
Terhitung hari ini aku menjadi pacar sewaannya dan seiringnya waktu kebohongan akan terus terjadi.
-Shanum-
๐๐๐
Keenan masih terus memandang Shanum, bahkan ia melangkah menghampiri Shanum tanpa ia sadari. Ia masih merasa tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Saat Shanum sudah berada sangat dekat di hadapannya, Keenan langsung meraih jemari Shanum dan menggenggamnya.
"Kamu datang." Ucap Keenan dan disusul dengan senyum Shanum dan melangkah pergi sambil melepaskan genggaman Keenan saat itu. Menuju meja makan dan tanpa disadari Shanum tersenyum sepanjang langkanya.
"Kenapa jadi dag dig dig." Batin Sha berucap.
"Ayo makan dulu Keen." Ucap Oma dan berhasil menghapus lamunan keduanya.
Keenan akhirnya melangkah, ia memilih kursi tepat di samping Shanum duduk. Menggeser dan kemudian mendudukinya.
Masih saja terus menatap Shanum, wajahnya yang murung sejak pagi mendadak bersinar secerah mentari, senyum selalu terukir di wajahnya begitu saja
Banyak hal yang ingin ditanyakan Keenan pada Shanum, kenapa Shanum memutuskan untuk datang ke sini. Padahal jelas sekali waktu itu ia menolak. Apa karena ucapannya ketika ia mabuk, yang membuat Shanum akhirnya datang atau Shanum ternyata juga menyukainya.
Keenan menggeleng dengan cepat kesimpulannya barusan. Kenapa dia tiba-tiba begitu percaya diri sekali. Tak mungkin Shanum menyukainya, yah... pria pengecut yang tak berani berkata jujur pada Omanya.
"Kau baik-baik saja Keen?" Tanya Shanum yang menyadari sikap Keenan yang tak seperti biasanya, Keenan menggeleng tiba-tiba. Menggeleng karena melamunkan Shanum.
"Ah.. ya.." Jawab Keenan singkat.
"Kamu perlu coba ini Keen, ini tadi Oma dibantu Shanum membuatnya." Tunjuk Oma pada sepiring udang dengan saus padang.
"Oh.. ya.." Jawab Keenan dan dengan segera meraih piring tersebut dan memindahkan beberapa udang ke piring di hadapannya.
"Wah.. enak." Ucap Keenan kemudian setelah berhasil menyuapnya.
"Pasti enak dong Keen, kan buatan Shanum." Puji Oma.
"Shanum hanya bantu sedikit tadi, selebihnya Oma yang buat kok." Oma hanya tersenyum mendengarnya begitupun Keenan.
"Oh iya.. kenapa kalian tidak datang bersama tadi?" Tanya Oma dan berhasil membuat Keenan dan Shanum terdiam.
"Keenan tadi ada pekerjaan dulu Oma." Jawab Keenan berbohong sambil menatap Shanum.
"Ini hari libur Keen, masih saja ngurusin kerjaan." Protes Oma.
"Iya Oma maap."
"Trus kenapa kamu ngizinin Shanum datang duluan ke sini sendiri, Oma tuh takut terjadi apa-apa pada Shanum, kamu tuh harus selalu bersamanya, selalu temenin Shanum."
"Oh.. itu maunya Shanum Oma, Shanum takut Oma nunggu lama, makanya Shanum datang duluan ke sini." Ucap Sha cepat karena memang keputusannya untuk datang sendiri ke sini adalah kemauannya.
"Kamu pengertian sekali Sha." Ucap Oma dan kemudian tersenyum menatap Shanum.
__ADS_1
"Rasanya Oma ingin kalian segera menikah." Ucap Oma lagi dan berhasil membuat Shanum terbatuk karena terkejut.
"Kenapa jadi pernikahan yang dibahas, secepat ini." Batin Sha bersuara.
"Maap Oma, Sha izin ke toilet sebentar." Pamit Sha akhirnya meninggalkan Keenan dan Oma berdua.
Keenan juga tak kalah terkejut saat itu. Ia bahkan menatap kepergian Shanum dengan rasa tak enak.
"Oma salah bicara?"
"Terlalu cepat bahas soal pernikahan Oma."
"Kalian bukannya pacaran sudah lama, tujuannya untuk menikahkan."
Memang tak salah dengan perkataan Oma, namun Shanum bukan pacarnya selama ini. Tak sanggup Keenan menjelaskan kenyataannya. Kebohongan ini baru saja dimulai dan entah sampai kapan.
"Oma ingin kalian menikah, menggendong cucu, Shanum wanita yang baik, mungkin sikapmu belum membuatnya yakin, makanya ia terkejut tadi."
"Iya Oma." Jawab Keenan singkat akhirnya.
Makan siangpun berlangsung kembali, setelah Shanum kembali dari toilet. Obrolan ringanpun kembali terjadi, hingga akhirnya mereka menyelesaikan makan siang mereka.
.
.
.
.
Tiba-tiba saja Yuna merasa merindukan Keenan, Keenan tak seperti dulu yang selalu memberi tahu kabarnya tanpa diminta.
"Sibuk kah." Bisik Yuna sendiri.
Yunapun mencoba menghubunginya. Namun tak ada jawaban dari Keenan, sudah tiga kali Yuna mencoba menghubunginya, tetap Keenan tidak mengangkatnya.
"Sedang apa Ia?" Tanya Yuna sendiri dan mulai menebak-nebak.
"Enggak-engak mungkin, Keenan pria yang setia, pasti dia sibuk saat ini." Ucap Yuna meyakini dirinya sendiri.
.
.
.
.
Shanum tengah duduk dengan pandangan menatap kebun bunga milik Oma, sesekali ia menghirup napas panjang, merasakan kesegaran yang begitu terasa.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Keenan hadir dan ikut duduk tepat di samping Shanum, ikut memandang ke arah kebun bunga yang terhampar di hadapan mereka saat ini.
"Makasih ya.." Ucap Keenan.
"Makasih untuk apa?" Tanya Sha dan sekarang menatap Keenan yang tepat di sampingnya.
"Makasih sudah mau datang." Jawab Keenan dan kini mereka saling menatap.
"Sudahlah, itu bukan masalah, yang jadi masalah bagaimana nanti kita menjelaskan yang sesungguhnya pada Oma."
"Ya.. kau benar."
Suasana menjadi hening seketika, keduanya sama-sama berpikir tentang kebohongan yang baru saja tercipta. Hingga akhirnya dering handphone milik Keenan menghapus lamunan keduanya.
Keenan hanya terdiam setelah ia berhasil meraih handphonenya dan mengetahui siapa yang menghubunginya, Keenan tak mengangkatnya.
"Kenapa enggak diangkat?" Tanya Sha, karena Keenan tak kunjung mengangkatnya hingga ketiga kalinya orang tersebut berusaha menghubunginya.
"Yuna yang menelepon." Ucap Keenan datar dan tampak kesal.
"Owh.." Ucap Sha dan tampak bingung harus berkata apa.
"Soal semalam, aku minta maaf."
"Semalam." Ulang Sha
"Ya, aku mabuk, perkataanku mungkin telah mengganggumu."
"Perkataan apa, aku tak mengingatnya?" Tanya Sha polos.
"Sungguh kau tak ingat."
"Ya.. bicaramu tak jelas waktu itu." Jawab Sha berbohong.
Padahal, Sha jelas-jelas mendengarnya, mendengar Keenan mengatakan menyukainya. Namun ia tak mau membuat suasana menjadi tak nyaman, membuat hubungan menjadi canggung, biarkan seperti ini, toh itu hanya perkataan diluar kesadaran Keenan, dan sangat mustahil jika Keenan menyukainya, jelas sekali di wajahnya masih menyukai Yuna, masih mengharapkan Yuna saat ini.
Walaupun dari lubuk hati yang terdalam, Shanum berharap perkataan Keenan itu merupakan sebuah kenyataan. Berharap Keenan benar menyukainya, dan perlahan melupakan Yuna.
Berharap tapi tak berarti memaksa.
.
.
.
.
Semangat๐ช๐ช๐ช
__ADS_1
Yuk, like, vote dan Rate bintang 5nya yang belum.
Sehat-sehat buat semua๐ค๐ค๐ค