SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 24


__ADS_3

Aku menyuguhkan dua gelas es jeruk dan sepiring kentang goreng di meja ruang keluarga. Deril sedang mewarnai gambar ditemani Pak Andre.


"Kenapa hanya dua gelas? Buat kamunya mana?" Pak Andre mengangkat alis.


"Nanti kalau aku mau, tinggal ambil aja, Pak. Masih ada di kulkas." Aku tersenyum lalu duduk di depan Deril.


Deril meletakkan pensil warna merah, lalu menoleh ke Pak Andre. "Papa, kapan kita libulan?"


"Kamu pingin liburan?"


Deril mengangguk cepat. "Pingiinn banget, Pa. Bosen di lumah telus."


Deril memang sudah mulai libur akhir semester. Ya, pasti bosan kalau libur sekolah, tapi di rumah terus.


"Memangnya, Deril pingin liburan ke mana?" Pak Andre membelai kepala Deril.


"Hmm ...." Deril tampak berpikir. "Ke pantai, Pa!"


Pak Andre tampak berpikir, lalu mengangguk. "Boleh. Nanti kita ke Bali. Mau?"


Deril tampak antusias. Matanya melebar disertai mulut yang membentuk huruf O. Mengangguk cepat, kemudian berkata, "Maauu, Pa!"


Pak Andre tersenyum lalu mencium pipi Deril.


"Mira, kamu mau ikut ke Bali?"


Mataku melebar dan mulut pun membentuk huruf O. Sama kaya Deril. Apa aku gak salah dengar?


"Aku?" Kedua telapak tanganku menyentuh dada.


"Iya. Sekalian nanti Bi Ani sama Mang Ujang kalau mau."


Tumben Pak Andre ngajak liburan akhir tahun ke Bali? Waktu ada Rian, kok, gak liburan?


"Kalau boleh tau, tumben Pak Andre ngajak liburan akhir tahun? Ke Bali lagi." Aku merasa canggung saat bertanya tentang hal ini.


Pak Andre meminum es jeruk. Lalu meletakkan kembali gelas itu di meja. "Karena Deril sudah agak besar sekarang. Jadi, saya berani ajak berlibur ke Bali."


"Waktu ada Rian ...." Aku merasa malu untuk melanjutkan lagi pertanyaanku.


Pak Andre tersenyum. "Waktu ada Rian paling yang tidak terlalu jauh. Karena Deril masih terlalu kecil. Waktu tahun kemarin tidak, karena saya kurang enak badan."


"Oh ... iya, Pak."


Kulihat Deril memakan kentang goreng. Mulutnya tampak penuh, karena dia begitu lahap memakannya.


Pak Andre mengambil satu kentang goreng yang dipotong memanjang itu menggunakan garpu. Lalu bertanya, "Bagaimana? Mau ikut?"


Duh, gimana, ya? Pingin banget ikut. Ke Bali lagi. Aku, kan, belum pernah ke sana. Mana gratis, gak perlu mikirin ongkos. Namun, aku udah ada rencana mau cuti kerja. Pingin kumpul sama keluarga.


"Sebenarnya ... aku udah ada rencana pingin cuti kerja, Pak. Pingin kumpul sama keluarga. Kan, aku jarang ketemu sama mereka."


"Ya ... itu terserah kamu. Saya tidak memaksakan."


Kenapa harus ke Bali di saat yang gak tepat, sih? Coba aja di waktu lain. Pokoknya, jangan pas akhir tahun dan cuti Idul Fitri. Biar akunya gak pas lagi gak cuti kerja.


Ya ... meskipun akhir tahun kemarin, aku gak cuti. Namun, untuk saat ini pingin liburan bareng keluarga.


"Hmm ... kalau boleh tau, apakah Pak Andre hanya mau liburan sama Deril, Bi Ani, dan Mang Ujang aja?"


"Sepertinya nanti saya ajak adik saya. Hanya saja, kalau dia tidak sibuk."


Adik? Kok, aku baru dengar kalau Pak Andre punya adik, sih?


"Kok, aku baru tau kalau Pak Andre punya adik?"


"Papa ...." Deril memperlihatkan gambar robot yang sudah diwarnainnya.


Pak Andre melihat gambar itu. Tersenyum dan mencolek hidung Deril. "Anak papa makin pintar, ya, ngewarnainnya."


Deril tersenyum hingga memperlihatkan gigi mungilnya. "Iya, dong, Paa ...."


Pak Andre melihatku. "Adik ipar. Kalau saya anak tunggal."


***


Aku mendekat ke Bi Ani yang sedang memotong wortel di dapur.


"Ada apa, Mira?" Pandangan Bi Ani masih menuju wortel yang panjangnya tinggal setengah.


"Hmm ... Bi Ani mau ikut ke Bali?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak, Mir."


"Kenapa, Bi?"


Bi Ani melihatku dan tersenyum. "Karena sudah ada rencana liburan sama keluarga dan saudara."


Kalau Bi Ani dan aku gak ikut, apakah Mang Ujang bakalan ikut?


Terdengar Pak Andre memanggilku. Sigap, aku menuju sumber suara. Pak Andre menyuruhku menjaga Deril, karena beliau mau nge-gym.


Deril sedang bermain mobil-mobilan di ruang kelurga. Aku mendekatinya.


"Ehem. Papanya Deril mau ke mana?" tanyaku iseng.


"Mau nge-gym." Deril gak melihatku, melainkan fokus ke mobil-mobilannya.


"Gak mau ikut?"


Deril menggeleng. Lalu memajukan mobil-mobilannya. "Ngeng ... ngeengg!"


"Biar sehat. Olahraga."


"Eyil sukanya maen bola. Ayo, Mbak, maen bola aja!" Deril berdiri, lalu menarik tangan kananku.


Laahh ... kok, main bola, sih? Kenapa gak nge-gym aja sama Pak Andre. Kan, aku jadi bisa ikutan sekaligus ngeliatin majikan ganteng yang badannya atletis.


"Ayo, Mbak!" Deril terus menarik-narik tangan kananku.


Ya, mau gimana lagi? Nurut aja sama majikan. Aku pun menuju taman samping rumah seraya membawa bola.


Namun, baru sebentar bermain bola, tiba-tiba mendung dan gak lama kemudian hujan mengguyur.


Aku menuntun Deril menuju rumah. Namun, langkah Deril berhenti saat kami berada di depan pintu.


Deril melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. "Mbak, Eyil pingin ujan-ujanan."


"Eeh ... jangan! Nanti dimarahin sama Papanya Deril gimana?"


Deril mengerucutkan bibir. Lalu berlari ke rumah. Aku mengikutinya, hingga tiba di depan ruang gym Pak Andre.


Deril masuk dan mendekati Pak Andre. "Papa."


Pak Andre yang sedang angkat besi, menghentikan aktivitasnya. "Iya, ada apa, Sayang?"


"Nanti kalau masuk angin, gimana?"


"Eyil, kan, jagoan! Eyil pasti tetep sehat, kok!"


Pak Andre menghela napas. Melihat ke arah jendela. Hujan tidak terlalu deras. Kemudian, menatap kembali ke putranya.


"Boleh, tapi jangan lama-lama, ya!" Pak Andre membelai kepala Deril.


Deril mengangguk cepat. Lalu mengacungkan dua jempol tangannya. "Oke, Pa!"


"Mira, tolong jagain, ya," pinta Pak Andre saat Deril mulai berlari untuk keluar dari tempat gym.


Aku mengangguk. "Siap, Pak!"


Aku dan Deril menuju taman samping rumah. Ya, aku pun ikut hujan-hujanan, Gaeess! Ya, kali cuma ngeliatin Deril doang?


Soalnya, kalau ada Ibu, mana dibolehin hujan-hujanan. Takut nanti malah sakit.


Bermain bola sambil hujan-hujanan ternyata seru juga.


Tak lama kemudian, hujan pun berhenti. Kulihat ada pelangi memberi kesan cantik setelah hujan.


"Mbak, pelanginya bagus," ungkap Deril seraya menunjuk pelangi.


"Iya. Cantik kaya aku, ya?"


Deril tampak berpikir. Lalu nyeletuk, "Masa Mbak Mila cantik kaya pelangi? Mbak, kan, olang. Pelangi bukan olang. Pelangi walna-walni, kalau Mbak enggak."


Hadeuuuh ... ini anak kenapa gak jawab 'Iya' aja coba? Biar akunya seneng gitu.


Kulihat Pak Andre di depan pintu. Menyuruhku untuk segera mandi. Sedangkan, Deril akan dimandikan sama Pak Andre.


***


Malamnya, setelah makan aku segera ke kamar. Deril sudah ditemani sama Pak Andre.


Membuka WA, berharap ada pesan dari Rian. Ah, nyatanya gak ada. Mungkin, aku memang gak penting buat dia.

__ADS_1


Kulihat dia sedang aktif. Kirim pesan gak ya? Kirim, gak, kirim, gak? Enggaaak?


Aku pun membuat status di WA. Coba tebak statusnya gimana? Gini, nih!


Seperti tadi sore, pelangi datang setelah hujan. Aku pun berharap, pelangi itu segera datang. Meski hanya sekejap.


Tak lama, ada yang mengirim pesan. Dari Dini. Teman sebangku saat kelas tiga SMA.


[Udeh malem noonn, mane ade pelangi?]


[Emang siapa yang bilang malam-malam ada pelangi?]


[Kang halu yang dulu pernah sebangku ama gue. Hahahaaa]


Teman macam apa dia? Masa aku disebut 'Kang Halu'? Eh, tapi ... emang bener juga, sih.


[Gimana kabar? Masih gila apa udah waras lo?]


[Duh ni bocah atu, dari dulu ampe sekarang masih aje ngeselin. Alhamdulillah bae gue, elu gimane kabar?]


[Alhamdulillah. Lo masih kerja jadi pelayan restoran?]


[Iye. Elu gimane kerjanye?]


Dini secara penampilan memang oke. Otaknya juga lumayan encer. Makanya, waktu lulus SMA, cepet dapat kerja.


[Masih jadi pengasuh, sih. Majikan gue ganteng bangeeett]


[Awas hati², entar elu jadi pelakor suka ama majikan]


Ya ampuun ... pikiran macam apa itu? Masa aku yang secara perempuan baik-baik ini bakal jadi pelakor, sih?


[Heh! Lo baca baik-baik ya! MAJIKAN GUE ITU DUDA. YA KALI GUE JADI PELAKOR???]


[Waw capslock hampir jebol semue. Hahaha ... mon maap gak tau gue soalnye]


[Dah lah gue pingin tidur. Jangan lupa lo minum obat waras biar gilanya sembuh!]


Hampir aku mematikan data seluler, terlihat ada dua pesan WA. Dari dua orang yang berbeda. Rian dan Dini. Langsung saja jempol tangan membuka pesan dari Rian.


[Kata-kata copast dari mana lu?]


Apa? Copast? Helloow ... gini-gini juga aku mah otaknya encer juga kali. Eaa ....


[Curhat itu]


Kubuka pesan dari Dini.


[Gimana gue bisa sembuh, kan elu yang nularin gila ke gue noonn]


[Masa siihhh?]


Kulihat, Rian pun sudah membalas pesan.


[Oh]


Apa-apaan, sih, si Rian? Masa balesannya cuma gitu doang? Bukannya nanya alasanku buat status kaya gitu atau nanya tentang keadaanku. Eh, malah kaya gitu.


Sigap, kubalas pesan menyebalkan itu.


[Y]


Dini pun membalas pesanku lagi.


[Iyeee! Eh btw itu elu bikin status kek gitu maksudnya paan? Galau yee?]


[Ngapain galau?]


[Yaelaah elu kan doyan ngegalau. Palingan cowok yang elu demen, kagak demen balik. Eh kaboorr aahhh]


[Gue lempar tabung gas nih!]


Dini malah tidak aktif. Padahal sebenarnya seru ngobrol atau kirim pesan sama itu orang. Sedangkan Rian, gak juga membalas pesanku. Hanya ceklis dua, tapi gak biru.


Kulihat Rian masih aktif. Ah, mungkin dia sedang berkomunikasi sama perempuan yang ada di hatinya. Apalah aku ini yang masih menunggu untuk sesuatu yang belum pasti.


Aku pun kembali membuat status di WA. Berharap dibaca oleh seseorang yang masih kutunggu untuk membuka hatinya untukku.


Kutau ini memang belum pasti. Hanya saja, hati terus bertahan meski sebenarnya ingin menyerah.


***

__ADS_1


Yuk, like, vote, dan rate 5 yaa .... Tinggalkan komentar juga. Tulis tanggapan kalian tentang cerita ini. Makasih.


__ADS_2