
Pikiranku terus menuju pada malam itu. Siapa sebenarnya yang Rian telepon? Argghh! Lupakan itu. Fokus mengasuh Deril, Miraaa ....
Sekarang, Rian mulai menjadi sopir lagi. Bi Ani sudah kembali bekerja. Ya, setidaknya aku tak perlu terus berdebat sama Rian. Eh, tapi ... kok, kaya ada kangen-kangennya gitu, ya? Duh, kenapa otakku jadi oleng begini?
"Mbak, ambilkan mobil yang walna bilu," pinta Deril.
"Ih ... kenapa malah ambil lobot, Mbak?"
Hah?
Aku menepuk kening. Virus Rian sudah menyebar di pikiranku. Ada yang tau gak, obatnya apa? Biar gak kepikiran terus gitu.
"Maaf." Aku mengambil mobil-mobilan yang Deril pinta.
"Mbak, kenapa? Sakit lagi?"
Iya, sakit hati.
"Nggak, kok. Ayo, main lagi." Aku tersenyum.
Riaannn! Aku kangen. Eh, aku penasaran siapa yang kamu telepon itu. Mira, fokus kerja!
"Deril belum makan siang, ya? Yuk, makan dulu."
"Nanti aja, Mbak."
"Jangan gitu, nanti kalo sakit, gimana?"
Deril terdiam sejenak, lalu mengangguk.
***
Kusantap makan malamku dengan pikiran yang semakin tak menentu. Ternyata, cemburu telah menguasai ruang hati.
"Aww!" pekikku. "Kenapa lo nyubit pipi gue?"
"Lah, lu sendiri kenapa makan sambil ngelamun? Biasanya juga kalo makan rakus."
Ini semua gara-gara kamu, Rian. Kamu harus bertanggung jawab atas rasa yang kini menjalar di dalam dada.
"Rian."
"Paan?" Rian mengambil piring lalu mengambil nasi di rice cooker.
Tanyakan nggak, ya? Tanya, nggak, tanya, nggak? Duh, jadi ragu.
"Hmm ... itu, hmm ... anu," ucapku canggung.
"Apaan, sih? Itu, anu, itu, anu." Rian duduk di depanku.
Kukumpulkan keberanian untuk menanyakan yang mengganjal di hatiku.
"Sebenernya, lo itu ...."
"Gua manusia!" Rian sepertinya tampak kesal dengan perkataanku yang bertele-tele. Ah, memang lelaki itu sukanya langsung ke inti pembicaraan.
"Kenapa lo itu dibolehin kerja sambil kuliah sama Pak Andre?"
"Ngapain lu nanya soal itu?" Diambilnya gulai kambing yang tersaji di depannya.
"Pingin tau aja."
"Gua itu, orangnya baik. Emangnya lu? Ngeselin."
"Gajinya gimana? Dipotong?"
"Lu kepo banget sama hidup gua."
Jelas aku ingin tahu tentang kamu. Semenjak rasa itu datang, kamu ....
"Jangan-jangan lu ...," imbuhnya seraya memicingkan mata.
"Apa?"
"Iri sama gua." Rian melahap makan malamnya.
Ini orang nyebelin banget. Ditanya soal ginian aja, jawabannya bikin enek. Gimana kalau ditanya soal orang yang dipanggil 'sayang' saat malam itu?
Eh, Mira, jangan sebel dulu! Lihat, deh, kamu makan malam berdua sama Rian. Berhadapan.
Kulihat, Rian begitu menikmati makan malamnya. Andai saja masakan ini, aku yang masak. Tapi tak apalah, yang penting aku bisa dinner sama dia. Yeay!
"Heh, lu kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Suka-suka gue, lah! Mau senyum kek, mau nyengir kek, mau smile kek, terserah gue."
"Gila!"
Iya, aku gila. Gilamunin kamu. Eaa ....
__ADS_1
***
"Pak," panggilku kepada Pak Andre yang baru datang dari kantor.
"Iya, ada apa, Mira?"
"Itu ... diapernya Deril habis. Tadi siang aku mau beli, tapi gak ada yang jagain Deril. Mau dititipin ke Bi Ani, tapi lagi sibuk." Aku agak canggung mengatakannya. Apalagi Pak Andre pasti capek baru pulang kerja.
"Hmm ...." Pak Andre menatap Rian. "Rian, kamu bisa gak antar Mira ke mini market?"
Rian menatapku tajam. "Bisa, Pak."
Pak Andre memberi tiga lembar uang seratus ribuan kepadaku. "Kalian pakai motor saja, ya."
Aku dan Rian mengangguk.
Sesampainya di mini market, aku segera mengambil diaper yang biasa dipakai sama Deril. Sedangkan Rian, menunggu di depan.
Aduh, kenapa pakai ngantri segala sih, di kasirnya? Sesekali kutatap Rian, dia sedang memainkan ponsel. Jangan-jangan ... Rian lagi saling berkirim pesan dengan orang yang dipanggil 'sayang' itu?
Ih, sebel! Aku aja gak tau nama Facebook, Instagram, dan nomor WhatsApp-nya.
Setelah melakukan pembayaran, dan menunggu kembalian, kasir itu pun bertanya, "Tiga ratus rupiahnya mau didonasikan atau tidak, Mbak?"
Donasi apaan? Buat siapa?
"Nggak."
Lagian, ini uangnya Pak Andre. Masa mau main donasi aja tanpa seizinnya. Lagian, kalau diizinkan aku lebih memilih didonasikan ke kotak amal masjid.
Berapapun itu nilainya, jelas uangnya untuk kepentingan masjid. Lah, ini?
Saat kubuka pintu mini market, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Rian yang duduk di motor, berlari ke teras mini market.
"Lu sih, kelamaan."
"Tadi kan ngantri."
Dingin. Bodohnya aku, tadi tak pakai jaket. Mana lapar, gak bawa uang.
"Rian." Pandanganku mengarah padanya.
"Paan?" Rian tetap memandang ke depan. Lihat aku kek!
"Laper ...."
"Bodo amat!"
"Noh, minum air hujan!"
Aku mengerucutkan bibir. Rian memang lelaki tak peka. Masa ada perempuan cantik, dibiarkan kelaparan.
Rian pun menarik tanganku. "Eh, mau ke mana?" tanyaku saat mengikuti langkahnya yang terburu-buru.
"Pak, baksonya dua, ya," pinta Rian kepada penjual bakso yang kedainya terletak di samping mini market.
Kami duduk di pojok. Soalnya, kedainya cukup ramai, mungkin karena sedang hujan, jadi banyak yang melipir ke sini.
"Rian, tapi gue gak bawa uang," ucapku saat kami menunggu penjual bakso itu mengantar dua mangkuk bakso yang Rian pesan.
Rian melebarkan mata. "Ya, ampun. Makhluk apa yang sedang bersama gua ini?"
"Bidadari."
"Terus, bayarnya gimana?"
Aku mengangkat bahu. "Pake uang lo aja."
"Makanya, kalo ke mana-mana itu, bawa duit!"
Penjual bakso itu pun meletakkan dua mangkuk bakso di meja kami. "Minumnya mau apa?" tanya penjual bakso itu.
"Teh manis hangat," jawabku cepat.
"Baik, tunggu sebentar."
Dua gelas teh manis hangat pun terhidang di meja kami. Hujan-hujan, makan bakso sama Rian itu rasanya .... Hujan, janganlah kamu segera reda, aku ingin menikmati kebersamaan ini dengannya.
"Rian," sapa seorang gadis berpakaian seragam toko. Kok, aku tahu? Ya, itu ada tulisan nama tokonya di dada sebelah kiri.
"Hei, Mona. Baru pulang kerja?" tanya Rian disertai senyuman.
"Iya." Mona melihatku lalu melihat Rian.
"Dia Mira. Pengasuh anak majikan gua."
"Oh ... gue boleh gabung?"
Ih, apa-apaan, sih! Gangguin aja. Aku gak mau ada orang ketiga di antara aku dan Rian.
__ADS_1
"Boleh," jawab Rian.
Ah, dasar, Dodol! Kenapa dibolehin? Suruh dia di tempat lain aja. Beteee ....
Rian dan Mona begitu akrab. Aku? Fokus makan bakso aja. Mereka gak ngajak ngobrol. Apalagi si Mona, kaya kesenengan gitu ngobrol sama Rian.
"Pak, baksonya satu porsi lagi, ya," pintaku.
"Iya, Neng."
Rian melebarkan mata padaku, lalu mengusap wajahnya. Salah sendiri, sibuk sama perempuan lain.
"Wah, lo makannya banyak juga, ya?" tanya Mona. Ah, entah nanya, entah nyinyir.
"Iya. Biar punya banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan."
Mona tertawa kecil. "Iya, sih. Kenyataan ketika yang disukai, gak pernah peka." Mona melirik Rian yang sedang menyeruput teh manis.
"Emangnya, lo belum punya pacar?" tanyaku yang penasaran dengan statusnya.
"Belum. Doain, ya, supaya yang gue suka, juga suka sama gue." Lagi, Mona tertawa kecil, sesekali melirik Rian.
Apa Mona suka sama Rian? Kalau iya, sainganku nambah, dong. Hwaaa! Sedih aku, tuh.
Pokoknya, aku gak terima Rian jadi milik orang lain. Ah, tapi cinta kan gak bisa dipaksakan. Cinta juga tak harus memiliki. Tapi ... ah, kaya laki-laki cuma Rian doang.
Dua mangkuk bakso habis kumakan. Hujan juga belum reda. Kami masih bertiga di satu meja. Aku, Rian, dan si pengganggu.
Ngantuk, bete, sebel, halaahhh ....
Coba gak ada si Mona, kan aku bisa berduaan sama Rian.
"Eh, hujannya udah mulai reda," kata Mona.
"Iya. Mira, ayo pulang. Nanti Pak Andre khawatir lagi," ajak Rian.
"Kalian pake apa ke sini?"
"Motor, emang kenapa, Mon?" tanya Rian.
"Gue ... boleh minta tolong dianterin gak?"
Dianterin? Gak salah denger aku? Iuwww, dasar tukang cari kesempatan!
"Gue gak berani kalo harus pulang sendiri, udah terlalu malam gini," imbuh Mona.
Rian melihatku. "Ya, udah. Gua anterin."
"Rian, kalo Pak Andre khawatir gimana? Lagian, kita udah terlalu lama di sini."
"Masa gua biarin cewek pulang sendirian malam-malam gini?"
Kulihat senyuman tersungging di bibir Mona. Kurang ajar!
"Ayo! Bertiga aja, ya, di motornya. Biar sekalian pulang," kata Rian.
Aku maunya berdua, bukan bertiga. Aku maunya cuma sama kamu, tanpa ada orang ketiga. Fix, Rian benar-benar nyebelin.
"Aku yang di tengah," pinta Mona.
Ih, bener-bener nih orang, cari kesempatan dalam kesempitan banget.
Di perjalanan, kulihat Mona memeluk Rian. Aku aja, yang tiap hari ketemu Rian, dan suka sama dia, gak pernah tuh seganjen itu.
"Aduh, Mira, kenapa lo nginjek kaki gue?"
Sukurin. "Maaf."
Motor berhenti sampai di depan gang. Mona pun turun, "Makasih, ya, maaf jadi ngerepotin."
Ngerepotin banget malah.
"Iya, hati-hati, ya," ucap Rian.
Mona mengangguk dan terus menatap Rian disertai senyuman sok cantik.
"Udah buruan pulang! Udah malam juga," suruhku.
Kuharap ini pertemuan pertama dan terakhir sama si pengganggu itu. Perusak suasana. Pokoknya, aku lagi badmood.
Akhirnya, kami sampai di halaman rumah Pak Andre.
"Rian, kenapa sih lo pake nganterin si Mona segala?" tanyaku setelah turun dari motor.
"Kasian dia. Kalo di jalan ada apa-apa gimana?"
"Lah, biasanya juga dia pulang malam, 'kan?"
"Tadi kan udah terlalu malam."
__ADS_1
"Padahal mah, biarin aja dia pulang sendiri. Mau kenapa-napa kek, mau diculik genderewo kek, mau diajak ngerumpi sama kuntilanak kek, harusnya biarin aja!" Aku mengerucutkan bibir, lalu menuju rumah. Hatiku panas pokoknya.
***