SEBAL TAPI SAYANG

SEBAL TAPI SAYANG
Part 6


__ADS_3

Kudekatkan ponsel ke telinga. Panggilanku diterima, lalu kujawab salam dari sang penerima telepon.


"Apa kabar, Pak?"


"Alhamdulillah ... baik. Kamu bagaimana, Mir?"


"Alhamdulillah, Pak. Ibu sama Fajar juga sehat?"


"Alhamdulillah. Tumben nelpon, ada apa, Mir?"


"Aku udah transfer satu juta lima ratus ke rekeningnya Mbak Erni. Nanti, Bapak tinggal minta uangnya." Mbak Erni adalah pemilik warung yang rumahnya bersebelahan dengan tempat tinggalku.


"Alhamdulillah ... terima kasih, ya, Mir. Semoga rezeki kamu selalu Allah lancarkan."


"Aamiin, Pak. Bapak jualan hari ini?"


"Iya, do'ain semoga laris dagangan bapak."


"Aamiin, Pak. Sudah dulu, ya, Pak. Aku mau kerja lagi. Salam untuk ibu dan Fajar."


Bapak pun mengiyakan, dan panggilan pun diakhiri dengan ucapan salam.


Entah kenapa ... mataku berkaca-kaca. Setengah gaji pertamaku, kuberikan untuk keluarga.


Bapakku penjual es campur, sedangkan ibuku seorang buruh cuci. Fajar, adikku kelas satu SMP, yang sekarang membutuhkan biaya lebih besar untuk sekolah dari sebelumnya. Belum lagi rumah yang kami tempati, adalah rumah kontrakan yang setiap tahunnya harus dibayar.


Aku baru bisa memberikan setengah gajiku, karena aku pun membutuhkan uang untuk keperluanku, sisanya untuk kutabung. Semoga saja, satu juta lima ratus rupiah dapat memenuhi sebagian kebutuhan keluargaku.


Terdengar Pak Andre memanggilku dan Rian. Aku segera menghampiri Pak Andre di ruang keluarga.


Pakaian kantor membaluti tubuh atletis itu. Duduk di sofa putih, dengan ponsel di tangan kanannya.


"Iya, ada apa, Pak?" tanyaku.


Tak lama kemudian, Rian pun datang.


"Begini, Bi Ani izin tidak bekerja mulai hari ini, karena anaknya sedang dirawat di rumah sakit." Pak Andre meletakkan ponselnya di saku. "Jadi ... saya putuskan Rian tidak usah mengantar saya ke kantor, cukup bantu Mira saja di rumah." Pak Andre menatapku dan Rian bergantian.


"Mira bakal kewalahan kalau harus menjaga Deril, sekaligus mengurus rumah," imbuh Pak Andre.


"Baik, Pak." Rian mengangguk.


"Hmm ... sepertinya keperluan dapur, keperluan mandi, dan keperluan mencuci stoknya sudah menipis. Susu Deril juga, mungkin sudah mau habis. Nanti, kalian belanja, ya." Pak Andre mengambil dompet kulit hitam dari saku celananya. Memberikan begitu banyak uang seratus ribuan.


"Ini uangnya. Rian ... kamu sudah tahu, 'kan, apa saja yang harus dibeli?"


"Iya, Pak."


Pak Andre mengangguk. "Sekalian ajak Deril. Ini uangnya saya lebihkan, siapa tahu kalian lapar dan Deril ingin jajan." Pak Andre tersenyum.


Aduh, ini majikan baik banget, ya. Terus ... itu uang belanjanya gak kebanyakan? Aku aja kalau disuruh belanja sama ibu ke warung atau ke pasar, gak sebanyak itu. Ini belanja buat keperluan rumah atau buat dagang?


"Baik, saya ke kantor dulu, ya." Pak Andre berdiri. "Rian, kamu pakai saja mobil yang satunya, ya."


Rian mengiyakan disertai anggukan.


"Mending sekarang lu urus Deril, biar gua yang bersihin rumah. Nanti, kita baru belanja." Rian kemudian pergi.


Setelah memandikan dan menyuapi Deril roti, aku pun bersiap-siap untuk pergi belanja.


Di perjalanan, kendaraan begitu padat mengisi jalanan ibu kota, sesekali ditatap oleh gedung-gedung yang berdiri kokoh. Mobil berhenti ketika sang lampu lalu lintas menyala merah. Para pengamen cilik berlomba mendekati kendaraan, demi meraih rupiah.


Deril begitu senang ketika para pengamen cilik itu bernyanyi menghadap mobil yang kami tumpangi.


Rian memberikan selembar uang berwarna biru kepada salah satu pengamen itu.


Aku yakin, itu bukan uang yang Pak Andre berikan. Tapi ... bisa aja Rian pakai uangnya dulu, lalu nanti diganti pakai uang belanja yang Pak Andre berikan. Bisa jadi, 'kan?


Mobil kembali melaju membelah jalanan ibu kota. Kemudian, sampailah kami di sebuah pusat perbelanjaan.


"Mas Ian, Eyil nanti pingin mainan," pinta Deril begitu antusias.


"Iya ... tapi, kalau sudah belanja, ya." Rian mengusap rambut Deril.


"Eh, ntar dulu! Daftar belanjaannya mana?" tanyaku mengangkat alis.


"Udah, lu ikut aja. Lagian ... gua udah biasa belanja sama Bi Ani." Rian membuka sabuk pengamannya disusul sabuk pengaman Deril. Sedangkan, aku duduk di belakang.


Kami menyusuri tempat sayuran dan buah-buahan. Kemudian, ke tempat makanan beku.


Kami pun menyusuri tempat keperluan dapur, keperluan mandi, keperluan mencuci, dan susu. Rian sepertinya biasa ditugaskan membantu Bi Ani belanja, sehingga tak perlu banyak waktu untuk memilah dan memilihnya.


"Mas Ian, Eyil pingin main."


"Iya, nanti ya ... Mas Ian mau bayar belanjaan ini dulu." Rian mengusap rambut Deril seraya tersenyum.

__ADS_1


Setelah membayar belanjaan dan menitipkannya, kami menuju tempat permainan yang biasa disebut Time Zone. Deril begitu antusias, berlari menuju salah satu mobil-mobilan yang bisa ditunggangi.


"Eyil pingin naik ini." Deril memegang mobil-mobilan berwarna biru.


Rian menghampiri Deril. "Boleh, Mas Ian beli koinnya dulu, ya."


Deril mengangguk.


"Heh, lu ngapain bengong mulu?"


"Mau gue bengong kek, mau gue ee' kek, apa urusannya sama lo?" Aku mendelik.


"Nih, jagain! Gua mau beli koin dulu."


Ya, elah ... gak perlu disuruh juga pasti aku jagain Deril, anak dari calon suamiku. Eh, ampun ini halunya kumat.


Rian pun membawa banyak koin, lalu memasukkan dua koin ke mobil-mobilan yang ingin Deril naiki.


Setelah menaiki mobil-mobilan, Deril meminta bermain berbagai macam permainan lainnya. Aku hanya membuntuti dari belakang. Deril lebih memilih bermain bersama Rian.


"Mas Ian, Eyil pingin makan ayam goleng sama es klim."


"Boleh ... sini Mas Ian gendong." Rian menjulurkan kedua lengan, sebagai kode.


Kami pun menuju ke tempat makan di lantai lima. Duduk di kursi yang bersebelahan dengan dinding kaca.


Pandanganku menembus dinding kaca. Terlihat, kendaraan yang berlalu lalang, gedung-gedung pencakar langit, dan padatnya perumahan yang beratapkan langit biru berawan sirrus.


"Heh, lu mau makan apa?"


"Makan batu," ketusku.


"Di menunya gak ada batu. Berarti, lu gak pesen makan, ya?"


Aku memutar bola mata, lalu merebut daftar menu yang dipegang Rian.


Melihat-lihat berbagai menu yang terdaftar di sana.


"Cepetan! Lama banget milihnya. Apa gak ada makanan lu di sana?"


"Sabar napa?" Aku melihat Rian sekilas. "Gue pesen pecel lele, aja."


"Lu bisa baca apa kagak, sih? Kenapa gak sekalian aja lu pesen semur pete?"


"Bilang kek, dari tadi." Rian memanggil pelayan untuk memesan.


Tak lama kemudian, tiga porsi nasi berlauk ayam goreng tepung dan tiga gelas es jeruk tersaji di meja kami. Aku dan Rian bergantian menyuapi Deril.


Terdengar beberapa opini dari pengunjung yang lain.


"Liat, deh! Suami istri itu kompak nyuapin anaknya."


"Iya ... padahal masih muda. Perhatian banget sama anaknya."


"Eh, tapi ... kok, anaknya gak mirip mereka, ya?"


"Iya, ya. Lebih cakep anaknya. Mungkin, anak dari selingkuhan si istri kali."


"Bisa jadi. Sekarang tukang seligkuh di mana-mana."


Apa-apaan ini? Sungguh, mulut mereka begitu tajam, setajam golok.


Ingin rasanya, kusumpal mulut mereka dengan tulang ayam, tapi kutahan karena gengsi.


"Lu gak usah dengerin omongan mereka," ujar Rian saat menyuapi Deril.


"Biarkan orang lain beropini buruk, asal kita jangan," imbuhnya.


"Lo gak usah so bijak, deh!" Aku menggit ayam goreng tepung.


Setelah selesai makan, kami putuskan untuk pulang. Meski pun berbagai model baju melambai-lambai ingin kupinang. Apalagi baru gajian.


"Mas Ian, beli es klimnya belum," tagih Deril saat kami menuju tempat penitipan barang.


"Aduh, Mas Ian lupa. Baiklah, kita beli es krim dulu, ya." Rian mencubit pelan pipi Deril.


Aku hanya membuntuti, sedangkan Rian menggendong Deril.


"Eyil pingin rasa cokelat," pinta Deril saat kami sudah sampai di tempat yang bisa memesan es krim.


"Boleh." Rian tersenyum, lalu melihatku. "Lu mau rasa apa?"


"Rasa agar perasaan gue dibales." Aku mendelik.


"Mana ada cowok yang mau sama lu?"

__ADS_1


Aku melebarkan mata dan mengerucutkan bibir. "Stroberi."


Kami duduk menunggu sang pelayan mengantar es krim pesanan kami.


Dua es krim cokelat dan satu es krim stroberi terhidang di meja kami.


Es krimnya enak ... nambah lagi bisa gak, ya? Sekalian bungkus gitu.


"Rian," panggilku sedikit gengsi.


"Paan?" Rian masih sibuk menyuapi Deril.


"Pesen lagi boleh gak? Sekalian bungkus buat di rumah."


"Boleh, tapi pake duit lu, ya!"


"Ih, nyebelin!" Aku melahap es krim yang sisa setengah sendok kecil.


"Es krimnya udah habis, sekarang waktunya pulang," kata Rian kepada Deril sambil membersihkan es krim yang blepotan di sekitar mulut Deril.


Deril mengangguk.


Di perjalanan, Deril tertidur. Mungkin, karena kelelahan. Sedangkan aku dan Rian, saling hening.


***


Rian menggendong Deril dan menjinjing satu plastik besar berisi belanjaan kami. Masih sisa dua plastik besar di mobil, yang kujinjing semua.


Duduk seraya meneguk air dingin di dapur, Rian menghampiriku.


"Kita belum menanak nasi dan bikin lauk. Lu yang masak, ya!"


Mataku melebar. Masak? Aku, kan, cuma bisa masak yang gampang-gampang aja. Seperti ... nasi goreng, telur goreng, mie instan, dan masak air biar mateng.


"Heh, malah bengong." Rian menjewerku.


"Bisa gak, lo gak usah jewer gue?" Aku mendelik. "Lagian ... gue gak bisa masak."


"Lah, waktu malam itu, lu kan goreng telur? Oh, jadi lu cuma bisa buat telur dadar doang?" Rian mengangkat alis.


"Diem lo!" bentakku.


Rian pun mengambil sayuran, membersihkan dan memotonginya, disusul memotong bakso, kemudian meracik bumbu. Sedangkan aku, menemui Deril yang terus memanggilku dan memanggil Rian.


Aku mengajak Deril bermain di ruang keluarga. Terdengar, suara peralatan dapur beradu pelan.


"Mbak, Mas Ian ke mana?"


"Ada, di dapur. Memangnya kenapa?"


Deril tak menjawab, melainkan berlari menuju dapur.


"Mas Ian ...." Deril mendekati Rian yang sedang mengaduk masakan.


"Deril ... liat deh! Mas Ian lagi masak sup bakso kesukaan kamu." Rian mengusap rambut Deril.


Deril begitu senang, ketika tahu Rian memasak salah satu makanan kesukaannya.


Rian pun menyajikan sup di meja makan. Menyuruhku dan Deril untuk makan. Ragu sebenarnya. Enak tidak, ya?


Aku mencicipi sedikit, lagi, dan ... enak! Rasanya pas, sayurnya pun tidak kematangan.


"Enak, 'kan?" tanya Rian mengangkat alis.


"Biasa aja," ucapku datar. Gengsi, dong. Masa, iya, harus jujur kalau masakannya enak.


"Menurut Deril, enak gak supnya?"


"Enak, Mas Ian. Eyil suka," ungkap Deril tersenyum.


"Berarti ... lidah Deril normal. Kalau yang bilang gak enak atau biasa aja, mungkin lidahnya lagi sariawan tujuh biji." Rian melihatku sekilas, lalu menyunggingkan senyum. Senyum meledek, atau ... entah.


Aku memutar bola mata. Inginku makan lahap, namun karena gengsi, aku tahan dulu. Please, Rian ... kamu pergi sana, biar aku bisa makan banyak.


"Kalo orang kebanyakan gengsi, pasti tersiksa sendiri," sindir Rian setelah mendengar suara dari perutku.


Aku sudah tidak bisa menahan lapar. Kuambil dua centong nasi, dan tiga centong sup. Makan tanpa memperdulikan sindiran-sindiran dari Rian.


"Dasar, tukang drama lu!"


"Laper gue. Makanya ambil banyak." Aku melahap bakso.


"Mbak Mila sama Mas Ian kenapa belantem mulu? Udah gede, nggak malu sama umul?" celetuk Deril.


***

__ADS_1


__ADS_2