Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Ikut atau Tidak


__ADS_3

Aku suka sekali menggoda mu.


Padahal jelas sekali kegugupan menyelimuti ku.


-Keenan-


🍁🍁🍁


"Kau rapikan berkas-berkas ini." Pinta Keenan dengan tangan yang begitu sibuk menumpuk beberapa dokumen di atas meja kerjanya.


"Jangan lupa untuk diperbanyak." Lanjut Keenan dan kemudian menyerahkan dokumen-dokumen itu ke Shanum.


Shanum tengah berdiri memandang Keenan. Pikirannya melayang jauh saat tatapannya tak lepas dari wajah Keenan yang berada di hadapannya saat ini.


"Kenapa Keenan jadi begitu tampan." Bisik Sha dalam hatinya.


"Sha.. " Panggil Keenan dan mengulangnya kembali.


Namun Sha tak menunjukan perubahan ekspresi maupun posisinya. Masih saja terus menatap Keenan dan membuat Keenan tersipu saat itu.


"Sha..kau melamunkan ku?"


"Hah.. tidak.. tidak.." Sanggah Sha cepat dan berhasil membuat Keenan tertawa menatapnya.


Keenan bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Shanum yang tak jauh dari posisi duduknya saat ini. Makin mendekat dan terus mendekat. Membuat Shanum melangkah mundur saat Keenan terus melangkah maju.


"Ada apa?" Tanya Sha dan terlihat gugup.


Keenan menggeleng dan ia tersenyum kemudian.


"Kamu.. mau ngapain?" Tanya Sha dan makin panik dibuatnya.


Shanum tak dapat melangkah mundur lagi. Langkahnya sudah mencapai batas. Keenan pun sudah sangat dekat sekali dengan dirinya. Bahkan Keenan merangkul Sha mencoba menenangkan suasana.


"Menurutmu, apa yang akan aku lakukan?" Tanya Keenan dengan tersenyum. Wajahnya begitu dekat sekali.


Mendengar ucapan Keenan itu, membuat Shanum refleks menutup mulutnya. Shanum menutup mulutnya sendiri di hadapan Keenan. Entah kenapa ingatannya tentang Keenan menciumnya teringat kembali.


"Kau berpikir aku akan menciummu?"


"Aku tak bilang seperti itu." Sanggah Sha cepat dan membuat Keenan tertawa senang.


"Sikapmu terlihat seperti itu."


"Kau bukan aku, kau tak bisa menyimpulkannya seperti itu."


"Lalu kenapa kau menutup mulutmu?"


"Itu.. karena.." Ucap Sha dan terhenti sesaat.


"Apa..?"


"Karena aku tak mau kamu menciumku tiba-tiba." Jawab Sha jujur akhirnya dengan wajah yang memerah.


"Oke..kalau begitu aku akan minta izin ke depannya."


"Hah.." Teriak Sha kemudian.


Shanum berpikir keras dengan maksud dari kata-kata Keenan barusan.


"Maksudnya minta izin kedepannya itu apa?, dia bermaksud menciumku kembali gitu?" Gerutu Sha dalam hati.


"Maksudmu?" Tanya Sha, mencoba mencari penjelasanya

__ADS_1


"Bolehkah aku menciummu?" Tanya Keenan dan berhasil membuat Shanum kembali diam membisu namun kedua matanya membulat besar.


"Sekarang..?" Pertanyaan bodoh keluar tiba-tiba saja dari mulut kecil Shanum.


"Kenapa aku harus bertanya seperti itu." Bisik Sha tak habis pikir.


"Ya.."


Suasana menjadi hening seketika, seakan sedang menanti jawaban dari Shanum untuk Keenan.


"Aku.. aku.. " Jawab Sha gugup dan bersamaan dengan suara ketukan pintu dan kemudian terbuka.


Keenan maupun Shanum mengubah pandangannya segera, menatap seseorang yang tengah berdiri dengan mata yang membulat.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Menurutmu?" Tanya Keenan dan perlahan menjauhkan dirinya dari Shanum. Melepaskan rangkulannya perlahan.


Radit yang tengah hadir ke ruang kerja Keenan. Bagi Radit ini seperti terjerumus ke dalam lubang, kenapa kedatangannya disaat yang tidak tepat.


"Melakukan yang tidak-tidak." Tebak Radit walaupun sebenarnya dia paham apa yang tengah terjadi diantara mereka.


"Tidak..tidak.. tidak terjadi apa-apa kok." Sanggah Shanum cepat dan dibalas dengan tawa Radit kemudian.


Radit kemudian melangkah mendekat ke arah Shanum dan Keenan, dengan sebuah dokumen berada di genggamannya.


"Ini dokumen yang kamu minta." Ucap Radit dan kemudian Keenan melangkah kembali menuju meja kerjanya.


Keenan membuka dokumen itu, membaca dengan singkat dan kemudian menandatanganinya.


"Aku akan pergi bersama Aulia siang nanti, kau mau ikut?" Ajak Radit kemudian setelah dokumennya kembali ke genggamannya.


"Tergantung.."


"Tergantung apa?" Tanya Radit heran dan terlihat berpikir.


"Loh.. kamukan bisa pergi tanpa ku Keen."


"Ya.. tapi itu dulu, sekarang kamu itu pacarku."


"Maksudnya bagaimana?"


"Kamu ikut, aku akan ikut."


"Aku enggak bisa.." Tolak Sha cepat dan membuat Keenan terdiam dan menatap Shanum meminta penjelasan.


"Aku sudah ada janji dengan...."


"Batalkan.." Pinta Keenan cepat tanpa menunggu Shanum menyelesaikan ucapannya.


"Tapi Keen.."


"Ehm.." Radit pun mengeluarkan suara akhirnya, rasanya begitu pusing mendengar perdebatan antara Keenan dan Shanum.


"Begini saja, bagaimana kalau kita ajak temanmu itu Sha, oke kan? Ucap Radit dan berharap Keenan dan Shanum menyetujui idenya itu.


"Oke.." Jawab Keenan cepat, padat, singkat.


Mendengar ucapan Keenan menyetujui idenya, membuat Radit tersenyum lega. Lalu ia mengubah pandangannya ke Shanum, berharap Shanum juga menyetujui idenya itu.


"Aku tak janji, aku coba tanyakan dulu."


"Oke.. tak masalah. Kalau begitu sampai ketemu nanti siang." Ucap Radit dan berlalu dengan cepat meninggalkan Shanum dan Keenan berdua lagi.

__ADS_1


Setelah berhasil keluar, Radit tersenyum sendiri. Mengetahui sikap Keenan tadi pada Shanum yang membuat Radit tersenyum sepanjang langkahnya.


"Keenan benar-benar telah mencintai Shanum. Terang-terangan dia bilang Shanum pacarnya" Bisiknya dan kemudian melanjutkan langkahnya perlahan.


.


.


.


.


"Terima kasih honey, kamu telah mengantarku." Ucap Yuna dengan kedua tangan menggelantung di pundak Endru yang kini ada di hadapannya.


"Kau tak harus berterima kasih. Ini memang yang harus ku lakukan."


"Tapi.. aku tetap harus berterima kasih."


"Terserah kamu saja." Balas Endru tersenyum dengan mencolek hidung Yuna dengan jari telunjuknya.


"Kau janji hanya seminggu?"


"Ya.." Jawab Yuna cepat.


Sebenarnya Yuna belum tau pasti berapa lama dirinya akan menghabiskan waktunya bersama Keenan. Kata seminggu keluar begitu saja dari mulut Yuna. Dan sepertinya Endru menyetujui waktu seminggu itu.


"Aku akan menjemputmu kembali."


"Harus honey, kau harus menjemput ku lagi."


"Jangan lupa untuk menghubungiku terus."


"Ya.."


"Kabari aku jika sudah sampai."


"Pasti.." Jawab Yuna.


"Ya sudah, sudah waktunya kamu untuk pergi. Jaga dirimu di sana."


"Ya.. ya.. ya.. honey, kau juga jaga dirimu."


Endru tersenyum, begitupun dengan Yuna. Untuk pertama kalinya mereka berpisah. Pikiran Endru terbang melayang saat mereka pertama kali bertemu.


Yuna baginya begitu mempesona kala itu. Hingga kini Yuna masih begitu mempesona. Dia cantik dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Aku akan bersabar untukmu." Gumam Endru tersenyum dan pandangannya tak lepas dari sosok Yuna yang kian menjauh.


Yuna tersenyum saat itu, melambaikan tangannya untuk Endru. Hingga akhirnya sudah tak terlihat lagi sosoknya dari pandangan Endru.


Endru terdiam, di raih handphone miliknya dan menghubungi seseorang.


"Aku sudah mengirimkan fotonya, tolong jaga dan awasi dia." Pinta Endru dan percakapan itu terhenti cepat.


Menarik napas panjang, melangkah kembali namun terasa berat.


"Seminggu.. ya.. seminggu, Aku akan mendapatkanmu kembali." Bisik Endru lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


Semangattt 💪💪😄


__ADS_2