Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Mulai Menyukainya


__ADS_3

Aku terlalu memikirkan perasaanku, aku salah.. maafkan aku.


-Shanum-


🍁🍁🍁


"Apa kau bilang, putus!" ulang Keen dan masih begitu terkejut.


Shanum menatap Keenan, dengan air mata yang terjatuh tanpa disadari.


"Maafkan aku." ucap Sha dan terdengar isak tangisnya, kemudian menundukkan wajahnya.


"Sha.. aku tahu, saat ini kamu merasa kesal dengan ucapan Yuna tadi. Kamu merasa tak terima dengan tuduhannya. Tapi ada aku Sha, ada aku yang membelamu." ucap Keenan begitu kesal, rasanya masih tak terima dengan permintaan konyol Shanum yang begitu tiba-tiba.


"Tapi Keen, dalam seketika aku merasa jadi wanita jahat Keen. Aku telah merebut mu darinya. Aku merasa semua orang menatap ku seperti itu."


"Kamu lebih memikirkan orang lain, dibandingkan perasaan ku Sha? Sha, cukup kamu berpikir seperti itu. Mereka tidak mengenalmu seperti apa dirimu sebenarnya. Pikirkan perasaanku juga Sha, perasaanmu dan kebahagian dirimu juga."


"Tapi.. Keen." ucap Sha terhenti, ketika pintu lift akhirnya terbuka.


Keenan menghela napasnya kemudian, ia melangkah ke luar dengan perasaan yang masih begitu kesal. Kedatangan Yuna dan kemudian permintaan konyol Sha yang makin membuatnya kesal.


Tapi satu hal yang selalu ia lakukan untuk Sha, ia tetap meraih tangan Shanum dan mengajaknya untuk keluar dari lift bersama.


Mereka melangkah dengan tangan yang masih saling menggenggam, dengan Shanum yang berada di belakang, mengikuti langkah besar Keenan.


"Keen maafkan aku." pinta Sha kemudian dengan menarik pelan jemari Keen, menghentikan keheningan yang beberapa saat terjadi, berharap Keenan menghentikan langkahnya untuk sesaat.


Keenan pun menurut, menghentikan langkahnya, menatap Sha kembali yang masih tertunduk tak berani menatap Keenan.


"Sha.." panggil Keen dan Shanum pun mencoba menatap wajah Keenan.


"Jangan pernah ucapkan kata putus lagi. Kata-kata itu begitu menyiksaku Sha."


"Maafkan aku Keen." pinta Sha berulang.


"Sudahlah, kau tenanglah." pinta Keenan dan kemudian memeluknya, mengusap punggungnya perlahan.


.


.


.


.


Ketukan pintu terdengar, Radit masuk begitu tergesa pagi itu. Membuat Keenan menatap bingung kehadirannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Radit cepat sambil berjalan mendekat ke arah Keenan.


"Kau tahu Yuna datang ke kantor?" tanya Keenan menebak maksud pertanyaan Radit tadi.


"Ya.., aku melihatnya dan dia membuat keributan barusan. Aku heran kenapa dia masih saja datang ke sini, jelas dia tahu kau sudah bersama Shanum?"


"Dia belum menyadari kesalahannya, dia merasa dia yang benar."


"Kesalahan, maksudmu kesalahan apa Keen?"


"Dia telah bersama dengan pria lain sejak lama."

__ADS_1


"Hah.. ini gila, pantas berarti jika aku mengusirnya tadi."


"Seharusnya aku mendengarkan kata-katamu dulu."


"Sudahlah, yang lalu sudah berlalu, kau sudah ada Shanum sekarang. Ehm.. dimana Shanum, aku tak melihatnya?" tanya Radit dengan menatap sekitar.


"Dia bilang ke toilet, tapi ini sudah lama sekali. Kenapa dia belum kembali?" tanya Keenan sendiri dan berpikir.


"Jangan-jangan.." ucap Radit terhenti.


Keenan langsung bangkit dari duduknya, ia berjalan cepat dan kemudian berlari. Mendengar ucapan Radit tadi membuat Keenan menjadi khawatir. Shanum masih begitu kaget dengan kedatangan Yuna dan menuduhnya dengan sebutan wanita ******.


"Kau harus baik-baik saja Sha.." bisik Keenan berulang.


.


.


.


.


Dering handphone milik Shanum berhasil mengagetkannya yang sedang melamun sepanjang langkahnya. Rena sahabatnya tengah menghubunginya.


"Ya.. Re.."


"Kau dimana?"


"Aku baru saja keluar dari ruang kerjaku, kenapa?"


"Aku di lift sekarang, sebentar lagi sampai di lantai atas. Kau jangan kemana-mana, diam di sana." pinta Rena dan mematikan pembicaraannya kemudian.


"Kau baik-baik saja Sha?" tanyanya dan kemudian memeluk Shanum.


"Ya.. aku baik-baik saja, memangnya ada apa?" tanya Shanum dan berpikir begitu dalam.


"Syukurlah.. aku mendengar sesuatu terjadi denganmu dengan Keenan. Siapa wanita itu Sha?"


Shanum terkejut, keributan yang terjadi pagi tadi sampai juga di telinga Rena sahabatnya. Shanum menghela napas kemudian. Ia diam untuk beberapa saat.


"Sha.." panggil Rena kembali memecahkan keheningan.


"Dia pacarnya Keenan." ucap Sha terhenti.


"Apa.., kau jangan bercanda Sha. Aku enggak ngerti maksudmu."


"Dia memang pacarnya Keenan." ulang Sha dan Rena terlihat masih tak mau menerima jawaban seperti itu dari Shanum.


"Kau ikut aku, kita bicara ditempat yang lain." pinta Rena dan langsung meraih jemari tangan Sha dan mengajaknya untuk pergi bersamanya.


.


.


.


.


Sebuah cermin besar berdiri kokoh di hadapannya. Shanum menatap dirinya, wajahnya tampak basah setelah ia membasuh kan air ke wajahnya.

__ADS_1


Shanum menghela napasnya kemudian, ia teringat dengan pertemuan dirinya dengan Rena tadi. Rahasianya selama ini, telah ia ungkapkan semua pada Rena.


"Apa!" Sebatas pacar sewaan." ulang Rena dan begitu terkejut mendengarnya.


Shanum pun langsung membungkam mulut kecil Rena dengan cepat, khawatir keterkejutannya terdengar oleh orang lain.


"Pelankan suaramu." pinta Sha dengan sedikit berbisik.


"Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu Sha, kenapa kau bisa terjebak dalam masalah Pak Keenan." ucap Rena yang akhirnya ikut merendahkan intonasi bicaranya.


"Aku juga tak setuju dengan idenya itu, aku mengembalikan surat perjanjian itu padanya."


"Tapi kau memutuskan untuk datang ke tempat Oma, dan kebohongan dimulai saat itu."


"Ya.. aku salah, aku tak tega melihat Keenan."


"Karena kau sudah mulai menyukainya." ucap Rena dan Sha terdiam.


"Kau percaya dengan Keenan, Re?" tanya Sha dan membuat Rena menatap begitu dalam wajah Shanum.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, kau tak mempercayainya?"


"Tidak seperti itu, aku hanya khawatir saja. Ini seperti mimpi buatku."


"Apa yang kau khawatirkan, Pak Keenan jelas terlihat sangat mencintaimu. Dia selalu ada untukmu, dan dia selalu membela mu bukan?"


"Ya.." jawab Sha menundukkan wajahnya.


"Sudahlah, kau miliknya sekarang, bukan Yuna yang jelas telah berselingkuh. Itu bukan salahmu tapi itu karma untuknya." ucap Rena menenangkan.


Shanum menghela napasnya kembali. Setelah termenung cukup lama di dalam toilet. Mengingat kembali apa yang ia bicarakan dengan Rena tadi. Kata-kata Rena sangat membekas di pikirannya.


Karena kau sudah mulai menyukainya


Mungkin benar dengan apa yang dikatakan Rena. Sha telah menyukai Keenan saat itu. Dengan merapikan sedikit wajah dan pakaiannya, Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Meraih gagang pintu dan membukanya.


Klek..


Shanum terkejut, seseorang telah hadir di hadapannya dan tampak cemas. Sedang mencoba mengatur napasnya yang masih berlomba mungkin karena berlari untuk datang ke sini.


"Keenan." panggil Shanum.


"Sha.."


"Kau kenapa?" tanya Sha dan masih tampak bingung.


Keenan tak menjawab apa yang ditanyakan Shanum padanya. Keenan langsung memeluknya, memeluknya dengan erat.


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening dalam seketika.


.


.


.


.


🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2