
Pagi ini kulihat Rian sedang meletakkan barang-barangnya di ruang keluarga. Ya, hari ini Rian resmi berhenti bekerja sebagai sopirnya Pak Andre.
Aku tak menyangka perpisahan ini pun terjadi. Rian telah mendapatkan pekerjaan baru. Mungkin, lebih cocok dengan gelarnya. Aku dengar, dia akan bekerja di kantor.
Aku tidak tau, apakah nanti kami tetap bisa bertemu? Apakah Rian akan melupakanku? Apakah Rian akan merasa lebih baik karena jauh dariku?
Aku merasa kehilangan semangat. Meskipun kami selalu bertengkar, tapi itu membuatku berkesan.
"Mas Ian mau ke mana?" tanya Deril yang tampak khawatir.
"Mas Ian mau pulang dulu. Deril jaga diri baik-baik, ya." Rian mengusap rambut Deril kemudian menciumnya.
"Tapi jangan lama-lama, ya. Nanti ke sini lagi." Deril tersenyum. Rian pun membalas senyuman Deril.
Rian memberikan sebuah hadiah untuk Deril. Mungkin, untuk kenang-kenangan. Deril begitu suka, setelah tau hadiah itu berupa mobil-mobilan kesukaan Deril.
Sesak. Aku ingin menangis, tapi harus ditahan. Aku tidak mau kalau Rian tau betapa tak relanya aku bila Rian harus pergi dari sini.
Bukan. Bukan maksud aku tak ingin dia lebih baik dari sekarang. Namun, aku hanya takut Rian melupakanku dan kami jarang bertemu atau tak bertemu lagi.
"Pak Andre, terima kasih atas semuanya. Sebenarnya, terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Bapak. Saya banyak belajar selama bekerja dengan Bapak. Semoga hal-hal baik selalu Bapak dapatkan. Maaf bila perilaku saya suka membuat Bapak tak nyaman." Rian mengusap ujung matanya. Lalu memeluk Pak Andre.
"Maafkan saya juga. Semoga kamu bisa mengejar impian dan menjadi orang yang sukses dan bermanfaat untuk yang lainnya."
Rian pun mendekat ke Bi Ani. Tampak jelas, air mata mengalir di pipi Bi Ani.
"Bi Ani, maafkan saya bila selama ini pernah menyakiti atau merepotkan Bi Ani. Semoga Bi Ani selalu sehat, ya." Rian tersenyum lalu mencium punggung tangan kanan Bi Ani.
Bi Ani mengusap kepala Rian. "Maafkan saya juga, ya, Rian. Semoga kamu jadi orang sukses. Jangan lupakan kami."
Rian mengangguk dan tersenyum. Lalu melangkahkan kaki mendekat ke arahku. Hingga kami saling berhadapan.
"Gua gak perlu minta maaf, ya, ke lu. Soalnya yang punya salah lu!"
Iiihh, masih aja nyebelin. Rian, kesalahanmu sangat besar kepadaku. Salah satunya tidak mau membuka hati untukku.
"Lu bakal tenang gak ada gua di sini." Rian tertawa kecil. Namun, itu tidak lucu.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku tak ingin, Rian melihat kesedihan dari mataku.
"Yang betah, ya, lu di sini."
Aku ingin banyak bicara, tapi lidahku terasa kelu. Air mata pun turun. Sigap segera kuhapus agar aku tampak baik-baik saja.
"Mira, kamu tidak mau berkata sepatah kata pun?" tanya Pak Andre.
Aku pun memaksakan diri untuk berbicara. Aku tidak bisa hanya diam seperti ini.
"Rian ...."
Rian yang telah membalikkan badan lalu menoleh dan mengangkat alis.
"Semoga ... semoga ...."
__ADS_1
"Apa?"
Semoga kamu tidak melupakanku. Kamu masih mau bertemu denganku. Kamu mau membuka hati untukku. Apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud. Sungguh, aku tak mau jauh darimu. Apakah kamu mengerti?
"Eh, malah ngelamun," celetuk Rian yang mencubit hidungku. Hingga mengundang tawa bagi Pak Andre, Bi Ani, dan Deril.
"Hilangin sikap nyebelinnya!"
"Lu juga."
"Sudah itu saja?" tanya Pak Andre yang seperti memancingku untuk menyampaikan isi hati kepada Rian.
"Hmm ... semoga lo sukses."
"Ikhlas gak itu ngedoainnya?" tanya Rian yang tampak meragukan ucapanku. Aku hanya membalas dengan anggukan.
Aku merasa canggung. Ketika tatapanku dan Rian saling bertemu. Ingin menyampaikan isi hati saja, begitu sulit.
Padahal, aku tidak tau kapan bisa bertemu lagi dengan Rian. Ya, meskipun Rian kerja di daerah Jakarta, tapi ... rasanya seperti akan kerja di tempat yang amat jauh.
Akhirnya, Rian pun segera membawa barang-barangnya ke mobil bak terbuka milik pamannya. Dibantu olehku, Pak Andre, dan Bi Ani.
Sebenarnya, Rian tidak membawa begitu banyak barang, hanya saja mungkin kalau pakai mobil bisa terbawa semua barang-barangnya dan tidak terlalu repot.
Melepas kepergian Rian dari rumah Pak Andre sungguh membuat hatiku perih. Bibirku tak mampu berkata-kata lagi, hanya dapat menahan tangis. Sesekali aku langsung mengusap ujung mata sebelum air mata mengalir membasahi pipi.
Deril terus meminta Rian agar segera kembali dan tidak terlalu lama ketika pergi.
Rian masuk ke mobil, menyalakannya, lalu perlahan mobil itu menjauh dari halaman rumah Pak Andre.
Mungkin, ini tampak lebay. Namun, dekat dengan Rian merupakan salah satu caraku agar bisa membuka hatinya. Meskipun, itu terasa sulit.
***
Malam ini aku ke dapur untuk makan malam. Duduk di kursi biasa setelah mengambil piring dan nasi. Lalu mengambil lauk secukupnya.
Saat aku mau menyantap makanan, pikiranku malah teringat Rian. Kursi di depanku, biasa diisi oleh Rian.
Kami makan bersama, bahkan suka diisi oleh pertengkaran konyol. Kini, hanya aku sendiri. Ingin menghubunginya, tapi gak punya nomornya dan gak tau nama akun media sosialnya.
'Rian ... aku kangen. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan sekarang?'
"Mau makan atau mau melamun?" tanya Pak Andre yang membuyarkan lamunanku.
"Mau makan, kok, Pak." Aku memaksakan tersenyum lalu menyuapkan makanan ke mulutku.
Pak Andre mendekat, lalu duduk di kursi yang terletak di depanku. Kursi yang biasa ditempati oleh Rian.
"Lagi kepikiran Rian?"
Aku langsung tersedak setelah mendengar pertanyaan Pak Andre. Sigap, aku minum. Kenapa Pak Andre bertanya soal itu?
"Sudah menghubunginya?" tanya Pak Andre setelah aku tampak membaik.
__ADS_1
"Gak punya nomor telepon dan gak tau akun medsosnya, Pak."
"Saya punya nomor teleponnya. Mau?"
Maauuu bangeett! Ah, tapi aku malu nanti menghubungi Riannya. Duh, gimana, ya?
"Gak usah, Pak. Nanti Rian marah kalau nomornya dikasih ke aku. Lagian, Rian mana mau dihubungi sama aku." Aku tersenyum getir.
"Bukan maksud saya mau ikut campur, coba kamu berdamai dengan Rian. Hilangkan gengsi untuk bersikap baik dan memperlihatkan perasaanmu kepadanya."
"Maaf, Pak, sebelumnya. Aku ingin tau, kenapa Bapak bisa tau kalau aku memendam rasa kepada Rian?"
Pak Andre tersenyum. Lalu tampak sedang mengingat sesuatu.
"Dari cara kamu menatap Rian, terlihat ada rasa yang terpendam di sana. Saat Rian dirawat di rumah sakit, kamu tampak sedih hingga seperti tak fokus bekerja. Lalu, tadi siang semua tampak jelas bahwa kamu tak rela bila Rian harus pergi dari sini."
Ya ampuunn ... Pak Andre bisa tau tentang ini. Sedangkan Rian? Sampai sekarang pun sepertinya dia gak pernah peka sama perasaanku.
"Tapi, kenapa Rian tidak peka, ya, Pak?"
"Bagaimana dia bisa peka, kalau kamu saja sulit berdamai dengannya?"
"Tapi dia suka nyebelin, Pak." Aku mengerucutkan bibir.
"Coba kamu ingat-ingat lagi, mungkin pernah punya salah sama Rian. Cobalah minta maaf. Saya yakin, Rian akan memaafkanmu."
Aku jadi teringat saat gak sengaja melempar botol minum lalu kena Rian. Itu awal pertemuan kami. Lalu saat memukulnya menggunakan galon, karena kupikir dia mau maling di rumah Pak Andre.
Belum lagi sikapku yang lain. Ah, sepertinya sikapku selama ini memang membuatnya selalu kesal.
Bahkan, aku malas untuk meminta maaf kepada Rian. Apakah Rian nanti mau memaafkanku?
Tak terasa mataku mengembun. Sigap kuusap mata agar tak menangis di depan Pak Andre.
"Menangislah kalau itu bisa membuatmu lega. Rian itu lelaki baik, jangan sungkan bila ingin berdamai dengannya. Oh, ya, jangan lupa dimakan makanannya." Pak Andre berdiri lalu segera pergi.
Mungkin ada benarnya juga yang dikatakan Pak Andre. Aku harus mencoba berdamai dengan Rian. Aku ingin mendapatkan hati Rian.
Sigap, aku pun mengejar Pak Andre. Langkah Pak Andre pun berhenti saat aku memanggilnya.
"Ada apa, Mira?"
"Itu, Pak. Eee ...."
"Katakan saja."
"Aku ... boleh minta nomornya Rian?" Aku merasa canggung.
"Untuk apa?" Pak Andre tersenyum seperti sedang memancingku untuk mengutarakan apa yang akan aku lakukan setelah mendapatkan nomor Rian.
Aku menggaruk kepala yang gak gatal. Bingung harus menjawab apa.
Pak Andre pun mengambil ponsel di sakunya sebelum aku menjawab pertanyaanya. Lalu memperlihatkan nomor Rian kepadaku.
__ADS_1
***