
Aku hanya membawa sedikit pakaian untuk pulang. Lagian, di rumah juga ada pakaian yang lain. Aku sudah menghubungi Bapak, mau pulang besok.
Pak Andre dan Deril akan pergi ke Bali besok. Daripada aku sendiri di sini, ikut juga enggak. Ya, udah mending pulang ketemu keluarga.
Setelah selesai memasukkan pakaian ke tas, aku pun merebahkan diri di kasur. Menatap langit-langit kamar. Malam besok aku akan tidur di kamarku.
Kuambil ponsel, lalu menyalakan data seluler. Membuka WA. Ada pesan dari Dini.
[Entar kalo elu cuti kerja ketemuan yookk]
[Boleehh. Gue ada rencana liburan bareng keluarga. Lo mau ikut?]
[Kalo gue pas libur mungkin bisa]
Sebenarnya, aku dan Dini dulu cukup dekat. Namun, semenjak lulus SMA dan memutuskan bekerja, kami jadi jarang bertemu dan berkomunikasi.
Kulihat status WA, siapa tau Rian membuat status. Benar saja. Langsung kupilih yang diberi nama 'Rian' di kontak, agar bisa melihat statusnya.
Sebuah foto siluet laki-laki sedang berdiri dan menghadap senja. Lelaki itu membelakangi kamera. Apakah itu Rian?
Mau aku kirim pesan, tapi dia suka nyebelin. Padahal bukan hanya ingin berkirim pesan, kalau bisa, sih, video call.
Aku pun membuat status di WA. Berupa tulisan aja.
Aku ingin menjadi senja. Bukan hanya dapat dilihatmu, tapi juga disukaimu.
[Eaa buciin si Mira] Pesan dari Dini.
[Biarin. Siapa tau dibaca sama orangnya]
Kulihat status, siapa tau Rian melihatnya. Ah, nyatanya tidak. Eh, belum maksudku.
Rian sedang aktif. Ayo, dong lihat status WA-ku, Rian! Siapa tahu nanti jadi peka gitu.
[Senja memang indah, tapi hanya sesaat. Bagaimana bisa kamu ingin menjadi sesuatu yang indah, tapi hanya sesaat?]
Coba tebak itu pesan dari siapa? Dari Pak Andre, Gaeess! Ah, aku lupa untuk memprivasi status WA dari Pak Andre.
Kukira Pak Andre gak bakal baca statusku. Ya, secara mana penting, kan, aku cuma pengasuh anaknya.
[Aduh jadi malu dibaca sama majikan hehehe]
[Kalau benar menyukainya, tunjukkan kalau kamu memang pantas untuk disukainya. Percuma ngode kalau yang dikode tidak peka]
Aduuuhh ... bener juga. Eh, maksudnya aku harus ngungkapin perasaan ke Rian gitu? Ih, malu dong!
[Riannya nyebelin pak. Eh bapak belum tidur?]
[Coba aja dulu. Habis video call sama Rian. Deril yang minta]
Apaaa? Video call sama Rian? Lah, aku kapan? Hwaaa ....
[Apalah aku ini yang pingin VC tapi ditolak sama Rian. Huhu nasib]
[Jangan ngeluh kalau benar-benar suka. Usaha terus]
[Caranya pak?]
Pak Andre malah gak aktif. Aduuh ... ya, kali aku harus ke kamar Deril untuk menemui Pak Andre dan nanyain caranya.
Kulihat ada pesan dari Dini.
[Ngode teroosss. Buktiin lah ama tindakan!]
[CARANYA KAKAK?]
[Jadilah orang waras terlebih dahulu]
Wah, teman gak beradab ini. Emang aku gila apa?
***
Matahari telah menampakkan diri. Aku yang sudah selesai mencuci peralatan makan, lalu bergegas ke kamar. Mengambil barang-barang yang akan dibawa pulang. Hanya tas gendong dan tas selempang aja.
Pak Andre pun sudah menyiapkan satu koper, satu tas jinjing ukuran sedang, dan satu tas kecil yang diselempangkan.
Mang Ujang juga gak ikut. Katanya anak bungsunya mau disunat. Mumpung libur sekolah.
"Ciyee ... yang mau liburan ke Bali." Aku tersenyum ke Deril yang sudah berpakaian rapi.
"Mbak Mila gak ikut?"
Aku menggeleng. "Mau ketemu sama keluarga. Deril hati-hati, ya, di jalan. Semoga liburannya menyenangkan."
Deril mengacungkan kedua jempol tangannya. "Oke, Mbak!"
Aku pun membantu membawa tas ukuran sedang ke teras depan. Taksi sudah menunggu di depan gerbang.
"Ya, sudah. Kami berangkat dulu. Kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Pak Andre setelah memasukkan koper ke bagasi.
__ADS_1
"Enggak, Pak." Aku tersenyum ke majikan tampanku yang mengenakan kemeja panjang biru tua dipadukan dengan celana jeans biru.
"Kalau Rian ikut, gimana?"
Aku melebarkan mata. "Emangnya Rian ikut, Pak?"
Pak Andre menggeleng. Lalu tertawa kecil. Hmm ... kirain dia ikut.
"Ya, sudah. Kami pergi dulu. Kamu hati-hati di jalan." Pak Andre masuk ke taksi.
Aku mengangguk. "Hati-hati, ya, Pak dan Deril."
"Dadaahh ... Mbak Mila." Deril melambaikan tangan kanan.
Ojek online yang kupesan pun datang. Motor pun melaju setelah kunaiki.
Akhirnya ... aku bisa cuti kerja di akhir tahun. Meskipun, ingin ikut ke Bali. Aku, kan, belum pernah ke sana. Duh, semoga aja nanti Pak Andre ngadain rencana ke sana lagi.
Motor pun berhenti di depan kontrakan yang ditempati oleh keluargaku.
Kulihat Ibu berdiri di teras depan. Senyumnya tampak bahagia.
Kucium punggung tangan kanan Ibu setelah mengucapkan salam.
"Ayo, masuk! Ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu."
"Bapak jualan, Bu?"
"Iya."
"Fajar ke mana?"
"Biasa dia mah. Main."
Aku pun menuju kamar terlebih dulu, kemudian meletakkan tas gendong dan tas selempang di kasur.
Kamarnya rapi dan bersih. Sepertinya, Ibu suka membersihkan dan merapikan kamarku. Meskipun gak ditempati.
"Mira, ayo makan!" suruh Ibu dari ambang pintu kamarku.
"Iya, Bu."
Meskipun aku udah sarapan, tapi udah mulai lapar setelah melihat masakan Ibu. Kangen udah berbulan-bulan gak makan masakan Ibu.
Meskipun aku masih tinggal di Jakarta, tapi jarak rumah gak dekat sama rumah Pak Andre. Apalagi aku mengambil cuti kerja saat idul fitri. Ditambah sekarang, di akhir tahun.
"Duh, udah lama gak makan masakan Ibu. Enak banget pasti ini mah."
"Buruan makan!"
"Ibu gak makan?"
"Sudah makan. Sekarang mau mencuci baju."
Ibu memang seorang buruh cuci. Dulu memang pakai tangan. Alhamdulillah sekarang udah ada mesin cuci, ya, meskipun masih baru. Kata Ibu, setengah gaji yang kukirim setiap bulan cukup membantu untuk perekonomian keluarga.
Setidaknya, ada simpanan. Karena kutau, Bapak dan Ibu ingin sekali punya rumah sendiri. Biar gak terus-terusan mengontrak.
Maaf, ya, Pak, Bu ... aku belum bisa mewujudkan impian Bapak dan Ibu.
Aku pernah mengusulkan agar Ibu buka usaha laundry. Jadi, gak cuma terima jasa cuci pakaian aja. Namun, juga selimut, seprai, dan tirai. Sedangkan karpet, sepertinya belum bisa. Makanya, Ibu dan Bapak mau membeli mesin cuci.
Di depan belum dipasang spanduk. Sepertinya Ibu masih bingung masalah harus mencantumkan nomor telepon. Karena ponsel Bapak selalu dibawa ke tempat jualan. Biasanya, ada orang-orang pesan es campur lewat telepon atau SMS.
"Nanti sore kita ke konter, ya, Bu." Aku mendekati Ibu yang sedang memasukkan cucian ke keranjang.
"Ngapain?"
"Beli HP buat Ibu. Jadi, nanti yang mau laundry tinggal telepon atau SMS. Nanti Ibu tinggal menuju rumahnya, deh! Kalau udah selesai, dianter lagi."
"Emang tidak memakan waktu, ya?"
Mereka yang mau cuci baju, memang datang ke sini. Baru Ibu mengantarkan kalau sudah beres atau ada yang mengambil sendiri.
"Justru itu nilai tambah, Bu. Biar orang-orang pada seneng. Pelanggan Ibu tambah banyak."
"Pakai motor bapakmu?"
"Ibu, kan, bisa bawa motor. Gak kaya aku. Nyungsep!"
Ibu tertawa kecil. Lalu mengangkat keranjang berisi pakaian yang sudah dicuci ke halaman belakang.
Meskipun kontrakannya gak besar, tapi ada halaman belakang yang cukup untuk menjemur pakaian.
Kalau usaha laundry Ibu maju, sepertinya harus cari kontrakan yang halamannya luas. Namun, mahal gak, ya? Secara di Jakarta, Gaeess!
"Bu, ada rencana pindah kontrakan kalau usaha laundry-nya mulai maju?" tanyaku seraya menjemur pakaian.
"Kontrakan pada mahal. Mending ngumpulin uang saja buat beli rumah."
__ADS_1
"Iya juga, sih."
Setelah membantu Ibu menjemur pakaian, kami duduk bersama di depan TV. Saling bercerita tentang keseharian kami.
"Majikanku itu baik, Bu. Anaknya juga gak rewel."
"Alhamdulillah kalau begitu. Kerja yang benar kamu, ya."
Aku merasa ngantuk. Biasanya, aku gak bisa tidur siang. Maklum, kalau tidur siang nanti siapa yang ngasuh Deril? Masa Bi Ani?
"Tidur sana! Mumpung cuti kerja." Ibu tersenyum.
***
Sorenya, aku dan Ibu pergi ke konter yang jaraknya gak terlalu jauh dari kontrakan. Mencari ponsel yang harganya gak terlalu mahal.
Memilih-milih, akhirnya ponsel harga satu jutaan yang dibeli. Sekaligus kartu memori, anti gores, dan kartu SIM.
Fajar sudah terlebih dulu membeli ponsel. Apalagi sudah masuk SMP, tugasnya makin banyak. Siapa tau dia bisa memanfaatkan ponsel untuk mencari ilmu di internet.
"Bu, nanti nomor ini yang dipasang di spanduk, ya," tunjukku pada nomor SIM milik Ibu.
Ibu mengangguk. "Ini kamu masukkin nomor keluarga dan saudara." Ibu menyerahkan ponselnya.
Setelah memasukkan nomor keluarga dan saudara, aku mengajari Ibu cara menggunakan ponsel pintar itu.
"Awas, nanti ketagihan main HP terus," celetuk Bapak yang pandangannya menuju TV.
"Bapak iri, ya?" ledek Fajar seraya menunjuk Bapak.
Bapak tertawa. "Ya, iya, lah."
"Entar kalau aku gajian."
"Widiihhh! Bakal ada yang punya HP baru, nih," ledek Fajar seraya melirik Bapak.
"Hmm ... rencana liburan nanti mau ke mana?" tanyaku yang duduk di samping Ibu.
"Ke kolam renang yang ada perosotan tingginya itu," ungkap Fajar tampak antusias.
"Mahal ke situ mah. Lagian saudara yang lain mau ke pantai Ancol rencananya," ujar Ibu seraya melihat Fajar.
"Ih, pingin ke kolam renang, Bu. Atau ke Dufan aja?"
"Ya, elaahh ... anak kecil kaya berani aja naik wahana di Dufan," ledekku ke Fajar yang tampak sebel.
"Berani, lah!"
"Kalau ke pantai harga tiketnya terjangkau. Nanti kita bawa makanan juga, makan bersama sambil melihat pantai," kata Ibu melihatku dan Fajar bergantian.
"Aku, sih, ngikut aja."
Fajar malah mengerucutkan bibir. "Tapi, Bu ...."
"Kamu bisa sepuasnya main air. Lagian, enak kumpul sama saudara yang lain. Tetangga juga ada yang mau ke sana. Jadi, rame." Ibu tersenyum. Meski umurnya gak muda lagi, tapi tampak cantik.
"Iya, deehhh," ungkap Fajar.
Ibu pergi ke kamar karena merasa sudah mengantuk. Begitu pun dengan Fajar. Bapak masih menonton TV. Aku pun ikut masuk ke kamar.
Mengambil ponsel yang tergeletak di kasur berseprai hijau muda bermotif daun berwarna hijau tua.
Menyalakan data seluler. Membuka WA, siapa tau ada pesan dari Rian. Ngarep.
Ah, nyatanya gak ada. Maklum, aku memang gak penting baginya.
Lalu, melihat status di WA. Mencari nama 'Rian', tapi gak ada. Kulihat Rian sedang gak aktif. Terakhir kali aktif pukul setengah tiga sore.
Iseng, kufoto bantal guling di sebelahku. Lalu, diunggah di status WA. Dengan caption, Akhirnya kita ketemu lagi duhai bantal gulingkuuu ....
Aku gak peduli mereka yang liat akan berkomentar seperti apa.
[Mblo mah ama bantal guling yee sayang²annyee] Pesan dari Dini.
[Idiihhh apaan sih? Gue juga masih normal kali. Bukan jones jugaaa]
[Serah elu aje. Eh dah balik ye?]
[Iya. Cuti kerja dong gue mah]
[Mau jalan² ke mane elu? Jangan bilang mau ke got sambil naek motor ye!]
Kenapa ini orang malah mengingatkanku pada masa lalu? Di saat belajar motor, eh, malah nyungsep ke got.
[Diaaammm!]
***
Jangan lupa like, vote, dan rate 5 yaa .... Tinggalkan jejak komentar juga. Makasih.
__ADS_1