SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 12


__ADS_3

Sungguh, keheningan yang tercipta di antara aku dan Rian, begitu menyesakkan dada. Kami hanya bertatapan sekilas, lalu sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Meskipun dia selalu mengejekku, menjewerku, menarik hidungku, tapi ... tingkah menyebalkannya itu membuatku rindu.


Rian ... andai saja kau merasakan hal yang sama denganku. Tapi, sepertinya itu hanyalah angan-angan belaka.


Mungkin, aku harus melupakannya dan berhenti memendam rasa untuknya. Sudah jelas, tak ada cinta di hatinya untukku.


Suatu saat, aku pasti menemukan lelaki yang juga memiliki rasa yang sama. Tidak hanya menerima kelebihanku, tapi juga kekuranganku.


Eh, tapi ... kelebihanku apaan, ya? Oh, iya! Baik hati, rajin menabung, manis, lucu, imut, menggemaskan, ulalaa ....


Bodohnya Rian yang tak mau denganku. Padahal, aku ini orangnya setia. Ya, meskipun kalau ada lelaki tampan suka agak jelalatan ini mata, tapi hati mah tetap buat Abang Rian.


Aduh, Mira! Katanya mau melupakan, kenapa masih mikirin dia? Dasar, Bodoh!


Hari ini, Pak Andre mengajakku, Rian, dan Deril ke Water Park.


Rian yang menyetir mobil, Deril duduk di depan, sedangkan aku dan Pak Andre duduk di belakang. Hanya saja, aku di dekat kaca sebelah kiri, Pak Andre di dekat kaca sebelah kanan.


Pandanganku menembus kaca mobil, terhanyut dalam pikiran tentang rasa yang masih menyesakkan dada.


Sampai di tempat tujuan, aku segera mengganti pakaian Deril.


"Mbak, nanti ikut lenang juga, ya," pinta Deril saat aku telah selesai mengganti pakaiannya.


Aku tersenyum. Entahlah, harus menjawab apa. Aku gak bisa renang, Gaess!


Suasana hari ini sangat ramai. Mungkin karena akhir pekan, jadi banyak yang menghabiskan waktu ke sini.


"Papa ...," panggil Deril ke Pak Andre yang menunggu kami di pinggir salah satu kolam.


"Iya, Sayang." Pak Andre segera menggendong Deril dan mencium pipinya.


"Ayo, lenang! Eyil udah siap."


"Oke! Kamu mau ke kolam yang mana?"


Deril menunjuk kolam untuk anak-anak yang ada perosotan dan ember tumpahnya. Pak Andre pun mengiyakan.


Aku? Duduk di salah satu kursi yang terletak kurang lebih 1,2 meter dari pinggir kolam.


"Kenapa lu gak renang?"


Seperti suaranya Rian. Ah, paling cuma halusinasiku saja. Terlalu kepikiran dia, jadi ada orang ngomong pun disangka suaranya.


"Budek!" Nadanya agak keras.


Kulirik si pemilik suara itu. Ya, memang Rian. Aku mengucek mata, mungkin salah lihat. Rian kan lagi mogok bicara sama aku.


"Mata lu kenapa? Katarak?"


Seriusan Rian mulai bicara lagi sama aku? Duh ... senengnya! Pingin lompat-lompat, deh. Sambil teriak kalau aku kangen banget kuadrat sama dia.


"Bisu, budek, katarak. Ampun, deh!" Rian duduk di kursi yang terletak di sebelahku.


Hatiku deg-deg serrr, Gaess! Kayak mau copot.


"Udah gak mogok ngomong, nih?" sindirku.


"Mau mogok ngomong kek, mau nggak kek, terserah gua. Mulut punya gua ini."


Aku sebisa mungkin menyembunyikan rasa bahagia ini. Gak apa-apa diejek juga, setidaknya dia mau bicara lagi denganku.


"Kenapa lu gak renang?" tanyanya lagi.


"Males."


"Bilang aja gak bisa renang."


Kok, dia tau sih? Jangan-jangan ... dia suka kepo tentang aku. Eh, tapi kepo ke siapa? Masa sama Deril? Gak mungkin. Oke, paling dia cuma nebak doang.


"Ih, kata siapa?"


"Kata gua, lah. Kan tadi gua yang ngomong."


"Lo sendiri kenapa gak renang? Gak bisa renang, ya?"


"Enak aja kalo ngomong! Renang itu gampang."


Kalau bisa renang, ajarin aku dong, Bang. Aku juga pingin bisa renang. Kan pasti romantis kalo diajarin sama Abang.


Kutepuk keningku agar tidak halu yang hampir overdosis.


"Eh," Rian menyenggol lenganku, "gua tantang lu, buat balap renang. Gimana?"


Boro-boro balap renang, renang yang seudel aja kagak bisa. Ini orang nyebelin banget, sih! Untung aku lope-lope, kalo nggak pingin aku timpuk pake sekarung pete!


"Kenapa? Takut?" sindirnya.


"Apa? Balap renang? Hahaha ...."


"Ya ampun ... ini cewek sarapnya gak ketulungan." Rian menggeleng-gelengkan kepala.


"Gue males renang."


"Mas Ian, Mbak Mila, ke sini!" pinta Deril yang sudah basah kuyup bersama Pak Andre di kolam.


"Iya, nanti ke sana," jawab Rian.


"Cepetan!"

__ADS_1


"Iya," jawabku dan Rian bersamaan.


Ciyeee jawabnya barengan, kapan-kapan jalan bareng, bisa kali, ya, Bang?


"Itu udah ditungguin, lu malah bengong!"


Terpaksa aku ikut nyemplung, dalamnya hanya selutut bagiku. Yah, segini mah aku gak bakalan takut kelelep.


Aku pun mencoba bermain perosotan. Ya, meskipun untuk anak-anak, gak apa-apa. Lagian, aku masih lucu, imut, dan menggemaskan seperti mereka. Eaa ....


"Eh, lu emang gak punya malu, ya," sindir Rian.


"Biarin!"


"Kalo mau, tuh main yang itu!" Rian menunjuk salah satu papan seluncur yang berkelok-kelok. Tingginya kurang lebih belasan meter, panjangnya mungkin seratus meteran lebih. Ah, entahlah.


"Ogah!"


"Kenapa? Gak berani? Cemen lu!"


"Daripada lo ngatain gue cemen, mending lo dulu sana buktiin, berani apa nggak?"


"Oke! Tapi, habis gua giliran lu!" Rian menunjukku.


Arghhh! Ini orang, biar apa coba nantangin aku kaya gini? Aku kan gak berani.


"Gue kan pengasuhnya Deril, kalo dia butuh sesuatu gimana? Jadi ... gue di sini aja."


"Halaaah ... ngeles mulu! Dari tadi juga lu cuma maen sendiri."


Hah? Oh, iya, aku emang sibuk main sendiri. Deril malah asyik main sama Pak Andre.


"Jadi, lo merhatiin gue dari tadi?" Aku memicingkan mata.


"Gua punya mata, jadi keliatan!"


"Pokoknya, gue mau di sini aja." Aku melihat ember tumpah yang akan menumpahkan air di dalamnya. "Itu, embernya mau tumpah, gue mau ke sana."


Rian dengan sigap menarik tangan kananku. "Jangan coba kabur!"


"Ih, apaan, sih!" Aku berusaha melepaskan cengkeraman Rian.


"Ikut gua!" Rian menarik tanganku dan membawaku menuju papan seluncur yang Rian tunjuk beberapa saat yang lalu.


Abang Rian, bawa aku ke tempat yang indah, bukan yang membuat adrenalinku menciut!


Kami telah sampai di dekat tangga yang menuju papan seluncur.


"Itu, nanti Pak Andre nyariin."


"Gua udah minta izin, lu tenang aja." Rian menyunggingkan senyum. Sepertinya, dia tau kalau aku sedang ketakutan.


"Aduh, gue kebelet ee'." Aku memegang perut dengan tangan kiriku.


"Aduuh ... kalo gue gak ke toilet, nanti bisa ee' di celana!"


Rian memutar mata, lalu melepaskan tanganku. Tanpa pikir panjang, aku segera lari. Lalu, membalikkan badan melihat Rian, dan ... menjulurkan lidah.


Yeay! Berani ngibulin dia. Maaf, ya, Bang. Bukan maksudku berbohong kepadamu, hanya saja ... aku gak berani menerima tantanganmu.


Aku tak peduli Rian kesal atau tidak, yang penting aku selamat.


Aku sembunyi di balik sebuah pohon, takut nanti ketahuan Rian. Tiba-tiba ... pandanganku menuju seorang lelaki dan seorang perempuan di kolam yang sama, terlihat begitu akrab.


Itu, Rian sama siapaaa? Apakah itu perempuan yang dia panggil 'Sayang' di telepon? Cantik, putih, dan hidungnya mancung. Hwaaa!


Pasti mereka sudah janjian mau ketemuan di sini, atau ... Rian sengaja minta izin kepada Pak Andre dengan alasan pergi denganku, tapi ternyata mau ketemuan sama perempuan itu.


Tak pikir panjang, aku pun segera nyemplung ke kolam anak-anak. Mengademkan pikiran dan hati. Rian, kamu jahat!


Pingin nangis, tapi malu. Coba kalau bisa renang, aku mau nyelam sambil nangis. Remuk hati lihat dia sama perempuan lain.


"Mira, tolong kamu mandikan Deril, ya, sudah kelamaan main, takut masuk angin," pinta Pak Andre.


"Iya, Pak."


Aku pun membawa Deril ke kamar mandi. Sebisa mungkin fokus mengurusnya, tanpa memikirkan Rian dengan perempuan itu. Mungkin saja, aku salah lihat tadi. Bisa saja, itu lelaki yang mirip Rian, dengan pakaian yang sama.


Setelah selesai mengurus Deril, aku segera mengantarnya ke Pak Andre yang sedang mengelap rambut dengan handuk. Beuh ... gantengnya.


"Pak, aku izin ganti pakaian dulu," pintaku.


Pak Andre mengangguk. "Oh, ya, Mir, di mana Rian?"


Gak tau, mungkin diculik Nini Lampir.


Aku menggeleng. "Gak tau, Pak."


"Nanti kalau kamu lihat, suruh dia segera ganti pakaian. Soalnya, kita mau makan."


"Baik, Pak."


Aku pun berjalan menuju toilet. Sialnya, aku malah bertemu sama Rian dan perempuan itu. Duduk di tepi kolam, dan kaki mereka dari lutut sampai telapak kaki di air.


Luka ini kembali terasa. Entah karena hati yang terlalu berharap, atau karena Rian yang tak berperi kehatian.


Rian pun melihat kepadaku, disusul perempuan itu.


"Kata Pak Andre buruan ganti baju, soalnya mau makan." Aku pun segera pergi. Muak dengan pemandangan yang menyakitkan itu.


Selesai ganti pakaian, Pak Andre mengajak kami ke sebuah rumah makan. Mempersilahkan kami memesan yang kami mau.

__ADS_1


"Papa, Eyil pingin ayam bakal," pinta Deril ke Pak Andre yang sedang melihat daftar menu.


"Boleh ... minumnya mau apa?"


"Es jeluk aja."


Pak Andre mengiyakan disertai senyuman. "Kalian mau pesan apa?" tanya Pak Andre melihatku dan Rian bergantian.


Lupakan patah hati. Sekarang, waktunya makan biar punya banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan.


"Samain aja, Pak," jawabku dan Rian bersamaan.


Ih, apaan sih, pake barengan segala! Nyebelin.


"Samakan dengan siapa? Deril?" Pak Andre mengangkat alis.


"Iya, Pak." Lagi, aku dan Rian menjawab bersamaan.


Aku menatap kesal kepada Rian. Begitu pun dengan Rian, seperti kesal kepadaku.


***


Seperti biasa, setiap malam aku nongkrong di dapur, mengunyah nasi dan lauk dengan rasa kesal karena pemandangan yang membuat mataku perih siang tadi.


Kenapa sih, aku harus melihat Rian sama perempuan lain? Mana akrab, terus itu perempuan cantik lagi. Nyesek, ih!


Apa ... tipe perempuan yang Rian suka itu harus cantik, putih, mancung? Apalah aku ini yang mirip Prilly Latuconsina tapi di halusinasi.


"Woy! Makannya gitu amat."


Ih, kenapa Rian harus ke sini? Aku lagi males lihat wajah dia. Aku semakin mempercepat mengunyah makanan.


"Lu kesurupan?" Rian menaptapku heran.


"Ngapain lo ke sini? Ganggu aja."


"Gua mau makan. Lagian, lu pikir ini rumah lu? Pake ngelarang segala." Rian mengambil piring kemudian mengambil nasi.


"Tadi ... lo jadi main papan seluncur?"


"Ngapain nanya-nanya?" Rian duduk tepat di depanku.


"Gak apa-apa. Nanya aja."


"Gak." Rian mengambil lauk di meja.


"Kenapa?"


"Kan lu tadi liat gua ngapain." Rian menjawab dengan santai. Sedangkan hatiku, mulai bergemuruh.


"Oh, sama cewek itu? Siapa dia?"


"Cewek cantik." Rian menyunggingkan senyum.


"Halah, cantikan gue keles!" Aku memutar mata.


Rian melebarkan mata. "Gua gak salah denger? Asal lu tau, lu sama dia, jauh cantikan dia."


Hah? Riaaan kamu nyebelin banget! Masa kamu seenak jidat muji-muji perempuan lain di depanku.


"Ibaratnya, lu pohon kencur, dia pohon kelapa. Bedanya jauh," imbuhnya.


"Heh!" Aku menodongkan pisau ke arahnya yang diambil dari piring tempat meletakkan buah-buahan. "Asal lo tau, ya, gue gak suka ada orang muji-muji perempuan lain di depan gue!"


"Lah, emang kenyataannya gitu, Pesek!"


"Awas aja lo muji-muji cewek lain di depan gue, mulut lo bakal gue cabik-cabik pake pisau!"


Aku pun segera meletakkan piring dan gelas di wastafel. Males lama-lama sama ini laki.


"Sadis banget nih cewek. Pantesan, gak ada cowok yang mau sama lu."


Jleb! Berarti, Rian juga gak mau dong sama aku? Aku pun menghentak-hentakkan kaki.


"Kenapa? Emang bener, 'kan?"


Aku pun duduk di sebelah Rian. "Masa sih?"


"Iya."


"Apa?"


"Iyaaa!"


"Hah?"


"Budek!"


"Iya, aku mah cantik, lucu, imut,menggemaskan, ulala ...."


"Sarap!"


"Apa?"


"Saraaap!"


Rian melebarkan mata, lalu cepat-cepat menuju wastafel.


Yeay! Tepat sasaran, saat Rian mangap, aku langsung menjejalkan satu sendok sambal terasi.


"Sukurin! Makanya, jangan coba-coba muji cewek lain di depan gue! Masih mending dijejelin sambel terasi, lain kali mungkin racun tikus atau mercon yang gue jejelin."

__ADS_1


***


__ADS_2