Sebatas Pacar Sewaan

Sebatas Pacar Sewaan
Calon Menantu


__ADS_3

Kenapa aku menjadi malu.


Bisa - bisanya Mamah menggoda diriku.


-Shanum-


🍁🍁🍁


Keenan tersenyum, begitupun dengan Shanum. Keduanya terlihat bahagia malam itu.


"Kau bahagia Sha." tanya Keenan dan membuat Sha menatapnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu." Keenan pun tersenyum mendengarnya.


Jelas sekali Shanum merasa bahagia, dia bahkan tak berani mengungkapkannya dengan kata-kata. Sha begitu malu mengakuinya. Bahkan ia tak menyangka bahwa dirinya telah mengungkapkan perasaannya pada Keenan.


"Sudah jam berapa ini? aku lupa mengabari mamahku."


"Aku sudah izin ke calon mertuaku."


"Calon mertua." ulang Sha, rasanya ia begitu terkejut mendengar kata itu.


Baru saja Keenan meresmikan hubungan mereka, sekarang Keen sudah menganggap Mamahnya Sha adalah calon mertuanya.


"Ya.. Mamahmu."


"Kapan kau melakukannya."


"Semenjak kau tidur."


"Oh.. syukurlah."


"Ya.. sekarang kita kembali ya, kau pakai sabuk pengamanmu."


"Ya.." jawab Sha singkat.


Keenan dan Sha akhirnya meninggalkan pantai itu. Tempat dimana keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain.


Dengan senyum yang selalu terukir di keduanya, sepanjang perjalanan mereka kembali. Mencuri-curi pandang, mencoba menatap yang dicintai.


Ditempat lain, Yuna berjalan begitu lelah malam itu. Apa yang telah dilakukannya tidak membuahkan hasil yang diharapkannya.


Ia menjatuhkan dirinya di ranjang besar disalah satu hotel yang ia tempati.


"Ada apa dengan Keenan, di mana dia?" tanyanya sendiri sambil menatap langit-langit kamar hotel.


Tak berapa lama kemudian, handphone miliknya berdering. Terbaca nama Endru di sana. Yuna langsung bangun dari tidurnya. Begitu sibuk dirinya mencari Keenan, sampai ia melupakan Endru.


"Ya.. Honey." sapa Yuna cepat sesaat setelah penggilan itu tersambung.


"Kenapa kamu tak menghubungiku."


"Maaf..maaf.. aku lupa."


"Lupa..." ulang Endru dan terdengar kecewa mengatakannya.


"Kau baru bersama Keenan dan kau langsung melupakanku."


"Tidak.. tidak seperti, aku bahkan sama sekali belum bertemu Keenan." sanggah Yuna cepat


Endru terdiam, dia tak menyangka bahwa Yuna sama sekali belum bertemu dengan Keenan. Padahal Yuna sangat ingin bertemu dengan Keenan setelah ia kembali.


"Kenapa?" tanya Endru akhirnya.


"Aku tak dapat menghubunginya." ucap Yuna dan begitu kecewa.


"Kamu dicampakkan Keenan."

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak dicampakkan olehnya, aku hanya belum bisa menemuinya."


"Aku hanya berharap."


"Aku tak suka dengan harapanmu itu." ucap Yuna kesal.


"Kamu harus ingat, kamu masih punya aku yang selalu ada untukmu."


Yuna terdiam mendengarnya. Endru memang selalu ada untuknya. Hingga saat ini, saat dirinya memutuskan untuk menemui Keenan, Endru masih setia untuknya.


"Istirahatlah, jangan telat untuk menghubungiku besok."


"Ya.." jawab Yuna singkat dan kembali ia jatuhkan tubuhnya di ranjang besar di salah satu kamar hotel yang berhasil ia pesan sebelum keberangkatannya.


"Endru dan Keenan." ucap Yuna dan tiba-tiba ia tersenyum setelah mengucapkannya.


.


.


.


.


Sha mematung menatap dirinya di sebuah cermin besar di hadapannya saat ini. Pikirannya masih terbang melayang saat dirinya masih bersama Keenan semalam.


"Selamat malam Mah." sapa Keenan setelah dirinya berhasil mengantar Sha pulang tadi malam.


Sha maupun Mamahnya terkejut mendengar ucapan Keenan itu. Bahkan keduanya saling memandang dan kemudian menatap Keenan kembali.


"Bolehkan saya memanggilnya seperti itu." izin Keenan akhirnya.


"Boleh.. boleh..yuk masuk dulu."


"Makasih, lain waktu saja saya mampir. Sudah larut malam sekarang. Biar Sha bisa cepat istirahat juga." ucap Keenan lagi dan disambut dengan senyum dan anggukan dari Mamahnya Sha.


"Sepertinya, Mamah sebentar lagi mau punya cucu."


"Mah.. ish kecepatan Mah.." ucap Sha dan disusul dengan tawa Mamahnya malam tadi.


Shanum kembali tersenyum jika mengingat itu semua.


"Ah.. kenapa aku jadi selalu memikirkannya." bisik Sha kemudian.


Terdengar bunyi ketukan pintu, menghentikan lamunan Sha seketika.


"Sha.." panggil seseorang yang tak lain adalah Mamahnya.


"Iya Mah.." ucap Sha cepat, lalu bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar segera.


"Calon menantu Mamah sudah datang." ucap Mamahnya menggoda Sha pagi itu.


"Mahh.." ucap Sha dan tampak malu setalah digoda.


"Sudah-sudah, cepat kamu bersiap, Keenan sudah menunggu mu di bawah." ucap Mamahnya kembali dan terlihat menahan tawanya karena telah berhasil menggoda anak kesayangannya itu.


Setelah mempersiapkan beberapa hal, Sha pun melangkah meninggalkan kamarnya, menuruni anak tangga perlahan.


Terlihat Keenan dari kejauhan, Mamahnya Sha juga berada di sana. Duduk saling berhadapan. Berbincang entah apa yang sedang dibahas oleh ke duanya.


"Kamu sudah rapi Sha?"


"Ya.. Mah."


Sha sempat terdiam untuk beberapa saat, setelah dirinya menatap Keenan. Keenan memakai pakaian tidak seperti biasanya. Kemeja putih dengan kancing terbuka, tanpa dasi dan jas yang selalu menemani hari-harinya. Meskipun begitu Keenan tetap terlihat tampan dan berkharisma.


"Ada apa?" Tanya Keenan akhirnya karena Sha masih tak berhenti menatapnya.

__ADS_1


"Kita akan ke kantorkan?" tanya Sha memastikan.


"Tidak, kita ke tempat Oma hari ini."


"Ke tempat Oma." ulang Sha


"Ya..ulang tahunnya sebentar lagi, kita perlu membantunya."


"Oh.." ucap Sha dan masih terlihat ragu.


"Kau tenang saja, untuk pekerjaan sudah ku titip ke Radit." ucap Keenan menjelaskan kemudian dan Sha mengangguk akhirnya.


"Mah.. Keenan dan Sha pamit dulu." ucap Keenan lagi pada Mamahnya Sha.


Sha masih saja terkejut mendengar Keenan ikut memanggil Mamahnya dengan panggilan yang sama dengan dirinya. Masih terdengar begitu asing baginya.


Sha maupun Keenan pun pergi setelah berpamitan. Menuju rumah Oma yang saat ini sedang menanti kedatangan mereka.


Sedangkan Yuna, setelah selesai merapikan dirinya. Ia pun bergegas pergi meninggalkan kamar hotel.


Semalam ia berhasil menghubungi Aulia, dan siang nanti mereka akan bertemu.


Menaiki lift menuju Resto hotel. Menuju salah satu bangku kosong untuk dapat menikmati sarapan paginya.


"Aku harus menghubungi Endru." gumamnya kemudian.


Meraih handphone dan mencari nama Endru dan segera melakukan panggilan. Endru langsung mengangkatnya, tak membuat Yuna menunggu lama.


"Ya.. Honey, kau sedang apa?"


"Aku sedang sarapan, kau sudah sarapan?"


"Belum, sebentar lagi. Apa rencanamu hari ini?"


"Heemm.. aku akan bertemu dengan Aulia siang nanti."


"Aulia." ulang Endru.


"Ya.. Aulia itu sahabatku di sini."


"Oh.. aku ingat. Kau pernah bercerita tentangnya. Lalu Keenan, kau sudah berhasil menghubunginya?"


"Belum.."


"Mungkin dia tidak mau bertemu denganmu."


"Ah.. Endru.. kau buat hatiku buruk. Seharusnya aku tak menghubungimu pagi ini." ucap Yuna kesal.


"Sorry.. tapi kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi."


"Cukup, aku tak mau dengar."


"Ya sudah, habiskan sarapanmu, aku juga sudah harus pergi."


Yuna tampak kesal, Endru pagi-pagi sudah membuat hatinya kesal.


"Aku akan buktikan apa yang dikatakan Endru salah." bisik Yuna kemudian dan menghembuskan napasnya perlahan.


.


.


.


.


Good Endru, buat Yuna kesal terus aja😂

__ADS_1


__ADS_2