
Aku mengambil ponsel yang tergeletak di kasur. Lalu, mengaktifkan data seluler. Membuka WA. Memilih salah satu nama untuk dikirimi pesan.
[Tau gak? Gue udah nyoba berbuat baik. Nyoba minta maaf sama dia. Semoga aja gue jadi lebih mudah buat deketin dia. Ehem] Pesanku kepada Dini.
Dini sedang aktif. Kulihat, dia sedang mengetik.
[Cieee ... pepet terooss! Terus berbuat baik. Tunjukkin kalo elu emang beneran sayang ama die]
Aku tersenyum membaca pesan dari Dini. Pikiranku tertuju kepada Rian.
[Makasih ya sarannya. Gue bakal nyoba lebih sabar lagi]
[Iyeee. Buat dapetin sesuatu emang harus sabar dan butuh perjuangan]
Ya, benar. Jika kita menginginkan sesuatu, memang harus berjuang dan juga berdoa.
Rian, lelaki yang sepertinya belum juga sadar bahwa aku memendam rasa untuknya. Mungkin, lambat laun dia akan sadar tentang hal itu.
Aku melihat status, siapa tau Rian membuat status. Ternyata iya. Langsung ku-klik statusnya itu.
Sebuah foto meja kerja. Apakah itu meja kerjanya Rian? Ada caption juga di status itu.
Lembur.
Aku mengirim pesan kepadanya.
[Semangat Riaannn]
[Ya]
Ih, kok, gitu doang ngebalesnya?! Jawab makasih kek. Sabaarr. Pokoknya, harus sabar menghadapi lelaki menyebalkan itu.
[Udah makan?]
[Udah tadi sesudah sholat maghrib]
[Ya udah lanjutin kerjanya, semoga cepet selesai biar pulang gak kemalaman]
[Ya]
Bahkan, dia gak ngasih perhatian kepadaku. Padahal, aku udah ngasih perhatian ke dia. Mungkin, dia emang cuek. Atau memang gak peduli kepadaku?
Aku pun membuat status di WA.
Gembok itu akan terus kucoba untuk dibuka. Meskipun, tak mudah.
Rian sudah gak aktif. Mungkin, akan fokus bekerja. Coba aja aku bisa nemenin dia di sana. Mungkin, dia kerjanya bisa lebih semangat. Eaa ... halu!
***
Terdengar suara bel saat aku mengajarkan Deril menulis.
"Mbak mau bukain pintu dulu, ya."
Deril mengangguk. Lalu, aku pun menuju ruang tamu dan membuka pintu.
Seorang wanita yang tampak lebih tua dari Bi Ani mengenakan atasan merah marun yang panjang lengannya sebawah siku dipadukan dengan celana panjang hitam berdiri di depanku.
Membawa sebuah koper dan menjinjing tas berwarna hitam yang tampak mewah di tangan kirinya.
Rambutnya yang sudah tampak beruban disanggul. Meskipun penampilannya simple, tapi tampak elegan.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya wanita itu dengan nada pelan dan tatapan tajam kepadaku.
"Ma--maaf, Ibu siapa, ya?"
"Saya mertuanya Andre. Kenapa memangnya?"
"Aku gak tau, Bu. Soalnya, Pak Andre gak ngasih tau ibu mertuanya mau ke sini."
"Memangnya kamu siapa? Sampai-sampai Andre harus memberi tahumu?"
"Aku pengasuhnya Deril, Bu."
"Oh, pengasuh." Ibu mertuanya Pak Andre pun masuk. "Oh, ya, bawa itu kopernya!"
Kok, kayak nyebelin gitu, ya, sikapnya? Aku pun membawa koper itu ke dalam.
"Bawa ke kamar tamu!" suruhnya setelah duduk di ruang tamu.
"I--iya, Bu."
__ADS_1
"Oh, ya, jangan panggil saya Ibu! Saya bukan ibumu."
"Lalu, aku harus manggil apa?"
"Nyonya Ratih."
Apa? Nyonya? Pak Andre aja yang tuan rumah gak nyuruh dipanggil 'Tuan', tuh! Ih, dari sikapnya bakal bikin aku sebal mulu, nih.
"Iya, Nyonya Ratih."
"Sekalian suruh pembantu bawakan minum. Teh manis hangat, ya!"
Aku mengangguk. Lalu, membawa koper ke kamar tamu.
Setelah meletakkan di kamar tamu, aku meminta Bi Ani membawa teh manis hangat ke ruang tamu. Karena ada mertuanya Pak Andre.
Aku pun kembali menemani Deril. Aku mencolek bahunya.
"Ada nenek Deril di ruang tamu. Temuin, gih!"
Deril menatapku heran. "Nenek di sini?"
"Iya. Yuk, mbak anter ke ruang tamu."
Saat aku dan Deril mau ke ruang tamu, mertuanya Pak Andre datang ke ruang keluarga.
"Deril, ya?" Mertuanya Pak Andre sedikit melengkungkan bibir. Deril mengangguk.
Nyonya Ratih mendekati Deril. "Saya oma kamu."
"Oma?"
"Iya." Diciumnya pipi Deril.
Kenapa Deril tampak gak percaya? Apakah Nyonya Ratih belum pernah ke sini atau bertemu Deril sebelumnya?
"Itu teh manis di ruang tamu bawa ke sini!" suruh Nyonya Ratih kepadaku.
Aku udah ngerasa gak enak, nih. Kayaknya Nyonya Ratih bakal doyan ngatur-ngatur.
***
Setelah dari kamar Deril, aku menuju lantai bawah. Kulihat, Nyonya Ratih sedang menonton TV di ruang keluarga.
Pak Andre dan Mang Ujang sudah pulang. Pak Andre pun masuk. Saat di ruang keluarga, Pak Andre tampak terkejut.
"Mama?"
"Kenapa kamu tampak terkejut seperti itu? Tidak suka saya ke sini?"
"Bu--bukan begitu, Ma. Tapi, kenapa tidak memberi tahu Andre kalau mau ke sini?"
Nyonya Ratih tersenyum kecut. "Jadi, saya harus izin dulu kalau mau ke sini?"
Pak Andre menggeleng. "Bukan begitu, Ma ...."
Nyonya Ratih berdiri. "Saya mau memberi tahumu atau tidak, itu terserah saya."
"Kan, nanti Andre bisa jemput Mama."
"Jemput? Kamu saja sibuk dengan pekerjaanmu. Bahkan ...." Nyonya Ratih melihat Mang Ujang yang berdiri di belakang Pak Andre. "Kamu pakai sopir dan tidak membawa mobil sendiri."
Ya, ampuunn ... kasihan sekali Pak Andre punya mertua model begitu. Dari cara bicaranya saja gak dijaga.
"Mama sudah makan?"
"Sudah."
"Andre mau ke kamar dulu. Mama kalau capek, istirahat saja."
"Sepertinya, yang capek itu kamu. Hingga tidak punya waktu untuk berbicara dengan mertuamu." Nyonya Ratih pergi menuju kamar tamu.
"Bukan begitu, Ma!" Pak Andre mengusap muka.
Lagian, gak punya waktu bicara gimana? Lah, tadi kalau bukan bicara ngapain? Ngesot?
"Pak Andre istirahat saja. Bicaranya besok lagi. Mungkin, Nyonya Ratih juga capek, jadi mau istirahat."
Pak Andre melihatku. "Nyonya Ratih?"
Aku mengangguk. "Iya, aku harus manggil 'Nyonya Ratih' katanya."
__ADS_1
"Ya ampun, Mama."
***
Paginya, aku menyiapkan sarapan. Berupa roti panggang.
Pak Andre dan Mang Ujang sudah datang. Disusul Nyonya Ratih.
Kami bertiga duduk, kecuali Nyonya Ratih yang tampak heran.
"Kenapa pengasuh dan sopir makan semeja dengan majikan?"
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Andre, majikan dan pembantu itu tidak seharusnya makan semeja! Beda derajat!"
Nyeri. Hatiku terasa nyeri setelah mendengar perkataan dari Nyonya Ratih.
"Ma, Andre tidak peduli."
Nyonya Ratih berdecak-decak. "Kalau begitu, saya tidak mau sarapan."
"Tidak apa-apa, Pak Andre. Saya makan di luar saja," kata Mang Ujang. Lalu berdiri.
"Aku juga, Pak. Mau makan di taman aja."
"Hei, pengasuh! Lihat Deril sana! Sudah bangun atau belum."
"Ma ...."
"Baik, Nyonya Ratih."
Aku segera pergi. Menuju kamar Deril. Lagian, aku udah mulai sebel sama Nyonya Ratih. Majikan juga bukan di sini, banyak ngatur.
Lagian, Pak Andre gak masalah makan semeja sama pembantu. Lah, dia? Yang cuma mertua dan lagi main ke sini malah sok banget!
***
Aku menyuapi Deril setelah dia pulang sekolah. Namun, Deril agak susah untuk makan. Apakah lagi gak nafsu makan?
"Ayo, makan! Biar sehat dan kuat."
Deril menggeleng. "Gak mau."
"Kenapa? Deril sakit?"
"Eyil pinginnya makan es klim aja."
"Iya, boleh. Tapi makan dulu, ya."
Kulihat Nyonya Ratih sedang melihat kami. "Ayo, makan dulu, ya. Oma suapin?"
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Eyil gak mau makan!"
Nyonya Ratih mendekati Deril. "Kalau kamu gak makan nanti sakit."
"Pingin es klim aja."
"Kamu jangan bandel, ya! Ayo, makan!" Nada Nyonya Ratih agak tinggi. Kulihat Deril tampak terkejut.
Deril memelukku. Sepertinya, dia takut sama omanya itu.
"Nanti kamu sakit gimana?! Jangan bandel jadi anak, ya!"
Deril memelukku lebih erat. Nyonya Ratih memang menyebalkan.
"Kalau Nyonya Ratih berbicara dengan nada seperti itu, Deril akan ketakutan."
"Hei, kamu hanya pengasuh! Tidak usah sok pintar di hadapanku!"
"Aku bukan sok pintar, tapi lihat saja olehmu, Nyonya Ratih!"
Aku mulai gak bisa menahan sabar. Lama-lama orang kaya dia harus dilawan juga. Gak bisa dibiarin.
"Kamu mau saya pecat?!"
"Yang berhak memecatku hanya Pak Andre. Karena beliau yang menjadi majikanku dan menggajiku." Aku membawa Deril pergi meninggalkan Nyonya Ratih. Daripada terus meladeninya.
__ADS_1
***
Suka sama ceritanya? Yuk, like, vote, komentar, dan kasih bintang lima yaa .... Makasih.