Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Gelisah


__ADS_3

Beginikah rasanya..


Kau berhasil membuat jantungku berdebar tak menentu.


Mungkinkah ini cinta..


-Shanum-


🌿🌿🌿


"Tidak.." Jawab Sha cepat.


"Ya.." Jawab Keenan bersamaan dengan jawaban Sha untuk Radit.


Sha maupun Keenan saling memandang akhirnya. Bagaimana bisa mereka memberi jawaban yang berbeda.


"Hahaha.." Radit tertawa bahagia sekali saat itu.


"Tenang saja Sha, Keenan itu pria baik." Ucap Radit memuji bosnya itu.


"Pria baik yang telah merebut ciuman pertamaku." Gerutu Sha sendiri.


Rasanya masih terlalu mengejutkan buat Shanum. Keenan mengakui bahwa dirinya tengah cemburu. Lalu dia menciumnya. Membuat Shanum mendadak diam seribu bahasa.


"Ahhhh... aku sungguh sudah jatuh cinta." Keluh Sha akhirnya.


Mungkin itu jawaban atas kegelisahan hatinya sejak tadi. Saat Keenan menciumnya tak ada penolakan dari Shanum. Bahkan ia ikut terbawa suasana saat itu.


"Kapan akan diresmikan?" Tanya Radit kemudian.


"Diresmikan bagaimana, memangnya harus diumumkan?" Tanya Sha dan akhirnya bersuara.


"Ya.. biar enggak ada lagi yang melirik-lirik Keenan."


"Memangnya ada yang berani?" Tanya Sha ragu sambil menatap Keenan.


Keenan memang mempunyai wajah yang tampan. Tapi dia terlihat cuek dan dingin. Pertama kali mengenal dirinya, Shanum menilai Keenan sosok yang tak mudah untuk didekati.


"Banyak Sha...jangan salah. Walaupun tampangnya menyeramkan, tapi dia banyak pengagumnya." Ucap Radit terkekeh dan terkesan mengejek Keenan.


"Sudah..sudah.. Jangan dengarkan Radit Sha." Pinta Keenan akhirnya dan Radit pun tertawa saat itu melihat wajah Keenan yang terlihat kesal.


Suasana yang menegangkan mendadak cair. Kehadiran Radit diantara Keenan dan Sha membuat Sha hampir melupakan kejadian saat dirinya dicium oleh Keenan.


Namun rasa tegang kembali menyelimuti ke duanya. Saat Keenan dan Shanum berada dalam satu mobil kembali.


"Sha, pakai sabuk pengamanmu." Pinta Keenan sambil mendekat ke arah Shanum dan hendak mengenakan sabuk pengaman untuk Sha.


Sha kembali terkejut, bahkan ia menyalahartikan tindakan Keenan barusan padanya.


"Oh.. iya... aku bisa pakai sendiri." Ucap Sha dan untuk beberapa saat mereka kembali saling memandang.


Walaupun Shanum tak henti menatap terus Keenan, yang masih terus menatapnya. Namun tangan Sha tetap sibuk dengan sabuk pengaman dan mengenakannya sendiri.

__ADS_1


Entahlah, hal yang begitu mudah mendadak begitu sulit. Rasa gugup kembali terasa, Jantung pun berdetak begitu cepat tanpa permisi.


"Aku..aku.. sudah pakai Keen." Ucap Sha memecahkan kesunyian yang terjadi lagi.


"Pakai.." Ulang Keenan.


"Ya.. sabuk pengaman." Ucap Sha lagi mencoba memperjelas.


"Oh.. iya." Ucap Keenan dan tubuhnya pun kini menjauh dari Sha.


Shanum lebih banyak diam. Berbicara hanya sebatas apa yang ditanyakan Keenan untuknya.


"Ya Tuhan.. bagaimana besok aku di kantor?" Gerutu Sha sendiri.


.


.


.


.


Wajahnya tengah menghadap sebuah jendela besar di kamarnya. Matanya menatap arah luar, menatap bintang dan bulan. Menikmati kesunyian malam itu.


Dengan segelas air mineral dingin di tangannya. Gilang termenung untuk waktu yang lama.


"Aku terlalu terburu-buru sepertinya." Keluh Keenan malam itu.


Lalu Keenan tersenyum tanpa disadarinya. Ia teringat dengan wajah Shanum yang gugup tadi. Baginya itu begitu manis.


Begitupun dengan Shanum, ia tengah teringat akan kejadian tadi. Ia terdiam juga dalam waktu yang lama. Memandang langit-langit kamar bahkan ia membayangkan kembali kejadian itu.


"Ah.. bisa gila aku." Teriak Shanum lalu menutup wajahnya dengan bantal begitu cepat.


"Bisa-bisanya aku membayangkan hal itu lagi. Oh.. Keen, apa yang telah kau lakukan tadi?" Tanya Sha sendiri dan jelas ia tau apa yang terjadi.


Shanum masih begitu terkejut, masih tak bisa mengakui bahwa dirinya telah dicium Keenan, rasanya seperti mimpi, dan itu selalu terbayang dalam ingatannya. Namun setiap kali ia menyentuh bibirnya sendiri, ia kembali teringat lagi dan lagi.


"Oh.. ciuman pertamaku." Gerutu Sha kemudian.


Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menenangkan hati yang bergejolak dan pikiran yang tak menentu arah tujuannya. Shanum termenung kembali, lalu ia dikejutkan dengan suara handphonenya yang berdering.


"Keenan." Bisik Shanum menatap tak percaya nama yang tertera pada layar handphonenya.


Dirinya masih belum siap untuk berbicara lagi dengannya. Mendadak panik dan begitu sulit menjawab panggilan itu.


"Keenan, mau ngapain?" Tanya Sha dan berpikir untuk kesekian kali.


"Apa aku pura-pura tidur saja ya. Tapi... ah tidak-tidak." Ucap Sha sendiri dan menjadi begitu gugup seketika.


dan akhirnya Sha memutuskan untuk tetap mengangkatnya. Mendengar suaranya kembali. Membayangkan wajah Keenan lagi dan lagi.


"Kau belum tidur Sha?" Tanya Keenan saat dirinya telah berhasil menghubungi Shanum.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu, aku tak bisa tidur karena ulahnya." Gerutu Sha dalam hati.


"Sha.." Panggil Keenan kembali, karena tak ada jawaban dari Sha saat itu.


"Oh.. ya, aku belum bisa tidur." Jawab Sha cepat.


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa, cuman belum bisa tidur saja." Jawab Sha berbohong, rasanya tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Sha tak bisa tidur karena Keenan selalu hadir setiap kali Shanum menutup matanya.


"Bacalah sesuatu, mungkin kau akan lelah setelahnya. Oh.. mungkin dengan segelas air hangat dapat membantumu tertidur."


"Ya.. nanti ku coba."


"Yasudah istirahatlah. Besok pagi aku akan menjemputmu."


"Ya.." Jawab Shanum dan kembali menutup wajahnya dan mencoba terlelap setelah pembicaraan mereka terhenti.


.


.


.


.


Malam itu Yuna tak sendiri, Endru masih setia menemani hari-harinya.


"Kau akan pergi besok?"


"Ya.. aku sudah membeli tiketnya dan sudah mempersiapkan semuanya." Jawab Yuna sambil mengusap perlahan wajah Endru dengan jari-jarinya.


"Aku akan mengantarmu besok."


"Tentu, kau harus mengantarku." Ucap Yuna lagi dan kini jari-jarinya telah sampai di dada Endru yang bidang.


"Aku pasti merindukanmu." Ucap Endru dan kali ini jarinya ikut beraksi, menyentuh perlahan ke dua pipi Yuna dan kemudian bibirnya.


"Aku hanya sebentar di sana."


"Kau tau, sejam pun aku tak sanggup tanpamu." Ucap Endru lagi dan membuat Yuna tertawa kemudian.


"Jangan bercanda." Ucap Yuna dan tertawa halus.


"Aku tak bercanda, aku selalu serius dengan kata-kataku." Ucap Endru lagi dan kali ini ia raih bibir Yuna dan menciumnya hingga terdengar ******* keduanya malam itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Nahlo, mereka ngapain itu🧐


Mangat yok.. mangat...πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


__ADS_2