Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Pertengkaran


__ADS_3

Aku perlu waktu..


-Shanum-


🍁🍁🍁


"Keenan." panggil Radit.


Radit bersuara cukup keras, sehingga mengagetkan Keenan dan Yuna saat itu.


Rangkulan Yuna pada Keenan langsung terlepas seketika.


Setelah memanggil Keenan, Radit melangkah menghampiri keduanya. Ia raih salah satu tangan Yuna dan menjauhkannya dari Keenan.


"Lepaskan Dit." pinta Yuna kesal.


"Keen, kenapa kau izinkan wanita ini berada di sini?"


"Hei.. aku di sini tak perlu izin siapapun." protes Yuna.


"Diam.." pinta Radit di hadapan Yuna. Radit pun melangkah mendekati Keenan setelah berhasil menjauhkan keduanya.


"Kau tau, siapa yang barusan melihat kalian bermesraan, Shanum... Shanum melihatnya." ucap Radit dan begitu kesal akhirnya.


"Dimana dia?"


"Aku tak tau, berdoa sajalah.. semoga tak terjadi apa-apa dengannya." ucap Radit sinis.


Keenan yang mendengar ucapan Radit langsung berlari meninggalkan mereka. Kata - kata Radit membuat dirinya berpikir buruk mengenai keadaan Shanum.


"Keen, kau mau kemana?" teriak Yuna.


"Diam..., kau diam di situ."


"Kau ini kenapa sih, kenapa jadi menyebalkan sekali. Aku kan pacarnya Keenan, dan kau tau itu. Jadi aku berhak bersamanya." Radit tertawa mendengarnya.


"Kau sedang bermimpi." ucap Radit dan melanjutkan tawanya lagi.


"Kau gila." tuduh Yuna kesal.


"Kau ikut aku sekarang." ucap Radit lagi dan kembali menarik tangan Yuna membawanya ke luar dari ruangan Keenan.


"Lepaskan, aku enggak mau." ucap Yuna berulang dan Radit tetap pada pendiriannya, tak melepaskan cengkeramannya itu.


Sepanjang jalan, Yuna menolak dirinya ikut bersama Radit. Semakin kuat Yuna memberontak, semakin kuat pula Radit menarik tangannya.


.


.


.


.


Keenan berlari, matanya mencari, bertanya ke setiap orang yang melintas di hadapannya. Mencari sosok Shanum yang sampai saat ini belum berhasil ia temui.


Sampai akhirnya ia mengingat satu nama, yah.. Rena. Ia ingat dengan Rena. Shanum bilang akan bertemu dengannya siang ini. Mungkin Shanum tengah bersamanya sekarang.


Keenan pernah bertemu dengan Rena sebelumnya, ia hubungi salah satu stafnya yang dapat membantu dirinya untuk mendapatkan nomor Rena, karena Shanum masih tak dapat dihubungi.


"Terima kasih." ucap Keenan setelah mendapatkan nomor Rena.


Keenan langsung menghubunginya, dengan perasaan yang sukar untuk dimengerti. Ia takut.. tepatnya ia takut..


"Rena, kau dimana?" tanya Keenan langsung setelah berhasil tersambung ke Rena.

__ADS_1


"Sorry, ini siapa?" tanya Rena karena merasa tak mengenali nomor yang tengah menghubunginya.


"Keenan, ini Keenan." jawab Keenan cepat.


Otak Rena berputar begitu cepat mendengar nama Keenan. Hanya satu Keenan yang ia kenal, yaitu bosnya. Tapi rasanya tak mungkin bosnya itu menghubunginya.


"Siapa? Keenan?" ulang Rena.


"Ya.., kau bersama Shanum?" tanya Keenan kembali.


Setelah mendengar kata Shanum, Rena menjadi yakin bahwa Keenan yang tengah menghubunginya saat ini adalah benar Keenan bosnya.


"Oh, Pak Keenan, maaf pak." pinta Rena.


"Tak apa, kau tahu di mana Shanum?"


"Tidak, seharian ini saya belum bertemu dengannya."


"Shanum bilang ingin pergi bersama kamu."


"Oh.. tapi Shanum belum bilang apapun." jawab Rena ragu, mencoba mengingat kembali, khawatir ada yang hal yang terlewat olehnya.


"Kau tau, kemana biasanya Shanum pergi?"


Rena berpikir keras dengan pertanyaan yang dilontarkan Keenan padanya. Ia menjadi lupa seketika.


"Kalau kau mengingatnya atau kalau Shanum menghubungimu tolong segera kabari." pinta Keenan akhirnya.


"Ya.. baik." jawab Rena dan pembicaraan mereka terhenti akhirnya.


Rena mendadak diam, tubuhnya menjadi lemas dalam sekejap. Ada apa sebenarnya?. Mungkinkah sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Shanum.


Ia tatap handphonenya kembali, ia mencari nama Shanum dan menghubunginya.


"Shaaa.. kau dimana?" ucap Rena begitu panik.


"Katakan kau dimana?"


"Aku..aku.." ucap Shanum dan terhenti. Ia tak dapat menjawab dimana dirinya berada saat ini.


"Kau dimana Sha?" tanya Rena dan terdengar memohon.


Rena masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi satu hal yang pasti, Rena tahu saat ini Shanum pasti membutuhkan dirinya.


"Entahlah Ren.." jawab Sha dan terdengar isak tangis kemudian.


"Sha.. ada apa sebenarnya?"


"Enggak ada apa-apa, kau enggak perlu khawatir." ucap Shanum lagi dan menghapus kasar air matanya yang tiba-tiba turun begitu saja.


"Ku mohon Sha, katakan kau dimana?"


"Maaf.." ucap Shanum mengakhiri pembicaraan mereka.


.


.


.


.


"Au..." teriak Yuna saat Radit melepaskan cengkraman tangannya begitu kasar.


"Kau gila." tuduh Yuna lagi.

__ADS_1


"Hei.. Ada apa dengan kalian?" tanya Aulia.


Aulia terkejut menatap apa yang tengah terjadi di hadapannya, di ruang kerjanya.


Tiba-tiba saja Radit datang bersama Yuna. Wajahnya begitu kesal, entah apa yang sudah terjadi diantara mereka.


Aulia bangkit dari duduknya, menghampiri Yuna dan merangkulnya.


"Tanya sendiri saja pada temanmu itu."


"Kenapa?" tanya Aulia menatap Yuna.


"Radit tuh yang kenapa, aku menemui Keenan, dia marah-marah." ucap Yuna sambil mengusap pergelangan tangannya yang sejak tadi dicengkram oleh Radit.


"Dit.. kita perlu bicara." pinta Aulia dan kali ini ia menarik tangan Radit dan mengajaknya ke luar ruangan. Meninggalkan Yuna seorang diri dengan rasa sakit yang terasa di pergelangan tangannya itu.


Radit mencoba meredam emosinya, walau wajahnya masih terlihat kesal saat itu. Kehadiran Yuna membuatnya begitu kesal. Melihat wajahnya saja ia sudah sangat kesal, apalagi saat mendengar Yuna bersuara.


"Kau ini kenapa?" tanya Aulia dengan Menatap Radit begitu dekat.


"Aku tak suka melihatnya."


"Tapi kau tak harus menyakitinya."


"Kenapa kamu selalu saja membelanya." protes Radit.


"Kau juga, kau selalu saja membela Keenan."


"Jangan memutar balikan keadaan."


"Ini yang aku tak suka padamu, kau terlalu egois. Kau selalu merasa benar."


"Kenapa sekarang kamu malah menuduhku."


"Aku tak menuduh mu, tapi ini kenyataannya."


"Cukup... Yuna di sini, itu karena kamu kan."


"Ya, itu benar.. aku yang memintanya ke sini."


"Kau membuat semua menjadi berantakan."


"Berantakan bagaimana? Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Keenan dan Yuna perlu bicara. Keenan harus membuat keputusan. Itu harus." ucap Aulia menjelaskan.


"Keputusan apa?" tanya Yuna yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.


Wajahnya menatap keduanya, bergantian ke arah Radit dan Aulia.


"Kenapa Keenan harus membuat keputusan?" tanya Yuna lagi. Namun Radit dan Aulia tetap diam.


"Keenan menyukai wanita lain." ucap Aulia akhirnya.


Bagaikan disambar petir saat itu, Yuna tampak terkejut mendengarnya. Rasanya dia tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Katakan itu bohong, katakan itu bohong." pinta Yuna berulang, dengan meraih jemari Aulia dan menggenggamnya begitu kuat.


"Itu benar, dan aku bersyukur akan hal itu." ucap Radit melanjutkan.


Entah apa yang terjadi semua menjadi begitu gelap bagi Yuna.


.


.


.

__ADS_1


.


🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️


__ADS_2