud lo, ada apaan?"
"Ya ... itu, yang biasa nangis kalau malam. Gaib gitu, lah, pokoknya," jawab Rian lalu mengalihkan pandangan ke langit.
Aku mencubit lengan kanan Rian. Tak kuhiraukan Rian yang mengaduh dan meminta aku melepaskan cubitan. Bodo amat!
Masa aku lagi nangis malah disangka kuntilanak. Jahat banget emang. Iihhh, sebeelll!
"Mira, lepasin! Aduh!" Rian mencoba melepaskan cubitanku.
Aku pun berhenti mencubitnya. "Lo jahat, ya, masa gue yang kaya bidadari ini disangka kuntilanak!"
"Apa? Bidadari? Kaya lu ini?" Rian mengangkat alis. Lalu, tertawa seperti ada yang lucu.
Lah, emang aku kaya bidadari. Lalu, apa yang salah? Kok, Rian malah ngetawain, sih?
"Ih, udah sana lo pergi! Ganggu aja." Aku mendorong lengan kanan Rian. Namun, Rian menahan tanganku. Tatapan kami saling beradu.
Deg!
"Emang lu mau tidur di sini?" Rian masih memegang tanganku.
"Gue mau tidur di sini kek, di tengah jalan kek, atau di atas rumput yang bergoyang karena kena angin sepoi-sepoi pun itu terserah gue!"
"Ya, udah. Gua mau tidur." Rian melepaskan tanganku. Lalu berdiri dan melangkahkan kaki untuk pergi.
Rian membalikkan badan. Menatapku dengan tatapan yang entah. Kami saling bertatapan. Jantungku berdenyut lebih kencang dari sebelumnya.
"Mira ...," panggilnya lirih.
"Ya?"
"Itu ingusnya numpuk di hidung." Rian pun membalikkan badan lalu melangkahkan kaki ke rumah.
***
__ADS_1